Home / Washitsu: Ruang Tradisional Jepang untuk Tamu, Keluarga, atau Waktu Sendiri dengan Berbagai Fungsi

Washitsu: Ruang Tradisional Jepang untuk Tamu, Keluarga, atau Waktu Sendiri dengan Berbagai Fungsi

Mengenal Washitsu, Ruang Tradisional Jepang yang Fleksibel

Saat berkunjung ke museum kota di Takanezawa, prefektur Tochigi, saya sempat melihat replika rumah tradisional Jepang. Pintu geser di sana terbuka dan menampakkan bagian doma, yaitu area pintu masuk berlantai tanah keras sebelum kita melangkah naik ke lantai utama rumah. Dinding interiornya yang tipis terbuat dari kertas dan bambu, sementara lantai kayu yang mengilap dilapisi tikar tatami yang terbuat dari jerami padi dan diikat dengan kain. Di antara ruangan-ruangan yang sederhana tersebut, terdapat satu ruangan yang hanya berisi meja kayu dan sekuel layar sutra yang tertata di atas lantai bagaikan batu halus di kolam yang tenang. Suasana ruangan tersebut sangat indah, nyaman, dan menenangkan. Saya mengetahuinya secara langsung karena saya cukup beruntung memiliki ruangan serupa di rumah saya sendiri.

Fitur utama dalam arsitektur tradisional Jepang ini dikenal dengan sebutan washitsu, atau yang berarti ruang bergaya Jepang. Washitsu adalah ruangan terbuka yang tidak memiliki fungsi khusus yang kaku. Ruangan ini menggunakan lantai tatami, pintu geser fusuma, serta sebuah tokonoma atau ceruk dinding. Alih-alih menggunakan dinding permanen dan pintu satu titik, washitsu membiarkan cahaya dan udara mengalir dengan bebas, di mana fungsi ruangan ditentukan sepenuhnya oleh kebutuhan penghuninya. Singkatnya, washitsu dapat menjadi apa pun sesuai keinginan Anda.

Nama lain untuk washitsu:

日本間(にほんま)
Nihonma (ruangan bergaya Jepang)
座敷(ざしき)
Zashiki (ruangan tatami)
茶室(ちゃしつ)
Chashitsu (ruangan teh)

Elemen Pembentuk Washitsu

Sebuah washitsu sejati umumnya dibangun dari tiga elemen tradisional utama:

  • lantai yang terbuat dari tikar tatami
  • pintu geser ringan yang disebut shoji
  • tokonoma yang menyatu dengan dinding
shoji tatami tokonoma

Ketiga unsur ini wajib ada agar ruangan dapat disebut sebagai washitsu yang autentik. Namun, seiring dengan peralihan material bangunan rumah modern di Jepang dari kayu dan bambu menjadi baja serta keramik, elemen-elemen tradisional pada washitsu pun ikut mengalami perkembangan.

Tikar Tatami

Saat ini, tikar tatami diproduksi secara massal menggunakan bahan sintetis yang mampu meniru tekstur tatami tradisional, namun memiliki ketahanan lebih baik terhadap risiko aus, perubahan warna akibat sinar matahari, dan pembusukan. Berkat inovasi ini, masyarakat dapat memilih beragam variasi warna yang tidak pernah ada pada ratusan tahun silam. Setiap warna mewakili nuansa tersendiri: hijau tua mencerminkan kesegaran layaknya warna tatami saat jerami padinya masih menyimpan pigmen asli; warna kuning keemasan menyerupai tatami di masa kejayaannya; hingga warna cokelat muda lembut yang memberikan kesan klasik dan hangat dari jerami tua.

Dulu hingga sekarang, tatami selalu dibuat dengan ukuran yang presisi dan seragam, meski standarnya dapat berbeda di setiap wilayah. Kendati demikian, rasio panjang dan lebar tatami di berbagai daerah tetap konsisten pada perbandingan 2:1. Karena standarisasinya yang sangat akurat, masyarakat Jepang sering kali mengukur luas sebuah rumah dengan menghitung jumlah lembar tatami di dalamnya. Di kediaman saya, ruangan yang memiliki 4,5 lembar tatami biasa disebut sebagai yojouhan.

Shoji

Komponen shoji juga telah mendapatkan pembaruan. Material dasarnya masih mempertahankan kertas dan kayu, tetapi kini kualitas bahan tersebut jauh lebih kuat; jenis kertasnya lebih serbaguna dan rangkian kayunya lebih fleksibel. Model shoji modern bahkan dirancang mampu melewati tikungan sudut ruangan serta dapat dilipat saat tidak digunakan. Beberapa jenis shoji juga dilengkapi tirai penutup guna meredam cahaya matahari dan memberikan privasi lebih dibandingkan pintu kertas beras tradisional.

Tokonoma

Bagian tokonoma berfungsi sebagai pusat perhatian di dalam washitsu, mirip seperti rak perapian pada ruang tamu rumah barat. Tokonoma merupakan ceruk yang menjorok ke dalam dinding dengan bagian lantai yang ditinggikan sekitar empat hingga lima inci, biasanya dimanfaatkan untuk memajang tanaman bunga hias serta barang berharga keluarga seperti pedang antik, piala penghargaan, foto keluarga, atau jimat pelindung. Kendati demikian, ratusan tahun lalu tokonoma adalah ruang spiritual yang sangat formal untuk meletakkan gulungan lukisan gulung (*kakemono*) serta tempat membakar dupa.

Washitsu: Tiga Fungsi dalam Satu Ruangan

three rooms

Di negara-negara Barat, rumah konvensional umumnya dibangun dengan ruangan yang masing-masing memiliki peruntukan khusus, seperti ruang makan, ruang keluarga, kamar anak, kamar tidur, hingga ruang kerja. Sebaliknya, rumah tradisional Jepang dirancang dengan prinsip yang berkebalikan. Ruangan-ruangan di dalamnya sengaja dibuat tanpa perabotan permanen atau elemen apa pun yang membatasi fungsi ruangan tersebut. Sebagai gantinya, perabotan akan dimasukkan sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan harian atau pergantian musim. Walau demikian, tren ini mulai bergeser belakangan ini. Seiring masuknya perabotan yang lebih besar dan berat serta fasilitas modern seperti televisi dan komputer, rumah-rumah di Jepang mulai menyerupai hunian barat dengan pembagian fungsi ruang yang jelas—kecuali pada ruangan washitsu.

Washitsu tetap mempertahankan fleksibilitas warisan leluhurnya dan masih diandalkan oleh banyak keluarga di Jepang sebagai ruangan multiguna yang dapat dengan cepat diubah fungsinya untuk berbagai keperluan. Secara umum, washitsu modern biasanya menjalankan tiga fungsi utama di dalam rumah:

  • ruangan untuk menyambut tamu
  • ruangan berkumpul keluarga
  • ruangan fungsional untuk beraktivitas

Bahkan, dalam waktu bersamaan, sebuah washitsu sering kali digunakan untuk ketiga fungsi tersebut sekaligus.

Ruang Tamu

room with tea table

Bayangkan suasana menjelang siang pada tanggal 1 Januari. Salju menutupi halaman luar dan sekilas rumah tampak begitu dingin serta sunyi. Namun, saat Anda menyusuri lorong melewati kamar tidur dan kamar mandi, terdengar suara televisi yang menyala diiringi gelak tawa perbincangan yang hangat. Pintu shoji bergeser terbuka dan menampilkan sosok seorang nenek bersama saudara-saudaranya yang duduk santai di atas bantalan empuk mengelilingi sebuah meja kecil berlapis selimut hangat.

Teko teh, camilan, serta berbagai hidangan khas perayaan osechi ryōri tertata rapi di atas meja. Setumpuk kartu permainan dan aneka mainan tersusun di sepanjang dinding di belakang tempat duduk mereka, siap dimainkan oleh para anggota keluarga yang menunggu jeda perbincangan.

Di dalam washitsu rumah saya sendiri, pemandangan seperti ini rutin terjadi setiap tahun. Bukan hanya bibi-bibi buyut saja yang datang berkunjung; perayaan Tahun Baru di Jepang merupakan momen sakral yang erat dengan tradisi keluarga, sehingga liburan selama empat hari tersebut selalu dipenuhi oleh kedatangan para tamu, hidangan lezat, dan siaran khusus di televisi. Semua tamu yang datang secara alami akan berkumpul menuju ruangan washitsu.

Bagian tengah ruangan umumnya ditempati oleh kotatsu, yaitu meja rendah yang dilengkapi pemanas internal dan selimut tebal yang dijepit di antara kerangka pemanas dan daun meja. Di rumah saya, kotatsu ini dirancang secara khusus agar pas dengan struktur washitsu—atau justru sebaliknya, washitsu saya yang dibangun menyesuaikan ukuran kotatsu. Terdapat sebuah cekungan lantai yang cukup dalam di bawah kotatsu saya, sehingga meja tersebut dapat dilipat dan disimpan di dalam lantai saat musim panas tiba guna memberikan lebih banyak ruang gerak. Sebaliknya pada musim dingin, keberadaan cekungan ini sangat membantu anggota keluarga yang tidak terbiasa duduk bersila dalam waktu lama, karena mereka dapat duduk di atas tatami sambil menjuntai-kan kaki ke bawah layaknya duduk di kursi biasa.

Keberadaan mizuya douko semakin mempertegas fungsi washitsu sebagai area utama untuk menerima tamu.

Meja kotatsu rendah ini menjadi titik sentral ruangan yang menciptakan atmosfer akrab untuk menjamu para tamu. Kedekatan yang terjalin saat duduk bersama menikmati kehangatan dan makanan di ruang yang relatif ringkas ini memberikan kesan awal tahun yang sangat berkesan.

Kendati demikian, ada satu elemen tradisional yang tidak terdapat di rumah saya, yakni mizuya douko. Secara historis, mizuya douko merupakan fasilitas yang lazim dijumpai pada ruang upacara teh berupa lemari tanam di dinding untuk menyimpan seluruh perlengkapan penyajian teh bagi para tamu. Meskipun saya memilih untuk tidak memasangnya ketika membeli rumah baru, keberadaan mizuya douko tetap merefleksikan fungsi dasar washitsu sebagai tempat untuk menyambut tamu kehormatan.

Kombinasi berbagai elemen inilah—baik yang bersifat permanen maupun perabotan lepas seperti kotatsu—yang menjadikan washitsu modern sebagai ruang penerima tamu yang sempurna.

Ruang Keluarga

family room

Pertama kali saya berkenalan dengan mendiang mertua saya, saya dipersilakan masuk ke dalam washitsu sebagai seorang tamu. Seiring berjalannya waktu dan hubungan kami yang semakin akrab, ruangan tersebut bertransformasi menjadi ruang keluarga bagi saya. Beliau sangat bangga memperlihatkan berbagai benda pusaka dan kenang-kenangan keluarga yang terkumpul dari masa ke masa, seperti boneka keberuntungan daruma tahunan, foto istri saya saat berusia tiga tahun dalam balutan busana perayaan shichi-go-san, hingga suvenir perjalanan dari Kyoto dan Osaka.

Beberapa tahun berselang setelah mertua saya wafat, kami menambahkan elemen baru di dalam washitsu tersebut, yaitu butsudan, sebuah altar Buddha rumahan untuk mengenang dan menghormati leluhur yang telah tiada.

Dua hal yang paling sering mendominasi washitsu sebagai ruang keluarga adalah koleksi foto dan altar keagamaan. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, washitsu keluarga mertua saya dihiasi foto masa kecil istri saya saat merayakan shichi-go-san. Didorong oleh tradisi upacara kedewasaan, kelulusan, pernikahan, serta kemudahan mengambil foto lewat kamera ponsel pintar saat ini, dokumentasi potret keluarga menjadi jauh lebih populer dari sebelumnya.

Dua hal yang paling sering mendominasi washitsu sebagai ruang keluarga adalah koleksi foto dan altar keagamaan.

Berbeda dengan tata letak rumah di negara barat, interior rumah di Jepang umumnya jarang menghiasi dinding dengan banyak pajangan. Hal ini dipengaruhi oleh pertimbangan estetika desain sekaligus faktor material konstruksi bangunan tradisional. Dahulu, bingkai foto digantung miring menggunakan tali panjang agar lebih mudah dilihat oleh orang yang duduk di lantai. Kendati demikian, jarang sekali ditemukan lebih dari satu atau dua bingkai foto terpajang di dinding dalam satu ruangan.

Kini, seiring bertambahnya jumlah foto seremonial dan dokumentasi potret kehidupan yang kian pesat, sebagian besar toko perabotan mulai menjual unit rak khusus yang aman bagi tatami agar tidak menimbulkan goresan atau kerusakan, lengkap dengan beragam pilihan bingkai foto di sekitarnya. Rak-rak tersebut memungkinkan keluarga memamerkan momen berharga mereka, mirip seperti galeri foto lorong di rumah-rumah barat.

Selain deretan foto, washitsu juga sering dijadikan tempat utama untuk memajang atribut keagamaan, termasuk jimat keberuntungan yang dibeli saat Tahun Baru guna mendatangkan berkah kesehatan dan perlindungan. Di ruang washitsu mendiang mertua saya, contohnya, terdapat kamidana—sebuah altar kecil pemujaan bagi arwah Shinto—yang diletakkan di bagian atas dinding agar roh pelindung (*kami*) dapat mengawasi siapapun yang berada di bawahnya. Berbagai suvenir keberuntungan lainnya diletakkan di antara bingkai foto, di atas televisi, atau memenuhi ambang jendela yang tersisa. Meskipun saya tidak memasang kamidana di rumah saya, saya tetap rutin membeli beberapa jimat keberuntungan setiap tahunnya dan menempatkannya di washitsu demi memohon keselamatan bagi keluarga.

Dengan demikian, sejarah keluarga dan tradisi spiritual dipamerkan di dalam washitsu sebagai fungsi ruang keluarga. Namun, aktivitas apa sajakah yang lazim dilakukan di sana? Di samping kegiatan santai khas ruang keluarga seperti menonton televisi, membaca buku, atau bermain kartu, ruangan ini juga menjadi tempat berdoa. Berbagai persembahan diletakkan di atas butsudan maupun kamidana, lonceng kecil dibunyikan, dupa dibakar, dan doa-doa dipanjatkan. Melalui cara inilah, di tengah deretan foto kenangan dan jimat perlindungan, masyarakat Jepang memanfaatkan washitsu sebagai sarana mengenang leluhur serta menghormati para leluhur di sekitar mereka.

Ruang Fungsional

room with artist

Ketersediaan ruang di Jepang sering kali sangat terbatas. Ruang khusus untuk melukis, berlatih alat musik, atau sekadar merebahkan diri dengan leluasa amat sulit ditemukan di kebanyakan rumah modern. Sekalipun Anda memiliki luas bangunan yang memadai, menemukan area kosong yang bebas dari televisi, sofa, dan gangguan anggota keluarga lainnya bukanlah hal mudah. Di sinilah washitsu mengambil peran penting.

Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, meja kotatsu saya dapat dilipat dan dimasukkan ke dalam cekungan di bawah lantai tatami, membuat seluruh ruangan bersih tanpa perabotan apa pun. Setelah kotatsu disingkirkan, ruangan ini berubah menjadi ruang terbuka yang lapang tanpa perabot lain kecuali butsudan yang tersimpan rapi di dalam tokonoma, serta dinding yang bersih dari hiasan. Hanya ada hamparan warna hijau dan kuning jerami tempat Anda bisa leluasa melakukan apa saja.

Itulah inti dari konsep ruangan ini. Ingatlah bahwa rumah tradisional Jepang pada mulanya hanyalah deretan ruang tatami dengan perabotan fleksibel yang mudah dilipat dan dipindahkan, serta garis desain bersih yang membuat dekorasi minimalis tampak semakin menonjol. Dengan mempertahankan kondisi washitsu modern tetap fleksibel, setiap keluarga dapat mengoptimalkan ruang yang terbatas sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka.

Sekalipun Anda memiliki luas bangunan yang memadai, menemukan area kosong… bukanlah hal mudah. Di sinilah washitsu mengambil peran penting.

Di antara lingkaran pertemanan, keluarga, dan kenalan saya, washitsu kerap difungsikan untuk berbagai keperluan praktis berikut:

  • Ruang bermain anak – ah, kebetulan ruangan ini milik saya. Washitsu kami saat ini dialihfungsikan sebagai kamar mainan anak. Praktis, melupakan kesan minimalis sejenak.
  • Ruang musik – pilihan yang sangat populer. Berbagai jenis gitar, alat musik tiup logam, dan kayu dapat dimasukkan ke dalam washitsu sebagai area latihan yang memadai.
  • Studio seni – mirip seperti ruang musik, washitsu sering dimanfaatkan sebagai tempat menggambar dan kegiatan fotografi.
  • Ruang baca – rak perpustakaan khusus dapat dipasang di dalam lemari dinding dan tokonoma, sehingga area lantai tatami dan dinding tetap lapang untuk menaruh bantal duduk.
  • Ruang makan – fungsi ini sangat lazim, di mana tersedia beragam meja makan khusus dan kursi lipat yang aman digunakan di atas permukaan tikar tatami tanpa merusaknya.

Daftar pemanfaatannya terus berlanjut. Ketika mengenang rumah-rumah tempat saya tinggal di Amerika Serikat maupun kediaman kerabat yang pernah saya kunjungi, sulit bagi saya menemukan ruangan kosong yang dibiarkan tanpa fungsi tetap sehingga penghuninya bebas menentukan penggunaannya sewaktu-waktu. Bagi saya, di sinilah letak daya tarik terbesar dari washitsu: justru karena tidak didefinisikan secara kaku, ruangan ini menjadi sangat fleksibel bagi siapa saja yang ingin memanfaatkannya.

Eksistensi yang Terus Bertahan

Hingga kini, washitsu tetap mempertahankan popularitasnya di Jepang. Dalam tulisan saya sebelumnya di Tofugu mengenai pencarian rumah di Jepang, saya sempat membahas kompleks perumahan contoh (*model home plaza*) yang banyak dijumpai di sana. Setiap rumah contoh yang saya kunjungi di tiga lokasi berbeda (sekitar 20 rumah jika saya tidak keliru) terbukti selalu menyertakan washitsu di dalamnya, bahkan beberapa di antaranya memiliki dua atau tiga ruangan sekaligus untuk memamerkan opsi kustomisasi yang ditawarkan oleh pengembang.

Sebagai contoh, terdapat satu fitur kustomisasi khusus di washitsu rumah saya yang tidak umum dan bukan bagian dari tradisi klasik: lantai ruangannya sengaja ditinggikan sekitar satu kaki dari lantai rumah lainnya, di mana seluruh rongga bawah lantai tersebut dimanfaatkan sepenuhnya sebagai laci dan ruang penyimpanan. Fitur ini sangat membantu mengingat fungsi washitsu di rumah saya saat ini digunakan sebagai ruang bermain anak!

Dengan kata lain, meskipun washitsu merupakan puncak dan intisari dari perjalanan ratusan tahun arsitektur serta budaya Jepang, ruangan ini terus beradaptasi dan berkembang. Washitsu senantiasa bertransformasi guna menjawab kebutuhan zaman dari para pemiliknya. Baik difungsikan sebagai studio latihan, tempat menjamu tamu, ataupun sekadar area lapang serbaguna, pesona washitsu yang elegan dan sederhana akan terus menjadi bagian integral dari rumah-rumah di Jepang untuk waktu yang sangat lama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *