Kepulauan Rishiri dan Rebun

Lihat Ringkasan
Mari kita mulai dengan dua tempat di Hokkaido, yaitu pulau kembar Rishiri dan Rebun. Kedua wilayah daratan ini terletak di lepas ujung utara Hokkaido, jauh dari kawasan perkotaan Sapporo, kota pelabuhan Hakodate di selatan, ataupun resor ski Niseko. Singkatnya, Rishiri adalah pulau dengan gunungnya, sementara Rebun adalah pulau dengan bunga-bunga, tiupan angin, tebing curam, dan suasana ujung dunia yang sangat khas.
Secara keseluruhan, pasangan pulau ini menawarkan sisi Jepang yang benar-benar berbeda dari biasanya. Gunung Rishiri berdiri menjulang langsung dari Laut Jepang dengan daratan huni yang melingkar di sekelilingnya. Puncaknya mencapai ketinggian 1.721 meter, namun karena tidak ada hal lain di sekitarnya yang bersaing, gunung ini tampak jauh lebih besar dari angka tersebut. Para pendaki biasanya mencoba menaklukkan puncaknya, sementara pesepeda mengelilingi tepi pulaunya.
Sebaliknya, Pulau Rebun berbentuk panjang, sempit, dan memiliki keanekaragaman hayati yang unik. Menjadi bagian dari Taman Nasional Rishiri-Rebun-Sarobetsu, pulau ini terkenal dengan tanaman alpen yang mekar di musim panas, di mana beberapa di antaranya tidak ditemukan di tempat lain di dunia. Garis pantainya juga sangat memukau, mulai dari Observatorium Momoiwa hingga tanjung berangin Sukai dan Sukoton.
Jangan perlakukan Rishiri dan Rebun sebagai titik terisolasi di peta. Titik penghubung yang paling logis adalah Wakkanai, kota paling utara di Jepang. Dari sana, rute perjalanan melintasi bagian utara Hokkaido dapat dilanjutkan menuju Lahan Basah Sarobetsu, pemandian air panas Toyotomi Onsen, hingga bentang alam Desa Sarufutsu yang sunyi.
Musim dan sarana transportasi sangat menentukan perjalanan di wilayah paling utara ini. Musim panas adalah waktu terbaik untuk melihat flora alpen di Rebun, sedangkan awal musim gugur sangat ideal bagi yang menyukai pemandangan udara dingin dengan lanskap penuh warna di Rishiri. Sediakan waktu sekitar tiga hari khusus untuk Rishiri dan Rebun agar dapat menjelajahinya secara maksimal.
Asahikawa, Furano, dan Biei

Lihat Ringkasan
Jika Rishiri dan Rebun adalah sisi Hokkaido yang jarang dijamah, wilayah berikutnya justru adalah kebalikannya. Kebun lavender, ladang bunga matahari, dan kolam biru yang ikonik merupakan pemandangan yang sudah melekat di benak banyak orang tentang Hokkaido. Furano dan Biei adalah wujud kartu pos dari pusat pulau ini, yang dipenuhi perbukitan hijau, perkebunan bunga, serta jalanan lurus panjang dengan Pegunungan Tokachi di latar belakang.
Meskipun demikian, disarankan untuk menjadikan Asahikawa sebagai tempat menginap ketimbang tidur di dekat kawasan wisata bunga tersebut. Kota terbesar kedua di Hokkaido ini menawarkan transportasi yang lebih baik, pilihan kuliner yang beragam, dan ketersediaan hotel yang memadai. Di sekitar Stasiun Asahikawa, pengunjung dapat menemukan kawasan perbelanjaan Heiwa-dori, berbagai kedai ramen, hingga pabrik sake Takasago Shuzo.
Berbasis di Asahikawa membuat Furano dan Biei sangat mudah dijangkau sebagai destinasi pelesir harian, terutama jika Anda menggunakan mobil sewaan. Rute bunga Furano melewati Farm Tomita, Lavender East, Taman Hinode, serta desa kerajinan tangan Ningle Terrace. Sementara itu, Biei menawarkan taman bunga Shikisai-no-Oka, Kolam Biru Shirogane, serta pemandangan pertanian di Patchwork Road.
Dari segi kuliner, Asahikawa memiliki daya tarik tersendiri melalui ramen shoyu lokal yang memadukan kaldu ganda tulang babi dan makanan laut dengan lapisan minyak babi cair. Musim panas adalah waktu klasik untuk menikmati panorama ladang bunga, sementara musim dingin mengubah Furano menjadi kota resor ski dan Asahikawa menampilkan suasana kota bersalju dengan pinguin kebun binatangnya.
Hakodate dan Matsumae

Lihat Ringkasan
Dari seluruh prefektur yang dibahas dalam daftar ini, Hokkaido menjadi satu-satunya wilayah yang mendapatkan tiga jangkar perjalanan sekaligus. Wilayah ini mencakup Hakodate serta Kastil Matsumae yang masih belum banyak dikenal.
Hakodate terletak di Semenanjung Oshima, lengan selatan Hokkaido yang menjorok ke arah utara Honshu. Kota ini merupakan salah satu pelabuhan pertama yang dibuka untuk perdagangan internasional setelah masa isolasi Jepang berakhir. Atraksi utamanya meliputi pemandangan malam dari Gunung Hakodate, benteng berbentuk bintang Goryokaku, pasar pagi, Gudang Bata Merah Kanemori, lereng bersejarah Motomachi, serta kawasan pemandian air panas Yunokawa Onsen.
Di sisi lain, Matsumae melengkapi kunjungan ini dengan nuansa sejarah bagian selatan Hokkaido. Terletak di sebelah barat Tanjung Shirakami, Matsumae dulunya merupakan batas paling utara kekuasaan Keshogunan Tokugawa. Kastil Matsumae adalah satu-satunya kastil bergaya Jepang yang pernah dibangun di Hokkaido, dikelilingi oleh ribuan pohon ceri yang menciptakan pemandangan musim semi yang memukau.
Pilihan terbaik adalah menginap di Hakodate, menikmati kotanya, lalu melakukan perjalanan sehari ke Matsumae. Jalur Kereta Cepat Hokkaido Shinkansen juga menghubungkan Hakodate dengan Aomori dan kota puri Hirosaki, menjadikannya penghubung yang sempurna antara Hokkaido dan wilayah Tohoku.
Kota Aomori dan Sekitarnya

See Summary
Perjalanan berlanjut ke bagian utara wilayah Tohoku. Untuk Prefektur Aomori, ibu kota prefektur ini dipilih sebagai jangkar perjalanan. Terletak di teluk di antara dua semenanjung, Kota Aomori menawarkan berbagai aktivitas menarik serta kemudahan akses berkat kereta peluru yang berhenti di Stasiun Shin-Aomori.
Di dalam kota, pengunjung dapat mengunjungi Situs Sannai-Maruyama, salah satu situs arkeologi Zaman Jomon paling penting di Jepang. Rekonstruksi rumah lubang dan struktur bertiang besar memberikan gambaran nyata tentang kehidupan di Jepang sebelum era pertanian padi dan samurai. Pengalaman ini dapat disempurnakan dengan mengunjungi Museum Seni Aomori yang berada di dekatnya.
Daya tarik utama Kota Aomori terletak pada wilayah sekitarnya. Saat musim semi tiba, pengunjung dapat pergi ke Taman Kastil Hirosaki untuk menikmati mekarnya bunga ceri. Pada musim gugur, arahkan perjalanan menuju Pegunungan Hakkoda untuk menaiki kereta gantung, berendam di Sukayu Onsen, dan melanjutkan perjalanan ke Ngarai Oirase serta Danau Towada.
Aomori cocok dikunjungi sepanjang tahun dengan pesonanya masing-masing. Musim semi menghadirkan bunga ceri di Hirosaki, musim panas dimeriahkan oleh Festival Nebuta, musim gugur menyuguhkan keindahan alam Hakkoda dan Oirase, sementara musim dingin menawarkan lanskap bersalju dan hidangan laut yang lezat.
Akita Utara

Lihat Ringkasan
Wilayah paling memikat di Prefektur Akita terletak di bagian utaranya. Daerah pegunungan yang kasar ini merupakan tempat asal para pemburu Matagi serta ras anjing Akita Inu, dan masih jarang dikunjungi oleh wisatawan massal.
Secara administratif, Akita Utara mencakup empat wilayah munisipalitas: Odate, Kosaka, Kami-Koani, dan Kita-Akita. Odate berfungsi sebagai pusat perkotaan utama yang menawarkan berbagai atraksi terkait anjing Akita, kerajinan magewappa, serta kuliner khas seperti kiritampo dan ayam Hinai-dori. Festival Odate Shinmeisha yang diadakan setiap tanggal 10 dan 11 September juga menjadi daya tarik budaya yang layak disaksikan.
Benang merah budaya lainnya di kawasan ini adalah tradisi Matagi, para pemburu tradisional yang kehidupannya menyatu dengan alam pegunungan di sekitar Gunung Moriyoshi. Di kawasan Ani, wisatawan dapat mengenal budaya Matagi melalui penginapan lokal, kegiatan mencari hasil hutan, hingga pengalaman memasak tradisional.
Keindahan alam menjadi pilar penting lainnya di wilayah ini. Gunung Moriyoshi menawarkan jalur pendakian dan pemandangan musim gugur, serta fenomena “monster salju” atau pohon bersalju tebal saat musim dingin tiba. Perjalanan ke wilayah ini biasanya dimulai dengan mendarat di Bandara Odate-Noshiro dan menyewa mobil, mengingat transportasi umum yang cukup terbatas.
Semenanjung Oga

Lihat Ringkasan
[[MEDIA_0]]
Semenanjung Oga di Prefektur Akita menawarkan pengalaman budaya yang unik melalui tradisi Namahage, sosok menyerupai sesosok iblis yang mendatangi rumah-rumah warga pada malam Tahun Baru untuk memperingatkan anak-anak agar berkelakuan baik. Pengunjung dapat mempelajari sejarah tradisi ini di Museum Namahage Oga.
Selain tradisi tersebut, kawasan semenanjung ini juga dikelilingi oleh garis pantai berbatu yang dramatis seperti Pantai Nyudozaki dan tebing vertikal Cape Oga. Pemandian air panas di daerah ini melengkapi kunjungan setelah seharian mengeksplorasi keindahan alam pesisir Laut Jepang.








