Hollywood secara tradisional selalu berorientasi pada pasar arus utama, berupaya merilis film berbiaya besar untuk menjangkau penonton seluas-luasnya. Industri perfilman AS ini sering kali dikritik karena terus menerus memproduksi sekuel, daur ulang, serta film-film klise yang jalan ceritanya mudah ditebak sejak awal pemutaran. Oleh karena itu, menjadi sebuah fenomena yang menarik ketika dalam kurun waktu satu setengah tahun terakhir, Hollywood justru merilis film bertema kaiju, film samurai, film lain yang kental dengan nuansa samurai, hingga film yang tidak hanya diadaptasi dari satu judul permainan video, melainkan merangkum berbagai dunia video game sekaligus.
Produksi film orisinal berbujet jumbo adalah pertaruhan besar di industri perfilman modern. Lantas, apa alasan di balik pembuatan film-film tersebut? Studio-studio besar ternyata sedang berusaha merebut kembali pasar box office Jepang yang sebelumnya sangat diandalkan, melalui penciptaan karya-karya yang berada di persimpangan antara budaya Jepang dan Amerika. Strategi “Japanamerican” ini telah berjalan selama lebih dari setahun, namun pertanyaannya, apakah langkah tersebut membuahkan hasil?
Masalah Utama

Jepang merupakan pasar box office terbesar ketiga di dunia, berada di bawah gabungan pasar Amerika Serikat dan Kanada, serta China yang baru melampaui posisi Jepang pada tahun 2012. Selama bertahun-tahun, penonton di Jepang menikmati deretan film Hollywood yang sama dengan yang disaksikan oleh penonton di AS. Jika melihat daftar film berpendapatan tertinggi di Jepang dalam satu dekade terakhir, polanya tidak jauh berbeda dengan Amerika Serikat, yang didominasi oleh waralaba seperti Harry Potter hingga Pirates of the Caribbean. Dari catatan sejarah akhir pekan pembukaan di bioskop Jepang, hampir seluruhnya dikuasai film buatan Amerika.
Namun, situasi tersebut mulai bergeser pada tahun 2012. Ketika film-film seperti The Avengers memecahkan rekor box office global, pasar Jepang justru menunjukkan ketidaktertarikan. Seluruh film Hollywood pada tahun tersebut berhasil dikalahkan oleh rilisan lokal di Jepang, seperti drama Penjaga Pantai Umizaru 4, film komedi adaptasi manga Thermae Romae, serta Bayside Shakedown. Film produksi Amerika dengan pendapatan tertinggi saat itu hanyalah Les Miserables, sementara The Avengers hanya mampu mengumpulkan angka yang relatif kecil di sana, menyadarkan Hollywood bahwa mereka berisiko kehilangan pasar terbesar ketiga di dunia.
Strategi yang Diterapkan

Sebagai tanggapan, Hollywood merancang film-film yang diharapkan mampu memikat hati penonton Jepang. Empat dari delapan studio besar merilis karya yang mengusung elemen-elemen khas Jepang untuk merebut kembali pasar tersebut:
Disney merilis film animasi bertema permainan video yang dikenal secara global sebagai Wreck-It Ralph, namun menggunakan judul Sugar Rush di Jepang. Konsep dasar film ini digarap dengan tingkat kerja sama Jepang yang belum pernah terjadi sebelumnya, termasuk kesepakatan lisensi dengan Nintendo dan Sega, kampanye pemasaran bersama duo komedian Yoiko, hingga keterlibatan grup AKB48.
Warner Bros. menghadirkan Pacific Rim, sebuah bentuk penghormatan sutradara Guillermo del Toro terhadap genre kaiju. Film ini menampilkan latar pertahanan di berbagai pesisir Pasifik serta menggandeng aktris asal Jepang, Rinko Kikuchi, sebagai pemeran utama wanita.
Fox meluncurkan film baru dari karakter Wolverine yang mengambil latar tempat di Jepang dengan melibatkan sejumlah aktor Jepang ternama seperti Hiroyuki Sanada. Faktor ekonomis tampaknya menjadi pertimbangan kuat di balik keputusan mengirim karakter Hugh Jackman tersebut ke Negeri Sakura.
Terakhir, Universal mempersembahkan 47 Ronin, sebuah interpretasi Amerika terhadap kisah klasik Jepang yang hampir seluruh pemerannya merupakan aktor asal Jepang, kecuali Keanu Reeves. Diwarnai berbagai proses penulisan ulang, film ini merupakan upaya blak-blakan untuk meraup pasar box office Jepang, meski akhirnya berujung pada hasil pemasaran yang kurang memuaskan saat penayangannya.
Hasil Akhir

Ironisnya, segala upaya dan perhatian ekstra untuk merangkul kembali penonton Jepang tersebut justru menemui jalan buntu. Jepang menunjukkan sikap acuh tak acuh untuk tahun kedua secara berturut-turut terhadap film-film Amerika, di mana proyek-proyek berunsur Jepang ini justru bernasib lebih buruk dari biasanya. Hanya segelintir film Hollywood seperti Monsters University dan Ted yang mencatat hasil gemilang, sementara puncak box office Jepang tetap dikuasai oleh karya-karya domestik.
Pendapatan film-film bertema Jepang tersebut tercatat mengecewakan di pasaran lokal. Wreck-It Ralph memperoleh hasil di bawah rata-rata film animasi Disney sebelumnya, sementara Pacific Rim, The Wolverine, dan terutama 47 Ronin mencatatkan angka yang jauh dari harapan.
Secara global, sebagian besar film ini masih mampu menutup biaya produksi, tetapi misi utamanya untuk menaklukkan kembali pasar Jepang mengalami kegagalan total. Kegagalan ini cukup masuk akal karena pendekatan yang digunakan tergolong dangkal; penonton Jepang tidak pernah mempermasalahkan aktor atau latar non-Jepang, melainkan lebih kepada masalah nada cerita. Eksekutif pemasaran studio dan konsultan media mencatat bahwa film-film Hollywood sering kali dianggap terlalu gelap, depresif, dan sarat akan kekerasan yang tidak ramah untuk ditonton oleh keluarga.
Selain itu, adaptasi buku komik superhero Marvel dan DC yang sangat digemari di Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya tidak pernah benar-benar mencetak sukses besar di Jepang, baik karena faktor perbedaan selera maupun kurangnya ikatan emosional dengan karakternya.
Meskipun film-film baru seperti Godzilla terus bermunculan, tren produksi film Amerika dengan tema dan pemeran Jepang ini tampaknya akan segera berakhir seiring orientasi industri yang selalu mengikuti arah keuntungan finansial.








