Home / Travel / Cara Membuat Film Samurai di Toei Uzumasa Eigamura

Cara Membuat Film Samurai di Toei Uzumasa Eigamura

header 640x 15

Sebuah Kota Kecil dari Era Edo… Atau Era Showa… Atau Masa Kini…

japanese street historic edo era

Periode waktu yang paling sering digunakan pada area perkotaan utama adalah zaman Edo. Set jalanan era Edo ini dipakai untuk berbagai macam film karena latar waktunya yang mudah diubah-ubah. Belakangan ini, sebuah film televisi berjudul Musashi Miyamoto 宮本武蔵(みやもとむさし) yang dibintangi oleh Takuya Kimura dari SMAP, melakukan syuting di sini. Menariknya, latar cerita tersebut sebenarnya sedikit lebih awal dari zaman Edo, di mana genteng rumah belum ditemukan. Oleh karena itu, kru film menutupi bagian atasnya dengan tikar anyaman dan kayu.

japanese building with hay cart outside

Terkadang, mereka juga harus mengambil adegan dari era yang lebih modern daripada zaman Edo. Salah satu contohnya adalah adegan dari serial drama pagi NHK berjudul “Carnation” yang berlatar belakang zaman Showa. Untuk kebutuhan ini, mereka tidak perlu mengganti genteng, melainkan harus mengubah pintu geser kertas (shoji) menjadi pintu kaca. Beberapa papan nama yang ditulis secara vertikal juga diubah menjadi horizontal. Set ini bahkan dilengkapi fasilitas untuk mendirikan tiang listrik, sehingga begitu kabel-kabel dipasang, suasananya langsung berubah menjadi lebih modern.

Karena fleksibilitas waktu dari set ini, film bergenre modern pun bisa digarap di sini. Saya sempat mendengar bahwa Kamen Rider dan drama samurai “Abarenbō Shōgun” pernah melakukan syuting di jalanan ini secara bersamaan di bagian jalan yang berbeda. Di satu sisi tampak Kamen Rider dengan sepeda motornya, sementara di sisi lain ada seorang samurai yang menunggangi kuda dengan gagahnya.

Intinya, set ini sangat serbaguna. Hal ini mungkin sejalan dengan kultur masyarakat Jepang modern yang masih mempertahankan banyak tradisi lama. Ingin mengambil latar masa kini atau era sebelum zaman Edo, semuanya hanya membutuhkan beberapa penyesuaian kecil untuk menciptakan kesan lintas masa berabad-abad. Jika Anda berkunjung ke wilayah pedesaan Jepang, Anda akan langsung memahami maksud saya.

Berbagai Trik dan Modifikasi Cerdik

japanese shed edo era town

Demi memaksimalkan fungsi set film ini, terdapat berbagai modifikasi cerdik pada setiap bangunan dan fasilitas jalanan. Apakah Anda melihat kejanggalan pada gambar di atas? Posisinya sedikit terangkat dari tanah. Agar lebih mudah diubah, beberapa bangunan memang sengaja dipasangi roda, termasuk bangunan ini yang hanya membutuhkan lima atau enam orang dewasa untuk memindahkannya.

looking in a doorway historic japan woman's face

Contoh lainnya adalah penambahan dinding bagian depan baru pada sebuah bangunan untuk mengubah wujudnya menjadi bangunan yang sepenuhnya berbeda. Jika diperhatikan secara seksama, Anda akan menemukan beberapa gedung yang memiliki dinding ganda di bagian depannya. Gambar wajah wanita di dinding dalam (yang disebut otafuku) juga dapat diganti sewaktu-waktu jika diperlukan.

japanese wooden working studio yard edo era

Bagian ini merupakan bagian dari set Nagaya, yaitu rumah susun petak dari zaman Edo yang saat ini mungkin bisa disetarakan dengan “apartemen”. Karena dinding pembatas antarhunian sangat tipis, pertengkaran antarpasangan di sebelah rumah bisa terdengar dengan jelas. Seperti yang sudah bisa ditebak, sumur yang berada di depan nagaya tersebut ternyata kosong, sehingga para aktor atau aktris harus mengandalkan kemampuan akting mereka agar adegan mengambil air terlihat meyakinkan. Sumur ini juga bersifat portabel sehingga area tempat mencuci dapat diperluas menyesuaikan kebutuhan film.

