Saat mencoba demo Stupid Never Dies, saya awalnya hanya mengira ini akan menjadi permainan yang konyol. Namun, dalam beberapa menit pertama, saya menyadari bahwa game ini jauh lebih absurd dari yang saya bayangkan. Di sini, saya mengendalikan seorang zombie penakut bernama Davy yang berpindah-pindah lapisan dunia dengan cara masuk ke dalam kloset, semata-mata demi menyelamatkan seorang wanita beku yang ia cintai meskipun mereka tidak pernah saling berbicara.
Di balik premis yang nyeleneh tersebut, terdapat mekanisme action RPG yang langsung memikat perhatian saya. Menjelang akhir sesi penjelajahan dungeon di versi demonya, saya merasa sudah tidak sabar menantikan perilisan versi penuhnya yang dijadwalkan meluncur di PC dan PS5 pada 21 Oktober 2026.
Semakin lama saya memainkannya, semakin kuat pula ingatan saya pada dua judul game lain. Yang pertama adalah Persona, berkat gaya visual kuat yang begitu ikonis bagi para penggemar karya-karya Atlus. Selain itu, elemen pertarungannya sangat kental dengan nuansa Devil May Cry—sebuah kemiripan yang wajar mengingat pengembang GPTRACK50 juga diisi oleh para developer yang pernah terlibat dalam seri tersebut. Stupid Never Dies pada akhirnya tetap memiliki identitasnya sendiri, memadukan gaya khas Persona dan DNA pertarungan Devil May Cry dengan cara yang sangat menyenangkan.
Dunia yang Dikuasai Monster dan Kisah Cinta yang Absurd
Dunia dalam Stupid Never Dies tidak selalu dikuasai oleh para monster. Dahulu, manusia memegang kendali di permukaan bumi sementara berbagai makhluk dari cerita rakyat dan film hidup berdampingan dengan mereka. Namun, manusia akhirnya mendominasi dan membasmi para monster, atau memperlakukan mereka sebagai tontonan aneh. Golongan zombie mengalami nasib yang paling buruk karena dianggap tidak berguna akibat gerakan mereka yang lambat dan sangat mudah dikalahkan.
Segalanya berubah ketika Raja Monster, KOM, memimpin pasukan untuk menyerang umat manusia hingga nyaris memusnahkan ras tersebut. Selepas perang itu, para monster menghilang dari permukaan dan menyisakan para zombie. Di titik inilah kisah Davy dimulai. Pada awalnya, Davy sama sekali tidak peduli pada nasib umat manusia dan tidak berniat menjadi pahlawan, sampai akhirnya Dr. Frank Steiner memberikannya sebuah alasan untuk peduli.
Davy jatuh cinta kepada seorang wanita manusia beku yang hanya ia panggil sebagai kekasihnya, kendati ia tidak mengetahui nama wanita itu dan belum pernah sekalipun bercakap-cakap dengannya. Ia hanya tahu bahwa wanita tersebut menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam kondisi beku di sebelah makamnya, dan ia bertekad untuk membangkitkannya kembali. Ketika Frank memberitahu bahwa KOM mungkin memiliki kekuatan yang diperlukan untuk membangkitkan sang wanita, motivasi Davy langsung berubah. Dari yang tadinya enggan menjelajahi dungeon, ia kini dengan sukarela menerobosnya berulang kali.
Tidak lama kemudian, ia juga tidak sengaja memakan sebuah Phoenix Egg yang memberinya kemampuan untuk menelan inti monster dan menyerap kekuatan di dalamnya. KOM konon mendapatkan kekuatan luar biasa melalui metode serupa, sehingga tujuan Davy menjadi sangat jelas ke depannya. Jika ia terus memakan monster-monster yang lebih kuat, pada akhirnya ia mungkin memiliki kekuatan yang cukup untuk menelan KOM.
Harus diakui bahwa cerita dalam demo ini terasa semakin menarik menjelang akhir, betapapun konyolnya premis tersebut. Para karakternya tampil sangat eksentrik, didukung oleh pengisian suara yang meyakinkan serta animasi yang ekspresif. Dunianya pun terasa mudah untuk dinikmati berkat atmosfer serta presentasi visual yang begitu berkesan. Saya pribadi tidak menyangka akan menikmati aspek naratifnya sebegitu rupa, dan meskipun ceritanya sangat absurd, hal tersebut justru membuat saya menginginkan lebih.








