“I feel uncertain as the days pile on, and yet, I think of crossing the Shirakawa Barrier.”
— Matsuo Basho
Bagi para pelancong yang ingin menjelajahi sisi lain Jepang yang jarang dijamah turis asing, wilayah Shirakawa di Prefektur Fukushima menawarkan pesona sejarah yang sangat kaya. Meskipun namanya mirip dengan desa UNESCO Shirakawa-go di Prefektur Gifu, Shirakawa yang satu ini memegang peranan penting sebagai gerbang utama menuju wilayah Tohoku di bagian utara Jepang sejak zaman kuno.
Sejarah kawasan ini berawal dari Periode Nara (710–794) ketika benteng pertahanan didirikan untuk membatasi wilayah kekuasaan Yamato dan Suku Emishi di utara. Berada di jalur strategis Oshu Kaido, kota benteng ini telah lama menjadi pusat kendali politik yang krusial. Walaupun mungkin bukan destinasi utama yang wajib dikunjungi secara khusus, Shirakawa sangat ideal sebagai tempat singgah bagi wisatawan yang memegang tiket JR East Pass (Tohoku Area) menuju destinasi utara lainnya.
Cara Menuju ke Sana
Perjalanan ke Shirakawa di bagian selatan Prefektur Fukushima tergolong cukup mudah. Anda dapat menaiki kereta Tohoku Shinkansen menuju Sendai, meskipun perlu dicatat bahwa tidak semua kereta cepat berhenti di Stasiun Shin-Shirakawa. Jadwal perjalanan dapat dicek dengan mudah menggunakan layanan seperti Jorudan.
Tantangan logistik utamanya terletak pada jarak antar-objek wisata yang cukup berjauhan di sekitar Shirakawa. Karena jadwal kereta lokal yang cukup jarang, banyak pelancong memilih berjalan kaki dari Stasiun Shin-Shirakawa menuju pusat kota karena seringkali lebih efisien daripada menunggu kereta lokal ke Stasiun Shirakawa.
Untuk urusan akomodasi, bermalam di area pegunungan Nasu Highlands yang berada di dekatnya atau langsung melanjutkan perjalanan ke Sendai seringkali menjadi pilihan yang lebih menarik dibandingkan menginap di pusat kota Shirakawa.
Kawasan Kastil Komine

Berdiri megah di atas bukit yang menghadap ke bekas kota kastil, Kastil Komine merupakan ikon utama Shirakawa. Pertama kali dibangun pada tahun 1340 oleh Klan Yuki dan kemudian direkonstruksi pada Periode Edo (1603–1868) di bawah kepemimpinan Niwa Nagashige, benteng ini memegang peranan vital dalam mengawasi arus perjalanan di sepanjang jalur Oshu Kaido. Meski sempat mengalami kerusakan akibat Perang Boshin dan gempa bumi, upaya restorasi telah mengembalikan kejayaan arsitektur kayunya.
Suasana di Kastil Komine terasa jauh lebih tenang dan intim jika dibandingkan dengan kastil-kastil populer seperti Osaka atau Himeji. Pengunjung dapat menyusuri area benteng dan dinding batu yang telah dipugar dengan leluasa. Tempat ini juga menawarkan pemandangan lanskap Shirakawa yang memukau, terutama saat musim semi tiba dan bunga sakura mulai bermekaran di sekitar area benteng.
Taman Nanko & Suiraku-en

Tidak jauh dari pusat kota Shirakawa terdapat Taman Nanko, yang dikenal sebagai salah satu taman publik tertua di Jepang. Dibangun pada tahun 1801 oleh seorang daimyo era feodal bernama Matsudaira Sadanobu, taman ini dirancang dengan memadukan prinsip lanskap tradisional Jepang yang harmonis, lengkap dengan danau buatan, jalur jalan kaki yang rindang, serta kedai teh.
Salah satu daya tarik utamanya adalah Suiraku-en, sebuah taman tradisional di dalam area Taman Nanko yang menampilkan keindahan estetika khas Jepang seperti kolam ikan koi, air terjun mini, dan jalan setapak batu yang tertata rapi. Tempat ini menawarkan suasana damai yang memanjakan mata di setiap musim, mulai dari hijaunya musim panas hingga warna-warni daun mapel di musim gugur.
Shirakawa-no-Seki

Situs bersejarah lain yang tidak kalah penting adalah Shirakawa-no-Seki, sebuah pos pemeriksaan kuno yang berfungsi sebagai batas fisik dan simbolis antara wilayah Yamato dan Suku Emishi di masa lalu. Sebagai salah satu dari “Tiga Perbatasan Kuno” di Jepang yang telah ada sejak abad ke-8, pos pemeriksaan ini mengatur mobilitas manusia dan barang dari wilayah tengah ke utara.
Kini, kawasan tersebut menjelma menjadi area yang tenang dan penuh nilai sejarah. Kuil Shinto kecil bernama Kuil Shirakawa berdiri di tengah hutan yang rimbun, dikelilingi oleh jalur pejalan kaki yang asri serta berbagai monumen batu bersejarah. Tempat ini memberikan kesempatan langka bagi para pelancong untuk mengenang perjalanan para pesohor masa lalu, termasuk penyair haiku Matsuo Basho yang pernah melintasi perbatasan ini.
Pusat Properti Budaya Prefektur Fukushima

Bagi wisatawan yang ingin mendalami sejarah kawasan ini lebih jauh, Pusat Properti Budaya Prefektur Fukushima di Shirakawa merupakan lokasi yang wajib dikunjungi. Museum ini menyimpan berbagai temuan arkeologi penting, mulai dari artefak tembikar kuno hingga alat-alat yang digunakan oleh masyarakat setempat pada masa lampau.
Pameran di pusat budaya ini berfokus pada sejarah Perbatasan Shirakawa serta perkembangannya sebagai pintu gerbang menuju Tohoku. Melalui berbagai model diorama dan pameran interaktif, pengunjung dapat memahami peran strategis wilayah ini dalam sejarah peradaban Jepang dengan lebih komprehensif.
Atraksi Menarik di Sekitar Shirakawa

Sebagai titik awal perjalanan menuju wilayah Tohoku, Shirakawa juga dikelilingi oleh berbagai destinasi alam yang menarik di sekitarnya. Salah satu rekomendasi terbaik bagi wisatawan yang ingin bersantai adalah mengunjungi Pegunungan Nasu di sebelah selatan Shirakawa.
Di kawasan pegunungan tersebut, terdapat objek wisata Sessho-seki atau yang dikenal sebagai “Batu Pembunuh”. Konon, bongkahan batu ini berkaitan dengan legenda siluman rubah ekor sembilan bernama Tamamo-no-Mae. Selain kisah folklornya, area ini juga terkenal dengan pemandangan alamnya yang menawan serta tradisi pemandian air panas.
Bagi pelancong yang mencari pengalaman menginap otentik, Kita Onsen Ryokan di wilayah Nasu menawarkan penginapan tradisional dengan bangunan yang sebagian besar berasal dari abad ke-19. Penginapan bersejarah ini sangat cocok disinggahi setelah lelah menjelajahi jejak-jejak sejarah di kota benteng Shirakawa.








