Ono no Komachi merupakan seorang pujangga wanita yang sangat terkenal dan dikagumi karena kecantikannya yang luar biasa. Sebagai salah satu tokoh sastra paling terkemuka pada awal zaman Heian yang dikenal sebagai zaman keemasan puisi Jepang, pesona serta legenda tentang dirinya masih bertahan dan melekat kuat dalam budaya Jepang hingga saat ini.
Awal Mula Legenda di Wilayah Tohoku

Banyak sejarawan sepakat bahwa Ono no Komachi lahir di Prefektur Akita, yang pada masa itu masih dinamakan Provinsi Dewa, tepatnya di kawasan Kota Yuzawa sekitar tahun 834 Masehi. Ayahnya, Yoshisada, diyakini menjabat sebagai penguasa Provinsi Dewa pada era tersebut dan mengirim putrinya ke Heian-kyo atau Kyoto modern. Pada usia sekitar dua belas hingga tiga belas tahun, ia mulai mengabdi di lingkungan Istana Kekaisaran. Konon ia memiliki seorang kakak perempuan yang juga dikirim ke Kyoto, namun popularitas sang kakak tidak pernah mampu menyaingi ketenaran adiknya.
Kehidupan di Istana Kekaisaran pada zaman Heian sangat menjunjung tinggi nilai-nilai estetika. Dua konsep yang paling utama saat itu adalah Miyabi yang mencakup keanggunan serta kepantasan istana, dan Mono no aware yang berarti kepekaan mendalam terhadap alam serta rasa melankolis atas ketidakabadian dunia. Seseorang dianggap menarik apabila memiliki perpaduan antara kehalusan budi, keanggunan, dan sensitivitas emosional.
Seluruh kualitas tersebut diekspresikan terutama melalui karya sastra puisi. Puisi berfungsi sebagai sarana komunikasi utama di kalangan istana, baik antar sesama pria, sesama wanita, maupun pasangan kekasih dan suami istri. Kompetisi puisi sering diadakan untuk mencari karya paling peka yang memuat referensi musim serta kiasan sastra klasik demi mengangkat martabat sang penulis.
Estetika Heian juga tercermin dari cara mereka berpakaian. Kaum wanita wajib mengenakan jubah berlapis yang disebut junihitoe. Pakaian tradisional ini sangat rumit, berwarna-warni, terdiri dari banyak lapisan, dan beratnya bisa mencapai sekitar dua puluh kilogram. Semakin banyak lapisannya, semakin tinggi pula wibawa pemakainya.
Puisi, Percintaan, dan Kepedihan

Ono no Komachi memiliki seluruh sifat ideal tersebut dan sangat menonjol di istana Heian. Meskipun ia juga menguasai seni bermain koto, kaligrafi, bernyanyi, serta menari, bakat di bidang puisi lah yang paling menarik perhatian banyak orang. Ia banyak menulis tentang percintaan, dan rangkaian puisi yang ditujukan kepada para kekasihnya menjadi petunjuk mengenai masa-masa keaktifannya di istana. Hubungannya yang paling terkenal adalah dengan Fukakusa no Shosho. Puisinya sarat akan kerinduan, kepedihan, serta intensitas emosi yang mendalam, sangat cocok dengan gaya waka yang tengah populer saat itu.
Sebagai catatan, memiliki banyak kekasih pada masa itu bukanlah hal yang tercela. Pria maupun wanita lumrah menjalin hubungan dengan lebih dari satu orang, meski hal tersebut tidak mengurangi rasa sakit hati ketika seseorang yang dicintai berpaling ke lain hati.
Berikut adalah beberapa karya pilihannya:
- Ima wa tote
Ware ni shigure no
Furiyukeba
Koto no ha sae zo
Utsuroinikeru - Now is the time
You think to leave me,
I am growing older
Your promises too
Are leaves of turning colors.
- Omoitsutsu
Nureba yo hito no
Mietsuran
Yume to shiriseba
Samezaramashi o - Was it that I fell asleep
Longing for him
That he appeared?
Had I known it was a dream
I should not have awakened.
- Utatane ni
Koishiki hito o
Miteshi yori
Yume cho mono wa
Tanomisometeki - In a doze I saw
The one I am longing for;
Since then
I have come to rely
On my dreams
- Ito semete
Koishiki toki wa
Mubatama no
Yoru no koromo o
Kaeshite zo kiru - When I long for him
Oppressed by the thoughts I have,
I wear my robe,
Jet black as the night,
Turned inside out.
- Hito ni awan
Tsuki no naki ni wa
Omoiokite
Mune hashiribi ni
Kokoro yakeori - On a moonless night
When I will not meet him,
I lie awake longing for him, my mind aflame
My heart burns amidst
The leaping fire in my breast
Meskipun telah diterjemahkan, gelora emosi dalam puisinya masih terasa begitu kuat. Karyanya sangat dihormati hingga namanya dimasukkan ke dalam jajaran Rokkasen atau para dewa puisi Jepang, serta termuat dalam pengantar antologi Kokin Wakashu yang juga menyimpan karya-karyanya yang masih selamat hingga kini. Ia juga tercatat sebagai salah satu anggota Sanjurokkasen dan Nyobosanjurokkasen.
Standar Kecantikan Akita Bijin

Anda mungkin pernah mendengar istilah Akita Bijin di Jepang. Ungkapan ini merujuk pada wanita-wanita berparas rupawan yang berasal dari Prefektur Akita serta beberapa wilayah lain di Tohoku. Ada suatu pesona tersendiri yang melekat pada perempuan dari daerah tersebut.
Beberapa ciri fisik yang kerap dilekatkan pada seorang Akita Bijin meliputi:
- kulit putih atau cerah
- wajah bulat
- alis lurus
- kelopak mata ganda
- hidung kecil
- mulut kecil dengan bibir penuh
Konsep kecantikan ini konon diwarisi dari ciri-ciri fisik yang dimiliki oleh Ono no Komachi. Ia dipandang sebagai lambang wanita sempurna yang merantau ke ibu kota untuk mengabdi di istana.
Hingga hari ini, masyarakat sering memuji kualitas beras asal Akita yang dinilai sangat baik untuk kesehatan kulit. Air di sana yang segar juga dipercaya dapat membuat kulit menjadi halus dan cerah. Kendati demikian, faktor iklim seperti musim dingin yang panjang dan minimnya paparan sinar matahari di kawasan Tohoku juga diyakini menjadi penyebab utama kulit cerah penduduk setempat, sebagaimana dibuktikan oleh penelitian medis pada tahun 1960-an.
Eksistensi dalam Seni Teater

Para seniman telah lama menjadikan Ono no Komachi sebagai lambang kecantikan dan kepiawaian sastra selama lebih dari seribu tahun. Namanya diangkat menjadi subjek dalam tujuh pementasan teater Noh, seperti Sotoba Komachi, Sekidera Komachi, dan beberapa judul lainnya. Dalam pementasan tersebut, ia kerap digambarkan sebagai wanita lanjut usia yang hidup dalam kemelaratan sambil meratapi kejayaan masa lalunya, atau sebagai hantu wanita cantik yang mendatangkan inspirasi puisi. Ia pun tampil dalam empat lakon teater Kabuki serta beberapa karya manga dan anime modern.
Pemanfaatan Nama Komachi dalam Komersial
Penggunaan nama Komachi pada sebuah produk sering kali diasosiasikan dengan keanggunan dan kualitas tinggi.
Beras Akita Komachi

Merek beras ini tidak hanya memakai nama Ono no Komachi, tetapi juga memanfaatkan citranya untuk keperluan pemasaran. Meskipun demikian, varietas beras ini baru dikembangkan pada era 1980-an dan bukan sumber kecantikan para wanita Akita di masa lampau.
Kereta Komachi Shinkansen

Diluncurkan pada tahun 1997, jalur kereta cepat Komachi Shinkansen menghubungkan Tokyo dan Akita. Penamaan kereta ini dipilih berdasarkan hasil pemungutan suara publik, mengungguli beberapa kandidat nama lainnya.
Pemandian Air Panas dan Hotel Komachi

Resor pemandian air panas ini menawarkan pengalaman relaksasi dengan memanfaatkan kualitas air khas Akita yang dipercaya berkhasiat bagi kelembutan kulit, lengkap dengan berbagai fasilitas pemandian umum, kolam terbuka, serta panggung teater pertunjukan.
Festival Komachi

Sebagai sosok legenda yang dihormati, diselenggarakan pula sebuah festival tahunan bernama Festival Komachi yang bertempat di kampung halamannya di Distrik Ono, Kota Yuzawa, setiap hari Minggu kedua di bulan Juni.
Dalam acara ini, tujuh gadis terpilih mengenakan busana tradisional untuk mempersembahkan pembacaan puisi karya Ono no Komachi di kuil yang didedikasikan untuknya.
Masa Tua yang Tenang

Ono no Komachi meninggalkan istana dan kembali ke Yuzawa saat usianya memasuki pertengahan tiga puluhan, dan perjalanan hidupnya setelah itu tidak banyak diketahui secara pasti. Walaupun sejumlah cerita rakyat mengisahkan masa tuanya dalam kemiskinan dan kepedihan, sebagian besar sejarawan meragukan kebenaran kisah tersebut. Makam yang diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhirnya tersebar di berbagai prefektur di Jepang. Terlepas dari tempat ia menghabiskan sisa hidupnya, ia mungkin melewati hari-hari tuanya dengan damai tanpa pernah menyadari pengaruh besar yang ditinggalkannya terhadap dunia sastra dan pandangan estetika masyarakat Jepang.








