Sebagian besar penikmat budaya pop Jepang tentu sudah tidak asing lagi dengan Boys’ Love atau BL, sebuah genre populer yang mengeksplorasi hubungan romantis antar karakter pria. Namun, pernahkah terlintas di benak Anda ke mana arah representasi LGBTQ+ wanita dalam media Jepang? Ternyata, dunia hiburan Jepang memiliki padanan yang kurang lebih serupa, yang dikenal dengan istilah “yuri” (百合) atau yang secara harfiah berarti “bunga lili”.
Genre yuri menyajikan kisah romantis maupun hubungan homososial yang bernuansa romantis di antara karakter-karakter wanita. Artikel ini akan membahas secara singkat mengenai latar belakang sejarah yuri, berbagai karya klasik yang menjadi tonggak penting, serta rekomendasi judul manga dan anime yang ramah bagi pemula. Meskipun popularitasnya belum sebesar BL, dukungan moral maupun finansial dari para penggemar dapat membantu genre ini berkembang lebih pesat.
- Apa Itu Yuri?
- Sejarah Perkembangan Yuri
- Takarazuka: Kelompok Teater Khusus Wanita (Dekade 1910-an)
- Kelas S: Gerakan Sastra Persaudaraan di Sekolah Khusus Putri (1910-an – Seterusnya)
- Kelompok Mangaka Tahun 24: Generasi Seniman Manga Wanita Kelahiran Tahun ke-24 Era Shōwa (Dekade 1970-an)
- Rekomendasi Tokoh Utama Yuri Klasik (Dekade 1990-an – 2000-an)
- Rekomendasi Yuri Modern untuk Pemula
- Kesimpulan
Bagi Anda yang sedang tidak ingin membaca teks panjang, tersedia pula siniar audio yang dapat dinikmati sembari menjalani aktivitas santai sehari-hari.
Apa Itu Yuri?
Yuri sering kali digunakan untuk merujuk pada manga, anime, serta berbagai kisah yang menyoroti hubungan antar wanita.
Istilah yuri (百合) secara harfiah berarti “bunga lili” dalam bahasa Jepang. Kata ini mulai diadopsi untuk menggambarkan hubungan queer di antara wanita pada dekade 1970-an. Majalah gay komersial pertama di Jepang, Barazoku (薔薇族 atau “kelompok mawar”), dipercaya mencetuskan istilah yurizoku (百合族 atau “kelompok lili”) untuk komunitas lesbian sebagai padanan dari komunitas gay pria. Dari sinilah lahir istilah slang yuri yang kini populer untuk menyebut berbagai karya fiksi tentang hubungan sesama jenis antar wanita.
Kendati demikian, definisi pasti mengenai yuri kerap memicu perdebatan, terutama di kalangan pemasar industri anime. Sebagian pihak menganggap segala cerita yang berpusat pada karakter wanita sebagai yuri, terlepas dari ada atau tidaknya unsur romansa queer. Akibatnya, kisah mengenai para gadis yang sekadar bersahabat dan bersenang-senang kerap dikategorikan ke dalam standar industri ini. Kategori tersebut mencakup keintiman emosional, persahabatan, hingga konsep “skinship” tanpa harus dikaitkan secara langsung dengan aktivitas LGBTQIA+.
Definisi akurat dari yuri sangat bergantung pada sudut pandang masing-masing individu.
Di sisi lain, ada pula kelompok yang meyakini bahwa sebuah karya baru bisa disebut sebagai yuri apabila menyajikan muatan queer yang jelas di luar sekadar subteks. Pertanyaan apakah sebuah cerita benar-benar mengusung tema romantis atau sekadar persahabatan yang sangat akrab sering kali mewarnai pengalaman menikmati genre ini. Sering kali pembaca harus bersabar hingga akhir cerita untuk mengetahui kejelasan hubungan para karakternya.
Batasan antara persahabatan biasa dan romansa dalam yuri pada akhirnya dikembalikan kepada penafsiran masing-masing penikmat. Seiring berjalannya waktu, narasi dalam karya-karya Jepang semakin berani dan terbuka, sehingga definisi mengenai genre ini pun terus mengalami perkembangan.
Sejarah Perkembangan Yuri

Sebagai sebuah genre modern yang utuh, yuri relatif baru berkembang dalam beberapa dekade terakhir. Meskipun demikian, akar sejarah kisah-kisah yang mengeksplorasi hubungan antar wanita ini dapat ditelusuri jauh ke belakang melalui berbagai medium seperti teater Takarazuka hingga persahabatan romantis ala Kelas S.
Takarazuka: Kelompok Teater Khusus Wanita (Dekade 1910-an)
Dalam pementasan Takarazuka, seluruh peran dimainkan oleh wanita, termasuk karakter pria.
Salah satu fondasi awal yang memengaruhi perkembangan yuri adalah Takarazuka Revue, kelompok teater wanita asal Hyōgo yang didirikan pada tahun 1913. Seluruh pemeran dalam kelompok ini adalah wanita, termasuk untuk peran-peran pria yang disebut sebagai otokoyaku (男役). Meskipun pada awalnya dibentuk dengan gagasan tradisional mengenai peran gender, Takarazuka perlahan bertransformasi menjadi wadah pemberdayaan yang mendobrak batasan sosial melalui penampilan para anggotanya.
Takarazuka lebih berfokus pada aspek pemberdayaan ketimbang orientasi seksual secara eksplisit.
Meskipun tidak secara blak-blakan mengusung tema homoseksualitas, Takarazuka memberikan pengaruh besar terhadap estetika budaya yang digemari oleh komunitas wanita pencinta wanita. Fenomena penggemar fanatik hingga hubungan personal antar anggota teater turut memperkuat kaitan budaya ini dengan unsur-unsur queer.
Kelas S: Gerakan Sastra Persaudaraan di Sekolah Khusus Putri (1910-an – Seterusnya)
Pengaruh awal lainnya terhadap genre yuri dapat ditemukan dalam gerakan sastra yang dikenal sebagai Kelas S yang mencapai puncaknya pada dekade 1930-an.
Akar dari kisah yuri banyak bersumber dari dinamika persahabatan romantis di lingkungan sekolah khusus siswi.
Sebelum Perang Dunia II, sistem pendidikan di Jepang kerap memisahkan sekolah antara siswa laki-laki dan perempuan. Lingkungan eksklusif ini melahirkan fenomena “persahabatan romantis” di kalangan siswi, yang kemudian menginspirasi karya sastra seperti novel Hanamonogatari (花物語) karya Yoshiya Nobuko. Novel tersebut menggambarkan ikatan emosional sekaligus fisik di antara para siswi di sebuah asrama putri.
Banyak karya pada masa itu yang mengaburkan batas antara persahabatan, kekerabatan, dan romansa.
Karya-karya pada era tersebut sering kali menampilkan hubungan mentor senpai-kouhai yang sangat intens, sehingga mengaburkan batas antara persahabatan biasa dan ketertarikan romantis. Pola hubungan yang ambigu ini turut mewarnai karakteristik cerita yuri di masa kini, di mana kedekatan emosional antar karakter kerap menyisakan ruang interpretasi bagi pembaca.
Kelompok Mangaka Tahun 24: Generasi Seniman Manga Wanita Kelahiran Tahun ke-24 Era Shōwa (Dekade 1970-an)
Perkembangan berikutnya berlanjut ke medium manga melalui kontribusi generasi seniman wanita yang tergabung dalam Kelompok Tahun 24 (24年組).
Para mangaka dari kelompok ini memperkaya ruang lingkup manga shōjo dengan tema-tema yang jauh lebih kompleks.
Terpengaruh oleh gelombang kontrakultur tahun 1960-an, para mangaka generasi ini mengangkat isu-isu seputar politik, gender, dan seksualitas ke dalam manga shōjo. Mereka mengeksplorasi psikologi tokoh secara mendalam serta memasukkan unsur genre lain seperti fiksi sejarah dan horor, sekaligus mulai menyentuh tema romansa sesama jenis serta karakter androgini.
Mereka berani mengeksplorasi kisah cinta sesama jenis serta menghadirkan karakter non-biner dan androgini.
Contoh karya penting dari periode ini meliputi Rose of Versailles dan Oniisama e karya Riyoko Ikeda, serta Shiroi Heya no Futari karya Ryōko Yamagishi. Meski kerap diwarnai akhir cerita yang tragis bagi karakter LGBTQ+-nya, karya-karya ini menjadi fondasi krusial bagi kemunculan genre yuri di masa depan.
Rekomendasi Tokoh Utama Yuri Klasik (Dekade 1990-an – 2000-an)
Berbagai tokoh ikonik mulai bermunculan di kancah yuri sepanjang dekade 1990-an hingga 2000-an.
Memasuki era modern, kancah yuri mulai melahirkan berbagai karakter ikonik yang membekas di hati para penggemar. Salah satu yang paling legendaris adalah Revolutionary Girl Utena, sebuah seri manga dan anime yang mengisahkan Utena, seorang siswi yang bercita-cita menjadi pangeran, serta hubungannya dengan Anthy.
Selain itu, serial populer seperti Sailor Moon juga menampilkan pasangan sesama jenis yang secara kanonik diakui, yaitu Sailor Uranus dan Sailor Neptune. Sementara itu, bagi pencinta nuansa persahabatan ala Kelas S, Maria-sama ga Miteru menawarkan dinamika hubungan mentor dan “saudara perempuan” (sœur) yang sangat kental dengan nuansa lesbian meskipun disampaikan secara tersirat.
Deretan cerita klasik ini membantu memahami akar dan perkembangan genre yuri hingga saat ini.
Rekomendasi Yuri Modern untuk Pemula

Saat ini, manga bertema yuri dapat dengan mudah ditemukan melalui berbagai majalah dan penerbit khusus seperti YuriHime (コミック百合姫) terbitan Ichijinsha yang menyediakan beragam variasi cerita.
Salah satu representasi terbaik dari yuri modern dapat ditemukan dalam karya berjudul Yagate Kimi ni Naru.
Judul yang kerap direkomendasikan untuk pemula adalah Yagate Kimi ni Naru (“Bloom Into You”) karya Nio Nakatani. Cerita ini berfokus pada dua siswi SMA bernama Touko Nanami dan Yuu Koito, yang mengeksplorasi proses pencarian identitas seksual, termasuk menyinggung spektrum aromantisme dan aseksualitas.
Bagi pembaca yang mencari cerita dengan suasana yang lebih ringan dan membahagiakan, judul seperti Asagao to Kase-san (“Kase-san and the Morning Glories”) serta Sakura Trick menawarkan kisah yang manis. Di sisi lain, manga seperti Ano Ko ni Kisu to Shirayuri wo dan Sasayaku You ni Koi o Utau menghadirkan dinamika dari berbagai pasangan yang memperkaya sudut pandang pembaca.
Shimanami Tasogare adalah kisah queer revolusioner yang berlatar di wilayah pedesaan Hiroshima.
Satu seri lain yang patut disimak adalah Shimanami Tasogare (“Our Dreams at Dusk”) karya Yuhki Kamatani. Meskipun bukan murni bergenre yuri, manga empat volume ini menyajikan potret yang sangat sensitif dan autentik mengenai beragam identitas di bawah payung komunitas LGBTQIA+ di Jepang.
Kesimpulan
Genre yuri menyimpan banyak kisah menarik, mendalam, dan bermakna yang layak mendapatkan apresiasi dari berbagai kalangan, terlepas dari latar belakang pembaca. Membaca manga yuri kini semakin mudah diakses melalui pembelian buku elektronik, sehingga para penggemar di luar Jepang pun dapat menikmati beragam judul berkualitas dengan lebih praktis.
-
Skinship (スキンシップ), gabungan kata bahasa Inggris “skin” dan “kinship”, merupakan istilah dalam bahasa Jepang yang merujuk pada kontak fisik. ↩








