Jepang adalah salah satu destinasi yang sangat menarik untuk menikmati minuman beralkohol. Dengan batas usia legal 20 tahun serta legalnya aktivitas minum dan mabuk di ruang publik, konsumsi alkohol telah mendarah daging dalam budaya masyarakat setempat. Etika minum yang tepat sebenarnya sempat dibahas secara singkat dalam artikel mengenai etika di Jepang, namun budaya minum di sana tentu layak mendapatkan pembahasan yang lebih mendalam. Jadi, bagi yang ingin mencicipi pengalaman minum di Jepang atau sekadar penasaran dengan tradisinya, mari simak ulasan berikut.
Menu Apa yang Pertama Kali Dipesan di Bar Jepang?

Setelah seharian lelah beraktivitas di sekolah maupun kantor, orang-orang di Jepang biasanya sudah tidak sabar untuk menikmati minuman pertama mereka di bar lokal. Namun, apa yang biasanya mereka pesan?
Mengingat budaya minum di Jepang yang cukup terstruktur, banyak kelompok orang cenderung memesan jenis minuman yang sama untuk ronde pertama. Hal ini dilakukan agar momen bersulang atau kampai terasa lebih kompak karena semua orang menikmati hal yang serupa. Jepang adalah negara yang sangat menjunjung tinggi kebersamaan, dan kebiasaan minum mereka pun mencerminkan hal tersebut. Jadi, ikutilah semangat kelompok ini saat memesan ronde pertama.
Biasanya, bir atau sake menjadi pilihan utama untuk ronde pertama sebelum akhirnya beralih ke jenis minuman lain sesuai selera masing-masing. Bir dan sake juga jauh lebih mudah dipesan untuk dinikmati bersama dibandingkan koktail yang lebih rumit.
Bagaimana Cara Menuangkan Minuman?

Tergantung dari tempat yang dikunjungi—baik itu restoran, bar, maupun izakaya (gabungan bar dan restoran)—minuman Anda bisa saja dituangkan oleh pelayan, atau Anda dan rekan semeja harus menuangkannya sendiri dari wadah bersama. Jika harus menuangkan sendiri, ada aturan etika tertentu yang perlu diikuti.
Dalam budaya minum di Jepang, etika yang baik adalah mengisi gelas orang lain dan bukan gelas sendiri. Anda harus menunggu orang lain mengisi gelas Anda, yang biasanya dilakukan setelah Anda menuangkan minuman ke gelas mereka. Ketika Anda menawarkan untuk menuangkan minuman, orang lain mungkin akan menolak sebagai bentuk kerendahan hati tradisional Jepang, namun ini biasanya sekadar formalitas. Kecuali jika seseorang menolak secara terus-menerus dan tegas, Anda tetap boleh menuangkan minuman ke gelas mereka.
Seperti yang disebutkan sebelumnya, begitu Anda mengisi gelas seseorang, mereka biasanya akan membalas kebaikan tersebut dengan mengisi gelas Anda. Oleh karena itu, berhati-hatilah jika Anda sudah tidak ingin minum lagi; jika Anda mengisi gelas rekan Anda, gelas Anda kemungkinan besar akan langsung diisi ulang. Cara terbaik jika Anda sudah mencapai batas adalah membiarkan gelas Anda tetap terisi penuh tanpa meminumnya lagi.

Masyarakat Jepang juga sangat menyukai permainan minum, dan Anda dijamin akan menemukan berbagai permainan baru yang belum pernah ditemui sebelumnya. Mereka juga kerap menguji tingkat toleransi alkohol orang asing, jadi jangan heran jika mereka mencoba mendorong Anda minum lebih banyak dari batas nyaman Anda.
Salah satu permainan minum favorit dari Jepang dinamakan Takenoko Takenoko Nyoki Ki. Takenoko berarti bambu, nyoki adalah suara tunas bambu saat tumbuh, dan ki berarti pohon. Permainan ini bersifat eliminasi sehingga sebenarnya tidak harus melibatkan alkohol, namun permainannya terasa jauh lebih seru jika dijadikan permainan minum.
Setiap pemain harus menyebutkan sebuah angka diikuti kata nyoki (seperti ichi-nyoki, ni-nyoki, dan seterusnya) sambil mengangkat kedua tangan di atas kepala menyerupai tunas bambu. Angka harus disebutkan secara berurutan dari satu hingga jumlah pemain dikurangi satu. Jika ada dua orang yang menyebutkan angka secara bersamaan, keduanya dinyatakan kalah dan harus minum. Orang yang mendapat giliran terakhir juga dianggap kalah dan harus minum seorang diri.

Permainan ini pada dasarnya mirip dengan menghitung secara acak hingga angka tertentu tanpa ada yang boleh menyebutkan angka bersamaan atau mendapat giliran paling akhir. Seperti kebanyakan permainan lainnya, aturan ini akan jauh lebih mudah dipahami setelah Anda mencobanya sendiri.
Mengenai urutan prioritas saat menuangkan minuman ke gelas orang lain, sudah menjadi kebiasaan bagi karyawan junior untuk menuangkan minuman ke gelas atasannya, junior di sekolah kepada senior, serta perempuan kepada laki-laki. Etika yang baik juga mewajibkan penerima tuangan untuk segera membalas gestur tersebut.
Seiring berjalannya malam dan suasana yang semakin santai karena pengaruh alkohol, aturan-aturan ini biasanya menjadi lebih longgar. Orang-orang terkadang mulai menuangkan minuman ke gelas mereka sendiri atau mengabaikan beberapa panduan etika di atas. Selama semua orang menikmati waktu bersama dan tidak bersikap kasar, situasi tersebut umumnya dapat diterima dengan baik.
Apa yang Harus Dilakukan Saat Tagihan Datang?

Sebagian besar tempat usaha di Jepang menyerahkan urusan pembagian tagihan kepada para pelanggannya sendiri. Biasanya, pihak restoran hanya akan membawa satu lembar tagihan ke meja, dan para tamu harus menghitung sendiri siapa harus membayar berapa. Tradisi membagi tagihan ini dikenal sebagai betsu-betsu, yang berarti terpisah atau masing-masing.
Metode betsu-betsu sangat umum digunakan dalam berbagai situasi pembayaran di Jepang. Bahkan saat berkencan pun metode ini tidak dianggap aneh, meskipun tentu saja perempuan akan merasa senang jika pihak pria bersedia menanggung seluruh tagihan.
Dalam beberapa situasi, jika ada pejabat perusahaan berposisi tinggi yang ikut dalam kelompok minum tersebut, mereka mungkin akan bersikeras untuk membayar seluruh tagihan atau sebagian besar darinya. Tidak jarang pula satu orang—biasanya di kalangan pekerja kantoran atau salaryman—membayar seluruh tagihan terlebih dahulu lalu mengumpulkan bagian uang dari rekan-rekannya pada keesokan hari demi kemudahan.
Larut Malam dan Seterusnya

Bukan pemandangan asing melihat orang-orang di Jepang menghabiskan waktu hingga larut malam saat mereka sedang minum-minum. Sejumlah pekerja kantoran bahkan kerap menghabiskan waktu sangat larut bersama rekan kerja dan atasan mereka. Akibatnya, waktu istirahat yang mereka miliki sangat minim dan hanya dihabiskan di dalam kereta sebelum kembali bekerja keesokan paginya dan mengulang rutinitas yang sama.
Kehidupan malam di Jepang juga sangat semarak. Berdasarkan pengalaman, kalangan muda cenderung menunggu hingga tengah malam untuk mendatangi bar atau kelab malam, lalu berpesta semalaman suntuk hingga kereta komuter kembali beroperasi di pagi hari.
Intinya, bersiaplah untuk menghabiskan waktu lebih lama dari biasanya jika Anda berniat menikmati dunia malam di Jepang. Durasi ini tentu bergantung pada kelompok dan jenis orang yang menemani Anda, namun pulang larut malam adalah hal yang sangat wajar dalam budaya minum di sana.







