Dalam seri ini, Tofugu bertanya kepada para pembelajar tentang sumber dan metode yang mereka gunakan untuk mempelajari bahasa Jepang beserta alasannya. Kali ini, kita akan berbincang dengan Michael, seorang editor di Tofugu.
Artikel ini memuat berbagai alat dan teknik yang bisa digunakan oleh para pemula. Jadi, jika Anda baru memulai perjalanan belajar bahasa Jepang, semoga ada sesuatu di sini yang bisa membantu Anda. Silakan mulai, Michael!
Belajar bahasa Jepang itu menyenangkan. Namun, meskipun saya sudah melangkah jauh melebihi apa yang saya bayangkan sebelumnya, saya tetaplah seorang pemula jika dibandingkan dengan kebanyakan orang di sekitar saya. Jika Anda berada di posisi yang sama seperti saya—baru merintis jalan menuju tingkat menengah—silakan lihat berbagai sumber di bawah ini. Semoga hal tersebut bisa membantu Anda mengatasi berbagai hambatan dalam belajar.
- WaniKani
- Language Shadowing (dengan Materi Anak yang Mudah)
- Akebi Japanese Dictionary
- Belajar Bahasa Jepang Melalui Manga (Belajar Sambil Bermain)
WaniKani

Rekomendasi ini mungkin terdengar klise, tetapi ya: saya bekerja di Tofugu dan saya menggunakan WaniKani. Namun, ada alasan di baliknya. Saya menggunakan WaniKani karena prosesnya terasa tidak menyakitkan (atau setidaknya… jauh lebih tidak menyakitkan dibandingkan metode belajar kanji lainnya).
Jika saya rutin mengerjakan pelajaran dan ulasan (reviews), hasil yang didapat akan lebih mudah diingat. Terlepas dari metode belajar apa pun yang sedang saya coba atau hentikan, WaniKani tetap menjadi andalan utama saya.
Selain rekomendasi pribadi, saya ingin membagikan cara saya menggunakan WaniKani. Tentu saja, saya membuka aplikasinya setiap hari untuk melakukan ulasan, dilanjutkan dengan lima hingga sepuluh materi pelajaran baru. Kedengarannya mudah, bukan? Kenyataannya… tidak selalu demikian. Saya pun sering kesulitan menjaga konsistensi seperti orang lain, jadi saya memanfaatkan ponsel cerdas dan yang disebut sebagai “pemicu kebiasaan” (habit triggers).
Menurut Charles Duhigg, penulis buku The Power_habit, kebiasaan bermula dari adanya pemicu tertentu. Sebagai contoh: bangun tidur lalu berjalan ke arah dapur memicu saya untuk membuat kopi. Kebiasaan itu terbentuk secara alami, tetapi jika kita menginginkan hasil yang spesifik, kita bisa sengaja menciptakan pemicu untuk membentuk kebiasaan baik.
Jika saya melakukan pelajaran dan ulasan secara rutin, hasilnya akan melekat dalam ingatan. Apapun metode belajar lain yang saya jalankan atau tinggalkan, WaniKani adalah pilar utama saya.
Contoh lainnya: begitu sampai di halte bus pada pagi hari, saya langsung mengeluarkan ponsel dan mulai mengerjakan ulasan WaniKani. Sampai di halte bertindak sebagai pemicu bagi saya untuk membuka aplikasi tersebut. Saya melanjutkan proses ini di dalam bus, di mana biasanya saya punya waktu cukup untuk menyelesaikan lima materi pelajaran sebelum tiba di tempat kerja.
Meskipun pengalaman menggunakan WaniKani paling optimal melalui komputer, saya menyadari bahwa menjadwalkan waktu khusus di depan meja kerja justru membuat saya jarang mengerjakannya. Waktu luang di bus sangat berguna, jadi saya memanfaatkannya. Memanfaatkan waktu luang adalah strategi luar biasa yang sangat saya sarankan, terutama ketika kesibukan semakin padat.
Tidak hanya itu, saya menambahkan satu langkah ekstra ketika melakukan kesalahan saat sesi ulasan WaniKani. Kesalahan adalah kesempatan untuk menjadi lebih baik, jadi agar saya tidak mengulangi kesalahan yang sama, saya menggambar ilustrasi dari mnemonic (jembatan keledai) untuk item yang saya salah jawab.
Cara ini memberikan dua manfaat utama:
- Saya mendapatkan representasi visual yang terhubung dengan item tersebut, yang sangat membantu karena saya adalah tipe pembelajar visual.
- Saya mewujudkan isyarat visual tersebut dalam bentuk yang nyata. Membayangkan sebuah mnemonic adalah satu hal, tetapi seringkali bayangan di kepala kita terasa abstrak atau kabur. Dengan menggambarkannya secara nyata, saya memaksa otak untuk mengingat tidak hanya karena melihatnya, tetapi karena saya sendiri yang membuatnya garis demi garis.
Sebagai catatan, saya tidak menghabiskan waktu lama untuk gambar-gambar ini:

Saya membuat sketsa secara cepat, sekadar untuk menciptakan gambaran yang mudah diingat. Tindakan menggambar ini biasanya sudah lebih dari cukup untuk membantu saya mengingat kembali mnemonic tersebut di kemudian hari.
- Website: WaniKani
Language Shadowing (dengan Materi Anak yang Mudah)

Pertama kali saya mendengar tentang teknik language shadowing adalah ketika sedang merekam video bersama Koichi. Ia menjelaskan bagaimana membaca bersuara mengikuti audio berbahasa Jepang dapat meningkatkan kemampuan berbicara dan pemahaman secara drastis—dan ini merupakan salah satu cara terbaik untuk belajar.
Namun ada satu kendala: teknik ini umumnya ditujukan untuk tingkat menengah ke atas. Sayang sekali bagi saya.
Meski demikian, saya sangat antusias dan tetap ingin mencobanya. Terkadang kita memang perlu sedikit keluar dari aturan yang ada, bukan? Saya pun mencari beberapa bahan bacaan lengkap dengan audio yang sesuai dengan tingkat kemampuan saya saat itu.
Meskipun Koichi menyarankan untuk melakukan shadowing setiap hari selama beberapa bulan agar hasilnya terlihat, saya tidak melakukannya sesering itu. Belajar tata bahasa dan kosakata jauh lebih membuang banyak waktu saya jika porsinya tidak diatur. Lantas, mengapa saya tetap melakukannya? Terlalu fokus pada kartu hafalan (flashcards) dan buku tata bahasa membuat kemampuan berbicara saya menurun (serta meningkatkan rasa takut untuk berbicara). Oleh karena itu, saya menggunakan shadowing sebagai semacam latihan peregangan untuk mengingatkan otak dan lidah saya bagaimana rasanya berbicara dalam bahasa Jepang. Teknik ini juga sangat efektif sebagai pemanasan sebelum menghadiri situasi di mana saya harus berbicara, seperti acara ramah tamah bahasa atau kegiatan budaya Jepang.
Jika Anda sudah berada di tingkat mahir, mencari bahan shadowing sama sekali bukan hal yang sulit. Anda tinggal mengambil buku audio atau mengunduh siniar (podcast) tanpa batasan level. Namun, untuk materi di bawah tingkat menengah, berikut adalah beberapa sumber terbaik yang berhasil saya temukan:
PIBO

Pibo adalah aplikasi untuk iOS dan Android yang menyediakan lebih dari 320 buku bergambar anak-anak yang dilengkapi dengan audio. Saat mempelajari bahasa baru, ada tahapan materi dasar yang harus Anda terima karena Anda memulainya dari nol. Dan siapa yang juga memulai kemampuan bahasa dari nol? Tentu saja bayi.
Pibo sangat menarik karena gratis, kualitas audionya jernih, dan Anda bisa melakukan shadowing meskipun belum lama belajar bahasa Jepang. Sayangnya, hampir tidak ada huruf kanji di dalam buku-buku tersebut, dan Anda hanya bisa “membaca” tiga buku dalam sehari (kecuali jika Anda membayar versi premium). Batasan tiga buku ini sudah cukup bagi saya karena saya tidak pernah merasa perlu melakukan shadowing lebih dari satu atau dua buku saja dalam sehari. Tingkat kesulitan Pibo mungkin sedikit di bawah kemampuan saya saat ini, tetapi aplikasinya sangat lucu dan gratis, jadi saya tetap menggunakannya dari waktu ke waktu.
- Website: Pibo
Hirogaru

Hirogaru adalah situs web dari The Japan Foundation yang menawarkan artikel-artikel dalam bahasa Jepang sederhana disertai audio pendukung. Sebagian besar sumber “bahasa Jepang mudah” biasanya berkisar seputar berita atau buku anak-anak, tetapi Hirogaru menyajikan artikel tentang topik sehari-hari seperti teh, musik, alam bebas, supermarket, dan tentu saja anime serta manga.
Terdapat video untuk setiap bagian dengan teks terjemahan dalam bahasa Jepang dan Inggris, meskipun bagian tersebut kurang begitu berguna untuk latihan shadowing. Bagian terbaiknya justru terletak pada artikel-artikelnya, yang menampilkan teks berbahasa Jepang lengkap dengan tombol audio di sebelah kalimatnya.
Sayangnya, audio tersebut tidak dapat diputar secara otomatis dari satu kalimat ke kalimat berikutnya, dan tidak mudah juga untuk memutar ulang bagian spesifik yang sedang sulit saya pahami. Selain itu, tidak ada terjemahan bahasa Inggris untuk artikel-artikel Jepangnya, meski hal tersebut belum tentu merupakan sebuah kekurangan. Ketiadaan bahasa Inggris memaksa saya untuk benar-benar berusaha memahami arti kalimat tersebut tanpa ada tempat bersandar. Jika suatu saat saya menggunakan layanan HiNative, terjemahan kalimat dari Hirogaru ini akan menjadi bahan yang bagus untuk diperiksa oleh penutur asli.
Secara keseluruhan, ini adalah sumber yang luar biasa karena tingkat bahasa Jepang yang digunakan berada di antara pemula menuju menengah. Jika Anda telah mempelajari struktur kalimat dasar dan kosakata selama beberapa waktu, situs ini akan memberikan tantangan sekaligus konsep-konsep baru untuk dipelajari. Ditambah lagi, rasanya jauh lebih menyenangkan daripada harus membaca cerita The Three Brothers di tempat umum ketika ada orang Jepang yang kebetulan lewat.
- Website: Hirogaru
EtoEto Kuma Level 1

EtoEto Kuma adalah salah satu sarana latihan shadowing bahasa Jepang terbaik yang tersedia (dan saya tidak mengatakan ini semata-mata karena saya bekerja di Tofugu). Materinya dibuat oleh penutur asli dan diucapkan menggunakan bahasa Jepang yang natural. Saya dapat mengaktifkan atau menonaktifkan terjemahan bahasa Inggris dengan mudah, audionya gampang diatur bagian pemutarannya, dan proses shadowing terasa menyenangkan karena saya bisa berbicara seperti layaknya orang Jepang asli, bukan seperti seorang narator cerita. Keunggulan EtoEto Kuma adalah platform ini memang dirancang khusus untuk keperluan shadowing, sehingga kontennya jauh lebih siap digunakan dibandingkan dua sumber sebelumnya.
EtoEto Kuma unggul karena memang dirancang khusus untuk latihan shadowing. Kontennya dipersiapkan untuk metode ini jauh lebih baik ketimbang sumber lainnya.
Saya biasanya memilih episode yang diberi label #Level1, karena itulah satu-satunya tingkatan yang masih dapat saya tangani. Kuma ditujukan untuk pembelajar tingkat lanjut, sehingga mencoba materi ini terkadang membuat saya merasa sedikit goyah. Kendati demikian, kontennya sangat bagus dan seru untuk dijadikan bahan shadowing hingga saya sulit untuk meninggalkannya.
Kendati demikian, tim Tofugu sedang melakukan pembaruan besar-besaran pada EtoEto, dan berbagai perubahan akan terjadi pada konten-konten ini, meski saya belum bisa memastikannya sekarang! Jadi, jika Anda cukup beruntung bisa mengaksesnya saat ini, nikmatilah selagi bisa!
- Website: EtoEto Kuma
Akebi Japanese Dictionary

Saya menggunakan Google Nexus 5x, yang artinya ponsel saya berbasis Android. Terkadang hal itu membuat saya merasa seperti pengguna kelas dua di dunia yang didominasi oleh iPhone. Untungnya, saya berhasil menemukan kamus bahasa Jepang yang saya sukai, dan saya menyarankan orang lain untuk mencobanya jika mereka juga terjebak di ekosistem Android.
Kamus pilihan saya adalah Akebi buatan Craxic. Secara keseluruhan, ini adalah kamus yang solid dengan fitur-fitur menarik—saya bisa mencari kata berdasarkan radikal kanji atau mencoba mencarinya dengan menggambar kanji tersebut. Namun, yang paling saya sukai adalah bagaimana semua entri saling terhubung satu sama lain. Tatanannya seperti lubang kelinci bagi pembelajar bahasa Jepang. Ketika saya membuka sebuah kata utama, saya langsung mendapatkan definisi, rincian komponen kanji, hingga kalimat contoh—yang semuanya terhubung ke entri lain di dalam aplikasi. Biasanya saya mulai dengan mencari arti sebuah kata, lalu membaca contoh kalimatnya, mengeklik salah satu kata di dalam contoh tersebut (yang kemudian membawa saya ke kumpulan kalimat baru), dan begitu seterusnya.
Bagian terbaiknya adalah saya bisa menyimpan semua kata tersebut ke dalam daftar saat saya berpindah-pindah dari satu kata ke kata lainnya. Anda bisa melakukannya dengan mengetuk tanda panah kanan di sebelah setiap entri.

Dengan mengekliknya, saya dapat memasukkan kata tersebut ke dalam daftar yang sudah dibuat sebelumnya untuk dipelajari kembali nanti.
Terdapat pula fitur kartu hafalan (flashcard) sehingga saya dapat mengulas daftar kata tersebut setelah terkumpul cukup banyak. Sayangnya, fitur kartu hafalan ini belum berbasis SRS (Spaced Repetition System), jadi saya hanya menggunakannya sekadarnya saja.
Untuk belajar secara serius, saya mengekspor daftar tersebut ke dalam bentuk lembar kerja (spreadsheet) ketika merasa kosakata yang terkumpul sudah cukup banyak, lalu memindahkannya ke Anki.
Saya tidak perlu panjang lebar menjelaskan betapa hebatnya sistem Anki. Untuk itu, saya menyarankan Anda membaca artikel panduan belajar bahasa Jepang karya James. Saya sendiri adalah pengguna baru Anki, jadi hal terbaik yang bisa saya tunjukkan adalah cara saya menggunakan Akebi dan Anki secara bersamaan (mengingat antarmuka kedua aplikasi ini tidak begitu intuitif).
Cara Menggunakan Akebi dan Anki Bersamaan
Pertama, buka sebuah daftar di aplikasi Akebi, ketuk ikon tiga titik di sudut kanan atas, lalu pilih opsi Import/Export.

Kedua, berikan nama pada berkas tersebut. Pastikan Anda menambahkan ekstensi .csv pada akhir nama berkas, jika tidak, berkas tersebut tidak akan bisa diekspor dengan benar. Setelah itu, ketuk tombol Export.

Berkas tersebut berhasil diekspor, tetapi Akebi tidak memberitahu di mana letak penyimpanannya! Untuk menemukan berkas misterius itu, buka menu Settings → Storage → Explore. Berkas tersebut seharusnya berada di direktori utama.
Dari sana, pindahkan berkas .csv tersebut ke Google Drive dengan cara menekan agak lama pada berkas, ketuk ikon tiga titik di sudut kanan atas, pilih Move to…, lalu tentukan akun Google Drive yang diinginkan.
Kini Anda dapat mengakses berkas tersebut melalui komputer menggunakan Google Sheets, Microsoft Excel, atau aplikasi lain yang kompatibel. Selanjutnya, Anda bisa mengolah informasi tersebut menjadi geladak (deck) Anki kustom sesuai kebutuhan Anda.
- Website: Akebi
Belajar Bahasa Jepang Melalui Manga (Belajar Sambil Bermain)

Setiap jadwal belajar pasti membutuhkan sedikit hiburan. Sebagian besar proses belajar bahasa Jepang menuntut kedisiplinan tinggi, yang berarti kita harus mengerjakannya setiap hari tanpa terkecuali. Ini ibarat pergi ke pusat kebugaran demi mendapatkan bentuk tubuh yang ideal.
Namun, seperti halnya berolahraga, Anda tentu ingin menikmati hasil dari kerja keras tubuh yang sudah dibentuk tersebut. Sesekali melakukan hal yang menyenangkan, bukan?
Bagi saya, bentuk “hiburan” tersebut adalah membaca hal-hal yang saya sukai dalam bahasa Jepang. Biasanya, pilihan utama saya jatuh pada Crayon Shin-chan, sebuah manga karya Yoshihito Usui. Karakter, gaya penulisan, humor, serta gaya gambarnya sangat cocok dengan selera saya, sehingga tidak ada beban kewajiban yang dirasakan ketika saya duduk untuk membacanya.
Saat ini, kisah Shin-chan berada di tingkat yang pas bagi kemampuan saya. Saya bisa memahami inti ceritanya secara garis besar tanpa bantuan, tetapi masih ada banyak kosakata dan ungkapan baru yang bisa saya tangkap untuk dipelajari nanti. Keuntungan lainnya adalah saya mempelajari semuanya langsung dalam konteks, sehingga lebih mudah melekat di dalam ingatan. Bagi saya, kata rusuban 留守番 bukan sekadar kosakata yang dipaksakan masuk lewat kartu hafalan, melainkan terikat selamanya di kepala saya dengan adegan ketika ibu Shin-chan menitipkan rumah dan anak itu justru menumpahkan cat ke mana-mana.
Namun, saya tidak hanya sekadar membaca lalu mencatat kosakatanya. Saya memiliki metode khusus agar bisa memaksimalkan kegiatan membaca yang santai ini:
Saat ini, Shin-chan berada di titik yang ideal bagi proses belajar saya. Saya mampu menangkap inti cerita tanpa bantuan, namun tetap menemukan banyak kosakata serta bentuk penggunaan bahasa yang bisa saya simpan untuk dipelajari kemudian.
- Pilih sebuah cerita: Manga Shin-chan sangat ideal karena kisah-kisahnya disajikan dalam format pendek sekitar tiga sampai empat halaman, sehingga mudah diselesaikan dalam sekali duduk. Saya memilih cerita yang tampaknya memiliki unsur komedi paling menarik.
- Membacanya: Saya membaca cerita tersebut dari awal sampai akhir tanpa mencari arti kata atau tata bahasa yang belum saya pahami. Hanya saya dan otak saya yang berusaha memecahkannya bersama-sama. Saya membiarkan diri saya merasa sedikit kesulitan dan mencoba menarik makna dari konteks cerita.
- Membaca ulang dengan kamus: Setelah merasa cukup paham dengan alur ceritanya, saya menggunakan Akebi untuk memeriksa seberapa akurat pemahaman saya sebenarnya. Kata apa saja yang sudah saya ketahui? Kata mana saja yang terlewat?
- Menuliskan kosakata baru: Ketika membaca untuk kedua kalinya sambil memegang kamus, saya menuliskan setiap kata yang belum saya ketahui ke dalam buku catatan, lalu menyimpannya ke dalam daftar Akebi untuk dipelajari lagi nanti. Saya memberi nama daftar Akebi tersebut berdasarkan nomor halaman cerita yang sedang dibaca.
- Membacanya kembali: Begitu selesai mencari arti semua kata baru, saya membaca ulang cerita tersebut dengan kepala yang kini jauh lebih paham. Sering kali saya membaca kalimat Jepangnya dengan suara lantang lalu menerjemahkannya, seolah-olah sedang membacakan cerita untuk anak kecil yang belum mengerti bahasa Jepang (“Lalu Shin-chan bilang, ‘Hei, kamu suka bawang enggak?'”). Kadang-kadang saya bahkan membacakannya untuk kucing saya.
- Membacanya setiap hari selama seminggu: Selepas sesi belajar tersebut, saya kembali membaca cerita yang sama setiap hari selama seminggu penuh, biasanya sebelum berangkat kerja atau menjelang tidur. Dengan cara ini, saya secara tidak langsung mengulang tata bahasa dan kosakata sekaligus menangkap lapisan makna yang mungkin terlewat sebelumnya.
Saya sangat menyukai metode ini karena saya bisa menyerap kosakata dan tata bahasa baru, melekatkannya di dalam pikiran, serta membiasakan lidah dan otak dengan pola kalimat secara alami saat membaca. Ditambah lagi, cerita Shin-chan memang sungguh menghibur bagi saya.
Belajar bahasa Jepang bukanlah hal yang mudah, setidaknya tidak bagi saya. Namun, seluruh kemajuan kecil yang telah saya kumpulkan saling terhubung dan memungkinkan saya melakukan hal-hal yang tidak pernah saya duga sebelumnya saat pertama kali memulai. Meskipun Anda tidak akan melihat saya berpidato dalam bahasa Jepang atau berbincang akrab dengan Shinzo Abe dalam waktu dekat, saya tidak akan berhenti belajar. Karena setiap kali saya berhasil melakukan percakapan yang lancar atau melahap halaman-halaman manga dengan mudah, ada bisikan kecil di dalam hati yang berkata, “Kamu tidak bisa melakukan ini setahun yang lalu. Coba bayangkan apa yang bisa kamu capai setahun dari sekarang.”
Keshasilan berakar dari konsistensi, bukan kesempurnaan. Teruslah melangkah, dan Anda pasti akan mencapai garis akhir Anda.







