Mangaka Tsutomu Takahashi baru-baru ini melakukan kunjungan internasional perdananya dalam ajang Manga Barcelona 2025. Penulis manga populer seperti Jiraishin dan Detonation Island ini mengawali rangkaian kegiatannya melalui sesi konferensi pers pada hari pertama acara tersebut.
Berkat kerja sama dengan penerbit asal Spanyol, Norma Editorial, Takahashi-sensei hadir untuk membahas dua karya terbarunya, yaitu Jumbo Max dan Guitar Shop Rosie. Selain konferensi pers, ia juga menyempatkan diri untuk menyapa para penggemar lewat beberapa sesi tanda tangan serta kelas master.
Dikenal luas berkat kariernya yang panjang, Takahashi kerap menyajikan latar cerita yang kelam, karakter-karakter abu-abu, serta unsur realisme yang berpijak langsung dari pengalaman hidup dan pandangannya terhadap kebudayaan Jepang. Dalam kesempatan tersebut, ia membagikan cerita seputar proses kreatifnya, sumber inspirasinya, hingga kenangan masa lalunya saat bergabung dengan geng motor.

Beberapa bagian dari konferensi pers ini telah disunting agar lebih mudah dipahami. Sesi tanya jawab ini dilaksanakan dengan bantuan seorang penerjemah.
Mengenal Lebih Dekat Tsutomu Takahashi
T: Takahashi-sensei, bagaimana perasaan Anda saat datang untuk mempromosikan karya di negara kami? Apa harapan Anda dari pertemuan dengan para pembaca di Spanyol? Ketika memulai karier dulu, apakah Anda pernah membayangkan karya Anda akan dibaca hingga sejauh ini?
J: Pertama-tama, terima kasih banyak atas undangannya; saya menyambutnya dengan penuh antusias. Ini adalah pertama kalinya saya menghadiri acara luar negeri seperti Manga Barcelona. Saya awalnya tidak tahu harus berharap apa karena belum sempat berinteraksi langsung dengan para pembaca [konferensi pers diadakan pada hari pertama konvensi].
Di sisi lain, gagasan tentang “menjangkau tempat yang jauh” adalah sesuatu yang sangat luas. Saya selalu bekerja setapak demi setapak, dari satu karya ke karya berikutnya. Saya tidak pernah membuat rencana jangka panjang yang muluk-muluk dan lebih memilih fokus pada proyek yang sedang dikerjakan.
Sebagai contoh, dalam karya terbaru saya, Guitar Shop Rosie, para tokoh kakak beradik pemilik toko gitar tersebut adalah penggemar berat AC/DC, sebuah band yang terkenal di seluruh dunia. Cerita itu memang berawal dari elemen plot yang secara alami dapat diterima oleh pembaca internasional.
T: Bagaimana perjalanan Anda berkembang sebagai seorang seniman, dan apa yang mendorong Anda untuk menjadi seorang mangaka?
J: Saya lahir pada tahun 1965, dari generasi di mana manga di Jepang bukan sekadar hiburan biasa, melainkan telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari budaya nasional. Di keluarga saya, ayah juga menyukai manga sehingga bacaan tersebut selalu tersedia di dekat saya sejak kecil. Saya sangat terpengaruh oleh manga bertema olahraga seperti Ashita no Joe, yang kemudian memotivasi saya untuk bercita-cita menjadi mangaka.
Sekitar usia 6 atau 7 tahun, saya sudah cukup mahir menggambar. Anda mungkin mengira itu adalah bakat dini, tetapi perlu diingat bahwa menggambar adalah kegiatan yang bisa dijangkau oleh siapa saja. Tidak membutuhkan sarana atau investasi yang besar. Siapa pun bisa berkata, “hari ini saya mau menggambar, mengambil pensil, selembar kertas, lalu mulai mencoret-coret.”
Siapa pun bisa mulai menggambar jika mereka benar-benar berniat melakukannya.
T: Bisakah Anda menceritakan pengalaman masa lalu saat bergabung dengan geng motor, atau bagaimana kecintaan Anda pada musik turut memengaruhi karya-karya Anda? Adakah karya yang paling mencerminkan diri Anda sendiri?
J: Karya yang paling banyak mencerminkan diri saya adalah Detonation Island. Delapan puluh persen isinya adalah pengalaman atau situasi nyata. Cerita itu memuat masa-masa ketika saya menjadi anak muda paling bodoh dalam hidup saya. Di Jepang, ada subkultur anak muda berandalan pengendara motor yang suka mengganggu ketertiban umum (Bōsōzoku). Hal itu sangat populer di masa muda saya, meskipun kini kelompok seperti itu sudah hampir punah.
Kami sadar betul bahwa apa yang kami lakukan adalah hal buruk. Itu adalah era ketika anak muda mencari pelampiasan untuk memberontak. Fiksi sering kali menggambarkan hal tersebut sebagai sesuatu yang penuh kepahlawanan dan kehormatan, tetapi pada kenyataannya, kami hanyalah sekumpulan anak muda yang mengganggu lingkungan sekitar. Padahal Jepang adalah negara yang sangat damai, namun kami justru merusaknya dan bertindak menyebalkan. Itu adalah era liar tahun 80-an, di mana anak-anak berusia 16 tahun dikuasai oleh amarah. Memodifikasi sepeda motor dan membuat kebisingan adalah gaya hidup yang sedang tren saat itu.
Namun harus diakui, tahun-tahun itu adalah masa paling menyenangkan dalam hidup saya. Ketika mendengar deru mesin kendaraan, kenangan masa lalu itu langsung kembali terlintas. Kami merasa tidak terkalahkan. Perlu diingat, pada kalimat pembuka di Detonation Island, tertulis bahwa kelompok Bōsōzoku bukanlah sebuah pekerjaan masa depan dan tidak akan membawa Anda ke mana pun. Saya sangat menyadari hal itu.
Menjadi bagian dari Bōsōzoku—sebuah aktivitas yang dipandang sebelah mata—adalah hal yang harus saya simpan rapat-rapat. Menceritakan kembali kisah tersebut terasa seperti sebuah katarsis bagi saya. Di satu sisi, saya tahu kami perlu menyalurkan amarah, tetapi di sisi lain, saya juga sadar bahwa kami sedang membohongi diri sendiri dan itu bukan jalan yang benar.
Dua orang teman saya tewas sepanjang berjalannya kisah tersebut. Adegan kematian mereka terekam kuat di dalam ingatan saya hingga hari ini. Kejadian itu 100% nyata dan harus saya tuangkan untuk melepaskan beban di dada. Anda tidak akan bisa menggambar hal semacam itu jika tidak pernah menyaksikannya sendiri. Pembuatan manga ini menjadi cara bagi saya untuk menghadirkan keindahan sekaligus menghormati kenangan para sahabat yang telah tiada.
Sejak awal karier, saya sempat menulis manga lain sementara cerita Detonation Island masih saya simpan rapat-rapat. Suatu hari, dalam sebuah acara, saya secara tidak sengaja bertemu kembali dengan seorang kawan lama dari masa-masa geng motor tersebut, dan kami mulai bernostalgia. Teman saya itu memancarkan binar di matanya saat berbicara. Waktu yang berlalu telah membuat kisah-kisah masa lalu itu berubah menjadi sesuatu yang menyenangkan. Saat itulah saya merasa waktunya telah tiba bagi cerita tersebut untuk diterbitkan.
Inspirasi

T: Takahashi-sensei, Anda memiliki kemampuan menciptakan karakter dengan kepribadian dan tujuan yang kuat. Anda sangat piawai menampilkan sikap mereka sehingga terlihat begitu manusiawi dan rentan, di tengah lingkungan cerita yang sering kali menekan serta intens. Apa yang mendorong Anda menciptakan karakter-karakter tersebut? Apa penggerak utama di balik ide-ide Anda?
J: Saya baru saja tiba di Barcelona kemarin setelah menempuh perjalanan panjang dari Tokyo. Saya menyempatkan diri menonton film Mission: Impossible di perjalanan. Sinema adalah media sekuensial di mana elemen terpentingnya adalah mengejutkan penonton. Sebaliknya, manga adalah media yang lebih mendukung perenungan, di mana kita bisa mendalami karakter serta isi kepala mereka. Dalam film, unsur “apa” yang terjadi menjadi yang utama, sedangkan dalam manga, unsur “bagaimana” karakternya menjalaninya yang lebih penting.
Dalam kedua media tersebut, selalu ada konflik cerita yang harus diselesaikan. Namun dalam manga, karena unsur perenungannya lebih kuat, kita bisa merasakan tingkat kerumitan atau kekayaan cerita yang lebih mendalam. Secara pribadi, saya memang sengaja menempatkan karakter-karakter saya ke dalam situasi yang sulit; rasanya jauh lebih seru seperti itu.
T: Karya-karya Anda memiliki keberagaman cerita yang luar biasa, bagaimana cara Anda mendapatkan inspirasi?
J: Apakah Anda benar-benar merasa cerita-cerita saya sangat berbeda satu sama lain? Bagi saya pribadi, semuanya justru terasa cukup mirip. Latar tempat atau periode waktunya mungkin berganti, tetapi fondasinya tetap memiliki banyak kesamaan. Bagi saya, ini seperti proses meracik sebuah hidangan; bumbunya bisa sedikit bervariasi, namun bahan dasarnya tetap sama.
Meskipun demikian, Jumbo Max memang sebuah pengecualian. Biasanya pihak penerbit memberikan permintaan tertentu, namun dalam proyek tersebut mereka memberi saya kebebasan penuh untuk menjadikan sang tokoh utama sebagai seorang antihero, baik dari segi visual maupun naratif.
T: Anda memiliki karya-karya yang bernuansa gelap dan terkadang meresahkan, karena Anda menggambarkan keserakahan serta niat buruk manusia secara teliti. Adakah karya tertentu, baik dari manga, sastra, maupun sinema, yang sempat membuat Anda terobsesi, terserap, atau bahkan terganggu karena begitu sukses memotret sisi gelap masyarakat?
J: Saya merasa terkejut dengan pandangan Anda. Apakah karya-karya saya benar-benar segelap itu? Apakah karakter saya separah dan sedinista itu? [tertawa]. Salah satu impian masa muda saya adalah mendedikasikan diri pada musik rock. Dan esensi dari musik rock adalah mengeluarkan apa pun yang terpendam di dalam diri Anda. Biar saya perjelas: saya tidak menggambar manga untuk anak-anak; karya saya bukan untuk semua umur. Mungkin saya memang menyerap berbagai pengaruh, namun saya sendiri tidak bisa menunjuk satu hal spesifik sebagai acuannya.
Proses Kreatif

T: Dalam dokumenter Naoki Urasawa’s Manga Exertions yang dipandu oleh Urasawa-sensei (pencipta Monster dan 20th Century Boys), Anda membagikan berbagai aspek menarik dari proses kreatif Anda. Di sana, Anda menjelaskan bahwa Anda suka dikejutkan oleh situasi yang tidak terduga agar tidak merasa bosan. Bagaimana metode Anda saat menulis? Apakah alur cerita dan akhirnya sudah Anda tentukan sejak awal?
J: Itu adalah serial dokumenter yang sangat menarik. Untuk episode saya, mereka mengerahkan delapan kamera yang merekam proses kerja saya dari berbagai sudut selama seminggu penuh. Tim produksi sempat memberi tahu bahwa saya terlalu sering melempar pena saat bekerja, dan itu sedikit mengganggu saya. Beberapa rekan sesama mangaka bahkan menyuruh saya agar lebih merawat perlengkapan menggambar saya [tertawa].
Dalam bekerja, saya sering menggunakan teknik tinta yang diencerkan untuk menciptakan tekstur serta bayangan. Teknik ini sifatnya sangat tidak bisa ditebak, dan hasil akhirnya bisa sangat bergantung pada takaran airnya. Rasanya mirip seperti tampil dalam konser musik langsung, di mana setiap pertunjukan selalu menghadirkan nuansa yang berbeda.
Manga memiliki banyak panel yang sebenarnya tidak terlalu menarik untuk digambar, namun panel-panel tersebut tetap harus dikerjakan demi menjaga konsistensi cerita. Tanpa adanya unsur ketidakpastian di dalamnya, saya pasti akan merasa cepat bosan pada bagian proses tersebut.
Apakah kalian familier dengan siklus publikasi di industri penerbitan Jepang? Anda tentu tahu bahwa terbitan mingguan berjalan dengan ritme yang hampir mustahil dikejar oleh manusia normal [tertawa]. Ritme mingguan ini menuntut kecepatan tinggi sehingga Anda tidak punya waktu untuk berpikir terlalu lama, jika tidak maka Anda akan melewati tenggat waktu. Jika saya mengalami krisis kreatif, saya bisa stres hingga merasa lumpuh. Dan itu adalah hal terburuk yang bisa menimpa seorang kreator.
Apa yang ada di atas meja gambar saya hari ini akan sudah terpajang di toko-toko buku dalam waktu dua minggu ke depan. Oleh karena itu, mencari kesempurnaan mutlak adalah hal yang mustahil; Anda harus memiliki batas toleransi tertentu. Sebagai “orang tua” dari karya-karya tersebut, para mangaka sering kali bergulat dengan masalah ketidakpuasan terhadap hasil akhir kami sendiri. Sistem publikasi inilah yang pada akhirnya menguji ketahanan mental seorang author. Ketahanan inilah yang membedakan siapa saja yang mampu bertahan secara profesional di industri manga.
Satu saran dari saya: tidur semalam saja sudah cukup untuk melunturkan masalah Anda. Jangan biarkan beban pikiran terbawa hingga keesokan paginya. Setiap pagi adalah hari yang baru.
T: Bagaimana cara Anda menyeimbangkan proses pembuatan dua serial yang sedang berjalan sekaligus? Apakah Anda merasakan tekanan dari publik?
J: Pada prinsipnya, jika seorang seniman telah memiliki sistem kerja yang mapan, mereka sanggup menerbitkan hingga tiga serial secara bersamaan. Terlibat dalam dua atau tiga proyek sekaligus bukanlah hal yang luar biasa langka. Sistem kerjanya mirip seperti gerakan sebuah bandul. Dalam Jumbo Max, saya tidak mengikuti format baku yang kaku, yang tentu menjadi tantangan tersendiri bagi seorang kreator karena saya harus memikirkan jalan cerita sekaligus perkembangan visualnya secara bersamaan.
Sebaliknya, Guitar Shop Rosie lebih berfokus pada kisah-kisah yang berdiri sendiri sehingga tidak terlalu memusingkan kepala karena saya sudah memiliki pola tertentu untuk diikuti. Melakukan pergantian antara kedua serialisasi tersebut membantu saya mencapai keseimbangan. Berdasarkan teori bandul saya, karya ketiga yang sedang saya kerjakan biasanya murni saya buat untuk bersenang-senang dan menyalurkan hobi.
Aspek lain yang sangat penting agar kedua karya ini bisa saling mengimbangi adalah memastikan bahwa latar dunia di dalam cerita tersebut tidak saling bersinggungan. Dunia Jepang yang digambarkan di kedua cerita itu tidaklah sama.
Guitar Shop Rosie


T: Guitar Shop Rosie sangat menarik karena menghadirkan karakter serta situasi dengan tingkat realisme yang tinggi. Bisakah kami menyimpulkan bahwa seperti itulah cara Anda memandang masyarakat Jepang?
J: Ya. Apa yang Anda lihat melalui manga seperti Guitar Shop Rosie adalah gambaran tentang bagaimana saya melihat masyarakat Jepang. Antara tahun 1982 hingga 1985, saya sempat berhenti membuat manga demi mendedikasikan diri pada dunia musik. Karena itu, saya paham betul mengenai musik dan berbagai instrumennya. Tokoh-tokoh dalam cerita tersebut bahkan terinspirasi dari orang-orang nyata di dunia nyata.
Memang benar bahwa sebuah bengkel reparasi gitar di masa kini bukanlah tempat yang luar biasa atau berbau fantasi, tetapi saya menyadari bahwa bagi orang yang tidak memiliki keahlian teknis tersebut, apa yang dilakukan oleh para teknisi gitar terasa seperti sebuah keajaiban. Ada kisah yang layak diceritakan di balik aktivitas itu.
Saya pikir akan sangat menarik untuk menciptakan cerita di mana para “pesulap” ini mendedikasikan keahlian mereka untuk membahagiakan orang lain, bahkan mengubah hidup mereka. Setiap gitar memiliki latar belakang kondisinya masing-masing. Saat membaca Guitar Shop Rosie, Anda akan menyadari bahwa setiap alat musik menyimpan kisah tersembunyi yang tidak terlihat oleh mata telanjang. Gitar jauh melampaui sekadar senar-senarnya saja. Ada gitar tua, gitar modern, gitar mahal maupun murah, namun perlu diingat bahwa sebuah gitar tidak akan berbunyi lebih baik hanya karena harganya yang lebih mahal. Setiap instrumen memiliki nilai intrinsiknya sendiri.
Pesan yang ingin saya sampaikan melalui Guitar Shop Rosie adalah bahwa hal terpenting bukanlah gitarnya, melainkan orang yang memainkannya. Jika para pembaca bisa menangkap kesimpulan tersebut setelah membaca kisah ini, saya akan merasa sangat bahagia.
Jumbo Max

T: Jumbo Max berhasil menarik banyak minat pembaca berkat keunikan premisnya: menampilkan seorang antihero sebagai protagonis dengan alur cerita yang berpusat pada obat disfungsi ereksi yang kuat. Dari mana ide tersebut muncul? Menurut Anda, apakah obat ‘jumbo max’ bisa menjadi solusi bagi pria yang tidak bahagia?
J: Teman-teman sekalian, ketika nanti kalian menginjak usia 50 tahun, kalian pasti akan mengerti dari mana inspirasi saya berasal [tertawa]. Jika saat ini kalian masih muda, nikmati masa muda kalian sebaik-baiknya! Melalui Jumbo Max, saya sebenarnya ingin menyampaikan kisah tentang cinta dan rasa hormat. Saya tidak punya niat untuk mendalami aspek farmakologisnya secara berlebihan. Cerita ini bukan tentang bagaimana seks adalah hal mutlak untuk meraih kebahagiaan. Anda tetap bisa hidup tanpa seks, meskipun tentu saja Anda harus berusaha keras [tertawa].
T: Saya adalah seorang profesor kimia di universitas dan saya merasa takjub dengan banyaknya detail ilmiah di dalam Jumbo Max. Anda menggunakan sains secara konsisten di sepanjang cerita, bahkan menggambarkan laboratorium serta metode analisis secara presisi. Bagaimana cara Anda mendekati topik-topik ilmiah tersebut dan melakukan riset?
J: Prosesnya tidak seperti yang dibayangkan kebanyakan orang. Saya biasanya mengandalkan bantuan teman yang bersedia menjelaskannya kepada saya. Bukan berarti saya memilih topik obat-obatan ini dari jauh-jauh hari. Saya kebetulan memiliki para profesional farmasi di dalam lingkaran pertemanan saya yang bisa saya mintai masukan untuk kebutuhan menggambar. Bahkan beberapa tenaga profesional apotek sempat berkomentar setelah membaca karya saya bahwa obat yang digambarkan tersebut terasa sangat nyata.
Saya tidak ingin menciptakan hal-hal yang tidak masuk akal. Saya tetap ingin menjaga ketepatan ilmiah dengan mengandalkan orang-orang yang memang ahli dalam menjelaskan detail teknis tersebut.
T: Sebagian dari pengaruh gaya Anda berasal dari film noir atau perjalanan Anda ke New York. Apakah Anda juga mengambil referensi yang lebih modern untuk merancang cerita seperti Jumbo Max?
J: Dulu saya sangat menyukai serial Miami Vice. Bahkan, Jiraishin lahir dari kecintaan saya terhadap Miami Vice tersebut. Seperti yang mungkin Anda amati sepanjang konferensi pers ini, saya cenderung menggambar hal-hal yang pernah saya jalani secara langsung. Proses menggambar saya sangat cepat sehingga sering kali tidak memberi saya waktu untuk berhenti dan memikirkan apakah suatu elemen itu merupakan pengaruh dari karya lain. Bagi saya, itu lebih merupakan sebuah “perasaan” yang muncul seketika saat proses pembuatan karya.
Pengaruh dari film noir klasik dan estetika sinema hitam-putih memang ada benarnya. Karena manga juga merupakan medium hitam-putih, wajar jika ada kesamaan dalam hal pengelolaan cahaya. Karya-karya Akira Kurosawa dan teknik komposisinya tentu bisa disebut sebagai salah satu referensi. Namun secara garis besar, saya tidak pernah secara sadar membuat referensi yang eksplisit.
Kami ingin menyampaikan apresiasi sebesar-besarnya kepada Takahashi-sensei karena telah membagikan begitu banyak wawasan kepada para jurnalis dan penggemar. Ucapan terima kasih juga kami haturkan kepada Norma Editorial serta panitia Manga Barcelona yang telah mengorganisasi konferensi pers dan berbagai kegiatan menarik selama festival berlangsung.
Jangan lewatkan kesempatan untuk segera mendapatkan salinan manga Jumbo Max dan Guitar Shop Rosie, karya-karya luar biasa yang dijamin akan sangat Anda nikmati!
Dan jika konferensi pers ini berhasil memantik rasa penasaran Anda, Anda sudah bisa menjadwalkan kunjungan untuk menghadiri perhelatan Manga Barcelona edisi mendatang yang akan digelar pada 5–8 Desember di pusat konvensi Fira Barcelona Gran Via.








