Home / Travel / Ramen & Bunga Sakura: Alasan Kamu Wajib Berkunjung ke Kitakata

Ramen & Bunga Sakura: Alasan Kamu Wajib Berkunjung ke Kitakata

Some Weeping Cherry Blossom Trees in Kitakata

Ketika akhir bulan Maret berganti menjadi awal bulan April, musim bunga sakura di Tokyo biasanya mulai berakhir dengan gugurnya kelopak-kelopak terakhir dari pohonnya. Kendati demikian, saat aktivitas ini mereda di ibu kota Jepang, kawasan utara Tohoku justru baru memulai keindahannya. Di wilayah seperti Kitakata, musim mekarnya baru dimulai, memungkinkan para wisatawan untuk terus menikmati pemandangan sakura hingga bulan April bahkan Mei jika perjalanan dilanjutkan lebih jauh ke utara.

Bagi para pembaca setia, Kitakata bukanlah nama yang asing karena pernah diulas sebelumnya. Kunjungan pertama ke wilayah di Prefektur Fukushima bagian Aizu ini dilakukan pada tahun 2021 melalui kerja sama dengan pemerintah setempat. Setelah beberapa kali kembali berkunjung, kesempatan untuk menikmati suasana musim semi di wilayah prefektur ini akhirnya tiba. Meninggalkan suasana musim semi di Tokyo, perjalanan dilanjutkan kembali ke Prefektur Fukushima untuk menyaksikan deretan pohon Shidare-zakura atau sakura menangis sepanjang tiga kilometer yang sangat terkenal di Kitakata.

Nama Kitakata mungkin terdengar familiar karena alasan yang kuat. Kota kecil yang terletak di pegunungan Aizu ini merupakan tempat asal salah satu dari tiga varian ramen terbaik di Jepang. Hidangan ini menyajikan mie tebal, pipih, dan sedikit bergelombang dalam kuah kaldu yang terbuat dari campuran kecap asin, daging babi, serta ikan teri kering.

Bahkan bagi mereka yang bukan penggemar ramen, Kitakata tetap menjadi destinasi yang patut dipertimbangkan dalam rencana perjalanan berikutnya ke Prefektur Fukushima. Sayangnya, kawasan Aizu ini sering kali terlewat dari rute perjalanan wisatawan. Padahal, ada banyak hal menarik yang dapat dinikmati di Kitakata, sehingga perencanaan ekstra untuk menyambangi tempat ini selama musim semi akan memberikan pengalaman yang sangat berkesan.

Cara Menuju ke Sana

To get to Kitakata, you first need to take the Tohoku Shinkansen to Koriyama Station. From there, you can transfer to JR East’s Ban’etsu West Line which will take you to Aizu-Wakamatsu Station. Thereafter, you’ll need to make one more transfer to reach Kitakata.

Sebelum membahas berbagai tempat menarik di Kitakata, penting untuk memahami aspek logistik perjalanannya. Akses menuju Kitakata memang tidak bisa dibilang sangat mudah. Walaupun tidak terpencil seperti lembah Iya, kawasan pedalaman Aizu di Fukushima tidak memiliki jalur transportasi yang paling praktis. Oleh karena itu, perjalanan ke Kitakata membutuhkan beberapa kali transit kereta api apabila tidak menyewa mobil.

Perjalanan dimulai dengan menumpang kereta Tohoku Shinkansen dari Tokyo menuju Stasiun Koriyama. Dari sana, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan jalur JR East Ban’etsu West Line menuju Stasiun Aizu-Wakamatsu. Setibanya di sana, pelancong harus melakukan satu kali lagi transfer kereta untuk mencapai Stasiun Kitakata. Jadwal keberangkatan dapat dicek melalui layanan seperti Jorudan untuk memudahkan perhitungan waktu.

Mengingat jaraknya yang cukup jauh, disarankan untuk menginap semalam di area sekitar Fukushima. Kota benteng Aizu-Wakamatsu menjadi pilihan ideal untuk disinggahi karena lokasinya yang strategis dan sangat layak untuk dieksplorasi. Sebagian besar objek wisata di Kitakata dapat dikunjungi dalam waktu satu hari, sehingga menginap di Aizu-Wakamatsu dengan memilih penginapan tradisional ryokan adalah opsi yang sangat nyaman.

Sebagai tips tambahan, penggemar serial Kimetsu no Yaiba dapat mempertimbangkan untuk menginap di ryokan bernama Okawaso yang terletak di Ashinomaki Onsen. Penginapan tradisional ini disebut-sebut menjadi inspirasi bagi Kastil Infinity milik Muzan, sehingga menjadi titik singgah populer bagi para penggemar anime tersebut.

Keindahan Sakura Menangis di Jalur Nicchu

The weeping cherry blossom trees along the old tracks of the Nicchu Line are known as Shidare-zakura in Japanese and are usually in full bloom by the middle of April.

Berada di sepanjang bekas jalur kereta api, deretan Shidare-zakura di Jalur Nicchu merupakan objek wisata musim semi paling ikonik di Kitakata. Membentang sejauh kurang lebih tiga kilometer, barisan pohon sakura menangis ini membentuk terowongan berwarna merah muda lembut yang tampak memanjang tanpa ujung. Ketika mekar penuh, dahan-dahannya melengkung rendah di atas jalur pejalan kaki, menciptakan kanopi bunga yang bergoyang lembut tertiup angin, dengan suasananya yang masih terasa santai dibanding lokasi sakura populer lainnya di Jepang.

Sesuai namanya, jalur pemandangan ini mengikuti rute bekas Jalur Nicchu yang dulunya menghubungkan Kitakata dengan Atsushio Onsen. Setelah jalur tersebut ditutup pada tahun 1980-an, relnya dilepas dan kawasannya dialihfungsikan menjadi jalur pejalan kaki yang ditanami ratusan pohon Shidare-zakura. Seiring berjalannya waktu, infrastruktur lama ini bertransformasi menjadi salah satu destinasi musiman favorit di wilayah tersebut, lengkap dengan lokomotif uap bersejarah yang diawetkan sebagai pengingat masa lalu.

Karena Kitakata terletak lebih ke utara dan berada di dataran yang sedikit lebih tinggi dari Tokyo, waktu mekar bunga sakura di sini cenderung lebih lambat, biasanya mencapai puncak antara awal hingga pertengahan bulan April. Jalur ini dapat diakses dengan mudah dari Stasiun Kitakata dan sangat nyaman dijelajahi dengan berjalan kaki.

Kura-no-Michi di Kitakata

Kitakata is known for its many old warehouses that were constructed by rich businesses in this part of Nippon. As noted in the text set right below this image, visitors for the day can drop by this part of Kitakata in the morning that came about during a boom in the late 1800s. Many of the warehouses have been transformed into suitable businesses.

Salah satu ciri khas utama Kitakata adalah konsentrasi gudang tradisional Jepang yang sangat tinggi. Sebagian besar bangunan ini terkumpul di sepanjang area yang dikenal sebagai Kura-no-Michi. Dibatasi oleh bangunan berdinding tebal dan tahan api, kawasan bersejarah ini menawarkan gambaran masa lalu kota sebagai pusat perdagangan dan kerajinan. Saat menyusuri area ini, pengunjung akan melihat dinding plester putih yang khas, atap genteng hitam, dan pintu kayu kokoh yang memperkuat karakter kawasan tersebut.

Gudang-gudang di Kitakata berasal dari akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, ketika kota ini berkembang pesat sebagai pusat perdagangan. Demi menghindari risiko kebakaran, para pedagang membangun struktur ini menggunakan dinding tanah liat tebal untuk melindungi barang berharga mereka. Meskipun banyak kota lain kehilangan struktur serupa akibat perang atau pembangunan ulang, Kitakata berhasil melestarikan sebagian besar bangunan tersebut, menjadikannya salah satu tempat terbaik di Jepang untuk menikmati arsitektur tradisional ini.

Berbeda dengan musim bunga sakura, Kura-no-Michi dapat dinikmati sepanjang tahun. Kawasan ini berjarak berjalan kaki dari Stasiun Kitakata dan dapat dieksplorasi dalam waktu singkat, terutama sambil singgah di berbagai toko serta kafe lokal di sepanjang jalan.

Mencicipi Sake khas Kitakata

In addition to the old warehouses, one other location that you should bring your group to is Yamatogawa Shuzo. Here, you can learn all about sake at workshops and try your hand at sake tasting that is at the ready.

Berada di dalam cekungan yang dikelilingi oleh pegunungan tinggi, Kitakata diberkahi dengan limpahan air mata air alami yang mengalir turun dari Pegunungan Iide di sebelah utara. Air murni yang telah tersaring melalui lapisan batuan dan salju ini dianggap sebagai salah satu yang terbersih di Jepang. Keunggulan alami inilah yang membentuk reputasi kota ini, tidak hanya untuk ramen, tetapi juga industri sake.

Karena sake dibuat dari bahan-bahan dasar seperti air, beras, dan ragi koji, kualitas setiap komponen memegang peranan penting terhadap produk akhir. Di Kitakata, ketersediaan air yang sangat bersih dan lembut memberikan keuntungan tersendiri bagi para perajin lokal untuk menghasilkan sake yang halus dan berimbang.

Meski terdapat beberapa pabrik bir yang tersebar di seluruh penjuru kota, kunjungan ke Pabrik Sake Yamatogawa sangat direkomendasikan. Tempat ini tidak hanya memproduksi sake berkualitas tinggi, tetapi juga memiliki museum informatif yang menjelaskan proses pembuatan serta sejarah industri sake di wilayah tersebut.

Serba-serbi Ramen Kitakata

Kitakata ramen is prepared in kitchens of shops all around the city. It’s known for the richness of its flavor and the product is considered to be one of three top takes of the iconic Japanese dish.

Sama seperti produk sakenya, ramen terkenal di Kitakata sangat bergantung pada kualitas air bersih di wilayah tersebut. Mengalir dari Pegunungan Iide, air kaya mineral ini memberikan pengaruh besar terhadap kejernihan kaldu serta tekstur mie. Dipadukan dengan sup berbasis kecap asin yang terbuat dari babi dan ikan teri kering, hidangan ini menghasilkan varian ramen yang terasa lebih ringan namun tetap kaya rasa.

Budaya ramen di Kitakata bermula pada awal abad ke-20, ketika mi bergaya Tiongkok diperkenalkan ke wilayah ini dan disesuaikan dengan selera lokal. Seiring berjalannya waktu, dengan banyaknya kedai ramen yang berdiri di kota kecil ini, Kitakata tumbuh menjadi destinasi utama bagi para pencinta kuliner dan diakui sebagai salah satu dari tiga gaya ramen terkemuka di Jepang bersama Sapporo dan Hakata.

Meskipun kedai yang menyajikan ramen Kitakata kini dapat ditemukan di berbagai wilayah di Jepang, semangkuk ramen autentik hanya bisa dinikmati langsung di kota asalnya karena penggunaan air murni dari Pegunungan Iide merupakan kunci utama kelezatannya.

Destinasi Menarik Lainnya di Sekitar Kitakata

Just to the south of Kitakata is the castle town of Aizu-Wakamatsu. If you’re going to venture out to the Aizu area you really ought to consider a trip here too as you need to transit at Aizu-Wakamatsu Station anyway.

Perjalanan ke Kitakata akan semakin lengkap dengan mengunjungi berbagai destinasi lain di wilayah Aizu, Prefektur Fukushima. Kota benteng Aizu-Wakamatsu yang terletak di sebelah selatan menawarkan berbagai daya tarik seperti Kastil Tsuruga dan kuil unik Sazaedo yang berbentuk heliks ganda.

Lebih ke arah selatan lagi, terdapat kota pos Ouchijuku yang terjaga keasliannya, membawa pengunjung seolah kembali ke era Edo melalui jajaran rumah beratap jerami tradisional. Selain itu, wilayah Aizu juga dilintasi oleh Jalur Tadami JR East yang menyuguhkan pemandangan pedesaan yang sangat indah di sepanjang lembah dan sungai, serta kuil bersejarah seperti Enzo-ji.

Bagi yang melakukan perjalanan transit melalui Stasiun Koriyama, menyempatkan diri untuk melihat Miharu Takizakura yang diyakini telah berusia lebih dari 1,000 tahun merupakan pilihan yang sangat tepat untuk melengkapi rangkaian perjalanan musim semi di kawasan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *