Home / Travel / Komainu: Sejarah Anjing Singa Mitologi Jepang dari Atap Rumah, Penjaga Kuil, hingga Pembasmi Kaiju

Komainu: Sejarah Anjing Singa Mitologi Jepang dari Atap Rumah, Penjaga Kuil, hingga Pembasmi Kaiju

header 640x 22

Jika Anda pernah mengunjungi kuil di Jepang, besar kemungkinan Anda akan melihat sepasang patung mirip anjing atau singa yang berdiri di dekat pintu masuk. Apabila Anda bertandang ke Okinawa, makhluk-makhluk ini bahkan dapat ditemui di hampir setiap sudut. Varian dari makhluk penjaga ini juga tersebar di berbagai negara Asia Timur seperti Tiongkok, Korea, Myanmar, Tibet, hingga di restoran-restoran bergaya Tionghoa di Barat. Dalam bahasa Inggris, mereka sering disebut sebagai singa, anjing singa, atau Fu dogs. Di Jepang, mereka dinamakan komainu, sedangkan di Okinawa disebut sebagai shīsā. Beragamnya sebutan ini tentu memunculkan pertanyaan mengenai identitas asli dari makhluk-makhluk tersebut.

Anjing atau Kucing?

two lion dog statues outside a japanese temple

Tanpa bertele-tele, makhluk ini sebenarnya adalah seekor singa. Lantas, bagaimana bisa sebagian orang menyebutnya sebagai anjing? Untuk memahaminya, kita perlu menelusuri jejaknya hingga ke India. Meskipun terdapat patung singa kuno di kawasan Timur Tengah, India adalah titik awal yang paling pasti bagi perjalanan patung singa menuju Jepang, karena penyebarannya tampaknya berjalan seiring dengan perkembangan agama Buddha.

split image of a buddhist shisa temple pedastal

Singa mulai muncul dalam seni kuil di India dan, pada abad ketiga, telah hadir dalam seni Buddha di Tiongkok. Pada masa itu, singa berfungsi sebagai pelindung simbolis bagi dharma atau ajaran Buddha. Seiring berjalannya waktu, fungsi ini meluas hingga menjadi penjaga gerbang kekaisaran.

Sejarah pada masa berikutnya menjadi sedikit kabur. Istilah Tionghoa untuk singa adalah shi atau shishi, tetapi ada makhluk lain yang muncul di Tiongkok pada periode yang sama yang disebut xiezhi. Antara abad ketiga dan ketujuh, sepasang patung batu xiezhi juga dibawa ke Korea, di mana namanya dilafalkan sebagai haetae atau haechi. Makhluk haechi ini sangat mirip singa, tetapi sering kali memiliki tubuh bersisik, cula kecil di kepalanya, dan terkadang sayap kecil.

statue of a lion dog outside a green wall

Menjelang periode Nara (710–794), singa penjaga telah tiba di Jepang. Belum ada catatan pasti apakah pengaruh awal tersebut berasal langsung dari Tiongkok atau Korea. Pada masa-masa awal, patung ini biasanya terbuat dari kayu dan hanya diletakkan di dalam ruangan. Memasuki abad kesembilan, terjadi perubahan di mana sepasang patung tersebut terdiri dari satu singa bermulut terbuka yang disebut shishi dan satu lagi bermulut tertutup, bertanduk, serta mirip anjing yang dinamakan komainu. Nama komainu sendiri memiliki arti “anjing Korea”. Berdasarkan nama dan atribut culanya, tampaknya komainu terinspirasi dari haechi asal Korea. Memasuki abad keempatbelas, tanduk tersebut menghilang, dan kedua patung dalam pasangan itu mulai dikenal secara kolektif sebagai komainu, sementara materialnya mulai beralih ke batu untuk penggunaan di luar ruangan.

split picture of a lion dog komainu in kyoto

Meskipun catatan sejarahnya tidak sepenuhnya jelas mengenai bagaimana komainu menjadi pemandangan umum di pintu masuk kuil, kemungkinan besar singa penjaga ini awalnya berkaitan erat dengan kuil Buddha. Hubungan ini didasarkan pada asosiasi singa dengan agama Buddha di Tiongkok serta pengaruh awal Korea terhadap masuknya agama Buddha ke Jepang pada tahun 552 M. Pergeseran lokasi dari kuil Buddha ke kuil Shinto dapat dijelaskan oleh fakta bahwa keduanya sering berbagi area yang sama, di mana umat Buddha kerap menyelaraskan simbol agama mereka dengan kepercayaan lokal Jepang.

Mungkin timbul pertanyaan apakah masyarakat Jepang pada masa pra-modern pernah melihat singa yang sesungguhnya. Meskipun habitat aslinya jauh dari Jepang, singa Asia dulunya dapat ditemukan di berbagai wilayah seperti Persia, Palestina, Mesopotamia, dan sebagian besar India sebelum abad kesembilanbelas. Singa peliharaan juga dikenal di Tiongkok, meskipun tidak ada catatan pasti apakah singa hidup pernah dibawa ke Jepang pada masa lalu. Kendati demikian, pada masa periode Tokugawa, hewan-hewan eksotis terkadang ditampilkan dalam perayaan tertentu, sehingga peluang tersebut tetap ada. Namun, sebagian besar masyarakat Jepang pada masa lampau hampir pasti belum pernah melihat singa hidup secara langsung.

Buka Mulut dan Ucapkan あ

a crowd of people visiting a japanese shrine in spring

Ketika dilihat secara berpasangan, baik di Jepang maupun di Okinawa, salah satu patung singa biasanya digambarkan dengan mulut terbuka sementara yang lain menutup mulutnya. Hal ini bukan sekadar kebetulan, melainkan mengandung simbolisme Buddhis. Mulut yang terbuka melambangkan pengucapan bunyi “a” (あ), sedangkan mulut yang tertutup membentuk bunyi “un” (うん). Jika digabungkan, keduanya membentuk kata a-un, yang merupakan adaptasi Jepang dari suku kata suci om (ॐ) dalam tradisi India. Dalam agama Hindu dan Buddha, om sering dimaknai sebagai nama Tuhan atau getaran suara alam semesta. Di Jepang, kombinasi “a” dan “un” juga merepresentasikan awal dan akhir, mirip dengan konsep alfa dan omega dalam tradisi Barat. Selain itu, patung bermulut terbuka sering dianggap sebagai lambang jantan, sementara yang bermulut tertutup melambangkan betina.

Komainu: Pelindung Populer

shiisa hanging out on top of vending machines in japan lion dog

Di daratan Jepang, patung singa merupakan pemandangan lazim di area kuil tetapi jarang ditemukan di tempat lain. Sebaliknya, siapa pun yang pernah berkunjung ke Okinawa akan menyadari bahwa patung singa dapat ditemui di mana-mana. Patung-patung penjaga ini sangat mendominasi lanskap Okinawa.

Di wilayah tersebut, patung singa dikenal dengan sebutan shīsā. Patung-patung ini dibuat dari berbagai jenis bahan, dengan tanah liat merah sebagai ciri khas regionalnya. Shīsā tidak hanya ditemukan di tempat-tempat yang memiliki nilai spiritual tinggi, tetapi juga menghiasi atap atau pintu masuk rumah warga dan bangunan komersial. Patung dengan berbagai ukuran juga sangat mudah dijumpai sebagai suvenir di berbagai toko.

Legenda yang Hidup

japanese drawing lion dog sign hangng outside a building

Meskipun tidak dapat bergerak, kekuatan dari seorang shīsā bukanlah hal yang bisa dianggap remeh. Terdapat beberapa legenda terkenal mengenai kepahlawanan makhluk ini:

Seorang utusan Tiongkok pernah mempersembahkan hadiah untuk raja berupa kalung yang dihiasi figurine berbentuk shīsā. Pada masa itu, Teluk Naha dan desa Madanbashi sedang diteror oleh seekor naga laut yang memangsa warga serta menghancurkan harta benda. Suatu hari, ketika raja sedang berkunjung ke desa tersebut, sang naga tiba-tiba menyerang dan membuat seluruh penduduk bersembunyi ketakutan. Seorang pendeta lokal yang mendapat petunjuk melalui mimpi meminta agar sang raja berdiri di pantai sambil mengangkat figurine tersebut ke arah naga. Ketika raja mengangkat figurine itu tinggi-tinggi, sebuah gemuruh yang sangat kuat terdengar hingga mengguncang sang naga. Seketika itu pula, sebuah batu raksasa jatuh dari langit dan menghantam ekor naga tersebut hingga tidak dapat bergerak dan akhirnya mati.

Di Desa Tomimori di bagian selatan Okinawa, sering terjadi peristiwa kebakaran. Penduduk setempat kemudian meminta nasihat dari seorang ahli Feng Shui untuk mengetahui penyebabnya. Sang ahli meyakini bahwa kebakaran tersebut diakibatkan oleh energi dari Gunung Yaese yang berada di dekat sana, dan menyarankan warga desa untuk membangun patung shīsā batu yang menghadap ke arah gunung tersebut. Sejak saat itu, desa mereka berhasil terlindungi dari bahaya kebakaran.

Pertarungan Kaiju

robot godzilla regular godzilla and shiso godzilla

Karakter shīsā juga diadaptasi ke dalam media modern. King Shīsā (キングシーサー), sesosok monster raksasa yang terinspirasi dari mitologi shīsā, pertama kali muncul dalam film Godzilla vs. Mechagodzilla pada tahun 1974 dan kembali tampil dalam Godzilla: Final Wars pada tahun 2004. Dalam versi sulih suara bahasa Inggris, namanya diubah menjadi King Caesar. Dalam kemunculan pertamanya, King Shīsā digambarkan sebagai pelindung umat manusia yang tertidur lelap di dalam gunung di Okinawa. Ketika Godzilla kewalahan menghadapi robot tiruannya, para pahlawan manusia membangunkan King Shīsā menggunakan sebuah nyanyian kuno. King Shīsā kemudian bahu-membahu bersama Godzilla untuk mengalahkan Mechagodzilla. Dalam film Godzilla: Final Wars, King Shīsā sempat bertarung melawan Godzilla karena berada di bawah kendali alien. Dalam film-film tersebut, King Shīsā mengandalkan teknik pertarungan jarak dekat serta memiliki kemampuan untuk memantulkan serangan energi lawan.

Komainu: Raja Segala Binatang

japanese stone lion dog and shrine

Meskipun banyak aspek dari sejarah mereka yang masih diselimuti misteri, singa penjaga tetaplah objek budaya yang sangat menarik. Di daratan Jepang, komainu dapat dengan mudah ditemukan di berbagai kuil, meski sayangnya jarang diangkat dalam ranah pop kultur modern. Di sisi lain, tradisi shīsā di Okinawa tetap hidup subur dan menjadi simbol budaya yang sangat melekat dalam kehidupan masyarakat Ryukyu.

collage of japanese lion dog images

Sekian penjelasannya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *