Kecintaan masyarakat Jepang terhadap cokelat tidak kalah besar jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Produk olahan manis ini sangat mudah ditemukan dan dikonsumsi oleh berbagai kalangan, baik di rumah, saat bepergian, maupun di restoran. Kendati demikian, perjalanan cokelat di Jepang tergolong unik karena perkembangannya yang sangat pesat dalam waktu singkat, serta variasi rasa yang luar biasa banyak.
Bagaimana Cokelat Bermula?
Sejarah cokelat berakar dari peradaban kuno di Amerika Selatan, di mana biji kakao diolah menjadi minuman hangat bernama “chocolatl” yang berarti cairan hangat. Penjelajah Hernando Cortez kemudian membawa temuan tersebut ke Spanyol setelah berinteraksi dengan bangsa Aztek, lalu mencampurnya dengan gula serta berbagai rempah. Batangan cokelat padat pertama kali dijual di Inggris pada tahun 1847, disusul oleh penemuan cokelat susu di Swedia sekitar tiga dekade kemudian.

Sejak saat itu, cokelat mendunia dan dikenal sebagai kudapan yang memikat. Meski demikian, perjalanannya hingga bisa masuk ke Jepang membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
“Give Me Chocolate!” – Sambutan di Jepang
Jepang sempat bersentuhan dengan cokelat sebelum era isolasi negara tersebut berakhir. Salah satu dari sedikit pihak asing yang diizinkan masuk adalah para pedagang Belanda, yang terkadang membawa minuman cokelat yang kala itu tengah digemari oleh kalangan elit Eropa. Batangan cokelat padat pertama yang dijual secara komersial di Jepang diperkenalkan pada era Meiji dengan penulisan kanji 貯古齢糖, yang secara harfiah bermakna “menyimpan”, “tua”, “usia”, dan “gula”.

Konsumsi cokelat di tengah masyarakat secara luas baru benar-benar dimulai pada masa pendudukan, ketika tentara Amerika Serikat sering membagikan permen kepada anak-anak Jepang. Situasi ini membuat salah satu frasa bahasa Inggris yang paling cepat dikuasai oleh anak-anak setempat saat itu adalah “Give me chocolate!”

Produksi massal cokelat di Jepang baru berkembang pesat setelah masa pendudukan berakhir. Dibandingkan dengan wilayah Amerika atau Eropa, usia industri cokelat di Jepang jauh lebih muda, namun pencapaiannya dalam kurun waktu singkat tersebut sangat mengesankan.
Keunikan Cokelat Jepang
Ada karakteristik tersendiri yang membuat cokelat buatan Jepang terasa istimewa. Mulai dari kemasannya yang rapi dalam potongan kecil siap santap, sentuhan rasa hazelnut pada cokelat susu, hingga teksturnya yang terasa lebih lembut dan mudah meleleh di mulut.
Daya tarik utama dari industri cokelat Jepang terletak pada variasi rasanya yang sangat beragam. Meskipun beberapa jenis produk secara teknis tidak memenuhi kriteria cokelat murni karena tidak mengandung kakao, masyarakat tetap menerimanya sebagai bagian dari keluarga besar cokelat dengan pilihan yang memukau.

Strategi pemasaran yang sering dijumpai di Jepang adalah perilisan produk edisi terbatas berdasarkan wilayah. Contoh paling menonjol adalah Kit Kat, yang telah menghadirkan lebih dari 200 varian rasa unik. Mulai dari wasabi, kue tart stroberi, kecap asin, hingga ubi jalar manis yang menjadi salah satu favorit banyak orang terutama pada musim gugur di gerai-gerai stasiun kereta.

Produk cokelat musiman lainnya yang sangat dinantikan adalah Meltykiss yang biasanya hadir saat musim dingin. Cokelat ini menawarkan tekstur kaya dan lembut menyerupai isian truffle, dengan pilihan rasa seperti teh hijau, stroberi, dan teh susu.
Deretan camilan populer lain yang tak kalah menggugah selera meliputi bola-bola cokelat, Koala no march, hingga Pocky yang sudah mendunia.
Lima Jenama Utama
Pasar makanan ringan di Jepang didominasi oleh lima jenama besar, yaitu Lotte, Meiji, Morinaga, Ezaki Glico, dan Fujiya. Masing-masing produsen menawarkan ciri khas serta varian cokelat lezat yang menjadi andalan di pasaran, mirip seperti jenama raksasa cokelat di dunia barat.
Cokelat dan Hari Valentine
Di Jepang, perayaan Hari Valentine telah bergeser menjadi momen bagi-bagi cokelat. Pada awal kepopulerannya, hari tersebut identik dengan tradisi perempuan menyatakan cinta kepada laki-laki pujaan mereka melalui pemberian cokelat. Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi ini meluas sehingga cokelat dibagikan kepada siapa saja.
Sebagai bentuk etos sosial agar tidak ada rekan yang terlewat, para perempuan kerap membawa kantong besar berisi cokelat untuk dibagikan kepada teman dekat yang dikenal sebagai tomo-choko, maupun kepada kolega atau kenalan sebagai bentuk kewajiban sosial yang disebut giri-choko.

Selain produk komersial, membuat sendiri kue tart, biskuit, atau dekorasi cokelat buatan tangan sangat populer dan dihargai tinggi. Bagi pihak yang menerima cokelat pada Hari Valentine, terdapat tradisi balasan sebulan kemudian pada tanggal 14 Maret yang dikenal sebagai White Day.
Kreativitas Tanpa Batas
Masyarakat Jepang kerap memanfaatkan berbagai media sebagai kanibalisme seni, termasuk dalam pengolahan cokelat:
Terdapat produk cokelat unik yang sengaja dibentuk menyerupai makanan asin seperti sushi, takoyaki, hingga natto kedelai fermentasi beraroma khas untuk menjahili kerabat.
Kreativitas juga dituangkan dalam bentuk gawai seperti replika iPhone dari cokelat.
Bahkan, berbagai panduan memasak menunjukkan cara praktis membuat kue cokelat menggunakan penanak nasi elektrik dengan jenama cokelat lokal yang populer untuk kebutuhan panggang-memanggang.
Belum Cukup dengan Cokelat?
Bagi para pencinta cokelat yang ingin terus merasakan atmosfer manis ini, terdapat berbagai karya seni termasuk lagu bertema cokelat yang dapat menemani aktivitas sehari-hari.
Bitter Chocolate oleh SCANDAL
Hubungan Jepang dengan cokelat membuktikan bahwa negara ini memiliki antusiasme yang sangat tinggi terhadap kudapan manis tersebut. Kendati tingkat konsumsi per kapitanya masih berada di bawah negara-negara Eropa atau Amerika Serikat, dinamika dan inovasi yang dihadirkan menunjukkan perkembangan yang sangat pesat.
Sebagai penutup, tersedia pula unduhan latar belakang layar bertema cokelat merah muda bagi para penggemar setia.









