Home / Study / Kana Berubah: Upaya Pascaperang untuk Mengubah Kana Selamanya

Kana Berubah: Upaya Pascaperang untuk Mengubah Kana Selamanya

Bahasa selalu mengalami perkembangan dari masa ke masa. Bahasa Inggris yang kita gunakan saat ini sudah jauh berbeda dibandingkan satu abad lalu, atau bahkan dengan dekade 1990-an. Hal serupa juga terjadi pada bahasa Jepang, meskipun tidak semua orang menyadari seberapa besar transformasi yang telah dialami oleh bahasa tersebut.

Reformasi Bahasa

Bob Dylan
Bob Dylan, esteemed Japanese linguist

Perubahan bahasa dapat terjadi secara alami seiring berjalannya waktu, di mana kosakata dan ungkapan tertentu perlahan-lahan ditinggalkan karena sudah tidak relevan. Namun, ada kalanya bahasa juga diubah secara sengaja dan terencana. Sebagai contoh, Akademi Bahasa Ibrani di Israel secara aktif mengatur dan menyesuaikan kosakata baru, seperti istilah “Twitter”, agar tetap selaras dengan tradisi bahasa Ibrani.

Meskipun Jepang tidak memiliki lembaga resmi yang persis sama, pemerintahnya pernah beberapa kali melakukan upaya terarah untuk menata dan menyederhanakan bahasa Jepang.

Perubahan Pasca-Perang

Tepat setelah Perang Dunia II berakhir pada tahun 1946, masyarakat Jepang sangat terbuka terhadap berbagai perubahan besar. Karena sebagian besar wilayah negeri itu mengalami kerusakan parah, banyak pihak menganggap momen tersebut sebagai waktu yang paling tepat untuk merombak struktur sosial masyarakat.

Military man with 'Konnichiwa' written at the bottom of the frame
Dammit MacArthur, what’d I say about using romaji?!

Beberapa kalangan bahkan sempat mengusulkan agar Jepang mengadopsi bahasa asing sepenuhnya. Novelis Naoya Shiga, misalnya, menilai bahasa Prancis terdengar bagus dan mengusulkan agar bahasa tersebut dijadikan bahasa nasional, meski usulan ini tidak mendapat sambutan hangat.

Sementara itu, pihak Pendudukan Amerika Serikat sempat berupaya menghapus sistem kana dan menggantinya sepenuhnya dengan huruf romaji, yang tentu saja ditolak oleh masyarakat. Ketika rencana tersebut gagal, mereka mencoba cara lain dengan menyederhanakan penggunaan kanji melalui daftar standar yang harus dipelajari semua orang—yang kini dikenal sebagai Jouyou Kanji.

Tidak hanya kanji, sistem penulisan hiragana juga mengalami pembaruan besar menjadi apa yang disebut sebagai gendai kanazukai (penggunaan kana modern), yang berfungsi untuk merapikan dan menstandarisasi tata cara penulisan.

Kana yang Hilang dari Peredaran

Standard hiragana chart with stroke order

Sebagai bagian dari reformasi tersebut, kabinet Jepang menghapus karakter wi dan we dari penggunaan resmi. Sebelumnya, karakter wi (ゐ / ヰ) dan we (ゑ / ヱ) merupakan bagian yang lumrah dalam hiragana dan katakana. Namun, keduanya akhirnya ditinggalkan karena dianggap tidak lagi diperlukan, sebab pelafalannya dapat digantikan oleh kombinasi ui (うぃ) dan ue (うぇ), atau sekadar disederhanakan menjadi i dan e.

Saat ini, karakter-karakter tersebut sangat jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari dan perlahan menjadi peninggalan historis dalam bahasa Jepang.

Pembaruan lain dalam gendai kanazukai berkaitan dengan yotsugana (empat karakter), yaitu じ, ぢ, ず, dan づ. Sebelum reformasi ini, pengucapan keempat karakter tersebut sangat membingungkan dan tidak seragam. Melalui aturan baru, pengucapannya disederhanakan: じ dan ぢ dilafalkan sebagai ji atau zi, sedangkan ず dan づ dilafalkan sebagai zu.

Selain itu, reformasi ini juga memperkenalkan penggunaan kana berukuran kecil untuk memperjelas arti kata. Sebelumnya, penulisan seperti りよう dapat dibaca sebagai riyou maupun ryou tergantung konteksnya. Berkat adanya pembaruan ini, penulisan dibedakan menjadi りよう untuk riyou dan りょう untuk ryou, sehingga menghindari kerancuan bacaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *