Bagi banyak pembelajar bahasa Jepang, tinggal dan merasakan langsung kehidupan di Jepang adalah sebuah impian besar. Namun, ketika seseorang pindah ke negara lain, seringkali terjadi pergeseran identitas yang menarik. Identitas nasional Anda mungkin terasa jauh lebih menonjol dari sebelumnya, atau justru sebaliknya karena Anda kini berada dalam kategori “orang asing.” Pengalaman mengenai privilese atau diskriminasi yang biasa Anda hadapi di negeri sendiri juga bisa berubah bentuk ketika Anda berada di lingkungan yang baru.
Artikel ini akan berfokus pada identitas yang tidak selalu kasat mata, yaitu komunitas LGBTQ+. Berbeda dengan latar belakang etnis atau kewarganegaraan, identitas queer seringkali harus diungkapkan secara sadar agar orang lain mengetahuinya. Hal ini tentu memunculkan tantangan tersendiri bagi para pembelajar bahasa Jepang yang merupakan bagian dari komunitas queer. Bagaimana cara coming out dalam bahasa Jepang? Istilah apa saja yang tepat untuk digunakan agar orang lain memahami maksud kita?
Melalui artikel ini, kita akan menyelami berbagai istilah identitas queer dalam bahasa Jepang dengan menempatkannya dalam konteks sejarah dan budaya. Dengan memahami nuansa di balik kata-kata tersebut, Anda tidak hanya dapat mengenali penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga dapat mengekspresikan identitas Anda dengan lebih akurat.
Catatan: Artikel ini bertujuan untuk memberikan informasi kepada pembelajar bahasa Jepang mengenai istilah-istilah yang ada dalam bahasa Jepang untuk mendeskripsikan identitas queer. Karena cakupan istilah yang luas dan sifat budaya queer yang dinamis, tidak semua hal dapat dibahas. Beberapa istilah mungkin bersifat merendahkan atau terasa kurang nyaman bagi sebagian pembaca ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Namun, memahami istilah-istilah ini penting agar pembelajar LGBTQ+ dapat mengenali makna saat mendengarnya. Tujuan dari artikel ini adalah membantu individu queer yang ingin mengenal atau mengunjungi Jepang dalam menavigasi ekspresi identitas mereka.
Dunia Panseksual yang Bebas

Mari kita mulai penjelajahan ini dari masa pra-modern Jepang. Pada masa itu, pandangan masyarakat terhadap seksualitas cenderung bersifat panseksual. Bukan berarti semua orang menyukai segala jenis gender, melainkan hubungan asmara dan seksual antar-gender—bahkan yang tidak konvensional—tidak dianggap sebagai sebuah penyimpangan atau hal yang abnormal. Seksualitas pada masa itu dipahami sebagai sesuatu yang dilakukan, bukan sebagai identitas yang melekat pada diri seseorang. Sebagai contoh, praktik nanshoku atau cinta sesama jenis di kalangan samurai bukanlah hal tabu, dan mereka tetap bisa menjalani hubungan dengan lawan jenis.
Cinta dan seks di antara berbagai gender, bahkan yang tidak konvensional, tidak pernah dianggap sebagai sebuah kelainan atau penyimpangan.
Ketika Jepang memasuki Periode Edo yang lebih stabil, berbagai industri kreatif berkembang pesat. Teater, restoran, dan pusat hiburan menjadi tempat berlindung bagi orang-orang dengan ekspresi gender non-konvensional untuk mencari nafkah. Dunia hiburan ini dikenal sebagai ukiyo atau “dunia yang mengapung,” yang mencerminkan suasana yang bebas dan terbuka. Teater Kabuki menjadi sangat lekat dengan individu non-konvensional karena wanita dilarang tampil, sehingga para pria harus memerankan karakter perempuan. Aktor-aktor ini dikenal sebagai onnagata dan seringkali menjadi pusat perhatian banyak pengagum dari berbagai kalangan.
Keterbukaan historis terhadap seks dan gender ini memberikan dampak positif bagi masyarakat Jepang modern. Toleransi masa lalu membuat komunitas queer di Jepang jarang mengalami penganiayaan yang agresif. Selain itu, figur publik queer seperti ratu penata rias Matsuko Deluxe dan entertainer transgender Haruna Ai sangat populer di televisi, yang seolah mencerminkan apresiasi masyarakat terhadap tradisi onnagata di masa lampau.
Panggilan Berbasis Alat Dapur

Istilah-istilah awal dalam identitas queer Jepang berakar dari kebudayaan “dunia yang mengapung” pada Periode Edo.
おかま ・ okama ・ “panci nasi”
Secara harfiah, okama berarti “panci nasi,” namun pada Periode Edo kata ini digunakan untuk menyebut pihak pasif dalam hubungan anal seks. Seiring waktu, istilah ini juga diasosiasikan dengan aktor Kabuki magang yang kerap menemui penonton di luar panggung. Kini, okama digunakan baik sebagai istilah identitas diri maupun sebagai sebutan kasar, tergantung pada konteksnya. Kata ini kerap dipakai untuk merujuk pada pria feminin, waria, atau wanita trans. Sebagian kalangan di dalam komunitas queer memilih untuk merebut kembali kata ini dan menggunakannya secara bersahabat sesama rekan queer.
おなべ ・ onabe ・ “wajan memasak”
Secara harfiah berarti “wajan memasak,” istilah onabe digunakan untuk merujuk pada individu berjenis kelamin lahiriah perempuan yang menjalani hidup sebagai seorang pria. Istilah ini juga berakar dari sejarah pekerja wanita di Periode Edo. Karena lahir dari dalam komunitas queer sendiri, onabe umumnya tidak dianggap separah okama, meskipun batasannya dengan istilah modern seperti transgender terkadang masih kabur.
おこげ ・ okoge ・ “kerak nasi”
Okoge mengacu pada kerak nasi yang menempel di bagian dalam panci. Dalam konteks komunitas queer, istilah ini digunakan untuk menyebut perempuan yang gemar berteman dengan pria gay, mirip dengan istilah dalam bahasa Inggris seperti fag hag. Istilah ini relatif jarang didengar di luar komunitas queer.
Erotis, Grotesk, dan Masuknya Pengaruh Barat
Memasuki awal abad ke-20, Jepang mengadopsi berbagai teknologi dan ideologi dari Barat. Ilmu seksologi mulai masuk ke dalam dunia medis Jepang, yang kemudian melabeli cinta sesama jenis sebagai sebuah bentuk kelainan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Jepang, praktik seksual mulai dikototomikan menjadi seijō (“normal”) dan hentai (“abnormal”).
変態 ・ hentai ・ “abnormal, menyimpang”
Meskipun bukan istilah identitas queer secara murni, kata hentai memiliki sejarah yang erat dengan persepsi tentang seksualitas pada masa itu. Dalam bahasa Jepang modern, hentai merujuk pada hal-hal yang berbau fetisme atau keganjilan seksual secara umum, dan tidak serta-merta merujuk pada karya porno seperti pemahaman di luar negeri. Dari kata inilah lahir istilah sehari-hari etchi yang merujuk pada aktivitas seksual.
同性愛 ・ dōseiai ・ “homoseksualitas”
Pada tahun 1920-an, kata dōseiai mulai muncul dalam literatur akademis sebagai terjemahan dari konsep “homoseksualitas” barat. Istilah ini dapat digunakan untuk hubungan sesama jenis pria maupun wanita. Saat ini, bentuk penambahan kata dōseiaisha (“orang homoseksual”) kerap ditemukan dalam tulisan formal karena bernuansa cukup klinis.

Orientasi Seksual
Konsep orientasi seksual—atau seiteki shikō dalam bahasa Jepang—mulai dikenal luas pada masa pascaperang seiring dengan masuknya pengaruh budaya barat dan berkembangnya distrik hiburan malam Shinjuku Ni-chome di Tokyo.
ゲイ ・ gei ・ “gay”
Kata gei masuk ke dalam bahasa Jepang sekitar tahun 1950-an untuk merujuk pada skena kehidupan malam kaum queer serta para pekerjanya. Seiring berjalannya waktu, istilah ini bergeser maknanya dan kini digunakan secara luas seperti halnya penggunaan kata “gay” di Amerika Serikat.
レズビアン ・ rezubian ・ “lesbian”
Sebelum istilah rezubian diterima secara luas seperti sekarang, singkatan kasarnya yakni rezu sempat lekat dengan citra media dewasa heteroseksual. Berkat upaya para aktivis lesbian, istilah rezubian kini telah mengalami pergeseran makna yang positif. Selain itu, ada pula istilah alternatif seperti bian atau penggunaan kata yuri yang merujuk pada hubungan sesama jenis antar-perempuan dalam dunia manga.
バイセクシャル ・ baisekusharu ・ “biseksual”
Bagi individu biseksual, terdapat beberapa pilihan istilah mulai dari kata serapan baisekusharu, bentuk singkatnya bai, hingga ungkapan tradisional seperti ryōtōdzukai (“pengguna dua pedang”). Sementara itu, individu panseksual umumnya menggunakan istilah pansekusharu.
ノンケ ・ nonke ・ “straight”
Kata nonke adalah istilah paling umum yang digunakan di dalam komunitas queer untuk menyebut orang yang heteroseksual atau “straight”. Di samping itu, istilah sutorēto atau penggunaan kata futsū (“normal”) juga kerap digunakan oleh sebagian kalangan.
Identitas Gender
Kelompok istilah terakhir berkaitan dengan identitas gender atau seijinin.
Meskipun kaum transgender telah lama menjadi bagian yang terlihat dalam budaya Jepang, sejarah panjang mencatat bahwa mereka kerap disalahpahami sebagai “crossdresser.”
Onē (berasal dari kata kakak perempuan) digunakan untuk mendeskripsikan pria gay atau wanita trans yang berbicara dan bertingkah laku secara feminin. Gaya bahasa khas yang disebut onē kotoba sangat populer di kalangan selebritas televisi.
Kata serapan toransujendā kini sudah diakui secara luas di Jepang. Meskipun operasi penentuan ulang gender telah dilegalkan sejak tahun 1997, regulasi resmi terkait perubahan status jenis kelamin pada dokumen administratif masih menyertakan berbagai persyaratan yang ketat dan kontroversial.
Istilah nyūhāfu merupakan gabungan kata buatan Jepang (wasei-eigo) yang merujuk pada pekerja di klub malam tertentu, namun istilah ini kini mulai jarang digunakan oleh generasi muda karena konotasinya yang kurang tepat.
Coming Out di Jepang

Bagaimana rasanya melakukan coming out di Jepang? Pengalaman setiap individu tentu berbeda-beda. Sebagai warga asing, sebagian orang mungkin merasa memiliki kebebasan karena berada di luar ekspektasi sosial masyarakat lokal. Namun, bagi warga Jepang sendiri, tekanan sosial untuk “selaras dengan kelompok” membuat proses coming out menjadi jauh lebih sulit. Jepang mencatat tingkat coming out yang tergolong rendah, di mana kekhawatiran akan memicu masalah di dalam keluarga menjadi salah satu hambatan terbesar.
Meskipun demikian, generasi muda di Jepang saat ini jauh lebih terbuka terhadap komunitas queer. Beberapa kota bahkan telah mulai mengeluarkan sertifikat kemitraan sesama jenis yang memberikan hak hukum tertentu seperti izin kunjung rumah sakit. Distrik seperti Shinjuku Ni-chome di Tokyo dan Doyamacho di Osaka tetap menjadi pusat komunitas internasional bagi siapa saja yang ingin mencari ruang yang aman dan terbuka di Jepang.








