Home / Study / Arti Kata “Kuni”: Jangan Tanya Apa yang Bisa Diperbuat Negaramu untukmu, Tapi Sebenarnya Apa Itu “Kuni”?

Arti Kata “Kuni”: Jangan Tanya Apa yang Bisa Diperbuat Negaramu untukmu, Tapi Sebenarnya Apa Itu “Kuni”?

header 640x 79

Kata kuni sering kali menjadi istilah yang membingungkan. Mengandung banyak arti, kata ini dapat diterjemahkan sebagai negeri, bangsa, negara, atau kerajaan. Bagi penutur bahasa Inggris, kebingungan ini semakin bertambah karena perbedaan makna antara kata-kata tersebut dalam bahasa Inggris terkadang tidak terlalu jelas. Selain itu, beberapa kata majemuk yang memuat unsur kuni (atau terkadang dibaca koku) juga sulit didefinisikan secara pasti karena sarat dengan muatan historis maupun politik. Mari kita telusuri akar etimologi, sejarah, and politik dari kata ini agar kita dapat memahaminya dengan lebih baik.

Menelaah Kanji yang Membingungkan

colorful kanji on top of each other

Jika kita melihat bentuk kanji dari kuni, perlu diingat bahwa aksara Tionghoa pada dasarnya bersifat ideografis. Bentuk aksara asal untuk kuni, yang telah digunakan selama berabad-abad baik dalam bahasa Tionghoa maupun Jepang, adalah sebagai berikut:

國

Bagian kotak di luar mungkin sepintas mirip dengan kanji mulut kuchi 口(くち), tetapi sebenarnya aksara tersebut adalah karakter yang hampir serupa—meski kini jarang digunakan dalam bahasa Jepang modern—yang berarti “tegak” atau “lurus”. Dalam bentuk cetak, keduanya tampak sangat mirip, meskipun terdapat perbedaan tipis saat ditulis menggunakan kuas.

Selain berdiri sendiri, komponen luar ini sering dipakai untuk merangkum radikal lain yang berkaitan dengan konsep dinding, pembatas, atau area tertutup. Contohnya dapat dilihat pada kanji taman niwa 園(にわ), penangkapan shuu 囚(しゅう), serta pengepungan i 囲(い). Tentu saja, apabila kita memaknai kuni sebagai sebuah negara atau wilayah, pembatas seperti ini sangatlah relevan.

Di dalam kotak luar tersebut terdapat aksara 或. Karakter ini memiliki beberapa arti: pertama, atau atau pilihan lain; kedua, mungkin; dan ketiga, seseorang atau sekelompok orang. Dua arti pertama mungkin tidak terlalu berkaitan langsung dengan makna kuni, tetapi arti yang ketiga cukup masuk akal. Sebuah kuni dapat diartikan sebagai sekumpulan orang yang berada di dalam suatu wilayah berbatas, meskipun definisi ini tergolong sangat luas.

Kendati demikian, aksara yang digunakan untuk menuliskan kuni dalam bahasa Jepang modern sudah berbeda:

国

Bagian luar kotaknya masih sama, namun di dalamnya terdapat kanji tama 玉(たま). Arti utama dari karakter ini adalah giok, permata, atau bola, dan sering digunakan untuk menggambarkan benda-benda yang bentuknya bundar, berkilau, maupun indah. Namun, dalam konteks tertentu, kanji ini juga dapat menyimbolkan seorang kaisar atau raja. Kanji standar untuk raja, yaitu o 王(お), memiliki bentuk yang cukup mirip, dan giok pada masa Tiongkok kuno sering kali dihubungkan dengan kaum bangsawan. Salah satu contoh dalam permainan tradisional mirip catur, yaitu shogi, memperlihatkan kemiripan ini di mana bidak raja masing-masing kubu dinamai Ōshō 王将(おしょう) atau “jenderal raja” dan Gyokushō 玉将(ぎょくしょう) atau “jenderal giok”. Dari sini, mudah dipahami mengapa masyarakat Asia Timur pada masa pra-modern memandang sebuah negara sebagai sosok raja beserta wilayah kekuasaannya.

Menilik Etimologi Bahasa Inggris

the flags of the united nations on a clear day

Sebelum mengkaji lebih jauh asal-usul kuni, ada baiknya kita memahami makna mendalam dari beberapa padanan kata paling umum dalam bahasa Inggris. Penggunaan sehari-hari dari kata-kata ini terkadang tidak sepenuhnya mencerminkan arti yang sesungguhnya di mata para sejarawan. Istilah-istilah yang paling relevan untuk dicermati meliputi country (negeri/negara), nation (bangsa), state (negara bagian/pemerintahan berdaulat), dan nation-state (negara bangsa).

Dalam bahasa Inggris, kata country lazimnya merujuk pada suatu wilayah daratan yang dibatasi oleh ciri-ciri geografis atau garis politik. Saat ini, “country” sering kali dianggap bersinonim dengan negara berdaulat. Sementara itu, state adalah sekumpulan lembaga pemerintahan dan pendukungnya yang memiliki kedaulatan atas wilayah serta populasi tertentu. Meskipun demikian, ada kalanya wilayah yang bukan merupakan negara berdaulat—seperti Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara—tetap disebut sebagai sebuah country. Di samping itu, kata ini juga bisa merujuk pada pedesaan atau tanah tumpah darah secara umum.

Di sisi lain, nation mengacu pada sekelompok orang yang diyakini atau dianggap memiliki kesamaan adat istiadat, agama, bahasa, asal-usul, keturunan, atau sejarah. Istilah nation-state digunakan ketika batas-batas wilayah suatu pemerintahan selaras dengan cakupan masyarakat yang dipimpinnya, di mana penduduk tersebut membagikan beberapa karakteristik yang telah disebutkan. Sejumlah negara juga dapat dikategorikan sebagai multinasional, kendati batasan yang membentuk suatu bangsa terkadang kabur. Pandangan akademis yang dominan menyatakan bahwa bangsa-bangsa modern mulai bermunculan sekitar akhir abad ke-18 dan terus berkembang pesat sejak saat itu. Kendati demikian, sebagian pihak berargumen bahwa terdapat contoh-contoh yang jauh lebih tua, termasuk gagasan bahwa Tiongkok, Korea, dan Jepang sebenarnya telah menjadi sebuah bangsa sejak Abad Pertengahan di Eropa.

Menelusuri Sumber dari Tiongkok

map of china circa 5 bc

Banyak orang mengenal Tiongkok sebagai “Negeri Tengah”, sebuah terjemahan dari istilah zhongguo 中國(). Akan tetapi, pada mulanya zhongguo merujuk pada banyak “negara bagian pusat” yang ada pada zaman Musim Semi dan Gugur (771–476 SM) serta periode Negara-Negara Berperang (475–221 SM). Wilayah-wilayah ini pada awalnya berupa negara kota yang berukuran lebih kecil, namun terus memperluas wilayah dan saling berperang hingga pemimpin dari negara Qin berhasil menaklukkan serta menyatukan bekas-bekas negara tersebut di bawah kekuasaannya. Dari kata Qin inilah asal mula nama Inggris untuk Tiongkok, yaitu China. Sejarah Tiongkok membuktikan bahwa istilah guo dulunya memiliki cakupan makna yang sangat beragam, mirip seperti kata kuni di Jepang.

Konotasi Kuni yang Saling Bertentangan

colorful drawn map of feudal japan

Persoalan menjadi semakin rumit ketika kita mengamati era di Jepang antara tahun 1467 hingga 1603 yang dikenal sebagai zaman Sengoku (sengoku jidai). Pada masa itu, kaisar maupun shogun kehilangan otoritasnya, sementara para penguasa daerah saling bersaing demi mempertahankan dan memperluas wilayah masing-masing. Bagian yang membingungkan adalah istilah yang dipakai untuk menyebut wilayah kekuasaan para daimyo tersebut adalah kuni. Penamaan ini sebenarnya berakar dari sistem hukum zaman Kamakura (1185–1333). Dalam konteks tersebut, kuni dapat disetarakan dengan provinsi, tetapi menjelang zaman Sengoku, wilayah-wilayah ini justru berfungsi layaknya negara-negara berdaulat yang mandiri. Dengan kata lain, Jepang yang kita kenal sebagai satu kesatuan kuni pada masa kini, dulunya terdiri atas banyak kuni yang berdiri sendiri.

Ketika penulis melakukan survei informal kepada beberapa teman di Jepang mengenai interpretasi mereka terhadap istilah sengoku jidai, didapati jawaban yang beragam. Dua orang menyatakan bahwa istilah tersebut mengingatkan mereka pada satu wilayah tunggal (Jepang) yang terpecah akibat perang saudara, sementara dua teman lainnya berpandangan bahwa istilah itu menggambarkan banyak kuni kecil yang saling berperang. Hal ini menunjukkan bahwa istilah tersebut bahkan terasa samar bagi warga Jepang sendiri, meski tidak berdampak besar bagi kehidupan masyarakat awam. Seperti yang diungkapkan oleh seorang teman lainnya, materi tentang zaman Sengoku tidak terlalu mendalam diajarkan di sekolah, dan kesan pertama yang muncul di benak mereka biasanya langsung tertuju pada seri permainan video Sengoku Musou.

Bagaimanapun juga, memandang kuni pada zaman Sengoku sebagai wilayah-wilayah kecil yang terpecah tampaknya lebih selaras dengan catatan sejarah. Kendati masih ada pengakuan terhadap otoritas tradisional kaisar, kekuasaan tersebut sangatlah terbatas pada masa itu. Sebagian besar kuni bertindak sebagai negara berdaulat kecil mereka sendiri. Walaupun ada ikatan berupa kesamaan bahasa dan berbagai tradisi bersama, keragaman kultural di antara mereka sangat tinggi, dan konsep kebangsaan Jepang secara utuh baru terwujud jauh di kemudian hari.

Membedah Tubuh Nasional

japanese colorful artwork depicting constitution ceremony

Ada banyak kata majemuk yang memuat karakter kuni, salah satunya adalah kokutai 国体(こくたい) yang juga memiliki arti ambigu. Secara harfiah, kokutai berarti “tubuh nasional”, namun bergantung pada konteks dan penerjemahnya, istilah ini bisa mengacu pada “sistem pemerintahan”, “kedaulatan”, “identitas/esensi/karakter nasional”, atau “politik kenegaraan”. Kata ini berakar dari Tiongkok, di mana catatan paling awal penggunaannya ditemukan dalam dua buku yang masing-masing berasal dari abad ke-2 SM dan abad ke-1 M. Pada buku pertama, kata tersebut dipakai sebagai metafora yang bermakna “perwujudan negara”, sementara buku kedua menggunakannya untuk merujuk pada “hukum dan tata kelola pemerintahan”.

Istilah kokutai mulai memperoleh tingkat kepentingan yang tinggi di Jepang selama era Tokugawa (1603–1868), berkat para sarjana Neo-Konfusianisme seperti Aizawa Seishisai (1782–1863) yang mempopulerkannya melalui buku terbitan tahun 1825 berjudul Shinron. Seishisai merupakan pemimpin Mazhab Mito yang mendukung pengembalian kekuasaan penuh kepada kaisar. Ia mengidealkan kekuasaan kekaisaran sebagai bentuk penyatuan yang sempurna antara agama dan pemerintahan. Dalam karyanya, definisi kokutai memang masih kabur, tetapi tampaknya mengarah pada pengertian “struktur nasional”.

Memasuki zaman Meiji, setelah pemulihan kekuasaan kekaisaran secara nominal, gagasan mengenai kokutai kian berkembang dan bercabang. Kato Hiroyuki (1836–1916) dalam karyanya kokutai shinron membuat pembedaan tegas antara kokutai 国体(こくたい) dan seitai 政体(せいたい). Baginya, kokutai merupakan esensi nasional Jepang yang terbentuk dari unsur-unsur abadi warisan tradisi dengan kaisar sebagai pusatnya. Di sisi lain, seitai adalah bentuk pemerintahan yang dapat berubah seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu, mengadopsi sistem pemerintahan ala Barat dianggap tidak masalah, selama sosok kaisar tetap dipertahankan sehingga kokutai tidak mengalami perubahan.

Sementara itu, Fukuzawa Yukichi (1835–1901) mengambil sudut pandang yang berbeda mengenai kokutai. Ia meyakini bahwa fenomena tersebut bukanlah hal yang hanya dimiliki oleh Jepang saja. Menurutnya, setiap negara mempunyai kokutai-nya masing-masing, dan milik Jepang tidak harus bergantung pada klaim keturunan dewa dari sang kaisar. Ketika Konstitusi Meiji disahkan pada tahun 1889, isi undang-undang tersebut ternyata lebih selaras dengan pandangan Kato.

Seiring berjalannya era Taisho, Jepang tumbuh menjadi negara yang semakin nasionalis dan militeristik, membuat konsep kokutai semakin diselimuti aura mistis yang berpusat pada kaisar. Tren ini berlanjut hingga periode Showa, ketika sebuah komite yang beranggotakan para profesor dibentuk guna merumuskan definisi kokutai secara lebih pasti. Pada tahun 1937, mereka menerbitkan kokutai no Hongi (“Prinsip-Prinsip Kardinal Tubuh Nasional”) yang mengajarkan bahwa setiap warga negara merupakan bagian tak terpisahkan dari negara. Doktrin yang termuat dalam risalah tersebut disebarluaskan ke dalam sistem pendidikan maupun masyarakat luas, menjadikan kata serta semangat kokutai sebagai elemen utama dalam berbagai bentuk propaganda. Pasca Perang Dunia II, Markas Besar Sekutu melarang peredaran kokutai no Hongi, dan pengaruh kokutai pun mulai memudar, meskipun sebagian kalangan berpendapat bahwa sisa-sisa pengaruhnya masih dapat ditemukan dalam struktur masyarakat Jepang modern.

Arti di Balik Sebuah Nama

looking down a set of japanese stone steps

Segala analisis mendalam terhadap satu aksara tunggal ini mungkin tampak rumit atau bahkan berlebihan. Meskipun penulis tidak berencana menghabiskan sisa hidup untuk bermeditasi merenungkan misteri kata kuni, meluangkan waktu sejenak untuk memikirkan kosakata yang kita gunakan tetaplah memberikan manfaat tersendiri. Khususnya bagi para pemerhati sejarah, pembedaan arti antara bangsa, negara, dan negeri memegang peranan krusial dalam banyak situasi. Saat seseorang membaca literatur berbahasa Jepang, kerumitan terjemahan serta karakteristik bahasa Jepang itu sendiri menghadirkan tantangan tersendiri yang memperbesar peluang terjadinya kesalahpahaman. Semakin baik kita mengenali kosakata yang dipakai, semakin kecil pula risiko kita keliru menafsirkannya. Terdapat jauh lebih banyak nuansa tersembunyi di balik kata kuni beserta padanannya dalam bahasa Inggris yang belum semuanya sempat diulas di sini, sehingga Anda sangat dianjurkan untuk menelusurinya lebih lanjut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *