Home / Travel / Menjelajahi Kehidupan Malam Roppongi: Menikmati Sisi Kontras Roppongi Semaksimal Mungkin

Menjelajahi Kehidupan Malam Roppongi: Menikmati Sisi Kontras Roppongi Semaksimal Mungkin

header 640x 41

Asal-Usul Nama Roppongi

Meskipun namanya secara harfiah berarti “enam pohon”, kawasan Roppongi di Tokyo sering kali diibaratkan seperti kisah Dr. Jekyll dan Mr. Hyde. Terletak di Minato Ward, wilayah seluas satu kilometer persegi ini memadukan pusat bisnis, budaya, dan hiburan malam yang dinamis.

sunlight through the trees in forest
Source: Σ64

Ada dua teori utama mengenai asal usul nama tersebut. Teori pertama berasal dari masa sebelum era Edo, ketika para petani dan pencari kayu sering mendatangi hutan setempat yang terkenal ditumbuhi oleh enam jenis pohon yang kini sudah dilupakan. Teori kedua berkaitan dengan enam keluarga daimyo atau gubernur yang diwajibkan oleh Keshogunan Tokugawa untuk tinggal di dekat ibu kota Edo, di mana nama keenam keluarga tersebut berakhiran dengan aksara kanji yang berarti “pohon”.

Kawasan ini mulai berkembang pesat setelah upacara kremasi istri Shogun Hidetada pada tahun 1626 yang membawa kemakmuran bagi para biksu setempat untuk membangun kuil dan fasilitas penginapan, yang kemudian menarik minat warga untuk tinggal dan berdagang di sana.

Transformasi dan Pengaruh Militer

skyscrapers in Roppongi hills
Source: Morio

Seiring berjalannya waktu, kehadiran militer mulai membentuk karakter Roppongi. Dimulai dari penempatan personel Angkatan Darat Kekaisaran Jepang pada tahun 1894 akibat Perang Jepang-China, yang disusul oleh kedatangan tentara Amerika Serikat pasca Perang Dunia II. Kombinasi budaya internasional ini terus bertahan hingga hari ini.

Pada masa gelembung ekonomi Jepang, Roppongi menjadi pusat kaum pebisnis dan selebritas menghabiskan malam. Namun, ketika ekonomi tersebut runtuh pada tahun 1980-an, banyak bisnis lokal yang bangkrut. Kawasan ini kemudian diselamatkan oleh proyek pembangunan kembali perkotaan yang dipelopori oleh pengembang properti Minoru Mori.

Kelahiran Roppongi Hills

Mori Tower skyscraper
Source: Shunsuke Kobayashi

Pemerintah Jepang meluncurkan kebijakan pembaruan perkotaan melalui undang-undang khusus pada tahun 2002 untuk mendorong investasi swasta di kawasan padat penduduk. Memanfaatkan momentum ini, Mori merealisasikan visinya untuk membangun pusat budaya baru di Tokyo.

Kompleks Roppongi Hills yang selesai dibangun pada tahun 2003 mencakup area seluas sekitar 24 hektar. Kompleks ini memiliki gedung utama setinggi 54 lantai, ratusan toko serta restoran, dan menjadi kantor pusat bagi perusahaan multinasional terkemuka.

Kepribadian Ganda Roppongi

 cars going through roppongi at night
Source: Grueslayer

Roppongi menawarkan suasana yang unik dan kontras, memadukan kawasan perkantoran formal, pusat seni berkelas, hingga dunia hiburan malam yang dikenal rawan akan tindakan kriminal.

Pusat Bisnis

aerial view of Roppongi skyline
Source: jon

Pada siang hari, Roppongi berfungsi sebagai kawasan komersial yang serius. Berbagai gedung perkantoran, pusat konvensi, kedutaan besar, dan kantor pemerintahan berdiri di sini, termasuk markas besar perusahaan seperti Google Japan, The Pokemon Company, TV Asahi, dan sejumlah firma hukum besar.

Sisi Seni dan Budaya

Mori museum of art entrance
Source: Ihateanarchists

Selain bisnis, kawasan ini juga menjadi pusat kegiatan seni melalui institusi seperti Mori Art Museum dan Mori Arts Center Gallery. Acara tahunan Roppongi Art Night rutin mengubah seluruh sudut distrik menjadi galeri seni raksasa, sementara Academy Hills dan TOHO Cinemas Roppongi Hills menyediakan ruang bagi edukasi serta perfilman.

Dunia Hiburan Malam

dj gesturing for partygoers to raise their hands
Source: dat’

Reputasi Roppongi sebagai destinasi hiburan malam sudah terbangun sejak era militer dan terus berkembang melalui kehadiran bar, klub malam, serta kelab malam host dan hostess. Sayangnya, popularitas ini juga diiringi oleh sisi gelap berupa aktivitas kriminal.

Sisi Gelap dan Risiko Kriminalitas

drunk man passed out on side of street
Source: karendesuyo

Statistik kepolisian menunjukkan bahwa Roppongi mencatat angka kejahatan kekerasan tertinggi di Tokyo. Meskipun sebagian besar korban berasal dari kalangan internal seperti anggota geng atau pekerja malam, wisatawan asing juga kerap menjadi sasaran empuk.

Pencampuran Minuman Berbius

black & white photo of margarita glasses
Source: LEEROY.ca

Kedutaan Besar Amerika Serikat telah mengeluarkan peringatan terkait kasus minuman yang dicampur obat bius tanpa sepengetahuan korban. Pelaku biasanya mengincar wisatawan asing untuk kemudian menguras kartu kredit korban saat mereka tidak sadarkan diri di dalam maupun di luar bar.

Penipuan Terhadap Pelanggan Pria

advertisement for hostess club
Source: Danny Choo

Kelab malam dan layanan hiburan tertentu kerap menjebak pelanggan pria dengan tagihan membengkak akibat biaya tersembunyi yang tidak wajar atau tekanan dari staf untuk terus memesan minuman.

Pegawai yang Agresif

patrons in dimly light bar
Source: Anna Lee

Para penjaga pintu atau pencari pelanggan di jalanan Roppongi dikenal sangat gigih dan terkadang bersikap agresif dalam menarik wisatawan masuk ke dalam bar. Cara terbaik untuk menghadapi mereka adalah mengabaikannya dan terus berjalan.

Menghindari Gang Sempit

mother and sun walking down bright alley
Source: shiranai

Aktivitas ilegal seperti transaksi narkoba umumnya terjadi di area tersembunyi. Pengunjung disarankan untuk tetap berada di jalan-jalan utama yang terang dan menghindari lorong atau gang sepi demi keselamatan.

Kesimpulan

view of Roppongi skyline at night
Source: Laitr Keiows

Roppongi sering kali digambarkan sebagai kawasan yang memiliki kepribadian ganda atau penuh kontradiksi. Di satu sisi ia menawarkan kemegahan bisnis dan seni, sementara di sisi lain menyimpan risiko bahaya di malam hari. Dengan tetap waspada dan berhati-hati, pengunjung dapat menikmati seluruh sisi positif Roppongi tanpa harus terjebak dalam masalah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *