Home / Travel / Ashigaru: Prajurit Jepang yang Sering Dilupakan, Kerja Keras tapi Samurai yang Dapat Nama

Ashigaru: Prajurit Jepang yang Sering Dilupakan, Kerja Keras tapi Samurai yang Dapat Nama

header 640x 4

Kelas ksatria samurai sering kali mendominasi narasi sejarah Jepang, sementara peran pasukan infanteri biasa atau ashigaru kerap terabaikan. Padahal, para prajurit jalanan ini memegang peran krusial dalam evolusi kemiliteran Jepang, meskipun pada mulanya mereka hanyalah para petani yang dipaksa meninggalkan ladang demi memperkuat pasukan daimyo.

Asal-Usul Ashigaru

A drawing of a Japanese peasant farmer

Pada masa-masa awal peperangan di Jepang, samurai bukanlah pendekar pedang seperti yang dikenal dalam budaya pop modern, melainkan pemanah berkuda yang elit. Sementara itu, pertempuran di darat dikerjakan oleh para petani wajib militer tanpa pelatihan khusus. Mereka dipersenjatai dengan peralatan tani seadanya atau senjata rampasan perang. Sebagai imbalan, mereka mengandalkan jarahan perang, yang sering kali jauh lebih menguntungkan daripada menjadi petani miskin. Hal ini menarik minat banyak gelandangan dan orang buangan untuk ikut bergabung dalam barisan tentara.

Masa-Masa Kelam dan Pengaruh Senjata

A scroll painting of the Onin war

Seiring berjalannya waktu, banyak petani memilih meninggalkan tanah garapan mereka untuk menjadi tentara bayaran penuh waktu. Mereka kerap berpindah pihak demi faksi yang menawarkan keuntungan lebih besar. Reputasi mereka sempat tercoreng akibat tindakan merusak, seperti insiden pembakaran wilayah yang kini menjadi Kyoto selama Perang Onin. Meskipun demikian, para daimyo tetap membutuhkan tenaga mereka seiring dengan meningkatnya skala konflik.

Kehadiran para tentara bayaran ini mengubah dinamika perang. Mereka mempopulerkan penggunaan senjata seperti uchigatana—pendahulu katana yang dirancang agar lebih praktis dan cepat untuk dicabut serta digunakan dalam satu gerakan cepat. Desain praktis ini kemudian diadopsi oleh para samurai.

Mobilitas Sosial dan Penggunaan Senjata Api

A scroll painting of the Battle of Nagashino

Ketika para daimyo mulai merekrut prajurit tetap alih-alih pasukan musiman, status ashigaru berangsur-angsur meningkat. Mereka dipersenjatai dengan busur panah dan tombak yari, bertempur berdampingan dengan samurai, bahkan beberapa di antaranya berhasil meraih promosi menjadi samurai berkat prestasi di medan perang.

A Japanese matchlock gun

Perubahan besar terjadi ketika senjata api diperkenalkan ke Jepang. Meskipun kalangan samurai memandang rendah senjata api karena dianggap tidak terhormat dan terlalu mudah digunakan oleh orang awam, para daimyo justru melihat potensi besar taktisnya. Senjata api ini sebagian besar dipercayakan kepada unit ashigaru. Salah satu contoh paling ikonik adalah pertempuran di bawah kepemimpinan Oda Nobunaga melawan pasukan kavaleri Takeda Shingen, di mana formasi tembakan senapan dari barisan ashigaru sukses memecah belah pasukan musuh.

Ashigaru yang Menjadi Penguasa Jepang

A statue of Toyotomi Hideyoshi in Osaka Castle

Kisah paling fenomenal dari kalangan ini adalah Toyotomi Hideyoshi. Berawal dari latar belakang keluarga petani dan pernah menjabat sebagai pembawa sandal, ia berhasil meniti karier militer hingga menjadi salah satu jenderal tepercaya Oda Nobunaga dan akhirnya keluar sebagai pemersatu Jepang.

Kendati demikian, setelah berkuasa, Hideyoshi membekukan sistem kasta untuk mencegah orang lain mengalami mobilitas sosial serupa. Ia menetapkan seluruh golongan petarung ke dalam kelas samurai. Batas pembeda antara ashigaru dan samurai tingkat atas pun perlahan-lahan memudar seiring berjalannya sejarah.

Warisan Ashigaru

A scroll painting of the Battle of Sekigahara

Pada akhirnya, meskipun kaum samurai mendominasi catatan sejarah dan kebudayaan, para ashigaru telah berjuang bersama mereka sejak awal pembentukan pasukan feodal. Transformasi selama ratusan tahun meleburkan identitas mereka, sehingga ketika sejarah mengenang para samurai, di dalamnya juga tersimpan kisah perjuangan para prajurit lapangan yang dulunya berasal dari rakyat jelata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *