Home / Travel / Kisah Murakami Suigun, “Bajak Laut” Laut Pedalaman Seto

Kisah Murakami Suigun, “Bajak Laut” Laut Pedalaman Seto

The Murakami KAIZOKU Museum

Mari berkenalan dengan Murakami Suigun, kelompok panglima perang maritim yang menguasai perairan Laut Pedalaman Seto dari basis benteng pulau mereka di Prefektur Ehime. Jepang ternyata memiliki catatan sejarah tentang bajak laut yang mendominasi kawasan regional selama berabad-abad sebagai kekuatan maritim utama.

Berbeda dengan bayangan bajak laut ala Barat dari Masa Keemasan Pembajakan yang identik dengan penutup mata dan rum, perompak di Jepang masa lampau tidak menjadikan aktivitas tersebut sebagai pekerjaan penuh waktu. Profesi ini lazim dilakukan oleh populasi pesisir sebagai pekerjaan sampingan ketika peluang muncul, mirip dengan praktik bangsa Viking dan Corsair Barbar.

Sebagai negara kepulauan, Jepang sejak dulu akrab dengan aktivitas perompak paruh waktu di sepanjang wilayah pesisirnya. Catatan sejarah kerap mencatat keluhan dari pihak penguasa daratan mengenai suplai dan senjata yang dijarah oleh para penjahat laut. Kendati demikian, ketika laut sedang sepi dari hasil jarahan, para pelaut ulung ini beralih profesi memanfaatkan keahlian navigasi dan intimidasi mereka untuk menyediakan jasa pengiriman, pengawalan berbayar dari ancaman kelompok saingan, hingga praktik pemerasan.

A historical painting depicting the Murakami Suigun at sea, with samurai and sailors preparing ships along wooden docks. Red and white banners bearing clan symbols fly above the vessels, while large wooden warships and smaller boats crowd the waters of the Seto Inland Sea. The scene shows the organization and naval power of the Murakami Suigun during Japan’s century of civil war.

Murakami Suigun sendiri beroperasi di sekitar Laut Pedalaman Seto pada masa periode Sengoku yang penuh gejolak antara tahun 1467 hingga 1600. Aliansi maritim ini terdiri dari tiga keluarga utama yang berpusat di pulau yang berbeda, yakni Noshima, Innoshima, dan Kurushima. Mereka menegakkan aturan tol, memandu kapal pedagang melewati arus berbahaya, hingga mengerahkan kekuatan armada atas nama para daimyo di daratan.

Ketiga cabang klan tersebut beroperasi secara mandiri namun tetap menjaga hubungan darah serta sering bekerja sama dalam urusan politik maupun rampasan perang. Innoshima Murakami berpusat di wilayah Prefektur Hiroshima, Kurushima menguasai area selatan dekat Oshima modern, sementara Noshima Murakami menjadi cabang yang paling berpengaruh. Berbasis di pulau berbatu kecil di jalur pelayaran utama, Noshima Murakami bertindak layaknya pengawas lalu lintas maritim.

Di bawah kepemimpinan tokoh seperti Murakami Takeyoshi, kelompok Noshima menjadi pemain penting dalam konflik regional. Mereka menjalin aliansi strategis dengan klan Mori sekaligus memainkan peran ganda dalam perpolitikan masa perang saudara. Kehadiran mereka mengisi kekuasaan yang ditinggalkan oleh melemahnya Keshogunan Ashikaga pada akhir tahun 1400-an, di mana mereka mengendalikan perdagangan dan menegakkan hukum maritim sendiri.

Kejayaan Murakami Suigun akhirnya surut seiring langkah penyatuan Jepang di bawah kepemimpinan Toyotomi Hideyoshi pada akhir tahun 1500-an. Pada tahun 1588, Hideyoshi mengeluarkan larangan total terhadap aktivitas pembajakan yang mengakhiri dominasi mereka di lautan. Kendati sebagian besar beralih menjadi pengikut resmi atau penguasa minor, kisah mereka tetap abadi melalui reruntuhan benteng, museum, dan tradisi lokal.

Cara Menuju ke Sana

Sisa-sisa peninggalan sejarah Murakami Suigun tersebar di sepanjang jalur Shimanami Kaido, rangkaian pulau yang menghubungkan kota pelabuhan Onomichi di Honshu dengan Imabari di Shikoku. Kawasan ini paling ideal dieksplorasi dengan bersepeda atau menggunakan kendaraan sewaan. Sebagian besar pengunjung memulai perjalanan dari Onomichi menuju Imabari atau sebaliknya.

Murakami KAIZOKU Museum

An exhibit inside the Murakami KAIZOKU Museum showing a red vest-like garment displayed in a glass case, emblazoned with the Murakami Suigun’s clan crest. The gallery features other artifacts, scrolls, documents, and weapons in surrounding cases, highlighting the history and naval power of the Murakami Suigun pirates.

Museum Murakami KAIZOKU di Imabari, Pulau Oshima, merupakan lokasi terbaik untuk mempelajari sejarah kelompok ini secara mendalam. Dibuka pertama kali pada tahun 2004 dengan nama Museum Murakami Suigun, fasilitas tiga lantai ini berganti nama pada tahun 2020 untuk menonjolkan istilah kaizoku. Pengunjung dapat melihat berbagai model kapal, artefak dari Kastil Noshima, baju zirah samurai, hingga galeri observasi di lantai tiga yang menyuguhkan pemandangan langsung ke reruntuhan Kastil Noshima.

Perubahan nama museum tersebut mencerminkan strategi pencitraan klan Murakami. Meskipun awalnya dikenal sebagai kaizoku atau perompak laut, mereka kemudian mengadopsi sebutan suigun yang berarti angkatan laut menjelang periode Edo demi mendapatkan legitimasi sejarah yang lebih terhormat di bawah pemerintahan terpusat.

Benteng di Noshima

An aerial view of Noshima Castle ruins, situated across two small islands in the Seto Inland Sea. The islands are covered with greenery and sandy shores, surrounded by vivid blue waters with visible tidal currents. In the distance, the Murakami KAIZOKU Museum is faintly visible.

Laut Pedalaman Seto memiliki karakteristik unik dengan empat pintu masuk alami yang memicu perbedaan pasang surut air laut yang ekstrem hingga mencapai tiga meter. Arus yang berubah cepat menciptakan pusaran air dan celah berbahaya bagi pihak luar. Keluarga Murakami, khususnya cabang Noshima, memanfaatkan kondisi alam ini sebagai benteng pertahanan alami.

Kastil Noshima yang terletak di antara pulau Noshima dan Taizakijima menjadi pusat kekuatan utama mereka. Dibangun di atas perairan dengan arus yang deras, benteng ini dilengkapi dengan fasilitas administratif dan penyimpanan barang mewah seperti keramik impor asal Cina dan Korea. Saat ini, wisatawan dapat menikmati tur perahu di sekitar reruntuhan benteng untuk menyaksikan langsung kondisi arus laut yang dahsyat.

Kuil Suci Oyamazumi

Two women stand in prayer before the main hall of Oyamazumi Shrine on Omishima, a historic Shinto shrine dedicated to the god of mountains, sea, and war. The wooden structure features a thatched roof, ornate entrance, and traditional white paper shimenawa rope, set against a backdrop of green trees and a bright blue sky with scattered clouds.

Terletak di Omishima, Kuil Oyamazumi menjadi pusat spiritual bagi para pelaut dan prajurit di Laut Pedalaman Seto. Didedikasikan kepada dewa gunung, laut, and perang, kuil ini rutin dikunjungi oleh para anggota Murakami Suigun yang memohon keselamatan berlayar melalui doa puisi horaku renga serta mengadopsi lambang kuil sebagai simbol mereka.

Aula harta karun kuil ini menyimpan berbagai koleksi senjata dan baju zirah samurai yang berstatus sebagai Harta Karun Nasional maupun Properti Budaya Penting, termasuk perlengkapan perang milik Ohori Tsuru-hime yang memiliki hubungan dekat dengan klan Murakami.

Kastil Innoshima Suigun

View of Innoshima Suigun Castle, a reconstructed hilltop fortress on Innoshima Island. The white castle tower with traditional tiled roof rises above stone walls and surrounding pavilions, all nestled among lush greenery and manicured trees. Red banners line the paths leading up, evoking the legacy of the Murakami Suigun who once controlled these waters.

Kastil Innoshima Suigun yang berdiri di atas bukit di Pulau Innoshima merupakan replika benteng yang dibangun pada tahun 1980-an untuk mengenang jasa cabang keluarga Innoshima Murakami. Meskipun bersifat rekonstruksi, museum ini memamerkan berbagai artefak, dokumen sejarah, perlengkapan navigasi, serta menawarkan pemandangan indah ke arah Selat Onomichi dan Laut Pedalaman Seto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *