Dalam artikel sebelumnya, topik tentang bagaimana pengalaman merayakan Tahun Baru di Jepang telah dibahas, dan hal tersebut mengarah pada perayaan-perayaan khusus lainnya di Jepang, seperti ulang tahun, Natal, Valentine, serta White Day. Setiap momen ternyata memiliki keunikan tersendiri. Kali ini, fokus pembahasannya adalah bagaimana para pasangan di Jepang merayakan ulang tahun.
Tradisi Ulang Tahun di Jepang

Perayaan ulang tahun di Jepang tidak semeriah di negara-negara Barat. Faktanya, kebiasaan merayakan ulang tahun secara pribadi baru mulai populer di Jepang sekitar tahun 1950. Sebelumnya, masyarakat Jepang merayakan bertambahnya usia secara kolektif pada hari Tahun Baru, karena di masa lalu usia semua orang dianggap bertambah serentak pada hari tersebut, bukan berdasarkan tanggal kelahiran masing-masing. Sejak pengaruh budaya Barat masuk, kebiasaan merayakan hari lahir yang sebenarnya mulai diadopsi.
Di Jepang, pesta ulang tahun biasanya hanya diselenggarakan ketika seseorang masih anak-anak, itu pun dengan peran orang tua yang sangat besar dalam persiapannya. Kue tart adalah hal yang wajib ada, lengkap dengan tradisi menyanyikan lagu “Happy Birthday” dalam ruangan yang gelap dan meniup lilin dengan jumlah yang sesuai dengan usia. Praktik ini mirip dengan budaya di Barat.
Namun, bagi orang dewasa, jarang sekali ada yang merencanakan pesta untuk diri mereka sendiri atau bertanya langsung kepada teman untuk datang ke pesta ulang tahunnya. Biasanya, perbincangan dimulai dari teman-teman yang berinisiatif, misalnya dengan mengatakan bahwa hari ulang tahun seseorang sudah dekat dan mengajak yang lain untuk merayakannya bersama. Orang yang berulang tahun memang bisa memberikan masukan mengenai tempat atau kegiatan yang diinginkan, tetapi urusan pengorganisasian, undangan, dan pembayaran biasanya diurus oleh orang lain. Kuliner memegang peranan penting dalam budaya Jepang, sehingga ditraktir makan di restoran pada hari ulang tahun adalah hal yang lumrah. Banyak restoran bahkan sudah terbiasa menyediakan kue dan lilin untuk acara seperti ini.
Di sisi lain, ada juga orang yang tidak suka menjadi pusat perhatian, sehingga mereka tidak pernah merencanakan perayaan untuk diri mereka sendiri.
Ulang Tahun untuk Pasangan (Wanita)

Meskipun ada pesta bersama teman, perayaan kejutan biasanya dilakukan beberapa hari sebelum atau sesudah hari H, karena pasangan kekasih umumnya memilih menghabiskan hari ulang tahun tersebut untuk berkencan secara khusus. Bahkan para siswa SMA yang memiliki pacar pun biasanya akan pergi berkencan saat ulang tahun mereka.
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Ozmall pada Juni 2011 terhadap 800 wanita berusia 20 hingga 29 tahun, sekitar 56% responden ingin menghabiskan hari ulang tahun mereka hanya berdua dengan pacar atau suami. Terkait hadiah, sebanyak 27% menginginkan aksesori, 20% ingin makan di restoran, 17% hanya ingin menghabiskan waktu bersama pasangan, 9% ingin berlibur di dalam negeri, 7% ingin ke luar negeri, 6% berharap dilamar, 5% menginginkan barang bermerek seperti tas atau dompet, 2% ingin jam tangan, dan sisanya memilih hal lain.
Banyak dari peserta survei menyatakan bahwa alasan di balik keinginan mendapatkan aksesori adalah agar mereka dapat merasa seolah-olah sang kekasih selalu menemani ke mana pun mereka pergi.
Ulang Tahun untuk Pasangan (Pria)

Survei serupa yang melibatkan 200 pria beristri atau yang memiliki kekasih menunjukkan bahwa sekitar 70% dari mereka memilih untuk pergi berkencan pada hari ulang tahunnya.
Mengenai hadiah, sebagian besar pria mengaku akan senang menerima apa pun dari kekasih mereka. Kendati demikian, mereka memiliki preferensi tersendiri untuk kegiatan yang ingin dilakukan. Sebanyak 28% ingin menikmati makan malam di restoran mewah, 16% ingin menginap di hotel, 15% ingin berkencan ke onsen, 13% ingin bersantai di rumah pada malam hari, 6% ingin pergi ke taman hiburan seperti Disneyland, 4% ingin menonton pertandingan olahraga, 4% ingin makan di restoran biasa, 3% ingin menikmati kencan di spa, 1% ingin ke pantai, dan 10% memilih aktivitas lainnya.
Ulang Tahun yang Romantis

Bagi pasangan di Jepang, ulang tahun merupakan momen yang penting, sama seperti di negara-negara lain. Sebagian besar pasangan menjalani perayaan yang wajar dan sesuai kebiasaan, tetapi ada pula yang mencoba tampil sangat unik demi menunjukkan bahwa pasangan mereka sangat istimewa. Sebagai contoh, ada seseorang yang memberikan foto dirinya berukuran besar yang dibaliknya dituliskan sebuah puisi kepada pacarnya di sebuah restoran steak daging Kobe. Sang wanita kabarnya merasa sangat terkesan dengan usaha di balik pemberian hadiah tersebut.
Upaya membuat hari ulang tahun pasangan menjadi sangat romantis juga dijumpai di berbagai budaya lain. Seorang wanita berusia 35 tahun berbagi cerita mengenai pengalamannya saat berkencan dengan seorang pria asal Jerman yang sangat romantis:
“Pada hari ulang tahun saya, dia memberi saya sebuah bingkai foto yang berisi tiga foto beserta pesan di bawah masing-masing foto. Foto di sebelah kiri adalah foto dirinya saat bayi dengan tulisan ‘Aku lahir ke dunia, dan…’, foto di tengah adalah foto kami berdua dengan tulisan ‘seorang malaikat…’, dan foto di sebelah kanan memperlihatkan kami sedang berpelukan dengan tulisan ‘menangkapku’. Itu adalah hadiah yang sangat luar biasa dan membuat saya merasa sangat bahagia.”
Garis tipis antara sikap yang manis dan sikap yang berlebihan terkadang sulit dibedakan, karena apa yang dianggap berlebihan bagi seseorang bisa jadi terasa sangat romantis bagi orang lain.
Perayaan Ulang Tahun yang Justru Memuat Kekecewaan

Tidak semua rencana kejutan berbuah manis. Ada kalanya niat merayakan justru berujung pada kekecewaan yang membuat wanita merasa enggan. Berdasarkan survei yang diadakan oleh my-navi-woman pada bulan Juni 2013 terhadap lebih dari 389 responden wanita, terungkap beberapa jenis rencana ulang tahun pria yang justru tidak disukai:
- Diminta mengosongkan jadwal seharian penuh dengan janji akan ada kejutan, namun ternyata pria tersebut sama sekali tidak memiliki rencana apa pun (Wanita, 32 tahun).
- Seluruh pelayan di restoran menyanyikan lagu “Happy Birthday” secara serentak, membuat sang wanita merasa tidak nyaman dan kesulitan harus berpura-pura senang (Wanita, 29 tahun).
- Saat berkunjung ke Disneyland, sang pacar memberi tahu setiap staf yang ditemui bahwa kekasihnya sedang berulang tahun, sehingga ia terus-menerus dinyanyikan lagu selamat ulang tahun di berbagai tempat (Wanita, 28 tahun).
- Dinyanyikan sebuah lagu ciptaan sendiri oleh sang pacar (Wanita, 35 tahun).
- Rencana kejutan yang gagal karena pria tersebut secara tidak sengaja membocorkannya sendiri sebelum hari H (Wanita, 34 tahun).
- Konsep perburuan harta karun (treasure hunt) untuk mencari hadiah di tengah cuaca musim panas yang terik hingga berujung kelelahan dan gigitan nyamuk (Wanita, 30 tahun).
- Diajak ke rumah pacar dengan dalih merayakan ulang tahun, namun ternyata seluruh anggota keluarga dan kerabat sang pria sudah berkumpul di sana (Wanita, 28 tahun).
- Sang pacar datang dengan mengenakan kostum karakter anime favorit, yang dianggap tidak sesuai dan terasa canggung di dunia nyata (Wanita, 25 tahun).
- Diajak berkunjung ke Takasaki-byakue-daikannon, sebuah tempat wisata religi berupa patung raksasa, yang dinilai kurang tepat untuk merayakan hari ulang tahun (Wanita, 29 tahun).
- Alih-alih merayakan ulang tahun pasangannya, sang pria justru mampir dan ikut bergabung dalam pesta ulang tahun kenalannya selepas pulang kerja (Wanita, 23 tahun).
Kisah-kisah tersebut menunjukkan bahwa pemahaman yang baik tentang apa yang disukai oleh pasangan sangat menentukan keberhasilan sebuah perayaan ulang tahun.







