Pernahkah Anda bertanya-tengah mengapa sebagian besar bunga sakura di Jepang selalu mekar secara bersamaan, biasanya pada akhir Maret atau awal April? Ternyata, ada alasan menarik di balik fenomena ini. Sebagian besar sakura yang kita lihat saat ini adalah jenis yang disebut Somei Yoshino. Dikenal dengan kelopaknya yang berwarna merah muda pucat, varietas inilah yang paling sering dibayangkan orang ketika memikirkan musim sakura di Jepang. Sayangnya, Somei Yoshino bukanlah warisan kuno dari masa lalu, melainkan ciptaan yang relatif baru yang muncul setelah periode Edo berakhir (1603–1868), seiring dengan masuknya Jepang ke era modern.
Meskipun masyarakat Jepang telah menikmati keindahan sakura selama berabad-abad, pohon-pohon di masa lampau bukanlah jenis Somei Yoshino. Dahulu, para samurai dan rakyat biasa menikmati berbagai macam varietas sakura liar. Mulai dari Shidare-zakura yang menjuntai hingga Yae-zakura yang kelopaknya berlapis-lapis, ada banyak sekali jenis sakura di Jepang, meski sayangnya banyak di antaranya yang kini mulai tersingkir oleh dominasi Somei Yoshino.
Bagaimana sebenarnya Somei Yoshino diciptakan? Secara singkat, setiap pohon dari varietas ini sebenarnya adalah klon. Tidak seperti sakura liar lainnya, Somei Yoshino dikembangbiakkan melalui proses penyambungan. Batang dari pohon yang sudah ada diambil dan ditempelkan pada batang bawah pohon lain, sehingga menghasilkan duplikat yang persis sama. Akibatnya, bunga sakura yang Anda saksikan di seluruh negeri tidak hanya mirip, tetapi memiliki susunan genetik yang identik, membuat mereka mekar secara bersamaan setiap tahunnya.
Kisah Somei Yoshino bermula di sebuah desa kecil di pinggiran Edo yang bernama Somei, yang kini merupakan wilayah Tokyo. Di sinilah para petani pembibit lokal mulai bereksperimen dengan berbagai varietas sakura hingga menghasilkan hibrida yang seragam, mudah dipasarkan, dan mekar secara bersamaan. Hasilnya bukan sekadar varietas pohon baru, melainkan sebuah bentuk musim semi yang dapat dikendalikan dan disebarluaskan.
Kekuatan Keseragaman Somei Yoshino

Keseragaman yang dimiliki Somei Yoshino dengan cepat menarik perhatian pemerintah. Pada awal periode Meiji (1868–1912), varietas ini diadopsi oleh pemerintah untuk memperkuat persatuan nasional. Konsep satu pohon yang mekar dengan cara yang sama di seluruh negeri sangat cocok dengan visi tersebut. Pohon-pohon Somei Yoshino mulai ditanam di sekolah-sekolah, area publik, dan situs-situs penting seperti Yasukuni Shrine.
Seiring dengan modernisasi Jepang, kalangan militer juga mulai mengadopsi bunga sakura sebagai simbol nilai-nilai mereka. Citra kelopak sakura yang gugur di puncak keindahannya merepresentasikan gagasan tentang kehidupan yang berakhir di masa mudanya demi sesuatu yang lebih besar. Gagasan ini ditanamkan dalam dunia pendidikan dan pelatihan militer, memberikan makna yang lebih mendalam pada pohon-pohon yang berjajar di ruang publik.
Perubahan ini dapat dilihat dengan jelas di Hirosaki Castle Park, yang kini dianggap sebagai salah satu tempat menikmati sakura terbaik di Jepang. Sebagian besar lanskap sakura di taman ini dikembangkan pada awal abad ke-20, pada masa ketika Somei Yoshino gencar dipromosikan. Tempat-tempat populer lainnya seperti Ueno Park dan terowongan sakura di sepanjang Sungai Hinokinai di Kakunodate juga merupakan hasil dari upaya penanaman massal pada masa itu.
Ekspansi Imperial Melalui Somei Yoshino

Pola penyebaran ini tidak berhenti di perbatasan Jepang saja. Seiring dengan ekspansi kekaisaran pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, pohon-pohon yang sama mulai bermunculan di berbagai wilayah di Asia seperti Korea, Taiwan, dan sebagian daratan China. Ditanam di lokasi-lokasi strategis seperti tepi jalan dan gedung pemerintahan, Somei Yoshino menjadi penanda kehadiran kekuasaan Jepang di tanah asing.
Bagi para tentara yang bertugas di luar negeri, pemandangan sakura berfungsi sebagai pengingat akan kampung halaman sekaligus memperkuat nilai-nilai persatuan dan pengorbanan. Kehadiran bunga sakura kloningan ini secara halus menegaskan rasa tertib, identitas, dan kontrol di wilayah-wilayah yang berada di bawah aturan kekaisaran.
Dibalik Keseragaman Somei Yoshino

Meskipun menyuguhkan pemandangan yang memukau saat mekar bersamaan, keseragaman genetik pada Somei Yoshino juga memiliki kelemahan. Karena merupakan klon, pohon-pohon ini kekurangan keragaman genetik yang biasanya melindungi populasi tanaman dari penyakit dan tekanan lingkungan. Hal ini membuat mereka menjadi lebih rentan seiring berjalannya waktu.
Saat ini, banyak pohon yang ditanam pada masa lalu mulai menunjukkan tanda-tanda penuaan. Di Kitakami Tenshochi Park di Prefektur Iwate, sebagian besar pohon telah mendekati atau bahkan melampaui usia satu abad, dengan batang yang mulai berlubang di bagian dalam. Para pejabat setempat kerap harus menghadapi tantangan untuk merawat atau menebang pohon yang sudah tidak lagi dapat diselamatkan.
Menjelajahi Lebih Jauh dari Somei Yoshino

Somei Yoshino sebenarnya hanya satu dari sekian banyak jenis sakura yang ada di Jepang. Musim sakura di Jepang juga berlangsung jauh lebih lama daripada periode mekarnya Somei Yoshino di akhir Maret hingga awal April. Di kota pemandian air panas Atami, misalnya, musim sakura bahkan sudah dimulai sejak bulan Januari.
Selain Atami-zakura yang mekar lebih awal, ada pula varietas Kawazu-zakura dengan warna merah muda cerah yang mekar pada pertengahan Februari. Anda dapat melihat pohon-pohon ini di Semenanjung Izu, serta di beberapa lokasi di Tokyo seperti Sakura Jingu dan Nishihirabatake Park.
Bagi yang mencari sakura asli Jepang, terdapat Yama-zakura, pohon liar yang telah tumbuh di pegunungan Jepang selama berabad-abad sebelum adanya praktik kloning. Salah satu tempat terbaik untuk menyaksikannya adalah di Mt. Yoshino di bagian selatan Nara Prefecture, di mana ribuan pohon tumbuh secara alami dengan variasi genetik yang unik.
Terakhir, tradisi menikmati keindahan sakura di Jepang sudah ada jauh sebelum era Somei Yoshino. Di berbagai penjuru negeri, terdapat pohon-pohon sakura yang usianya sudah sangat senja. Contohnya adalah Miharu Takizakura di Fukushima yang berusia lebih dari seribu tahun, serta Yamataka Jindai-zakura yang diyakini sebagai pohon sakura tertua di Jepang.








