Perjuangan Melawan Ketergantungan dan Jalur Ziarah Kumano Kodo
Selama beberapa tahun terakhir, Donny Kimball bergulat dengan kebiasaan minum alkohol di malam hari. Meskipun bukan seorang peminum berat pada masa lalu, tekanan pekerjaan sebagai pekerja lepas penuh waktu dan situasi pandemi membuatnya kerap membuka minuman dingin setelah seharian bekerja keras demi Jepang. Berbagai upaya telah dilakukan untuk berhenti, namun tekanan sosial dan kecenderungan genetik membuat usahanya sering kali gagal.

“Saya yakin sekarang saya bisa menekan tombol verifikasi usia di setiap minimarket dengan mata tertutup…”
— Donny Kimball
Sadar bahwa ia tidak bisa mengatasinya sendirian, ia memutuskan untuk melakukan perjalanan ziarah ke Kumano Nachi Taisha. Ia berharap kunjungan spiritual ini dapat membantunya melepaskan diri dari kecanduan yang menghambat potensinya secara utuh.
Menuju Kumano Nachi Taisha
Setibanya di kompleks kuil, Donny mengunjungi pohon kamper berusia 800 tahun. Berdasarkan kepercayaan setempat, menuliskan doa pada sepotong kayu dan memasuki batang pohon kuno tersebut dapat membantu mengabulkan permohonan. Tanpa diduga, tepat setelah keluar dari pohon tersebut, ia menemukan jalur pendakian Kumano Kodo yang sebelumnya tidak pernah ia sadari keberadaannya.

Dorongan rasa penasaran membawanya menapaki jalur terjal tersebut, yang kemudian menjadi awal dari sebuah perjalanan fisik dan mental yang sangat melelahkan, yang oleh sebagian orang disebut sebagai bentuk misogi atau ritual penyucian melalui kesulitan.
Menaklukkan Ogumotori-goe
Tanpa persiapan yang memadai dan membawa tas ransel yang cukup berat, Donny secara tidak sengaja memasuki Ogumotori-goe, salah satu bagian jalur Kumano Kodo yang paling menantang. Rute ini membawanya melewati berbagai rintangan alam, termasuk area Moja-no-Deai yang dalam legenda lokal dikenal sebagai tempat bertemunya para peziarah dengan arwah orang-orang terkasih yang telah tiada.

Perjalanan berlanjut melewati naik turun bukit yang menguji ketahanan fisik. Medan yang curam serta alas kaki minimalis yang ia kenakan membuat setiap langkah terasa menyiksa. Bagian paling berat dari pendakian ini adalah Dogiri-zaka, atau yang sering diterjemahkan sebagai lereng “pembawa hancur tubuh”, sebuah jalur turunan curam sepanjang lebih dari 800 meter menuju desa Koguchi.

Tanpa tongkat jalan, ia harus merayap perlahan dan penuh kehati-hatian agar tidak mengalami cedera serius di tengah hutan yang terpencil. Di tengah keputusasaan, ia menemukan sepotong kayu kokoh yang dijadikannya tongkat darurat, yang membantunya bertahan hingga akhir perjalanan.
Titik Terang dan Pemulihan
Setelah melewati berbagai rintangan dan batu bersejarah seperti Waroda-ishi, Donny akhirnya tiba di desa Koguchi dengan selamat. Setibanya di sana, ia mendinginkan tubuhnya yang kelelahan di aliran Sungai Akagi sebelum menaiki bus menuju tujuan berikutnya.


Pengalaman berat di Kumano Kodo memberikan dampak besar dalam hidupnya. Perjuangan menaklukkan jalur ziarah tersebut memberikannya kekuatan mental untuk mengatasi kecanduan alkohol yang selama ini mengikatnya. Kini, ia merasa lebih siap untuk menjalani hidup tanpa ketergantungan pada minuman keras demi menjalankan tanggung jawabnya dengan optimal.









