Home / Travel / Jalan-Jalan ke Utsunomiya: Menikmati Gyoza Lezat & Kompleks Kuil Oya-ji

Jalan-Jalan ke Utsunomiya: Menikmati Gyoza Lezat & Kompleks Kuil Oya-ji

The Main Temple Building of Oya ji

Prefektur Tochigi sering kali menjadi tujuan utama bagi wisatawan mancanegara. Wilayah di Jepang ini terkenal akan keindahan taman nasional serta sejumlah situs Warisan Dunia UNESCO. Kendati demikian, ketika membahas kota utama Prefektur Tochigi yaitu Utsunomiya, kebanyakan pelancong justru langsung melanjutkan perjalanan ke destinasi populer seperti Nikko dan Kinugawa Onsen. Meskipun hal tersebut sangat wajar mengingat daya tarik kedua tempat tersebut, Utsunomiya sebenarnya layak mendapatkan perhatian lebih. Diharapkan setelah membaca artikel ini, Anda dapat mempertimbangkan untuk meluangkan sedikit waktu guna menjelajahi kawasan yang kerap terlewatkan ini.

Sejarah Utsunomiya telah berakar sejak masa lampau. Konon, wilayah ini telah dihuni manusia sejak periode Jomon (14.000–300 Sebelum Masehi). Catatan tertulis tertua menunjukkan bahwa kota ini berkembang di sekitar Kuil Utsunomiya Futarasan yang menjadi pusatnya. Situs ini kabarnya didirikan pada tahun 353 Masehi, menjadikan Utsunomiya berusia lebih dari 1.600 tahun. Berdasarkan berbagai catatan sejarah, kawasan ini sempat dikuasai oleh salah satu cabang klon Fujiwara yang berpengaruh sebelum akhirnya dihancurkan oleh Toyotomi Hideyoshi, salah satu tokoh pemersatu Jepang. Setelah periode tersebut, Utsunomiya berkembang menjadi simpul penting yang menghubungkan Tokyo (yang dahulu bernama Edo) dengan Nikko.

Walaupun kini telah bertransformasi menjadi kota industri modern, ibu kota Prefektur Tochigi ini memiliki keterkaitan yang kuat dengan industri penambangan. Secara khusus, batu Oya lokal—yang dinamai sesuai nama kompleks Kuil Oya-ji yang kuno—telah lama sangat dihargai dan digunakan dalam berbagai bangunan di seluruh Jepang. Dikenal memiliki kualitas estetika yang tinggi, material ini merupakan batuan tangguh yang tersusun dari endapan vulkanik berbutir halus. Karakteristik tersebut membuat batu Oya tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga sangat tahan terhadap panas. Saat ini, batu Oya banyak dimanfaatkan untuk menciptakan berbagai dinding dekoratif, fasad yang unik, serta seni pahat yang memukau.

Peran penting batu Oya di masa lalu kini berdampingan dengan ikon kuliner baru yang membuat Utsunomiya terkenal, yaitu gyoza. Dumpling berukuran kecil ini berisi daging atau sayuran, dan disajikan dengan cara digoreng, direbus, atau dipanggang. Di seluruh penjuru Utsunomiya, Anda dapat menemukan tak terhitung banyaknya restoran yang mengkhususkan diri menyajikan gyoza. Dengan berbagai pilihan lezat yang disajikan selagi panas, tidak heran jika Utsunomiya tercatat sebagai salah satu kota dengan tingkat konsumsi gyoza per kapita tertinggi. Kota ini bahkan sering bersaing dengan Hamamatsu di Prefektur Shizuoka dalam memperebutkan gelar juara gyoza.

Kisah bagaimana Utsunomiya begitu jatuh cinta pada gyoza sangatlah menarik. Menurut catatan sejarah, para tentara Jepang yang kembali usai Perang Dunia II membawa resep hidangan ini dari daratan Cina. Tidak lama berselang, para veteran perang tersebut mulai mendirikan kedai makan mereka sendiri di Utsunomiya. Sejak saat itu, popularitas gyoza melonjak dengan pesat. Kecintaan warga terhadap hidangan ini begitu mendalam hingga sebuah patung berbentuk gyoza setinggi 1,5 meter didirikan tepat di luar area stasiun kereta utama.

Cara Menuju ke Sana

Bagi para pelancong yang ingin mencari pengalaman di luar jalur wisata umum, mencapai Utsunomiya tergolong sangat mudah. Anda hanya perlu naik kereta Shinkansen dari Stasiun Tokyo menuju Stasiun Utsunomiya. Seluruh perjalanan memakan waktu sekitar empat puluh lima menit, namun pastikan untuk memeriksa jadwal keberangkatan melalui layanan informasi kereta seperti Jorudan. Walaupun frekuensi kereta ke arah utara dari Stasiun Tokyo cukup memadai, jadwalnya tidak sesering kereta yang menuju Kyoto dan Osaka. Luangkan waktu sejenak untuk merencanakan rute perjalanan Anda agar lebih efisien.

Mengingat lokasinya yang dekat dengan Nikko, Utsunomiya sangat ideal untuk dikunjungi dalam rangkaian perjalanan ziarah atau wisata ke sana. Oleh karena itu, disarankan untuk memulai perjalanan lebih awal agar Anda sempat menikmati berbagai objek wisata di Utsunomiya sebelum melanjutkan perjalanan. Jika Anda tidak berencana menikmati bir dingin dan gyoza hingga larut malam, sebagian besar keindahan Utsunomiya dapat dijelajahi dalam waktu sekitar setengah hari. Kendati demikian, tantangan utama di sini adalah masalah transportasi. Meskipun tersedia layanan bus, jalur kereta yang ada tidak menjangkau objek-objek wisata utamanya secara langsung. Jika memungkinkan, disarankan untuk menyewa kendaraan pribadi atau menggunakan taksi. Walaupun biayanya cukup tinggi, opsi ini jauh lebih praktis daripada harus pusing memahami rute bus lokal.

Alternatif lainnya adalah menyewa jasa taksi seharian penuh. Bagi wisatawan yang tidak dapat mengendarai kendaraan sendiri, cara ini bisa menjadi solusi yang sangat baik. Namun, Anda mungkin perlu mengatasi kendala bahasa saat melakukan pemesanan. Jika merasa kurang percaya diri dengan kemampuan berbahasa Jepang, Anda bisa meminta bantuan petugas di pusat informasi pariwisata yang berada di Stasiun Utsunomiya untuk melakukan reservasi. Mereka tentu sudah terbiasa membantu para pelancong asing yang ingin menjelajahi kawasan ini hingga ke Nikko.

Tempat Menarik di Utsunomiya

The oldest stone Buddha in Japan at Oya-ji temple in Tochigi Prefecture’s Utsunomiya City

Selain mencicipi berbagai hidangan gyoza, terdapat banyak objek wisata menarik di dalam kota Utsunomiya dan kawasan sekitarnya. Namun, akses menuju destinasi tersembunyi ini terkadang cukup menantang. Selain itu, sebagian besar lokasi yang tercantum di bawah ini letaknya tersebar di berbagai sudut kota. Untuk dapat mengunjungi semuanya tanpa harus menunggu bus terlalu lama, moda transportasi pribadi sangat dianjurkan.

  • Oya-ji
    Kompleks kuil kuno ini merupakan alasan utama untuk mengunjungi Utsunomiya. Dibangun langsung di tebing batu Oya, Oya-ji adalah kuil bersejarah yang berasal dari awal tahun 800-an. Konon, kuil ini didirikan oleh biksu legendaris Kukai. Dalam salah satu perjalanannya, Kukai dikabarkan memahat sebuah patung batu besar dewa Kannon di tempat ini. Patung tersebut kini menjadi objek pemujaan utama di Oya-ji dan diakui sebagai pahatan Buddha berbahan batu tertua di Jepang. Bersama dengan sembilan pahatan relief Buddha lainnya, karya seni di Oya-ji telah ditetapkan sebagai Properti Budaya Penting Nasional.
  • Heiwa Kannon
    Terletak tidak jauh dari Oya-ji, Heiwa Kannon adalah monumen setinggi 27 meter yang didirikan pada tahun 1956 untuk mengenang para korban tewas pada Perang Dunia II. Berbeda dengan Oya-ji yang mengenakan biaya masuk, patung Heiwa Kannon berada di area terbuka dan dapat dikunjungi secara gratis.
  • Oya History Museum
    Gua buatan manusia yang sangat luas ini dulunya merupakan lokasi penambangan batu Oya yang mulai dikembangkan sejak periode Edo (1603–1868). Jaringan gua bawah tanah ini membentang lebih dari 20.000 meter persegi, dan sebagian besar area utamanya terbuka bagi para pengunjung yang ingin menjelajah. Pastikan untuk mengenakan pakaian hangat karena suhu di dalam gua jauh lebih dingin daripada di luar ruangan. Menariknya, museum sejarah ini juga sering disewakan sebagai tempat penyelenggaraan berbagai acara seperti konser, pernikahan, hingga pameran seni.
  • Utsunomiya Futarasan Shrine
    Kuil ini mungkin bukan destinasi utama yang membuat orang datang jauh-jauh ke Utsunomiya saat ini, namun perannya sangat vital bagi sejarah kota karena Utsunomiya lahir dan berkembang di sekitar kuil ini. Dari semua lokasi yang ada dalam daftar, tempat inilah yang paling mudah diakses dengan berjalan kaki dari Stasiun Utsunomiya.
  • Utsunomiya Castle Ruins Park
    Meskipun saat ini hanya tersisa reruntuhan dinding batunya saja, Benteng Utsunomiya memegang peran penting dalam sejarah Perang Boshin. Pasukan loyalis Tokugawa sempat mundur ke benteng ini dalam perjalanan mereka menuju Nikko dan Aizu-Wakamatsu. Benteng tersebut memang hancur dalam pertempuran berikutnya, namun area reruntuhannya kini telah ditata ulang dan diubah menjadi sebuah taman publik yang asri.

Selain lokasi-lokasi di atas, terdapat beberapa museum yang juga patut dipertimbangkan. Berdasarkan peta wilayah, Museum Prefektur Tochigi dan Museum Seni Prefektur Tochigi terletak relatif dekat dengan Kuil Utsunomiya Futarasan. Bagi para pecinta seni, menjelajahi informasi mengenai koleksi yang dipamerkan di museum-museum tersebut tentu akan menjadi tambahan agenda yang menarik.

Destinasi Wisata Lain di Sekitarnya

A row of many tengu masks within the main hall of Furumine Shrine in Togichi Prefecture.

Mengingat letaknya yang berada di jalur yang sama, Utsunomiya sangat pas dipadukan dalam rencana perjalanan menuju situs-situs suci di Nikko. Anda hanya perlu meluangkan waktu tambahan sekitar setengah hari untuk menikmati kuil Oya-ji, menyantap gyoza, dan menjelajahi sudut kota lainnya. Walaupun Nikko merupakan destinasi yang luar biasa, kawasan tersebut sudah sangat populer dan sering dipadati wisatawan. Sebagai rekomendasi penutup, terdapat satu tempat menarik di dekat sana yang dikenal sebagai Kuil Furumine. Tempat suci kuno ini terkenal karena memiliki koleksi topeng tengu yang sangat mengesankan, serta pemandangan alam sekitar yang luar biasa indah pada musim gugur.

Jika Anda berencana mengunjungi Kuil Furumine bersamaan dengan kunjungan ke Utsunomiya, Anda harus memulai perjalanan sejak pagi hari kecuali jika menggunakan kendaraan sewaan, mengingat jadwal bus yang cukup terbatas untuk mencakup kedua tempat tersebut dalam satu hari penuh.

Sampai jumpa pada perjalanan berikutnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *