Jika Anda pernah mengunjungi restoran Jepang atau Cina, kemungkinan besar Anda sudah tidak asing lagi dengan sosok kucing yang satu ini. Dengan mata yang tampak ramah, cakar kecil yang seolah memanggil, dan senyuman manisnya, maneki neko telah menjadi simbol yang sangat akrab. Patung kucing pembawa keberuntungan ini sangat sering dijumpai di restoran, toko, serta berbagai tempat usaha lainnya karena dipercaya dapat mendatangkan pengunjung dan rezeki.

Namun, bagaimana sebenarnya sejarah di balik kucing mungil ini? Mengapa seekor kucing dipilih untuk menyambut tamu? Apa makna dari tulisan-tulisan Jepang yang kerap dibawanya? Dan mengapa gestur tangannya terlihat seperti melambai alih-alih memanggil? Untuk menjawab berbagai pertanyaan tersebut, mari kita telusuri asal-usul maneki neko hingga kembali ke era Edo.
Kisah di Balik Maneki Neko
Pada tahun 1633, seorang daimyo bernama Ii Naotaka sedang dalam perjalanan pulang ketika ia tiba-tiba terjebak badai hujan lebat dan memutuskan untuk berteduh di bawah sebuah pohon. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, terdapat sebuah kuil tua dan sederhana yang dirawat oleh seseorang dengan seekor kucing peliharaan. Naotaka melihat kucing tersebut mengangkat cakarnya ke arah kuil, seolah memintanya untuk mendekat. Berpikir bahwa ajakan itu mungkin penting, ia pun beranjak meninggalkan pohon dan berjalan menuju kuil.
Tidak lama berselang, pohon tempat Naotaka berteduh tadi tersambar petir dan hancur berkeping-keping. Merasa berutang budi karena diselamatkan dari bahaya maut, Naotaka memutuskan untuk membantu kuil tersebut agar tidak lagi mengalami kesulitan finansial. Kuil itu kemudian dinamai Kuil Gotokuji, mengambil dari nama anumerta Buddha milik Naotaka, dan hingga kini dipenuhi oleh berbagai patung kucing pembawa keberuntungan. Dari sinilah tradisi maneki neko bermula.

Legenda lain mengisahkan seorang geisha pencinta kucing bernama Usugumo. Suatu malam, kucing kesayangannya tiba-tiba menarik-narik ujung kimono miliknya. Karena tidak ingin pakaian mewahnya rusak oleh cakar kucing, Usugumo meminta tolong kepada pemilik penginapan. Pemilik tersebut salah paham dan mengira kucing itu telah kerasukan, sehingga ia langsung menebas leher sang kucing dengan pedang. Kepala kucing tersebut terpelanting ke udara dan, dalam sisa-sisa kesadarannya, berhasil menggigit serta membunuh seekor ular berbisa yang bersiap menyerang Usugumo.
Menyadari bahwa kucingnya sebenarnya berniat memberikan peringatan, Usugumo jatuh dalam kesedihan yang mendalam. Untuk menghiburnya, seorang pelanggan membuatkan patung kayu menyerupai kucingnya dengan satu cakar terangkat sebagai tanda peringatan. Legenda terciptanya maneki neko pun kembali terulang.

Versi ketiga menceritakan seorang wanita tua miskin yang terpaksa menjual kucing peliharaannya karena himpitan ekonomi. Kucing tersebut kemudian hadir dalam mimpinya dan menyuruhnya membuat patung tanah liat menyerupai bentuk dirinya. Wanita itu menuruti nasihat tersebut, dan tak disangka patung buatannya langsung laku dibeli orang. Ia terus membuat patung-patung serupa yang kemudian menjadi sangat populer dan mendatangkan kekayaan baginya. Tradisi maneki neko pun lahir untuk kesekian kalinya.
Apa Arti di Balik Maneki Neko?
Bagi sebagian orang, posisi cakar maneki neko mungkin terlihat seperti sedang melambai alih-alih memanggil. Hal tersebut sebenarnya berkaitan dengan budaya tempat tinggal. Di Jepang, gestur memanggil dilakukan dengan telapak tangan menghadap ke bawah. Sebaliknya, maneki neko versi barat sering kali dibuat dengan telapak tangan menghadap ke atas untuk meniru cara orang barat memanggil seseorang. Kucing-kucing keberuntungan gaya barat ini bahkan kerap digambarkan memegang koin dengan simbol dolar, sehingga sering dijuluki sebagai “kucing dolar.”
Sebagaimana versi barat memegang mata uang barat, maneki neko tradisional tentu saja memegang alat pembayaran klasik khas timur. Banyak patung kucing keberuntungan Jepang yang terlihat memegang koin ryo, mata uang kuno dari era Edo yang bernilai cukup tinggi. Seringkali, koin ryo tersebut bertuliskan senmanryou yang berarti “sepuluh juta ryo,” atau bisa juga diartikan sebagai “jumlah yang sangat banyak.”

Makna dari maneki neko juga bisa dibedakan melalui cakar mana yang ia angkat. Kucing dengan cakar kiri terangkat dipercaya berfungsi untuk menarik pengunjung atau pelanggan, sedangkan cakar kanan terangkat untuk mendatangkan kekayaan serta uang. Bagi pemilik toko yang menginginkan keduanya, mereka kerap memilih patung dengan salah satu cakar atau bahkan kedua cakar yang terangkat sekaligus.
Selain posisi cakar, warna pada patung maneki neko juga memiliki arti tersendiri yang melambangkan fungsi atau keberuntungan tertentu.
Corak calico atau tiga warna adalah yang paling populer dan diyakini membawa keberuntungan umum bagi pemiliknya. Kucing berwarna putih polos juga diasosiasikan dengan keberuntungan. Sementara itu, maneki neko berwarna hitam berguna untuk menangkal penyakit serta energi jahat. Warna emas tentu saja ditujukan untuk menarik kekayaan, sedangkan warna merah dipercaya melindungi dari penyakit sekaligus menjaga kesehatan tubuh. Warna merah muda atau pink biasanya digunakan untuk memikat percintaan. Terdapat pula warna-warna lain seperti kuning atau hijau yang sering dikaitkan dengan prinsip feng shui.

Maneki neko membuktikan bahwa patung sederhana ini menyimpan sejarah yang kaya serta makna filosofis yang mendalam di balik tampilannya yang menggemaskan.








