Rasa ingin tahu sering kali dianggap sebagai hal yang kekanak-kanakan, padahal sifat tersebut memicu inovasi dan eksplorasi. Di tengah pandangan bahwa dunia semakin kehilangan misterinya, manga karya Tomohi berjudul Nightfall Travelers: Leave Only Footprints atau Yuuyake Trip hadir untuk mengingatkan sebaliknya. Ulasan ini mencakup dua volume pertama dari manga tersebut.
Manga ini berfokus pada upaya membongkar mitos hantu dan tempat angker, sebuah premis yang biasanya justru menghilangkan unsur fantastis. Namun, pendekatan kekanak-kanakan dari Tomohi serta gaya seni tingkat tinggi membuat pembaca merasa ikut serta dalam perjalanan para karakternya alih-alih hanya membaca cerita.
Nightfall Travelers — Do You Believe In Ghosts?
Cerita bermula ketika Fujimo Amemura diajak oleh teman sekelasnya, Akane Ninamori, untuk mengunjungi tempat angker. Akane terpaksa mencari dan meliput lokasi paranormal di kota mereka demi memenuhi kewajibannya sebagai anggota klub surat kabar sekolah yang jarang aktif.
Alih-alih menemukan hantu, makhluk halus, alien, atau yokai, kedua gadis tersebut justru selalu berhasil mematahkan mitos dari lokasi yang mereka kunjungi. Alur cerita Nightfall Travelers tergolong sederhana karena berputar pada rutinitas mencari hantu, menikmati suasana, dan menyadari bahwa hantu tersebut tidak nyata, namun pembaca tetap terpikat.
Daya tarik utama manga ini terletak pada karya seninya yang memukau. Pembaca diajak merasakan sensasi hembusan angin, hawa dingin, serta rasa penasaran yang dialami oleh Akane dan Fujimo secara langsung.
“If Only I Could Stay on This Long Road Home Forever.”
Meskipun seni dan cerita dalam manga biasanya berjalan berdampingan tanpa harus saling mendominasi, ilustrasi dalam Nightfall Travelers memiliki kualitas yang luar biasa. Gaya seni bernuansa cat air berpadu dengan pemanfaatan cahaya serta warna yang sangat menghipnotis.
Tomohi berhasil menggambarkan suasana kota pegunungan yang padat hingga memunculkan kesan klaustrofobia, sekaligus menyajikan pemandangan cakrawala terbuka yang luas. Kualitas visual ini membuat pembaca seolah-olah melihat langsung kejadian dalam cerita dari sudut pandang orang pertama.
“Even Though It’s My Home Town, I Don’t Know Much About the Streets I Don’t Have a Reason To Go To…”
Dalam ceritanya, Akane menyebutkan bahwa ia tidak begitu mengenal tempat-tempat di sekitarnya karena ia hanya mendatangi lokasi yang memang harus dikunjungi. Sikap apatis semacam ini sering kali membuat manusia mengabaikan keindahan yang ada di sekitar mereka sendiri.
Petualangan lokal yang dilakukan oleh Akane dan Fujimo dalam Yuuyake Trip berhasil menularkan keinginan untuk melihat sisi lain dari lingkungan sekitar yang belum pernah dijelajahi. Hal tersebut membuktikan bahwa rasa penasaran selalu menyambut siapapun yang ingin mencarinya.
Nightfall Travelers: Leave Only Footprints Publication Details
Yuuyake Trip ditulis dan diilustrasikan oleh Tomohi, serta diserialisasikan melalui situs Comic Fuz milik Houbunsha sejak debutnya pada bulan Desember 2019. Versi bahasa Inggris dari manga ini diterbitkan oleh Seven Seas Entertainment. Saat ini, baru dua dari lima volume Nightfall Travelers yang tersedia dalam bahasa Inggris, sementara volume ketiga diperkirakan rilis pada bulan Desember 2027.









© Tomohi / Houbunsha








