Bagi para pencari hantu yang kebetulan sedang berada di Jepang saat musim panas, Anda tidak perlu khawatir kehabisan pekerjaan. Pasalnya, musim panas adalah puncak dari musim hantu di Jepang, dengan bulan Agustus sebagai titik tertingginya.
Bulan Agustus identik dengan perayaan tradisional Buddha, Obon. Pada periode ini, arwah leluhur diyakini pulang ke dunia untuk mengunjungi rumah mereka, berdosa, serta merayakan kebersamaan, sementara keluarga berkumpul di kampung halaman untuk menyambut mereka.
Namun, menari bersama leluhur bukanlah satu-satunya cara masyarakat Jepang menikmati musim penuh arwah ini. Bioskop-bioskop dipenuhi film horor menegangkan, teater Kabuki mementaskan kembali lakon hantu klasik, para remaja penantang adrenalin menguji keberanian dengan mengunjungi pemakaman lokal pada tengah malam, dan berbagai stasiun televisi menayangkan ulang kisah-kisah mistis.
Meskipun perayaan Halloween masih beberapa bulan lagi, musim hantu di Jepang telah dimulai lebih awal. Dengan begitu banyaknya aktivitas paranormal di sekeliling Anda, persiapan yang matang tentu sangat diperlukan. Artikel ini mengupas tuntas dasar-dasar mengenai hantu di Jepang agar Anda lebih siap menghadapi perjumpaan dengan entitas supernatural.
Sejarah Awal Mula Hantu di Jepang

Istilah untuk hantu dalam bahasa Jepang adalah yuurei, yang secara harfiah berarti “roh redup” atau “jiwa samar”. Cerita-cerita tentang makhluk supernatural diyakini telah beredar di Jepang bahkan sebelum catatan tertulis ditemukan, menjadikan negara ini kaya akan legenda yang mencekam.
Menurut Haruo Suwa, seorang profesor di Gakushuin University, catatan tertulis mengenai kisah hantu pertama kali muncul pada periode Heian di awal abad kedelapan. Salah satu penampakan hantu tertua didokumentasikan dalam novel abad kesepuluh, The Tale of Genji. Pada masa itu, yuurei dianggap sebagai entitas yang tidak berbahaya. Konon, sebagian orang bahkan percaya bahwa melihat penampakan hantu merupakan pertanda keberuntungan.
Jika agama-agama Barat umumnya meyakini satu Tuhan Yang Maha Esa, masyarakat Jepang kuno menganut paham bahwa keilahian hadir di mana-mana. Pandangan ini mencakup keyakinan bahwa manusia dapat bertransformasi menjadi makhluk supernatural setelah meninggal dunia. Alih-alih dipandang sebagai bayangan diri manusia seperti dalam tradisi Barat, yuurei pada masa itu diibaratkan hampir serupa dengan dewa.

Kendati demikian seiring bergesernya pandangan keagamaan di Jepang, pemahaman mengenai takdir jiwa manusia setelah kematian pun ikut berubah. Masuknya ajaran Buddha secara perlahan mengubah citra yuurei menjadi manifestasi dari jiwa-jiwa yang penuh dendam.
Pengaruh Ajaran Buddha

Masuknya konsep surga, neraka, makhluk supernatural, dan reinkarnasi dari ajaran Buddha mengubah lanskap cerita mistis di Jepang secara drastis. Rumor mengenai penampakan semakin sering beredar dan dibumbui berbagai kisah berlebihan, yang kemudian memicu kebangkitan cerita hantu.
Berdasarkan kepercayaan Jepang pada era tersebut, setiap manusia memiliki reikon atau jiwa. Selepas kematian, jiwa seseorang akan melalui fase penantian di dunia antara sebelum akhirnya diantarkan kepada para leluhur melalui upacara pemakaman tradisional Buddha. Jika seluruh prosesi dijalankan dengan benar, jiwa tersebut akan bertransformasi menjadi pelindung bagi keluarga yang ditinggalkan.
Namun, apabila seseorang meninggal dunia secara tiba-tiba dan tidak wajar—seperti akibat bunuh diri atau pembunuhan—atau jika ritual pemakaman yang layak tidak dilakukan, ia diyakini akan berubah menjadi yuurei. Makhluk ini memiliki kekuatan untuk menjembatani dunia supernatural dan dunia fisik. Seseorang juga dapat menjadi yuurei apabila semasa hidupnya ia menyimpan emosi negatif yang teramat besar, seperti kebencian, kesedihan, atau keinginan untuk membalas dendam.
Meskipun sebagian besar yuurei tidak berkeliaran sembarangan untuk menteror lingkungan sekitar, mereka biasanya mendatangi tempat-tempat yang memiliki keterikatan kuat dengan emosi negatif mereka semasa hidup. Berdasarkan cara kematian dan motif kembalinya ke bumi, yuurei diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis berikut:
-
Onryou: Hantu penuh dendam yang mengalami ketidakadilan semasa hidup dan bangkit dari dunia penantian untuk menuntut balas.
-
Ubume: Arwah seorang ibu yang meninggal saat melahirkan atau wafat dengan meninggalkan anak-anaknya. Alih-alih membawa teror, yuurei ini justru kerap membawakan manisan dan menyimpan kerinduan mendalam untuk merawat anak-anaknya.
-
Goryou: Arwah dari kalangan bangsawan, terutama mereka yang mati syahid atau teraniaya, yang juga memiliki motif utama membalas dendam.
-
Funayuurei: Arwah dari orang-orang yang tewas di lautan. Konon, hantu ini memiliki kulit bersisik yang sekilas menyerupai putri duyung.
-
Zashiki-warashi: Arwah anak-anak yang kemunculannya lebih sering membawa keusilan daripada bahaya nyata.
-
Samurai Ghosts: Arwah para prajurit yang gugur di medan perang, khususnya dari Perang Genpei. Berbeda dari kebanyakan yuurei lain, arwah tentara ini digambarkan memiliki kaki dan umumnya hanya muncul dalam pementasan teater Noh.
-
Seductress Ghosts: Arwah pria atau wanita penuh dendam yang kembali ke dunia untuk merajut hubungan asmara lintas alam dengan manusia.
Salah satu cerita hantu atau kaidan paling terkenal dalam sejarah Jepang adalah Yotsuya Kaidan. Kisah balas dendam ini menceritakan seorang suami yang meracuni istrinya, Oiwa, demi bisa menikahi wanita dari keluarga kaya. Rambut Oiwa rontok, wajahnya menjadi cacat, dan ia akhirnya meninggal dunia, namun bangkit kembali untuk menuntut balas kepada suaminya yang tidak menaruh curiga.

Kisah kelam ini telah diadaptasi berkali-kali ke dalam pementasan seni teater dan tetap menjadi karya klasik yang abadi hingga kini.
Cara Mengenali Yuurei

Tradisi bertukar cerita horor di Jepang mencapai puncaknya pada era Edo (1600–1868). Sebagian besar cerita mistis lahir pada periode Bunka-Bunsei di awal abad ke-19, sebuah era kreativitas tinggi di mana menceritakan kisah seram menjadi cara populer untuk melewatkan malam musim panas yang terik.
Pada masa inilah gambaran visual tentang hantu khas Jepang mulai terbentuk secara konsisten. Para seniman dan pengisi acara mulai melekatkan ciri-ciri fisik tertentu pada sosok arwah agar mudah dibedakan dari manusia biasa. Jika Anda perlu mengidentifikasi kehadiran makhluk halus, perhatikan beberapa ciri berikut:
Pakaian Putih
Hantu umumnya digambarkan mengenakan busana serba putih, yang melambangkan kimono putih yang digunakan dalam tradisi pemakaman era Edo. Warna putih juga diasosiasikan dengan kesucian ritual dalam ajaran Shinto yang dikhususkan bagi para pendeta dan orang yang telah meninggal. Hantu di Jepang kerap digambarkan mengenakan selembar kain putih berbentuk segitiga di kepala mereka yang disebut hitaikakushi.
Rambut Hitam
Ciri paling ikonik dari hantu Jepang adalah rambutnya. Rambut seorang yuurei biasanya panjang, berwarna hitam legam, dan tampak kusut berantakan. Secara tradisional, wanita Jepang memanjangkan rambut mereka dan menyanggulnya, namun rambut tersebut dibiarkan tergerai saat ritual pemakaman. Hingga era modern, hantu-hantu digambarkan mempertahankan gaya rambut ini, yang terkadang bahkan dapat bergerak sendiri untuk menyerang.
Tangan dan Kaki
Karakteristik lain dari yuurei adalah ketiadaan kaki. Alih-alih berjalan, mereka melayang di udara dengan posisi lengan terentang dan pergelangan tangan terkulai lemas menyerupai zombi. Gambaran ini pertama kali dipopulerkan melalui cetakan seni Ukiyo-e era Edo dan kemudian diadopsi dalam teater kabuki, di mana para aktor mengenakan kimono panjang atau diangkat menggunakan sistem katrol. Apabila seseorang mendekati Anda di tengah malam dan tidak memiliki kaki untuk berpijak, Anda patut merasa curiga.
Hitodama
Yuurei sering kali digambarkan ditemani oleh sepasang nyala api mengambang atau cahaya berpendar yang dikenal sebagai hitodama, dengan pilihan warna seperti biru, hijau, atau ungu. Meski tampak seperti pendamping yang tidak berbahaya, cahaya tersebut sebenarnya merupakan bagian terpisah dari jiwa sang arwah.
Eksistensi Hantu di Era Modern

Meskipun konsep mengenai hantu mengalami pergeseran besar akibat masuknya ajaran Buddha ratusan tahun silam, sebagian besar elemen cerita hantu tradisional tetap bertahan melintasi zaman. Bahkan, sosok hantu dalam film The Ring pun merefleksikan penggambaran tradisional yuurei secara akurat.
Kendati demikian, motif kemunculan dan penampakan hantu terkadang mengalami penyesuaian seiring munculnya isu-isu baru di era modernisasi dan globalisasi. Selama Perang Dunia II, berbagai rumor mengenai arwah prajurit marak beredar, disusul oleh kisah-kisah mencekam tentang jiwa-jiwa yang terpapar radiasi.
Kini, cerita hantu kerap kali dihubungkan dengan permasalahan kontemporer, seperti kasus bunuh diri dan tindak kriminal penuh kekerasan di Jepang. Tema teknologi juga menjadi unsur yang sering diangkat, seperti yang tampak dalam film The Ring. Secara umum, hantu-hantu modern digambarkan menjadi jauh lebih agresif dengan tingkat kekerasan yang semakin tinggi demi menciptakan efek kejut yang maksimal.
Panduan Dasar Pengusiran Hantu

Jika Anda sedang berada di Jepang dan mendapati diri Anda diganggu oleh arwah penasaran seperti Hanako-chan di dalam toilet, apa yang harus dilakukan? Memanggil pemburu hantu tentu bukan pilihan yang efisien, begitu pula menggunakan air suci dan salib ala tradisi barat yang tidak berlaku di sana.
Secara tradisional, cara terbaik untuk menangkal hantu adalah menggunakan ofuda, yaitu selembar kertas bertuliskan sutra Buddha yang diyakini ampuh mengusir roh jahat. Selain itu, beberapa kuil Shinto juga menyediakan ritual penyucian bernama ofurai untuk membersihkan diri dari pengaruh energi buruk.

Namun, terlepas dari ritual keagamaan tradisional, masyarakat kini kerap mencari metode yang lebih praktis. Topik yang sempat menjadi perbincangan hangat di Jepang adalah klaim mengenai kemampuan pengusiran roh dari cairan penyegar pakaian Febreze. Produk yang biasa digunakan untuk menghilangkan bau tak sedap di dalam ruangan ini diyakini sebagian orang mampu membuat hantu enyah kembali ke alamnya.

Jika Anda ragu dengan efektivitas cara tersebut, Anda juga bisa mencoba perangkat pendeteksi hantu seperti Baketan 2 produksi Solid Alliance Corp. dari Tokyo untuk mendeteksi keberadaan entitas gaib di sekitar Anda dan mengatasi gangguan mereka.







