Home / Travel / Mengenal Puisi Jepang: Ibarat Lautan Dalam, Mari Mulai Langkah Pertama Anda!

Mengenal Puisi Jepang: Ibarat Lautan Dalam, Mari Mulai Langkah Pertama Anda!

header 640x 22

Membaca puisi Jepang untuk pertama kalinya saat masih anak-anak meninggalkan kesan mendalam bagi banyak orang. Salah satu bentuk sastra yang paling ikonik adalah haiku karya Matsuo Bashō, yang kerap menjadi gerbang awal ketertarikan seseorang terhadap budaya Jepang, berdampingan dengan kecintaan pada dunia permainan video.

Menikmati puisi Jepang dapat diibaratkan seperti mengupas bawang: memiliki banyak lapisan. Lapisan terluarnya adalah membaca karya-karya terjemahan dan menikmatinya apa adanya. Sementara itu, inti terdalamnya adalah membaca naskah asli berbahasa Jepang dengan pemahaman luas mengenai khazanah sastra Jepang maupun Tiongkok, mengingat puisi tradisional Jepang sering kali sarat akan referensi karya sastra dari kedua negara tersebut.

Secara garis besar, sejarah puisi Jepang dan istilah-istilah dasarnya memiliki cakupan yang sangat luas. Di bawah ini adalah panduan ringkas mengenai terminologi serta perkembangan sejarahnya, diikuti oleh berbagai pilihan karya puisi terbaik.

Terminologi

tombstones in front of fuji japanese poetry crash course

Puisi tradisional Jepang memiliki berbagai bentuk yang sangat teknis. Haiku mungkin menjadi bentuk yang paling familier, namun masih banyak jenis puisi lain yang tidak kalah penting, seperti chōka, tanka, renga, haikai, renku, hokku, dan haiku itu sendiri.

Chōka dan tanka merupakan bagian dari bentuk waka. Secara singkat, chōka adalah waka berukuran panjang, sedangkan tanka adalah waka berukuran pendek. Seiring berjalannya waktu, tanka menjadi jauh lebih populer, sehingga istilah waka dan tanka kerap digunakan secara bergantian.

Menurut buku referensi sastra, renga tersusun atas bait-bait tanka yang saling terhubung dalam satu urutan yang padu secara puitis, meskipun antar-baitnya tidak selalu memiliki hubungan semantik secara langsung. Terdapat aturan yang sangat rumit mengenai susunan bait tersebut, dan sebuah renga bahkan bisa ditulis oleh hingga tiga penyair berbeda.

Haikai adalah bentuk renga yang lebih santai dengan tema yang cenderung ringan, sementara renku adalah sebutan modern untuk haikai. Adapun hokku merupakan bait pembuka dari sebuah renga atau haikai yang terdiri dari tiga baris dengan pola suku kata 5-7-5. Struktur ini tentu sangat akrab bagi para penikmat haiku. Faktanya, haiku memang berkembang dari hokku, namun konsep haiku sebagai bentuk puisi mandiri baru muncul pada akhir tahun 1800-an. Ini berarti Matsuo Bashō, yang secara luas dianggap sebagai penyair haiku terhebat, secara teknis tidak pernah menulis haiku karena bentuk tersebut belum ada pada masanya. Meski demikian, Bashō menulis sangat banyak hokku.

Sejarah

boncho basho and kyorai japanese poetry crash course

Para sejarawan umumnya membagi perkembangan puisi Jepang ke dalam kategori klasik dan modern. Akar puisi Jepang tertua berawal dari tradisi lisan yang sebagian besar telah hilang. Ketika tradisi tulis mulai berkembang, penekanan awal justru banyak diberikan pada puisi berbahasa Tiongkok yang dikenal sebagai kanshi.

Kumpulan tertulis utama puisi berbahasa Jepang dapat ditemukan dalam Kojiki yang rampung pada tahun 712 Masehi, yang sebagian besar berisi kisah para dewa dan penguasa. Delapan tahun kemudian, Nihon Shoki diterbitkan dengan fokus serupa, sekaligus merekam berbagai puisi dan nyanyian lisan terdahulu.

Tidak lama setelahnya, lahirlah Man’yōshū atau “Kumpulan Sepuluh Ribu Daun”, yang memuat puisi hingga sekitar tahun 759 Masehi. Inilah antologi puisi Jepang tertua yang masih bertahan hingga kini. Terdiri dari 20 volume, Man’yōshū merangkum karya dari kurun waktu sekitar tahun 600 hingga 759 Masehi. Buku ini tidak disusun secara kaku dan mencakup pula puisi serta prosa berbahasa Tiongkok. Banyak puisi di dalamnya bersifat anonim, konon diciptakan oleh para penjaga perbatasan dan rakyat biasa, meski kemudian disunting oleh para sarjana istana. Karya ini kelak menjadi fondasi yang sangat berpengaruh bagi generasi penulis Jepang selanjutnya.

Pada awal abad ke-10, antologi waka berjudul Kokinshū diselesaikan atas perintah kekaisaran. Berbeda dari Man’yōshū, Kokinshū disusun secara sangat sistematis berdasarkan topik, seperti rangkaian puisi cinta yang menggambarkan tahapan kisah romansa di lingkungan istana.

Periode ini juga menandai bangkitnya para penulis wanita terkemuka di Jepang, seperti ibu dari Fujiwara Michitsuna, Murasaki Shikibu penulis The Tale of Genji, Sei Shōnagon, Izumi Shikibu, serta Sugawara Takasue no Musume. Meskipun mereka lebih dikenal lewat karya prosa, puisi selalu menjadi bagian integral dalam tulisan-tulisan mereka.

Memasuki abad ke-12, seorang biksu Buddha bernama Saigyō menulis waka yang kemudian memberikan pengaruh besar bagi Bashō dan para sastrawan penerusnya. Pada awal abad ke-13, antologi Shinkokinshū diterbitkan dengan memuat hampir dua ribu puisi dari berbagai era. Pada masa ini pula bentuk renga mulai berkembang menjadi gaya yang tersendiri.

Tonggak penting berikutnya terjadi pada abad ke-17 ketika haikai melonjak popularitasnya berkat kontribusi Matsuo Bashō. Sebagai seorang penjelajah yang produktif, Bashō menulis hokku, haibun yang menggabungkan prosa dan puisi, serta berbagai bentuk sastra lainnya. Dia dikenal memiliki keahlian luar biasa dalam memadukan hal-hal luhur dan rendah, objektif dan subjektif, serta yang biasa dengan yang tragis di tengah masa kekangan politik.

Setelah Jepang membuka diri terhadap dunia Barat pada abad ke-19, puisi Jepang mengalami transformasi akibat pengaruh sastra Barat. Gaya penulisan bebas mulai bermunculan, sementara bentuk-bentuk tradisional turut beradaptasi. Puisi yang lahir setelah Perang Dunia II kerap dikategorikan sebagai sastra pascaperang, sementara karya-karya yang lebih baru umumnya disebut sebagai puisi modern.

Karya Pilihan

kojiki japanese poetry crash course

Berikut adalah beberapa pilihan puisi tradisional hingga modern yang disusun berdasarkan tahun kelahiran penulisnya.

On the Death of the Emperor Temmu oleh Permaisuri Jitō (645-702)

Even flaming fire
can be snatched up, smothered
and carried in a bag.
Why then can’t I
meet my dead lord again?

Tanpa Judul oleh Kakinomoto Hitomaro (w. 708-715)

Kamo yama no
My girl is waiting for me

Iwane shi makeru
And does not know

Ware wo kamo
That my body will stay here

Shira ni to imo ga Machitsutsu aramu
On the rocks of Mount Kamo.

Man’yōshū, XIX: 4290 oleh Ōtomo Yakamochi (718-785)

Haru no no ni
Now it is spring –

Kasumi tanabiki
And across the moors the haze

Uraganashi
Stretches heavily –

Kono yūkage ni
And within these rays at sunset,

Uguisu naku mo.
A warbler fills the radiant mist with song.

Man’yōshū, XIV: 3570 oleh Anonim

Ashi no ha ni
I shall miss you most

Yūgiri tachite
When twilight brings the rising mists

Kamo ga ne no
To hang upon the reeds

Samuki yūbe shi
And as the evening darkens cold

Na oba shinuban.
With mallards’ cries across the marsh.

Kokinshū, XVII: 879 oleh Ariwara Narihira (818-893)

Ōkata wa
Lovely as it is,

Tsuki o mo medeji
The moon will never win my praise –

Kore zo kono
No, not such a thing,

Tsumoreba hito no
Whose accumulated splendors heap

Oi to naru mono.
The burden of old age on man.

Tanpa Judul oleh Ono no Komachi (833-857)

He does not come.
Tonight in the dark of the moon
I wake wanting him.
My breasts heave and blaze.
My heart chars.

Tanpa Judul oleh Murasaki Shikibu (974-1031)

This life of ours would not cause you sorrow
if you thought of it as like
the mountain cherry blossoms
which bloom and fade in a day.

Tanpa Judul oleh Saigyō (1118-1190)

Gazing at them,
these blossoms have grown
so much a part of me,
to part with them when they fall
seems bitter indeed!

Shinkokinshū, IV: 361 oleh Jakuren (w. 1202)

Sabishisa wa
Loneliness –

Sono iro to shi mo
The essential color of a beauty

Nakarikeri
Not to be defined:

Maki tatsu yama no
Over the dark evergreens, the dusk

Aki no yūgure.
That gathers on far autumn hills.

Tanpa Judul oleh Bashō (1644-1694)

nozarashi o
weather beaten

kokoro ni kaze no
wind pierces my body

shimu mi kana
to my heart

Tanpa Judul oleh Bashō (1644-1694)

yagate shinu
soon to die

keshiki wa miezu
yet showing no sign

semi no koe
the cicada’s voice

Tanpa Judul oleh Kobayashi Issa (1763-1827)

Beneath the bright
Cherry blossoms
None are indeed
Utter strangers.

Tanpa Judul oleh Masaoka Shiki (1867-1902)

mihotoko mo
Buddha too –

tobira o akete
he’s opened his altar doors,

suzumi kana
cooling off

The Oyster Shell oleh Kambara Ariake (1876-1952)

An oyster in his shell
Lives in a boundless sea,
Alone, precarious, limited,
How miserable his thoughts . . .

Unseeing and unhelped,
He sleeps behind a sheltering rock.
But in his wakeful moments he must sense
The ebb and flow of the infinite deep.

Though the turning tide at dawn
May flood in to its height,
The oyster’s being, destined to decay,
Is tied to a narrow shell.

The evening star, so luminous,
Turns the waves to crests of corn:
Us it reminds of a distant dove –
Of what avail to him?

How sad a fate! Profound, unbearable,
The music of the ocean
Still confounds him day and night.
He closes tight his narrow home.

But on that day of storm
When woods along the sea are shattered,
How shall it survive – the oyster shell,
His shelter, left to die a destined death?

Late Autumn oleh Hagiwara Sakutaro (1886-1942)

The train was passing overhead,
And my thoughts meandered into the shade.
Looking back, I was surprised to find
How my heart was at rest!
Streets were strewn with the autumn sun’s last rays,
Traffic crowded the highway.
Does my life exist at all?
Yet in the window of a humble house,
Along a back street where the smoke still hung,
Purple hollyhocks were blooming.

Tanpa Judul oleh Katsura Nobuko (1914-2004)

My mother’s soul
viewing the plum blossoms,
returning at night.

Tanpa Judul oleh Itami Kimiko (l. 1925)

What lives in the lake
filled with a blue
that has no name?

Concerning Obscenity oleh Shuntuntaro Tanikawa (l. 1931)

No matter how pornographic a movie
it can’t be as obscene
as a couple in love.
If love is something human
obscenity too is something human.
Lawrence, Miller, Rodin,
Picasso, Utamaro, the Manyō poets:
were they ever afraid of obscenity?
It is not a movie that is obscene
we are the ones basically obscene
warmly, gently, vigorously,
and with such ugliness and shame –
we are obscene
days and nights obscene
with nothing else, obscene.

Catatan Penutup

haiku landscape japanese poetry crash course

Melalui karya-karya di atas, bait-bait yang ditulis oleh seorang wanita dari berabad-abad silam di budaya yang jauh berbeda tetap mampu menyentuh hati pembaca masa kini. Inilah ke sejati dari puisi: kemampuannya menembus batas ruang dan waktu untuk berbicara langsung kepada pembaca. Semoga kumpulan puisi ini dapat memberikan pengalaman batin yang berkesan bagi siapa saja yang membacanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *