Home / Study / Arti “Kedō”: Mengapa Orang Jepang Sering Mengakhiri Kalimat dengan “Tapi”? Terkadang Terdengar Lebih Sopan, Tapi… Bukan Itu Saja

Arti “Kedō”: Mengapa Orang Jepang Sering Mengakhiri Kalimat dengan “Tapi”? Terkadang Terdengar Lebih Sopan, Tapi… Bukan Itu Saja

header 640x 62

Bayangkan Anda sedang mendengarkan dua orang penutur bahasa Jepang yang sedang merencanakan acara minum-minum santai setelah jam kerja selesai.

  • 今夜(こんや) 皆(みんな)と 飲(の)みにいくけど…
  • We’re going to get drinks tonight, but…
  • うーん。めっちゃ 行(い)きたいけど…
  • Umm. I really want to, but…

Percakapan seperti itu sangat lumrah terjadi di antara rekan kerja di Jepang. Namun, jika dicermati dari sudut pandang tata bahasa, ada sesuatu yang terasa ganjil, bukan?

Kalimat-kalimat tersebut dibiarkan menggantung karena kata けど (kedo) diletakkan tepat di ujung kalimat. Padahal, けど pada dasarnya adalah partikel penghubung yang berfungsi untuk merangkai dua kalimat menjadi satu, bukan untuk mengakhiri sebuah pernyataan. Kendati demikian, dalam interaksi sosial sehari-hari di Jepang, kalimat yang tidak tuntas seperti ini sangat sering dijumpai.

Bagi pembelajar pemula yang belum terbiasa dengan kebiasaan ini, Anda mungkin akan menunggu kalimat kelanjutan setelah けど. Alih-alih membuat Anda bertanya-tanya, mari kita bahas fungsinya: けど seringkali menjadi tanda bahwa giliran berbicara sedang diserahkan kepada Anda. Artinya, lawan bicara mengisyaratkan agar Anda merespons apa yang baru saja disampaikan, atau itu bisa menjadi isyarat untuk beralih ke topik pembicaraan lain.

Sebagian pembelajar tingkat menengah kerap menggunakan kalimat terpotong karena mengira cara ini otomatis membuat mereka terdengar sopan. Padahal, jika digunakan tanpa memerhatikan situasi, hal itu justru bisa membuat Anda terkesan plin-plan atau kurang dapat diandalkan.

Meski penutur bahasa Jepang sering menggunakan けど di akhir kalimat, buku-buku teks utama untuk pembelajar bahasa asing jarang sekali memasukkannya sebagai poin tata bahasa tersendiri. Topik ini mungkin sekilas muncul dalam contoh kalimat atau materi latihan percakapan, tetapi porsi tersebut tentu belum cukup untuk memahaminya secara mendalam.

Ketika Anda mencoba mencari penjelasannya di internet, Anda mungkin akan menemukan keterangan bahwa partikel ini berfungsi untuk “memperhalus nada bicara” atau “membuat Anda terdengar lebih sopan.” Meskipun hal itu tidak salah, memahami bagaimana mekanisme tersebut bekerja dalam praktiknya jauh lebih penting. Sebagian pembelajar tingkat menengah kerap menggunakan kalimat terpotong ini dengan anggapan bahwa gaya tersebut selalu bernada sopan. Padahal, menggunakannya secara sembarangan justru dapat membuat Anda terdengar tidak tegas atau kurang dapat diandalkan.

Oleh karena itu, artikel ini akan mengupas penggunaan けど di akhir kalimat—kapan biasanya frasa ini digunakan serta nuansa apa yang ditimbulkannya. Pembahasan ini tentu tidak mencakup seluruh situasi, tetapi diharapkan dapat memberi Anda pemahaman yang lebih utuh mengenai cara kerjanya.

  • What Is けど ?
  • けど At the End of a Sentence
    • けど For Adding Afterthoughts
    • けど For Being Less Confrontational
    • けど For Expressing Uncertainty
    • けど For Giving Flexibility of How To Respond
  • That’s a Wrap, But…

Prasyarat: Agar Anda bisa menyerap isi artikel ini secara optimal, Anda sebaiknya sudah menguasai aksara hiragana dan katakana. Jika perlu menyegarkan ingatan, Anda bisa melihat panduan dasar terkait kedua aksara tersebut. Meskipun tidak wajib, akan sangat membantu jika Anda sudah cukup akrab dengan penggunaan けど sebagai partikel penghubung—meskipun jika belum pun, dasar-dasarnya akan segera dijelaskan sebentar lagi!

What Is けど ?

kedo

Mari kita mulai dengan mengulas kembali fungsi dasar けど sebagai partikel penghubung. Sebagaimana terlihat pada terjemahan contoh sebelumnya, padanan yang paling mendekati dalam bahasa Inggris adalah “but” atau “though” karena けど mampu menghubungkan dua kalimat yang saling bertolak belakang.

Sebagai contoh, Anda bisa menggunakan けど untuk mengatakan hal seperti:

  • 人見知(ひとみし)りだけど、パーティーは 好(す)き。
  • I’m not outgoing, but I like parties.

Perhatikan bagaimana partikel ini bekerja mirip dengan kata “but” dalam bahasa Inggris, yakni merangkai dua gagasan yang kontras: “aku tidak begitu ramah” dan “aku suka pesta.”

Meskipun tampak sederhana, perlu diingat pula bahwa fungsi けど tidak selalu sebatas kata “but.” Partikel ini juga dapat dipakai untuk memberikan konteks latar belakang sebelum Anda menyampaikan sesuatu. Contohnya, saat Anda ingin meminta tolong kepada seseorang, けど bisa diselipkan untuk menjelaskan situasi di balik permintaan tersebut.

  • 卵(たまご)がないんだけど、 帰(かえ)りに 買(か)ってくれる?
  • We’re out of eggs. Can you buy some on your way home?

Alih-alih mempertentangkan dua hal seperti contoh sebelumnya, di sini けど berfungsi semata-mata untuk memaparkan konteks—yaitu alasan mengapa Anda memerlukan telur.

Kesimpulannya, けど dapat dipakai untuk menunjukkan kontras layaknya kata “but,” sekaligus berfungsi menyematkan konteks sebelum Anda mengutarakan maksud utama.

けど At the End of a Sentence

Setelah memahami fungsi dasarnya, mari kita bahas inti dari artikel ini: apa kegunaannya ketika diletakkan di akhir kalimat? Saat けど berada di pengujung kalimat, partikel ini dapat memunculkan berbagai kesan, seperti menyampaikan tambahan pemikiran (afterthought), menghindari konfrontasi, mengungkapkan keraguan, dan banyak lagi. Secara keseluruhan, penggunaan けど meninggalkan kesan menggantung yang secara tidak langsung memberikan petunjuk kepada pendengar tanpa harus mengatakannya secara blak-blakan. Mari simak penjelasan lengkap beserta contoh nyatanya berikut ini!

けど For Adding Afterthoughts

kedo – though

Mari kita mulai dari kebiasaan yang sering kita lakukan dalam percakapan sehari-hari. Salah satu fungsi umum けど adalah membuat pernyataan Anda terdengar seperti sebuah pemikiran susulan—mirip seperti menyematkan kata “though” di akhir kalimat dalam bahasa Inggris.

Misalnya, Anda baru saja menghadiri sebuah pesta tadi malam, lalu seorang teman menanyakan suasana acara tersebut. Anda pun menjawab:

  • かなり 人(ひと)がいたよ! 会場(かいじょう)は 小(ちい)さかったけど。
  • There were quite a few people there! The venue was small, though.

Pada kalimat pertama, Anda menyebutkan bahwa ada banyak orang di sana. Namun, Anda kemudian menambahkan informasi bahwa tempatnya sebenarnya kecil, mungkin karena merasa kalimat pertama tadi memberikan kesan seolah-olah pestanya sangat besar di tempat yang luas. Melalui tambahan pemikiran berbalut けど ini, Anda dapat meralat atau memperjelas kesan dari pernyataan sebelumnya.

Fungsi pemikiran susulan ini juga sering digunakan untuk menunjukkan kerendahan hati. Katakanlah Anda dan teman-teman sedang berbincang tentang keluarga, lalu terungkap fakta bahwa ayah Anda memiliki sebuah perusahaan. Teman Anda lantas bertanya:

  • え、お 父(とう)さん 会社(かいしゃ) 経営(けいえい)してるの?
  • Oh, does your dad own a company?

Menanggapi hal tersebut, Anda menjawab:

  • 小さい会社だけど…。
  • It’s a small company, though….

Dengan membubuhkan けど di akhir, Anda bermaksud menegaskan bahwa perusahaan tersebut kecil dan posisi ayah sebagai direktur bukanlah sesuatu yang besar. Cara seperti ini lazim dipakai agar seseorang tidak terdengar terlalu menyombongkan diri.

けど For Being Less Confrontational

Partikel けど juga kerap ditempelkan di pengujung kalimat guna meredam kesan konfrontatif, khususnya ketika Anda memiliki pandangan yang berbeda atau ingin menyampaikan ketidaksetujuan. Gaya ini mirip dengan kebiasaan menyelipkan frasa seperti “…tapi ya sudahlah” atau “…tapi begitulah” dalam bahasa Inggris untuk menjaga suasana tetap cair dan beralih ke topik lain. Contohnya, jika seorang teman Anda sangat mempercayai teori kepribadian berdasarkan golongan darah, lalu ia bertanya apakah Anda sepakat bahwa orang bergolongan darah B itu egois:

  • B 型(がた)の人ってワガママだよね。
  • People with blood type B are self-centered, right?

Jika Anda tidak meyakini teori tersebut dan ingin menyatakan ketidaksetujuan tanpa memicu perdebatan, Anda bisa mengatakan:

  • 私(わたし)はそう 思(おも)わないけど…。
  • I don’t think so, but… (yeah).

Penggunaan けど di sini menyiratkan bahwa Anda memahami sudut pandang mereka, meski Anda sendiri tidak sepemikiran. Dengan cara ini, Anda tidak memaksakan argumen dan membiarkan pembicaraan mengalir ke topik lain tanpa menciptakan ketegangan.

けど di sini membuat kalimat Anda terdengar seolah-olah Anda mengakui pendapat mereka, sekaligus menyuarakan isi kepala Anda yang berbeda.

Kendati demikian, perlu diingat pula bahwa lawan bicara bisa saja menangkap taktik けど ini dan balik bertanya “Tapi apa maksudnya!?” jika mereka kebetulan berniat memperpanjang perdebatan. Oleh karena itu, memberikan tanggapan yang aman seperti そうかな (“Begitukah?”) dan memilih untuk menyimpan pendapat pribadi terkadang menjadi pilihan yang jauh lebih bijak.

Penerapan けど tidak terbatas pada perbedaan pendapat saja, melainkan juga berguna dalam situasi-situasi canggung lainnya. Mari kita kembali pada contoh ajakan minum bersama rekan kerja tadi—sebagai respons atas kalimat 今夜皆と飲みにいくけど… (Kami mau pergi minum malam ini…), seorang rekan kerja mungkin menjawab:

  • うーん。めっちゃ行きたいけど…
  • Umm. I really want to go, but…

Jika kalimat tersebut diucapkan secara utuh, kelanjutannya mungkin berupa 行けない (Aku tidak bisa ikut) atau まだやらなгахいけないことがある (Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan). Namun, dengan membiarkannya menggantung, pembicara memberikan kesempatan bagi lawan bicara untuk menangkap isyarat tersebut secara halus tanpa terkesan menolak mentah-mentah. Dari sini, tersirat bahwa ia sebenarnya ingin ikut namun (kemungkinan besar) berhalangan. Dengan tidak mengatakan “tidak” secara tegas, cara ini menjadi alternatif penolakan yang terasa lebih santun dalam budaya Jepang.

けど For Expressing Uncertainty

Sebelumnya telah dibahas bahwa けど dapat memberikan kesan yang agak mengambang. Karakteristik inilah yang membantu Anda mengekspresikan ketidakpastian atau keraguan ketika Anda tidak sepenuhnya yakin akan suatu hal, mirip seperti menutup kalimat dengan ungkapan “…tapi entahlah” dalam bahasa Inggris.

Misalnya, seorang teman memberi tahu Anda bahwa hari ulang tahun Kenichi sudah dekat, tetapi ia lupa tanggal pastinya. Anda pun merasa tidak begitu yakin, meski menduga hari itu jatuh pada hari Rabu pekan depan. Anda mungkin akan merespons dengan kalimat:

  • 来週(らいしゅう)の 水曜日(すいようび)だと思うけど…。
  • I think it’s Wednesday next week, but… (I don’t know).

Partikel けど di pengujung kalimat ini menyuarakan rasa bimbang, seolah menegaskan “Aku tidak 100% yakin, jadi jangan jadikan ini patokan!” Walaupun di negara-negara barat kebiasaan semacam ini terkadang dianggap sebagai tanda kurang percaya diri, di Jepang sikap demikian justru sangat lumrah ditunjukkan kecuali jika seseorang benar-benar memegang informasi valid. Taktik ini dipakai untuk mengurangi tanggung jawab atas keakuratan informasi yang disampaikan, sehingga penggunaannya harus dihindari jika menyangkut hal-hal krusial yang memang sudah seharusnya Anda ketahui.

けど For Giving Flexibility of How To Respond

kedo on a phone call

Sejauh ini kita telah membicarakan けど sebagai padanan kata “but” di akhir kalimat. Namun, ingatkah Anda bahwa partikel ini juga berfungsi untuk menyertakan konteks? Ya, fungsi tersebut tetap berlaku meskipun ia ditaruh di bagian paling akhir kalimat!

Ketika Anda menggunakan けど untuk membingkai konteks sekaligus menutup kalimat, Anda membuka keleluasaan bagi lawan bicara untuk menentukan bentuk respons mereka. Pola ini lazim dipakai saat Anda hendak membuat reservasi, meminta izin, mengundang seseorang, atau memohon bantuan. Sebagai ilustrasi, kalimat pembuka yang lazim diucapkan saat menelepon restoran untuk memesan meja di Jepang adalah:

  • もしもし。 予約(よやく)したいんですけど…。
  • Hello. I’d like to make a reservation…

Peran けど di sini adalah menyodorkan konteks, yakni keinginan Anda untuk melakukan reservasi. Serupa dengan contoh kehabisan stok telur sebelumnya, kalimat ini baru menyampaikan latar belakang situasinya saja tanpa merinci kelanjutan tujuannya. Sebagai kalimat yang secara tata bahasa tidak lengkap, contoh reservasi ini hanya menyajikan premis dasarnya tanpa diiringi kalimat lanjutan seperti “Bisa pesankan meja untuk dua orang malam ini?” atau “Apakah masih ada meja kosong?”

Anda tidak merinci permintaan secara spesifik, melainkan membiarkannya mengambang agar pihak lawan bicara dapat merespons dengan cara yang paling nyaman bagi mereka.

Menariknya, membiarkan kalimat menggantung dengan cara ini menghadirkan efek unik: dengan berhenti pada kata けど dan tidak melanjutkan kalimatnya, Anda memberikan ruang bagi staf restoran untuk mengambil inisiatif jawaban yang paling sesuai dengan kondisi mereka (misalnya, menginformasikan bahwa reservasi penuh atau menanyakan jadwal kedatangan). Cara komunikasi tidak langsung semacam inilah yang membuat penggunaan けど di akhir kalimat sering dinilai sangat sopan dan penuh pertimbangan.

Mari kita tengok kembali percakapan antarrekan kerja mengenai rencana minum-minum tadi:

  • 今夜皆と飲みにいくけど…
  • We’re going to get drinks tonight…

Jika kalimat tersebut diucapkan sampai tuntas, kelanjutannya bisa berupa pertanyaan seperti 一緒(いっしょ)に 来(く)る? (Mau ikut bersama kami?) atau 仕事(しごと) 終(お)わりそう? (Pekerjaanmu kira-kira beres?). Namun, dengan sekadar memberi tahu bahwa Anda hendak pergi minum tanpa mengajukan pertanyaan langsung, Anda sedang berupaya membaca situasi mereka secara santai. Cara ini mengurangi tekanan pada rekan kerja Anda, karena jika mereka berhalangan hadir, mereka tidak perlu merasa canggung menolak ajakan secara tegas—lagi pula, tidak ada pertanyaan spesifik yang diajukan sejak awal.

Dengan menghentikan kalimat pada partikel けど, Anda memberi kebebasan kepada pendengar untuk merespons dengan cara yang nyaman bagi mereka. Trik ini juga sangat membantu ketika Anda sendiri bingung harus merumuskan kalimat seperti apa dan ingin menyerahkan kendali percakapan kepada lawan bicara.

Mari lihat satu contoh lagi! Anda sedang bersiap menutup toko atau restoran, sementara masih ada pelanggan yang asyik melihat-lihat tanpa menyadari jam operasional telah usai. Jika Anda ingin memberi isyarat agar mereka segera bergegas keluar, Anda bisa menggunakan けど:

  • すみません。そろそろ 閉店(へいてん)の 時間(じかん)なんですけど…。
  • Excuse me. The store will be closing soon…

Kelanjutan logis dari kalimat tersebut sebenarnya bisa berbunyi “Silakan segera melakukan pembayaran ya” atau “Bisa tolong percepat waktunya dan segera keluar?” Mendengar kalimat langsung semacam itu tentu terasa kurang sedap di telinga pelanggan. Akan tetapi, dengan memotong kalimat sebelum mengajukan instruksi frontal, Anda membiarkan pelanggan menyadari sendiri situasinya. Meskipun pendekatan ini terkesan pasif-agresif bagi sebagian kultur, dalam tradisi komunikasi tidak langsung di Jepang, cara ini dipandang sebagai bentuk kesantunan untuk menghindari konfrontasi secara terbuka.

That’s a Wrap, But…

Seperti yang telah diuraikan dalam artikel ini, menutup kalimat menggunakan けど dapat memunculkan beragam nuansa dalam percakapan. Di dalam budaya Jepang, kemampuan menyampaikan dan menangkap isyarat tersirat sangat dijunjung tinggi karena memberikan ruang bagi setiap individu untuk berekspresi secara halus. Terlepas dari kesan plin-plan yang mungkin melekat padanya, けど terbukti menjadi alat komunikasi yang sangat fungsional!

Meskipun fokus utama artikel ini tertuju pada けど, seluruh kaidah yang telah dibahas juga berlaku bagi partikel が karena keduanya sering kali dapat saling menggantikan.

Sebagai catatan tambahan, ada pula partikel penghubung lain bernama が yang memiliki fungsi hampir serupa dengan けど. Kendati nuansanya sedikit lebih formal, dari segi fungsi praktis が dapat ditempatkan di pengujung kalimat dengan memberikan efek implikasi yang sama. Jadi, ingatlah bahwa apa pun yang Anda pelajari mengenai けど di sini juga dapat diterapkan pada が.

Demikian pembahasan kali ini, semoga Anda terus mengamati bagaimana penutur asli menggunakan けど di ujung kalimat agar pemahaman Anda semakin tajam dan kaya!

この 記事(きじ)で「けど」の 事(こと)がもっとよく 分(わ)かったら、 嬉(うれ)しいけど…。

I would be glad if this article helped you get a better understanding of “kedo,” but….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *