Meskipun belum pernah memegang langsung majalah manga fisik, ketertarikan terhadap media cetak ini tetap terasa begitu kuat. Kehadiran majalah manga menawarkan pengalaman membaca yang mengalir berkat penyusunan seri yang terkurasi. Ketika satu bab berakhir, pembaca didorong untuk membalik halaman dan setidaknya melirik judul lain, yang pada akhirnya membantu proses penemuan karya baru.
Selain itu, majalah turut berperan dalam memperkaya keragaman suara di industri. Karya dari kreator pemula atau gagasan unik yang sulit menembus pasar arus utama sering kali mendapat tempat di sini. Untuk membahas lebih jauh mengenai peran penting ini, penerbit manga SORAJIMA membagikan pandangan mereka seputar peluncuran majalah fisik terbaru mereka, Bessatsu Yosumi, di bawah label editorial Yosumi.
Wawancara Eksklusif dengan Penerbit Manga SORAJIMA
SORAJIMA saat ini menjalankan operasionalnya melalui struktur lima label editorial dengan sekitar 60 anggota di dalamnya. Setiap label memiliki peran dan identitas yang unik. Label pertama berfokus pada cerita romantis untuk pembaca perempuan, sementara label kedua mengkhususkan diri pada kisah laga yang menyoroti pertumbuhan protagonis. Label ketiga memproduksi manga berformat horizontal untuk mengakomodasi berbagai lingkungan baca, dan label keempat menaungi Yosumi yang berfokus pada karya-karya lintas genre. Adapun label kelima disiapkan sebagai tim yang mengembangkan aplikasi manga vertikal orisinal bernama Shonen Stoke yang dijadwalkan rilis pada musim semi 2027.
Filosofi editorial mereka mengusung konsep TO FLOURISH, yaitu menyampaikan kompleksitas sifat manusia secara mudah diakses tanpa mengurangi esensinya. Mereka berupaya menghubungkan keinginan tulus para kreator dengan hiburan yang dapat dinikmati pembaca hingga tuntas.
Label Editorial Yosumi Meluncurkan Majalah Baru Bessatsu Yosumi di Tengah Tantangan Media Cetak
Keputusan untuk tetap merilis media cetak di era digital didasari oleh keinginan untuk menciptakan ruang fisik tempat pembaca dapat menemukan karya dan kreatornya secara langsung. Meskipun industri penerbitan menghadapi tantangan besar seperti penurunan jumlah toko buku, muncul pula semangat baru dari gerakan penerbitan independen dan toko buku kecil.
Menurut Pemimpin Redaksi Waragai, dari sudut pandang pembaca, pengalaman membaca mungkin tidak akan banyak berubah jika majalah cetak lenyap. Namun, tanpa majalah yang berfungsi sebagai mercusuar, banyak kreator dan editor berisiko meninggalkan industri manga, yang pada akhirnya akan mengurangi kekayaan serta keragaman budaya manga itu sendiri.
Terkait aspek bisnis, kepemilikan majalah tidak secara mutlak menentukan keuntungan finansial perusahaan di era modern ini. Strategi utama SORAJIMA berpusat pada perluasan karya melalui berbagai lapisan—mulai dari basis penggemar digital, penerbitan cetak, penempatan di toko buku fisik, hingga distribusi global dengan memperkuat identitas label.
Salah satu misi penting Yosumi adalah mengangkat kembali nilai artistik dan komersial dari manga cerita pendek sekali baca (one-shot). Manga one-shot tidak hanya dianggap sebagai karya uji coba untuk serialisasi, melainkan produk mandiri yang utuh, sarana pengembangan bakat, wadah ekspresi penulis, serta strategi bisnis untuk menguji respons pembaca.
Mengenai konsep karya yang menentang batasan genre (genre-defying), Waragai menjelaskan bahwa genre pada dasarnya adalah bentuk standarisasi agar karya lebih mudah dipahami. Menentang genre berarti berdiri di ruang abu-abu di antara berbagai kategori untuk menyajikan sesuatu yang lebih kompleks dan memicu pemikiran kritis.
Respons terhadap volume pertama Bessatsu Yosumi menunjukkan hasil yang positif. Dalam waktu enam bulan setelah peluncuran, situs web mereka mencatatkan sekitar 100.000 pembaca kumulatif dengan tingkat penyelesaian baca yang tinggi. Hal ini memberikan keyakinan besar bagi tim redaksi untuk terus fokus menjangkau para pembaca inti.
“Pada saat yang sama, kami berencana untuk mengurangi penekanan pada pemasaran melalui media sosial dan iklan daring, serta beralih untuk fokus membina label yang berbicara kepada kelompok pembaca inti yang lebih berdedikasi.“
Perbedaan Budaya dan Masa Depan Industri
Mengenai kategori seperti shonen dan shojo, hilangnya label atau majalah diprediksi akan semakin mempercepat fragmentasi genre. Bagi pembaca di luar Jepang yang umumnya hanya menikmati rilisan volume tunggal atau bab digital, mereka kerap melewatkan skala besar dan keragaman kreator yang ada di Jepang.
Untuk memperluas jangkauan internasional, edisi bahasa Prancis dari Bessatsu Yosumi Volume 1 dijadwalkan hadir di Japan Expo 2026 di Paris, sebelum didistribusikan ke berbagai toko buku di Prancis termasuk Junkudo Paris.
Ketika disinggung mengenai potensi algoritma digital untuk menggantikan peran kurasi majalah, pihak SORAJIMA meyakini bahwa algoritma tidak dapat menggantikannya. Majalah dan label memiliki peran untuk mempertemukan pembaca dengan dunia baru yang mungkin tidak akan mereka pilih sendiri, sementara algoritma cenderung hanya menyajikan apa yang sudah sesuai dengan selera pembaca yang telah ada.
Bagian 1 SELESAI.
Nantikan Bagian 2 dari perbincangan mendalam bersama SORAJIMA, di mana diskusi akan berlanjut mengenai lingkungan industri penerbitan manga serta aplikasi manga shonen terbaru mereka yang akan diluncurkan pada tahun 2027.
Gambar unggahan © Mangadragonnet CC-BY-SA-4.0








