Nikko sering kali menjadi lokasi yang populer sekaligus disalahpahami oleh banyak wisatawan. Terletak di pegunungan Prefektur Tochigi, kawasan ini menyimpan sejarah spiritual yang berakar sejak lebih dari seribu tahun lalu, ketika biksu Shodo Shonin mendirikan kompleks kuil pertama di sini pada abad ke-8. Sejak saat itu, Nikko berkembang menjadi tempat di mana agama Buddha dan Shinto dapat hidup berdampingan secara harmonis.
Kendati memiliki sejarah yang panjang, Nikko saat ini lebih dikenal luas berkat hubungannya dengan klan Tokugawa. Di sinilah letak Toshogu Shrine yang megah, tempat di mana Tokugawa Ieyasu—pendiri Keshogunan Tokugawa yang berhasil menyatukan Jepang setelah perang saudara—disemayamkan. Selain kekayaan sejarahnya, Nikko juga menawarkan pemandangan alam yang memukau berupa lanskap pegunungan, danau, air terjun, pemandian air panas, serta jalur pendakian. Keindahan kawasan ini semakin terpancar pada musim gugur, khususnya di bulan Oktober dan November, saat pepohonan berubah warna menjadi merah dan jingga menyala.
Kawasan Nikko sebenarnya memiliki daya tarik yang cukup untuk dieksplorasi selama seminggu penuh. Namun, jadwal perjalanan dua hari sudah cukup untuk mencakup atraksi utama beserta kunjungan singkat ke Edo Wonderland di kota pemandian air panas terdekat, Kinugawa Onsen.
Akomodasi di Nikko

Mengingat jaraknya yang cukup jauh dan banyaknya objek wisata yang ditawarkan, perjalanan sehari penuh (day trip) ke Nikko bukanlah pilihan yang ideal. Anda disarankan untuk menginap setidaknya satu malam agar tidak perlu terburu-buru berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Pilihan akomodasi di Nikko sangat beragam dan dapat disesuaikan dengan berbagai anggaran, mulai dari ryokan mewah berfasilitas pemandian air panas hingga hostel dengan harga terjangkau. Sebagian besar informasi pemesanan juga telah tersedia dalam bahasa Inggris. Jika memungkinkan, cobalah mencari penginapan yang berada di dekat Shinkyo Bridge untuk memangkas waktu perjalanan menuju situs-situs bersejarah.
Cara Menuju ke Sana

Perjalanan ke pegunungan Tochigi dapat dilakukan dengan mudah melalui dua stasiun utama, yaitu stasiun yang dioperasikan oleh Tobu Group dan satu lagi oleh JR. Tobu Group menyediakan kereta ekspres terbatas yang berangkat secara berkala dari Ikebukuro dan Shinjuku, sementara jalur JR dapat diakses menggunakan JR Rail Pass.
Bagi yang ingin perjalanan lebih praktis, kereta LTD. EXP NIKKO 1 milik Tobu Group yang berangkat pagi hari menawarkan akses langsung tanpa transit. Bagi pelancong berhemat yang menggunakan JR Pass, rute kereta JR yang sedikit lebih lambat bisa menjadi alternatif. Layanan seperti Jorudan dapat dimanfaatkan untuk memeriksa jadwal dan rute kereta dengan akurat.
Bagi wisatawan yang bukan tipe orang pagi, opsi terbaik adalah berangkat dari Tokyo pada sore hari di hari sebelumnya sehingga Anda sudah berada di Nikko keesokan paginya.
Hari Pertama: Jembatan Shinkyo

Itinerary dua hari ini dirancang agar Anda dapat menikmati seluruh tempat wisata utama sekaligus menghindari antrean panjang di Toshogu Shrine. Oleh karena itu, memulai hari lebih awal adalah kunci utama.
Titik kumpul yang ideal untuk memulai hari pertama adalah Shinkyo Bridge yang ikonik. Dikenal sebagai salah satu dari tiga jembatan terindah di Jepang, jembatan berwarna merah vermilion ini menandai gerbang masuk ke area kuil. Konstruksi jembatan saat ini berasal dari tahun 1636, dan pengunjung dapat berjalan di atasnya dengan membayar tiket masuk terjangkau.
Jembatan ini terletak di ujung jalur menanjak dari stasiun kereta. Perjalanan menuju ke sana dapat ditempuh menggunakan bus atau berjalan kaki melewati berbagai toko suvenir yang menarik.
Hari Pertama: Toshogu Shrine

Setelah menikmati keindahan Shinkyo Bridge, kunjungan berikutnya adalah Toshogu Shrine. Sebagai situs paling populer di Nikko, tempat ini sebaiknya dikunjungi di pagi hari sebelum dipadati oleh rombongan wisatawan. Biaya masuk kompleks kuil ini seharga 1.300 yen.
Toshogu Shrine awalnya merupakan mausoleum sederhana untuk Tokugawa Ieyasu sebelum diperluas oleh cucunya, Iemitsu, menjadi kompleks megah di tengah hutan. Arsitektur kuil ini sangat berbeda dari kebanyakan kuil di Jepang karena banyak menggunakan hiasan daun emas. Gerbang Yomeimon di kompleks ini terkenal sangat rumit dan penuh ukiran indah setelah melalui proses restorasi.

Di dalam kompleks ini, terdapat pula ukiran kayu terkenal seperti tiga bijaksana “jangan melihat, jangan mendengar, jangan berbicara” yang sebenarnya merupakan bagian dari rangkaian kisah siklus kehidupan manusia. Unsur Buddha dan Shinto juga masih berpadu erat di kompleks kuil ini karena sulit dipisahkan sebelum era pemisahan agama pada periode Meiji.
Di luar area utama kuil, terdapat Nikko Toshogu Museum yang memamerkan barang-barang pribadi milik sang shogun untuk memperingati 400 tahun kematiannya. Tiket gabungan untuk kuil dan museum tersedia seharga 2.100 yen.
Hari Pertama: Futarasan Shrine

Berlokasi tepat di sebelah Toshogu Shrine, Futarasan Shrine memiliki usia yang jauh lebih tua karena didirikan pada tahun 782 oleh biksu Shodo Shonin. Kuil ini mendedikasikan penghormatannya kepada tiga gunung paling suci di kawasan tersebut, yaitu Gunung Nantai, Gunung Nyoho, dan Gunung Taro.
Sebagian besar area Futarasan Shrine dapat dimasuki secara gratis, sementara area taman kecil di bagian belakang mengenakan biaya masuk terjangkau untuk melihat aula utama dan pohon-pohon suci.
Hari Pertama: Taiyuin-byo

Tidak jauh dari Futarasan Shrine terdapat Taiyuin-byo, yang merupakan mausoleum bagi cucu Tokugawa Ieyasu, yakni Tokugawa Iemitsu. Berbeda dengan Toshogu Shrine yang sangat mencolok, Taiyuin-byo memancarkan suasana yang lebih tenang dan penuh penghormatan.
Tiket masuk Taiyuin-byo seharga 550 yen, dan tersedia pula tiket gabungan dengan Rinno-ji seharga 1.000 yen yang dapat menghemat pengeluaran perjalanan Anda.
Hari Pertama: Makan Siang Lokal

Setelah lelah berjalan-jalan, saatnya menikmati makan siang di berbagai restoran tradisional Jepang di sekitar area kuil. Bagi vegetarian, mencicipi hidangan berbahan dasar yuba (kulit tahu) sangat direkomendasikan karena merupakan kuliner khas lokal Prefektur Tochigi yang populer di kalangan biksu Buddha sejak zaman dahulu.
Hari Pertama: Tamozawa Imperial Villa

Destinasi selanjutnya adalah Tamozawa Imperial Villa yang memadukan gaya arsitektur tradisional Jepang dengan sentuhan periode Meiji. Dulunya digunakan sebagai tempat peristirahatan musim panas bagi Keluarga Kekaisaran, kompleks bangunan kayu yang luas ini kini dibuka untuk umum sebagai museum setelah melalui renovasi besar-besaran.
Pengunjung dapat melihat perpaduan unik antara lantai tatami, karpet, lampu gantung, serta pintu geser kertas tradisional di kelilingi taman bergaya Jepang yang tertata rapi. Tiket masuk ke vila ini seharga 510 yen.
Hari Pertama: Kanmangafuchi Abyss









