Bagi siapa pun yang menaruh minat mendalam pada budaya Jepang, nama Miyamoto Musashi (sekitar 1584–1645) tentu sudah tidak asing lagi. Hidup sebagai seorang samurai pada awal periode Edo (1603–1868), ia menjelma menjadi legenda seni pedang yang namanya terus dikenang. Pada masa itu, para samurai lazim melakukan perjalanan peziarahan prajurit yang disebut musha shugyo, di mana mereka berkelana dari satu tempat ke tempat lain untuk berlatih dan menantang pendekar lain berduel. Musashi menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan cara ini sebagai seorang ronin atau samurai tanpa tuan. Berdasarkan catatan sejarahnya sendiri, ia memenangkan 60 duel semasa hidupnya tanpa pernah menderita satu kekalahan pun.
Menjelang usia senjanya, Musashi mulai memperlambat ritme hidupnya dan mengasingkan diri ke sebuah gua di daerah Kyushu pada tahun 1643. Di tempat sunyi inilah ia merampungkan karya tulis terkenalnya mengenai strategi pertempuran berjudul “Book of Five Rings” atau Gorin no sho, yang hingga kini masih banyak dibaca orang. Dua tahun berselang, ia menghembuskan napas terakhirnya di sana. Keinginan untuk mengunjungi gua tempat Musashi menorehkan karya terakhirnya itu akhirnya terwujud, dan situs bernama Reigando tersebut menyimpan sejumlah pengalaman yang tidak terduga.

Reigando, yang secara harfiah dapat diartikan sebagai “gua roh,” terletak di lereng sebuah gunung kecil di kawasan Iwadokannon, persis di luar kota Kumamoto. Perjalanan singkat menggunakan bus melewati pegunungan yang asri akan membawa pengunjung tiba di Iwadokannon. Tepat di seberang jalan dari pemberhentian bus terdapat jalur pendakian yang menuntun ke arah gunung tempat gua tersebut berada. Jalurnya tidak terlalu panjang, dan setibanya di puncak, para pengunjung akan langsung disambut oleh patung Miyamoto Musashi.

Dari titik tersebut, terdapat beberapa jalur setapak yang bisa dipilih. Jalur yang lebih pendek mengarah ke sudut pandang dengan panorama pedesaan sekitar yang memukau. Sementara jalur lainnya menuruni sisi seberang gunung menuju kompleks Reigando. Jauh sebelum era Musashi, lokasi ini sejatinya telah dianggap sebagai tempat istimewa dan merupakan situs bagi Reiganzen-ji, sebuah kuil dari sekte Soto Zen.

Menurut legenda setempat, kawasan tersebut dahulunya merupakan rawa yang dihuni oleh seekor naga. Seorang biksu asal Tiongkok bernama Torin Eiyo (1285–1365) berkeinginan mendirikan sebuah kuil di lokasi itu. Suatu malam dalam tidurnya, ia mendengar suara misterius yang berkata, “Akulah penguasa rawa ini. Aku akan mengabulkan permintaanmu dan pergi dari sini. Sebagai buktinya, aku akan meninggalkan sebuah cangkang kerang dan sisik naga.” Kedua benda berharga tersebut kini masih dapat disaksikan langsung di area kuil, meskipun “sisik naga” yang dimaksud tampak sangat mirip dengan cangkang kerang biasa.
Di bagian depan kuil, terdapat pula sebuah lentera batu dengan aliran air pegunungan yang jernih tempat pengunjung dapat membasuh diri. Pusat pemujaan utama di kuil ini adalah sebuah patung Kannon, bodhisattva belas kasih. Patung tersebut diyakini dibuat oleh seorang pendeta bernama Gyouki (698–749). Konon, saat menjalani perjalanan suci, ia menemukan sesuatu yang ganjil di kota Uto dekat sana, yakni sebuah jembatan kayu yang memancarkan cahaya pada malam hari. Gyouki kemudian memahat patung tersebut menggunakan kayu dari jembatan itu.
Catatan sejarah mengenai hal ini memang tidak terlalu detail, namun patung Kannon tersebut tampaknya sudah berada di Reigando jauh sebelum kuilnya sendiri didirikan. Terdapat pula kisah rakyat mengenai seorang wanita lanjut usia bernama Higaki yang hidup pada zaman Heian (794–1185). Ia rutin menimba air setiap hari untuk dipersembahkan kepada arca tersebut. Cerita ini kemudian diadaptasi menjadi sebuah pertunjukan teater Noh oleh Zeami (sekitar 1363–sekitar 1443) dengan judul “Higaki,” yang turut mengangkat kepopuleran kawasan Iwadokannon ke seluruh penjuru Jepang.

Di sekitar area mata air dan kuil, terdapat loket tiket tempat para peziarah maupun wisatawan dapat membeli jimat, salinan buku “Book of Five Rings,” serta berbagai suvenir kenang-kenangan. Tersedia pula sebuah ruang pameran kecil yang menampilkan beragam artefak serta informasi seputar sejarah situs tersebut.
Reigando tampaknya bukan destinasi yang pernah disesaki oleh terlalu banyak pelancong. Saat berkunjung ke sana, hanya terlihat segelintir wisatawan lain dalam jumlah yang sangat sedikit. Selepas melewati gerbang tiket, para pengunjung akan segera disambut oleh barisan patung berwajah ramah.

Patung-patung tersebut adalah Lima Ratus Arhat atau dikenal sebagai gohyaku rakan. Dalam tradisi agama Buddha di Jepang, arhat merujuk pada sosok yang telah mencapai tingkat spiritual tinggi dalam perjalanan menuju pencerahan, meski belum mencapai tingkat seorang buddha atau bodhisattva. Ekspresi wajah masing-masing patung arhat tersebut menyiratkan suasana batin yang beragam.

Jumlah patung tersebut sangat banyak dan sulit untuk dihitung secara sekilas. Pengerjaan patung-patung arhat ini dilakukan jauh setelah masa kehidupan Musashi, kendati masih berada dalam rentang periode Edo. Pada tahun 1779, pembuatan arhat-arhat ini diprakarsai oleh seorang saudagar asal Kumamoto bernama Fujitaya Yoshihira, dan membutuhkan waktu selama 24 tahun hingga benar-benar rampung. Tidak banyak informasi lanjutan yang ditemukan mengenai latar belakang atau motivasi saudagar tersebut selain dugaan untuk mengumpulkan kebajikan.

Masing-masing patung arhat memiliki tinggi sekitar setengah meter. Kondisi fisik patung-patung ini pun harus bertahan menghadapi terjangan waktu serta gempa bumi yang kerap melanda wilayah tersebut.


Melangkah melewati barisan arhat, pengunjung akhirnya akan tiba di lokasi utama, yaitu Gua Reigando. Ukuran gua ini tidak terlalu besar, tetapi cukup memadai bagi seorang pertapa tangguh untuk menghabiskan hari-hari terakhirnya sekaligus merampungkan karya terbesar dalam hidupnya. Bagi masyarakat awam, gua ini mungkin tampak biasa saja, namun berdiri di tempat tersebut memberikan kesan mendalam tersendiri bagi para pengagum sejarahnya.



Setelah selesai, pengunjung dapat kembali turun melalui jalur kedatangan semula. Sambil menunggu jadwal kedatangan bus berikutnya, pemandangan alam sekitar yang tenang akan menemani waktu menunggu.

Gua Reigando
Informasi Tambahan
589 Matsuomachi Hirayama
Kumamoto, Prefektur Kumamoto 861-5283
Jepang
Lihat di peta
096-329-8854
096-329-8960