Dahulu, para penghuni nagaya biasanya menggunakan satu sumur secara bersama-sama. Para ibu rumah tangga sering berkumpul di dekat sumur karena berbagai pekerjaan seperti memasak, mencuci pakaian, dan membersihkan piring memerlukan air. Meskipun terkesan klise, mereka rupanya gemar bertukar cerita dan bergosip di dekat sumur. Dari sinilah lahir istilah “Ido bata kaigi 井戸端会議(いどばたかいぎ)“, yang secara harfiah berarti “rapat di tepi sumur” dan secara figuratif bermakna “gosip ibu-ibu rumah tangga” atau “obrolan santai”.

edo era fish market grocery store movie set

Banyak bangunan yang hanya dibangun fasad depannya saja untuk keperluan luar ruangan tanpa memiliki interior. Namun, bangunan yang satu ini memiliki bagian dalam yang tertata rapi, lengkap dengan sajian ikan dan sayuran segar (dari plastik). Terlihat begitu menggugah selera!

Jembatan Unik yang Hanya Setengah

looking over a japanese bridge edo era period

Jembatan ini dinamakan Nihon-bashi (Jembatan Jepang), tetapi namanya bisa diubah menjadi jembatan lain hanya dengan mengganti papan namanya di bagian depan.

Foto saya mungkin tidak memperlihatkan secara jelas, tetapi jembatan ini sebenarnya sangat pendek dengan kemiringan yang cukup curam (sekitar lebih dari 10 derajat). Ini adalah trik lama dari era sebelum teknologi CGI, di mana pengambilan gambar dari sudut rendah akan membuat jembatan tampak sangat besar dan panjang di layar kaca. Sisi seberang jembatan ini sebenarnya bukanlah sebuah jembatan sungguhan, melainkan hanya berupa tangga tempat para aktor dan aktris menunggu giliran mereka. Oleh karena itu, ada aturan mutlak bahwa pengambilan gambar hanya boleh dilakukan dari satu sisi ini saja, dan para pemain wajib datang dari arah sebaliknya.

Oh ya, tidak ada aliran air di bawah jembatan tersebut. Jika adegan mengharuskan seseorang melompat dari jembatan, adegan tercebur ke sungai akan diambil di lokasi yang berbeda. Terkadang, mereka harus melakukan perjalanan singkat ke Prefektur Saga demi mengambil adegan tersebut. Saya juga pernah mendengar cerita ketika mereka menggunakan kolam di taman ini dan memadukannya dengan adegan parit kastil yang direkam di tempat lain.

Sebuah Kolam yang Dihuni Dinosaurus

alt tag
japan manmade pond with dragon lizard edo era

Kolam yang saya sebutkan tadi ternyata di bagian tengahnya dihuni oleh seekor patung dinosaurus. Dinosaurus tersebut telah berada di sana sejak taman hiburan ini pertama kali dibuka, meskipun saat ini patung tersebut merupakan generasi yang ketiga. Awalnya ada dua dinosaurus yang diletakkan di sana, yaitu induk dan anaknya. Karena termakan cuaca, keduanya kemudian digantikan oleh sosok yang sekarang. Saya sempat menanyakan nama dinosaurus itu kepada para petugas, namun sayangnya tidak ada yang tahu.

Terlepas dari keberadaan dinosaurus yang tampak tidak biasa itu, kolam ini ternyata sering dimanfaatkan untuk berbagai adegan. Kedalaman air di sisi kiri dan kanan dibuat berbeda guna memperkaya variasi adegan. Adegan mayat mengapung biasanya diambil di sisi yang lebih dangkal, sementara adegan seseorang yang tewas di tangan samurai lalu jatuh ke air dilakukan di bagian yang lebih dalam. Biasanya hanya ada satu set pakaian dan wig khusus untuk aktor atau aktris samurai (terutama bagi mereka yang karakternya harus mati atau tenggelam), sehingga hanya pemain yang paling berpengalaman dan andal dalam adegan jatuh ke air saja yang dipercaya melakoninya.

Untuk para bintang besar, air di kolam tersebut akan dibersihkan dan dihangatkan secara total. Tentu saja, sang dinosaurus terpaksa harus disingkirkan sementara waktu ketika proses syuting berlangsung.

Kawasan Lampu Merah Yoshiwara

yoshiwara entrance to brothel japanese red light district

Yoshiwara merupakan distrik rumah bordil berlisensi yang sangat terkenal pada zaman Edo. Terdapat dua gerbang utama yang memberikan akses masuk ke jalan ini: gerbang depan yang disebut “Oomon” dan gerbang belakang yang dinamakan “Uramon”.

japanese street red houses red light district

Jika Anda memasukinya, Anda akan mendapati area jalanan yang sebenarnya sangat pendek. Kendati demikian, saat proses syuting berlangsung, para kru akan mengganti papan nama serta tirai di setiap bangunan lalu menggabungkannya saat proses penyuntingan, sehingga jalanan tersebut tampak begitu panjang di dalam film.

outside of japanese street building red light district

Dimensi pada beberapa pintu masuk bangunan juga dapat dimodifikasi untuk memberikan variasi visual pada rumah-rumah tersebut.

a sign in japanese wooden sign edo period

Bagian lantai atas dari bangunan-bangunan ini hanya difungsikan untuk keperluan pengambilan gambar, tetapi pengunjung diperbolehkan masuk ke lantai dasar di beberapa titik tertentu. Namun, pastikan untuk selalu melepas alas kaki jika Anda menjumpai papan tanda bertuliskan dosoku-genkin 土足厳禁(どそくげんきん).

Arsitektur Bergaya Modern

bunka kan cultural center japanese movie set

Sebagai catatan tambahan, lokasi ini tidak hanya memproduksi film-film bertema tradisional saja, melainkan juga film-film kontemporer. Oleh karena itu, Anda juga akan menemukan sejumlah bangunan modern yang siap difungsikan sebagai set syuting.

set of stairs not straight japanese movie set

Tangga besar yang terletak di dalam gedung modern pada gambar di atas sering kali dipakai untuk adegan-adegan penting, seperti politikus papan atas yang memegang informasi rahasia dikerumuni oleh awak media. Anda mungkin akan mengenali tangga ini ketika menyaksikan drama atau film Jepang.

man holding a fan that says quiet please in japanese

Peluang Anda untuk menyaksikan proses syuting secara langsung tergolong cukup besar saat berkunjung ke sini. Ketika saya berkunjung, mereka sedang merekam adegan untuk serial Ōoka Echizen 大岡越前(おおかえちぜん), meskipun pengambilan foto tidak diizinkan. Selama proses pengambilan gambar berlangsung, tampak banyak staf berdiri sambil membawa kipas bertuliskan Oshizukani おしずかに() yang berarti “Mohon tenang.” Kendati demikian, jalur kereta JR beroperasi tidak jauh dari studio, dan para masinis tentu tidak bisa membaca tulisan di kipas tersebut. Akibatnya, asisten sutradara selalu memegang jadwal kereta di tangannya dan bertugas meneriakkan instruksi, “Hei, kereta berikutnya datang dalam 5 menit lagi! Cepat selesaikan!”

japan samurai movie studio set

Seperti yang telah saya singgung sebelumnya, area luar ruangan di taman hiburan inilah yang paling sering dimanfaatkan untuk syuting. Sebaliknya, adegan dalam ruangan dikerjakan di dalam studio sungguhan yang letaknya berdampingan langsung dengan taman studio ini. Sayangnya, area tersebut tertutup untuk umum.

Melalui artikel ini, Anda tentu bisa melihat betapa saya sangat terpesona dengan set perfilman ini. Semoga tulisan ini dapat dinikmati dan memotivasi Anda untuk berkunjung langsung ke sana. Ada banyak hal menarik selain pembuatan film yang ditawarkan di taman ini, termasuk para aktor dan aktris TOEI yang mengenakan kostum bersejarah, serta berbagai sentuhan detail yang memperkuat atmosfer kota masa lampau. Bahkan, saya sempat berkesempatan mewawancarai salah seorang pemeran samurai, dan hasil wawancara tersebut akan diterbitkan besok! Sekarang setelah Anda mengetahui gambaran tentang set dan taman hiburan ini, saya berharap Anda menantikan cerita lanjutan dari sudut pandang seseorang yang sering berada di balik layar. Setidaknya, Anda bisa mencari tahu sudah berapa banyak orang yang telah ia “habisi”.

Sampai jumpa besok!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *