Matematika tidak pernah menjadi bidang yang saya kuasai semasa sekolah dulu. Angka-angka seolah tidak pernah bisa sejalan dengan pemikiran saya. Oleh karena itu, saya sempat berasumsi bahwa mempelajari atau menggunakan angka dalam bahasa asing akan menjadi hal yang mustahil. Namun, di luar dugaan, berurusan dengan angka dalam bahasa Jepang ternyata jauh lebih sederhana daripada yang saya bayangkan. Kemudahan ini sama sekali bukan karena saya pandai, melainkan karena kejeniusan dari sistem penomoran bahasa Jepang itu sendiri.
Sistem Angka Dasar
Pada awalnya, sistem hitung dalam bahasa Jepang mungkin tampak mengintimidasi. Padahal, Anda sebenarnya tidak perlu khawatir karena Anda telah menguasai sistem angka yang jauh lebih rumit sebelumnya. Menghitung dalam bahasa Jepang jauh lebih logis dan terstruktur dibandingkan dalam bahasa Inggris. Jika Anda sudah memahami dasarnya, Anda akan bisa mengikutinya dengan cepat.
Mari kita lihat angka dasar tersebut:
- 1: 一 ichi
- 2: 二 ni
- 3: San
- 4: 四 shi/yon
- 5: 五 go
- 6: 六 roku
- 7: 七 nana/shichi
- 8: 八 hachi
- 9: 九 ku
- 10: 十 juu
Sepuluh angka pertama tersebut tidak terlihat terlalu sulit, bukan? Hanya ada sepuluh angka—atau dua belas jika Anda menghitung dua cara pengucapan alternatif untuk angka 4 dan 7. Menghafal kanji untuk angka-angka ini juga sangat berguna, setidaknya agar Anda bisa membaca daftar harga di restoran soba tradisional yang sering kali menggunakan angka kanji.
Di sinilah bahasa Jepang memiliki keunggulan besar dibandingkan bahasa Inggris. Angka dari 11 hingga 99 semuanya menggunakan bunyi dasar yang baru saja Anda pelajari, tanpa ada aturan pengecualian yang membingungkan seperti dalam bahasa Inggris. Contohnya dalam bahasa Inggris, kata eleven sama sekali tidak mirip dengan ten atau one.
Dalam bahasa Jepang, angka 11 disebut sebagai 十一 juu-ichi, yang secara harfiah berarti sepuluh-satu. Pola yang sangat indah ini terus berlanjut. Angka 21 adalah 二十一 ni-juu-ichi, atau dua-sepuluh-satu. Begitu mencapai angka 100, Anda hanya perlu mempelajari satu kata lagi, yaitu hyaku 百. Dengan begitu, Anda bisa menghitung dari 1 hingga 999 menggunakan pola yang sama. Angka 101 adalah 百一 hyaku-ichi, dan 241 adalah 二百四十一 ni-hyaku-yon-juu-ichi. Anda hanya perlu memperhatikan perubahan bunyi hyaku menjadi byaku pada situasi tertentu. Untuk menghitung hingga 9.999, Anda hanya perlu satu kata lagi, yaitu sen 千 untuk ribuan, dan man 万 untuk 10.000, dengan aturan yang tetap konsisten.
Jika Anda tinggal di Jepang, Anda akan merasa sangat mudah untuk berlatih menghitung hingga ribuan karena hal tersebut sangat lazim ditemui saat berbelanja. Karena budaya tunai masih sangat kuat di sana, Anda akan terbiasa mengelola angka ribuan dan puluhan ribu setiap hari.
Penamaan yang masuk akal ini tidak hanya berlaku pada angka, tetapi juga pada bentuk geometris. Untuk menamai sebuah poligon dalam bahasa Jepang, Anda cukup menghitung jumlah sisinya lalu menggabungkannya dengan kata kakkei atau kakukei. Sebagai contoh, segitiga disebut sankakkei dan delapan segi disebut hachikakukei.
Mempelajari Perkalian dengan Kuku

Kuku bukanlah sejenis burung, melainkan sebuah metode untuk mempelajari tabel perkalian. Banyak orang dewasa yang merasa kesulitan saat harus menghitung perkalian secara cepat di luar kepala. Namun, ketakutan semacam ini jarang ditemukan pada orang Jepang. Sejak usia tujuh tahun, anak-anak mempelajari tabel perkalian menggunakan nyanyian ritmis yang disebut kuku, yang mencakup perkalian hingga 9×9.
Dengan menghafal kuku di luar kepala, anak-anak Jepang mendapatkan fondasi matematika yang sangat kuat. Meskipun sistem angka Jepang sangat teratur, metode kuku memiliki sedikit penyesuaian demi menjaga irama nyanyiannya, di mana beberapa angka diucapkan dalam bentuk yang lebih singkat. Banyak video pembelajaran yang menggunakan berbagai ritme untuk membantu menghafal kuku ini, dan mendengarkannya secara berulang bisa menjadi cara yang efektif untuk ikut bernyanyi dan menghafal.
Menguasai Soroban

Alat lain yang sangat membantu dalam mengasah kemampuan matematika adalah soroban, yaitu terzo sempoa tradisional Jepang. Sekilas, penggunaan sempoa mungkin terasa kuno di era kalkulator canggih seperti sekarang. Kendati demikian, soroban terbukti mampu mengubah seseorang menjadi ahli hitung mental yang luar biasa.
Sempoa Jepang terbagi menjadi dua bagian. Bagian atas memiliki satu manik yang bernilai lima unit, sementara bagian bawah memiliki empat manik yang masing-masing bernilai satu unit. Angka dibaca dari kiri ke kanan berdasarkan manik yang digeser mendekati bilah pemisah di tengah.
Memiliki representasi fisik dari angka membuat proses belajar menjadi jauh lebih interaktif dan menyenangkan bagi anak-anak dibandingkan sekadar mencoret-coret kertas. Tujuan dari penggunaan soroban adalah menggabungkannya dengan memori otot untuk memformalkan proses aritmatika. Pengguna soroban yang terlatih bahkan dapat menyelesaikan perhitungan jauh lebih cepat daripada seseorang yang menggunakan kalkulator elektronik karena prosesnya telah menjadi otomatis.
Para pengguna soroban tingkat lanjut bahkan tidak lagi membutuhkan alat fisik di depan mereka. Metode ini dikenal sebagai anzan soroban atau perhitungan mental. Orang yang telah menguasai anzan soroban mampu memvisualisasikan sempoa di dalam pikiran mereka. Terkadang, jari-jari mereka tetap bergerak seolah-olah sedang menggeser manik-manik meskipun alatnya tidak ada di hadapan mereka.
Bentuk anzan soroban yang paling mencengangkan adalah flash anzan, di mana belasan angka tiga digit muncul secara cepat di layar dan harus dijumlahkan di dalam kepala. Para juara kompetisi nasional mampu menyelesaikan tantangan ini dalam waktu kurang dari dua detik. Inilah kekuatan nyata dari pelatihan soroban.
Matematika Terasa Lebih Menyenangkan di Jepang

Tentu saja, ada kerumitan tersendiri saat menghitung benda dalam bahasa Jepang karena harus melibatkan sistem penghitung khusus atau counters, belum lagi penggunaan bacaan alternatif seperti kun’yomi. Namun terlepas dari tantangan tersebut, ada satu hal yang jauh lebih penting dalam keberhasilan belajar matematika, yaitu sikap mental.
Sikap terhadap pelajaran matematika di Jepang jauh lebih positif dibandingkan di banyak negara barat. Matematika dipandang sebagai sesuatu yang menyenangkan untuk dieksplorasi. Tidak heran jika Jepang menjadi tempat asal bagi berbagai permainan angka populer di dunia seperti Sudoku.
Meskipun kita mungkin tidak akan pernah mencapai tingkat kefasihan penuh untuk melakukan perhitungan masif dalam hitungan detik, kita tetap dapat meniru cara pandang dan sikap positif yang dimiliki masyarakat Jepang terhadap dunia matematika.








