Home / Travel / Laba-laba di Jepang: Kaiju Terkecil dan Predator Alami Mothra

Laba-laba di Jepang: Kaiju Terkecil dan Predator Alami Mothra

header 640x 37

Bagi yang mengalami arachnophobia atau ketakutan pada laba-laba, artikel kali ini mungkin akan menguji nyali Anda. Selama berabad-abad, laba-laba serta berbagai makhluk mitologi yang terinspirasi darinya telah menempati posisi unik dalam kebudayaan Jepang. Di sisi lain, Jepang saat ini sedang menghadapi persoalan terkait invasi spesies laba-laba asing, sementara sebuah perusahaan lokal justru berhasil mengembangkan teknologi masa depan yang berasal dari biologi laba-laba. Mari telusuri berbagai fakta menarik seputar arachnida ini di Jepang.

Tsuchigumo 土蜘蛛()

mythical beast tsuchigumo

Istilah Tsuchigumo secara harfiah berarti “laba-laba tanah”. Dalam sejarah dan mitologi Jepang, sebutan ini merujuk pada sesosok yōkai sekaligus kelompok masyarakat tertentu di masa lampau. Sebagai makhluk mitos, tsuchigumo digambarkan sebagai laba-laba raksasa, kendati ada pula cerita yang melukiskan wajahnya menyerupai iblis dengan tubuh harimau. Salah satu kisah paling terkenal melibatkan seorang kesatria bernama Minamoto no Yorimitsu (948–1021) yang berhasil menaklukkan makhluk tersebut. Konon, ketika Yorimitsu sedang terbaring sakit akibat malaria, sesosok pendeta misterius berpostur tinggi muncul dan mencoba menjeratnya menggunakan tali. Meskipun sedang lemah, Yorimitsu sempat menebas sang pendeta yang kemudian melarikan diri. Keesokan harinya, Yorimitsu bersama para pengikut setianya melacak ceceran darah hingga ke sebuah gundukan di belakang Kuil Kitano. Di sana, mereka menemukan seekor laba-laba berukuran 1,2 meter yang langsung ditangkap dan ditusuk dengan tombak besi. Anehnya, setelah makhluk itu dibinasakan di dasar sungai, penyakit Yorimitsu langsung sembuh. Legenda ini kemudian diadaptasi menjadi salah satu pertunjukan teater klasik Noh berjudul “Tsuchigumo”.

woodblock print of warrior fighting giant spider monster

Selain sebagai monster, istilah tsuchigumo pada masa Jepang kuno juga dipakai untuk melabeli kelompok atau individu pemberontak yang menerapkan taktik gerilya, termasuk para pemimpin pribumi yang menolak tunduk pada kekuasaan Pengadilan Yamato. Banyak dari kelompok ini tinggal di dalam gundukan tanah berongga atau memanfaatkan gua sebagai tempat persembunyian. Catatan sejarah sendiri masih menyimpan ambiguitas mengenai apakah istilah ini awalnya disematkan pada manusia atau pada monster laba-laba tersebut. Walaupun tidak ada jenis laba-laba penggali berukuran besar yang asli berasal dari Jepang, masyarakat masa itu mungkin mengenal makhluk serupa melalui kisah-kisah tentang laba-laba tanah dari daratan Tiongkok.

Jorōgumo 女郎蜘蛛()

large black & yellow spider hanging
Source: nesnad

Di Jepang modern, nama jorōgumo umumnya digunakan untuk mendeskripsikan berbagai spesies dari genera Nephila dan Argiope, sementara para ahli entomologi memakainya secara khusus untuk spesies Nephila clavata. Arti harfiah dari nama ini cukup kelam, yaitu “laba-laba pelacur”, yang akan terasa masuk akal setelah menyimak cerita rakyat di baliknya. Serupa dengan kisah tsuchigumo, penamaan jorōgumo konon bermula dari sosok yōkai sebelum akhirnya disematkan pada hewan nyata.

Berbagai cerita dari zaman Edo (1603–1867) menggambarkan jorōgumo sebagai makhluk siluman yang mampu menjelma menjadi wanita jelita untuk memikat para pemuda ke kediamannya yang terpencil. Sambil menghibur korban dengan alunan musik biwa, ia akan menjerat mangsanya dengan benang laba-laba sebelum menyantapnya. Dalam versi cerita lainnya, seekor laba-laba dipercaya dapat memperoleh kekuatan magis setelah mencapai usia 400 tahun, lalu mengubah wujudnya menjadi wanita untuk menikahi seorang samurai muda, atau menyamar menjadi ibu yang sedang menggendong bayi yang ternyata adalah kantung telur laba-laba.

mythical monster jorogumo spider woman

Mizugumo 水蜘蛛()

bell spider inside bubble
Source: tetzl

Mizugumo berarti laba-laba air, dan spesies aslinya memang hidup di dalam air. Argyroneta aquatica (atau dikenal sebagai laba-laba lonceng selam) adalah satu-satunya spesies laba-laba di dunia yang menghabiskan seluruh hidupnya di dalam air. Mereka melakukannya dengan cara membangun sarang berbentuk “lonceng selam” yang dipenuhi udara. Di dalam kantung udara tersebut, laba-laba ini melangsungkan seluruh siklus hidupnya mulai dari hidup, kawin, hingga bertelur, serta berburu mangsa yang terlalu dekat dengan gelembung udara mereka.

mizugumo ninja equipment
Source: Katie

Nama mizugumo juga diabadikan sebagai salah satu peralatan legendaris milik ninja. Alat ini terdiri dari empat potongan kayu melengkung yang membentuk lingkaran, dihubungkan secara longgar dengan papan persegi di bagian tengah yang diikatkan ke kaki ninja. Konsep alat ini mirip seperti sepatu salju yang memanfaatkan tegangan permukaan air agar penggunanya bisa berjalan di atas permukaan air. Acara televisi Mythbusters pernah menguji efektivitas alat ini dan menyimpulkan bahwa benda tersebut tidak efektif untuk melintasi air terbuka, namun berpotensi digunakan untuk menyeberangi area rawa-rawa atau persawahan.

picture from Miyazaki animated short

Bagi para penggemar karya Hayao Miyazaki, terdapat pula referensi menarik bertajuk “Mizugumo Monmon”. Film pendek berdurasi lima belas menit yang dirilis pada tahun 2006 ini dapat disaksikan di Museum Ghibli di Tokyo, mengisahkan tentang seekor laba-laba air yang jatuh cinta kepada serangga air.

Pertempuran Laba-laba

two spiders fighting on end of stick

Di Prefektur Kagoshima, tepatnya di sebuah kota bernama Kajiki, terdapat tradisi unik yang telah berlangsung selama lebih dari empat ratus tahun. Penduduk setempat memelihara laba-laba dari spesies Argiope amoena—yang sering dijuluki sebagai Laba-laba Samurai—untuk diadu dalam ajang tahunan bernama kumo gassen (pertempuran laba-laba) yang digelar setiap bulan Juni.

Turnamen ini mempertandingkan laba-laba secara satu lawan satu menggunakan sistem kompetisi hingga ditemukan juara utama. Wasit bertugas mengawasi jalannya pertandingan dan menentukan pemenang berdasarkan kriteria tertentu, seperti laba-laba mana yang menyerang dengan gigitan lebih dulu, berhasil melilit lawannya dengan jaring, atau memutus benang sutra lawan. Meskipun warga setempat mengklaim bahwa pertarungan ini tidak melukai laba-laba tersebut, efektivitas dan keamanan praktik ini tetap memicu perdebatan.

Laba-laba Redback

redback spider

Jepang sebelumnya tidak memiliki spesies laba-laba yang mematikan bagi manusia. Situasi tersebut berubah sekitar tahun 1995 ketika laba-laba redback pertama kali ditemukan di Osaka. Berasal dari Australia, laba-laba redback (Latrodectus hasseltii) masih berkerabat dekat dengan laba-laba black widow dan memiliki racun yang cukup kuat, yang umumnya dapat disembuhkan meski dalam kasus tertentu bisa berakibat fatal.

graphic of spider bite symptoms

Arachnida ini diduga masuk ke Jepang sebagai penumpang gelap di dalam muatan serpihan kayu. Populasi mereka kini telah menyebar di 22 dari 47 prefektur di Jepang, terutama di wilayah barat, didukung oleh iklim yang hangat dan minimnya predator alami. Pada tahun 2007 mereka terlihat di Fukuoka, dan menyusul di Tokyo pada September 2014. Sejumlah kasus gigitan telah dilaporkan sejak kedatangan mereka, meskipun belum ada korban jiwa yang tercatat. Kota-kota besar umumnya telah memiliki stok antibisa yang memadai, namun kota-kota kecil sering kali kurang siap menghadapi situasi darurat tersebut.

Penyebaran laba-laba ini juga diperparah oleh kurangnya langkah pembasmian terpadu dari pemerintah pusat. Berdasarkan Undang-Undang Spesies Asing Invasif di Jepang, penanganan seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, namun mereka lebih memfokuskan sumber daya untuk melindungi kawasan seperti taman nasional dari ancaman spesies invasif terhadap keanekaragaman hayati. Akibatnya, pengendalian populasi laba-laba redback diserahkan kepada pemerintah daerah yang kerap kewalahan tanpa strategi pembasmian yang matang.

Teknologi Laba-laba

spider web with water droplets
Source: siber.se

Benang sutra laba-laba dikenal sebagai material alami yang luar biasa kuat, sehingga para ilmuwan telah berusaha selama bertahun-tahun untuk memproduksinya secara massal. Peternakan laba-laba secara langsung tidak memungkinkan karena sifat kanibal mereka. Meskipun manusia telah membudidayakan ulat sutra selama berabad-abad, serat yang dihasilkan tidak sekuat sutra laba-laba. Upaya rekayasa genetika pada ulat sutra sempat dilakukan agar dapat menghasilkan protein laba-laba, namun hasil produksi volumenya masih terlalu rendah untuk skala industri.

Pada tahun 2013, perusahaan asal Jepang bernama Spiber Inc. memamerkan sebuah gaun yang ditenun dari bahan sutra laba-laba sintetis. Mereka berhasil merekayasa genetika bakteri agar mampu memproduksi protein pembentuk sutra laba-laba, sekaligus mengembangkan metode tenun untuk menghasilkan kain dengan kekuatan setara aslinya. Kain baru ini dinamai QMONOS, yang diambil dari istilah Jepang untuk sarang laba-laba, yaitu kumonosu 蜘蛛の巣(). Perusahaan tersebut menargetkan produksi massal hingga sepuluh ton QMONOS per tahun dari pabrik mereka di Prefektur Yamagata.

Potensi pemanfaatan material ini sangat luar biasa. Sutra laba-laba tercatat lima kali lebih kuat daripada baja dengan berat yang enam kali lebih ringan. Selain itu, bahan ini memiliki elastisitas yang setara dengan nilon serta tahan terhadap suhu hingga 300 derajat Celsius. Berbagai aplikasi masa depan dari material ini mencakup pembuatan pembuluh darah buatan, rompi anti peluru, hingga badan pesawat terbang yang lebih ringan dan kokoh.

Kesimpulan

Jejak arachnida ini membentang panjang mulai dari legenda monster masa lalu hingga teknologi material futuristik. Apabila serat sintetis ini berhasil menjadi standar teknologi masa depan, reputasi buruk yang selama ini melekat pada laba-laba mungkin perlahan dapat berubah. Makhluk berkaki delapan ini terbukti mampu memicu reaksi emosional yang kuat di dalam diri manusia—mulai dari rasa takut yang mendalam hingga rasa takjub dan hormat terhadap keunikan biologis mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *