Home / Travel / Ekiben: Kuliner Unik di Kereta Jepang yang Wajib Dicoba

Ekiben: Kuliner Unik di Kereta Jepang yang Wajib Dicoba

header 640x 4

Kotak Bekal Legendaris di Jalur Kereta Jepang

Bagi para pelancong di Amerika Serikat, urusan mengisi perut di tengah perjalanan sering kali dianggap sebagai beban semata. Area peristirahatan di pinggir jalan tol yang dipenuhi oleh merek waralaba makanan cepat saji yang seragam di seluruh negeri memang bisa diandalkan untuk mengisi bahan bakar kendaraan sekaligus perut, tetapi sulit untuk menyebut pengalaman itu sebagai sebuah suguhan istimewa. Anda mungkin tidak akan kelaparan saat menaiki Amtrak, namun membawa bekal sendiri jauh lebih disarankan, dan jika Anda memilih menggunakan bus, membawa makanan sendiri bahkan menjadi satu-satunya pilihan yang masuk akal. Belum lagi berbicara tentang makanan di dalam pesawat yang lebih baik dilupakan sama sekali.

Situasinya menjadi sangat berbeda ketika Anda menikmati perjalanan dengan kereta api di Jepang. Ekiben, yaitu kotak bento yang dijajakan khusus di dalam kereta dan stasiun-stasiun kereta, pada mulanya merupakan kebutuhan praktis bagi para penumpang yang merasa lapar di jalan. Seiring berjalannya waktu dan munculnya persaingan ketat dari kendaraan pribadi, fungsi ekiben pun bergeser menjadi buah tangan yang dicari serta sarana promosi pariwisata daerah. Saat ini, masyarakat bahkan kerap berbondong-bondong membelinya meskipun mereka sedang tidak bepergian—sebuah fenomena yang mustahil terjadi pada hidangan maskapai penerbangan.

Mari menelusuri perkembangan tradisi ini, mulai dari kepalan nasi sederhana di masa lampau hingga menjadi dunia penuh kelezatan kuliner lokal, presentasi yang memikat, serta cita rasa masakan Jepang yang luar biasa.

Kotak Bento Stasiun Kereta Pertama di Jepang

train in Japan in 1800s
Source: Wikimedia Commons

Layanan kereta api di Jepang mulai beroperasi pada tahun 1872, namun kemunculan perdana ekiben sedikit lebih sulit untuk dipastikan secara akurat. Terdapat berbagai teori yang saling bersaing mengenai apa yang sebenarnya layak disebut sebagai ekiben pertama. Mengingat pada masa itu sudah ada kereta, ada penumpang, dan orang-orang tentu membutuhkan makanan, pasar sudah sangat siap sehingga hal tersebut hampir pasti terjadi dalam suatu bentuk, dan tentunya lebih dari satu pedagang merespons kebutuhan tersebut. Kendati demikian, siapa yang sempat mencatat secara tepat penjualan barang yang bahkan belum memiliki definisi resmi? Selain itu, banyak catatan sejarah yang musnah akibat perang, membuat bukti tertulis masa lalu sulit ditemukan.

Versi narasi umum memberikan kehormatan sebagai yang pertama kepada hidangan yang dijajakan di Stasiun Utsunomiya, Prefektur Tochigi. Menu tersebut terdiri dari dua kepalan nasi yang dibungkus daun bambu serta dilengkapi acar, dengan harga jual lima sen. Satu sen bernilai 1/100 dari satu yen, sehingga jumlah tersebut kurang lebih setara dengan sepuluh dolar AS dalam nilai mata uang saat ini, nominal yang mirip dengan harga ekiben berkualitas baik pada masa kini.

Terdapat pula klaim lain yang mendahului catatan tersebut, termasuk makanan yang dijual di Osaka dan Kobe pada tahun 1877 serta Stasiun Ueno pada tahun 1883. Alasan Stasiun Utsunomiya mendapatkan pengakuan resmi yang lebih luas tampaknya karena tanggal penjualannya tercatat dengan pasti, yakni pada 16 Juli 1885, bertepatan dengan hari pembukaan jalur utama Japan Railway Tohoku. Hal tersebut memberikan momen peringatan yang jelas dan memudahkan perayaan.

Namun, tradisi sebaik ini tentu layak dirayakan lebih dari sekali dalam setahun. Ekiben juga memiliki hari peringatan khusus pada tanggal 10 April yang dikenal sebagai Ekiben no Hi, mengingat kegemaran masyarakat Jepang terhadap permainan kata kanji. Karakter untuk bento (弁) sekilas tampak seperti gabungan angka sepuluh (十) dan angka empat dalam aksara Arab. Apapun alasannya, setiap kesempatan tentu sah dimanfaatkan untuk menikmati lebih banyak ekiben. Asosiasi pembuat ekiben dari Japan Rail bahkan merayakan hari jadi ekiben yang ke-130 pada tanggal tersebut melalui sebuah brosur resmi.

Evolusi Perjalanan Ekiben

ekiben train meal service
Source: 4563_pic

Ekiben dengan cepat mengadopsi ciri khas yang kini begitu familiar bagi banyak orang. Pada tahun 1888, bentuk ekiben standar yang memadukan nasi dengan beragam lauk pauk mulai diperkenalkan di Stasiun Himeji. Sejumlah sumber menyebutkan bahwa ekiben pertama yang mengangkat keistimewaan lokal adalah bento sushi yang dijual di Ichinoseki dan Kurosawajiri, Prefektur Iwate, sejak tahun 1890. Terlepas dari siapa pihak yang memulainya, gagasan ini berkembang pesat pada akhir abad kesembilan belas hingga awal abad kedua puluh. Meskipun para pelancong kala itu belum memiliki akses internet, sebuah majalah pada tahun 1905 telah memuat daftar berbagai ekiben yang tersedia di berbagai wilayah, sementara jadwal perjalanan kereta kerap mencantumkan rekomendasi ekiben terkenal di daerah tertentu.

Pada masa lalu, para penjual ekiben membawa dagangan mereka menggunakan nampan pajangan yang digantungkan dengan tali di leher. Sambil meneriakkan seruan jualan khas, mereka menyusuri peron stasiun dan menawarkan makanan langsung melalui jendela kereta yang sedang berhenti.

Kebiasaan yang unik ini perlahan memudar seiring kehadiran kereta modern berpenyejuk udara dengan jendela yang tidak dapat dibuka serta jadwal perjalanan yang semakin ketat. Aktivitas penjualan sebagian besar berpindah ke kios-kios stasiun maupun ke bagian dalam kereta, meskipun masih terdapat beberapa lokasi langka yang mempertahankan tradisi penjual keliling di peron.

stall for selling ekiben
Source: Alfonso Jimenez

Selain menonjolkan bahan khas daerah, ekiben juga menerapkan prinsip-prinsip penting dalam kuliner tradisional Jepang. Beberapa varian menggunakan bahan musiman yang hanya bisa didapatkan pada waktu tertentu, dan aspek estetika penyajian selalu memegang peranan vital. Meskipun diproduksi dalam jumlah besar di fasilitas pabrik alih-alih diracik langsung oleh juru masak lokal, perhatian cermat tetap diberikan pada tata letak dan keindahan visual setiap komponen makanan.

Standar penyajian yang tinggi ini juga mencakup wadah serta kemasan pembungkusnya. Ekiben bukanlah jenis bento swalayan atau konbini yang dikemas dalam nampan plastik biasa. Sebagai catatan, bento konbini tetap menjadi salah satu pilihan praktis yang digemari, tetapi salah satu cara ekiben bersaing dengan opsi yang lebih ekonomis tersebut adalah melalui wadah suvenir yang unik serta kemasan yang menarik. Beberapa wadah dirancang menyerupai bentuk kereta Shinkansen, atau wadah favorit berbentuk kendi gurita:

special ekiben souvenir container
Source: Linda Lombardi

Ekiben dengan kotak konvensional biasanya dibalut oleh kertas pembungkus yang menampilkan beragam seni grafis dan ilustrasi bergaya Jepang yang memukau. Sebagian besar memberikan gambaran mengenai isi makanannya melalui lukisan elegan bergambar ikan atau hasil bumi. Ada pula yang diterbitkan khusus untuk memperingati peristiwa tertentu, seperti edisi khusus Olimpiade Tokyo 1964 di Stasiun Tokyo. Beberapa kemasan bahkan menampilkan figur historis, tokoh cerita rakyat, maupun lokasi ikonis. Contohnya adalah kemasan dari Stasiun Ueno yang memperlihatkan fasad bangunan stasiun serta patung Saigo Takamori di Taman Ueno bersama anjing setianya, sosok yang sering dijuluki sebagai samurai terakhir.

standard train wrapped bento box
Source: Luke Lai

Karakter-karakter dari budaya populer turut ambil bagian dalam industri ini. Penggemar bahkan dapat menjumpai ekiben bertema Anpanman dan menyantapnya langsung di dalam rangkaian kereta yang didekorasi khusus dengan tema serupa.

Pasang Surut Industri Ekiben

old fashioned ekiben box
Source: Luke Lai

Ketika Perang Dunia Kedua berkecamuk, produksi ekiben turut terdampak oleh sistem penjatahan. Pasokan beras yang terbatas harus diselingi dengan ubi jalar atau mi, sementara kemasan mewah digantikan oleh kertas biasa yang terkadang dibubuhi slogan-slogan patriotik. Salah satu hidangan populer Jepang justru lahir dari masa-masa sulit ini. Ikameshi, yakni cumi-cumi yang diisi dengan nasi, diciptakan oleh seorang penjual ekiben di Hokkaido yang memanfaatkan ukuran cumi-cumi kecil yang kala itu kurang diminati. Dengan mengisi rongga cumi menggunakan nasi lalu merebusnya secara perlahan, porsi beras yang sedikit dapat diolah menjadi hidangan yang mengenyangkan.

Memasuki era pascaperang pada tahun 1950-an, industri pariwisata mengalami lonjakan besar, dan popularitas televisi turut mendongkrak minat masyarakat terhadap ekiben berkat sebuah drama tahun 1973 yang diadaptasi dari manga tentang seorang pelancong penjelajah kuliner kereta di Jepang. Dekade tersebut menandai masa keemasan ekiben. Angka konsumsi melonjak dari sekitar dua juta kotak per minggu pada akhir tahun 1970-an menjadi dua belas juta kotak setiap harinya pada pertengahan tahun 1980-an.

Namun, zaman terus berubah seiring meningkatnya kepemilikan kendaraan pribadi serta pesawat terbang sebagai sarana transportasi. Angka penjualan ekiben mengalami penurunan, dan kurun waktu antara 1987 hingga 2008 mencatat penyusutan jumlah produsen ekiben hingga separuhnya. Guna menyelamatkan bisnis mereka, berbagai inovasi baru pun dihadirkan. Sebagian di antaranya bersifat teknologi, seperti penggunaan kotak pemanas mandiri, sementara perhatian yang lebih besar dicurahkan pada strategi promosi. Salah satu gagasan paling cemerlang adalah menyadari bahwa jika masyarakat kini jarang menaiki kereta, maka ekiben harus dibawa keluar dari stasiun. Festival ekiben pertama di pusat perbelanjaan diselenggarakan pada tahun 1966, dan dalam kurun waktu dua minggu berhasil menjual 400.000 kotak ekiben dari 200 jenis berbeda yang didatangkan dari seluruh penjuru negeri. Alih-alih perjalanan kereta yang membawa Anda mencicipi kuliner daerah, cita rasa lokal tersebut kini mendatangi para pelanggan secara langsung.

Ekiben di Era Modern

ekiben meal with fish eggs
Source: かがみ~

Meskipun beberapa pihak beranggapan bahwa masa kejayaan ekiben telah berlalu, industri ini terbukti mampu bertahan dengan baik. Mereka terus beradaptasi dengan zaman melalui produk-produk bertema anime guna menarik perhatian generasi muda yang mungkin tidak memiliki keterikatan emosional masa kecil, seperti peluncuran edisi khusus di prefektur asal sang pencipta manga populer. Selain itu, terdapat pula varian suvenir yang memadukan unsur nostalgia sekaligus daya tarik bagi anak-anak.

Sejak festival perintis di pusat perbelanjaan tersebut, tradisi pameran kuliner ini semakin marak diadakan di berbagai tempat. Festival ekiben terbesar dan paling tersohor secara rutin digelar di pusat perbelanjaan Keio di Shinjuku, di mana lebih dari 200 varietas dipamerkan kepada pengunjung. Acara ini juga dimeriahkan dengan demonstrasi memasak serta berbagai tema khusus, seperti proyek pameran yang merekonstruksi kembali menu ekiben dari jalur kereta api yang telah ditutup.

Bagi pelancong yang melewatkan jadwal festival musiman tersebut, tidak perlu khawatir. Stasiun Tokyo kini menghadirkan area khusus pusat ekiben permanen di mana pengunjung dapat memilih dari 170 jenis ekiben yang berasal dari berbagai daerah di Jepang. Tiga jenis yang paling diminati dilaporkan meliputi bento lidah sapi panggang berpemanas mandiri dari Sendai, chirashi bento dengan limpahan telur dadar dari Niigata, serta bento daging sapi di atas nasi dari Yonezawa, Prefektur Yamagata, yang terkenal akan kualitas daging sapinya. Berbagai kekayaan geografis kuliner tersebut dapat dinikmati tanpa harus beranjak menaiki kereta.

Kendati demikian, menikmati ekiben dengan cara klasik setidaknya sekali seumur hidup tetap memberikan pengalaman yang berbeda. Tidak ada yang lebih mencerminkan esensi Jepang selain menyantap sekotak bento stasiun sambil menatap pemandangan di balik jendela kereta yang melaju.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *