Home / Travel / Taiyuin-byo Nikko: Mausoleum Shogun Tokugawa yang Lainnya

Taiyuin-byo Nikko: Mausoleum Shogun Tokugawa yang Lainnya

The Main Hall of Nikkos Taiyuin byo

Pada musim semi 2017, kota Nikko akhirnya merampungkan renovasi Kuil Toshogu tempat bersemayamnya tokoh legendaris pendiri Keshogunan Tokugawa, Tokugawa Ieyasu. Gerbang Yomeimon yang telah diperbarui dan berstatus sebagai harta karun nasional ini tampil begitu memukau dan sangat sayang untuk dilewatkan. Kendati demikian, serupa dengan Kiyomizu-dera di Kyoto, Kuil Toshogu dan gerbangnya kerap dikerumuni oleh lautan wisatawan yang sibuk berswafoto, sehingga nuansa sakralnya terkadang sedikit berkurang.

Kabar baiknya, Ieyasu bukanlah satu-satunya anggota Wangsa Tokugawa yang dimakamkan di Nikko. Berada tidak jauh dari Kuil Toshogu, terdapat Taiyuin-byo yang merupakan kompleks makam bagi cucu Ieyasu, yakni Iemitsu. Kompleks perpaduan Shinto dan Buddha ini secara administratif berada di bawah naungan kompleks kuil Rinno-ji. Tempat peristirahatan terakhir ini sering kali terlewatkan oleh para pelancong, padahal arsitekturnya sangat menyerupai Kuil Toshogu yang megah. Meski memiliki kemiripan gaya bangunan, Taiyuin-byo sengaja dibangun sedikit lebih sederhana sebagai bentuk rasa hormat yang mendalam dari Iemitsu kepada sang kakek.

Terletak di area paling ujung dari seluruh situs di Nikko, Taiyuin-byo dikelilingi oleh pepohonan cedar berusia ratusan tahun di lereng bukit yang menghadirkan suasana tenang dan religius. Karena sosok Iemitsu kurang begitu populer di kalangan wisatawan mancanegara, kompleks makam ini relatif sepi dari kerumunan turis. Mengingat lokasinya yang sangat dekat dengan berbagai situs Warisan Dunia UNESCO lainnya di Nikko, melewatkan tempat ini tentu menjadi sebuah kerugian besar. Pastikan saja untuk berkunjung dan menaruh hormat terlebih dahulu di Kuil Toshogu.

Sebelum merencanakan perjalanan ke Taiyuin-byo, para pengunjung sangat disarankan untuk membaca profil Tokugawa Iemitsu di Wikipedia terlebih dahulu. Walaupun kisah sejarah shogun ketiga ini tidak dibahas secara mendalam di sini, banyak kebijakan penting Keshogunan Tokugawa yang justru dicanangkan olehnya, termasuk kebijakan politik isolasi selama kurang lebih 200 tahun. Jika Ieyasu berjasa menyatukan negeri di penghujung zaman Sengoku (1467–1615), maka sang cuculah yang meletakkan fondasi agar dinasti tersebut dapat berkuasa dalam waktu yang sangat panjang.

Cara Menuju ke Sana

A train goes to the nearest station to Nikko’s Taiyuin-byo, the mausoleum of Tokugawa Iemitsu

Taiyuin-byo berada di dalam kawasan Situs Warisan Dunia UNESCO di Prefektur Tochigi. Artinya, destinasi ini bukanlah tempat yang bisa dikunjungi secara spontan seperti halnya Senso-ji di Asakusa. Anda perlu menyusun rencana perjalanan dengan matang. Walaupun sebagian besar area Nikko bisa dijelajahi dalam waktu sehari, memesan akomodasi tetap disarankan demi menyesuaikan jadwal kereta. Mengingat lokasinya yang berada di pedesaan, berbagai tempat di Nikko umumnya tutup lebih awal, sehingga Anda tentu tidak ingin tertinggal kereta di malam hari.

Setibanya di Nikko, perjalanan menuju Taiyuin-byo tidaklah sulit. Setibanya di stasiun, tersedia bus yang siap mengantar wisatawan ke berbagai situs UNESCO. Kendati demikian, berjalan kaki menyusuri jalanan pertokoan tradisional jauh lebih direkomendasikan. Selain bisa melewati jejak toko-toko yang telah beroperasi selama ratusan tahun, Anda juga akan melintasi keindahan Jembatan Shinkyo. Jika memilih naik bus, Anda memang akan melewati jembatan tersebut, tetapi keindahannya tentu kurang begitu terasa jika dilihat dari dalam kendaraan yang sedang melaju.

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, ada baiknya untuk mengunjungi Kuil Toshogu terlebih dahulu. Selain mengikuti etika sejarah, Iemitsu sendiri tentu ingin agar para pengunjung memberikan penghormatan kepada sang kakek sebelum mendatangi makam cucunya. Setelah puas menikmati kemegahan Kuil Toshogu, Anda bisa melanjutkan perjalanan menuju Taiyuin-byo.

Para pengamat yang jeli mungkin akan menyadari bahwa bangunan Taiyuin-byo justru menghadap ke arah Kuil Toshogu. Umumnya, kuil-kuil di Jepang menghadap ke selatan atau timur, dan hampir tidak pernah menghadap ke utara atau barat seperti halnya Taiyuin-byo. Konon, rasa hormat yang begitu besar dari Iemitsu kepada kakeknya membuat ia mengabaikan tradisi tersebut demi menghadapkan makamnya ke arah sang kakek, meski hal itu diyakini dapat mendatangkan kesialan.

Menjelajahi Bagian Dalam Taiyuin-byo

The first gate at Nikko’s Taiyuin-byo, the mausoleum of Tokugawa Iemitsu

Setelah membeli tiket masuk di gerbang Taiyuin-byo, Anda akan langsung disambut oleh gerbang pertama dari total empat gerbang yang ada. Di area ini, terdapat sebuah paviliun penyucian tangan atau temizuya bergaya Shinto. Struktur ini terbilang sangat megah dan penuh ukiran indah jika dibandingkan dengan tempat-tempat spiritual lain di Jepang. Luangkan waktu sejenak untuk mengagumi keindahannya sebelum melakukan ritual pembersihan diri. Jika Anda memerlukan panduan mengenai tata cara penyucian yang benar, pastikan untuk mengingat kembali langkah-langkah dasarnya sebelum berkunjung.

Di sebelah kiri temizuya, terdapat tangga yang mengarah ke gerbang kedua Taiyuin-byo, yaitu Nitenmon. Bangunan megah ini dijaga oleh empat patung penjaga hasil karya perajin yang sangat terampil, sehingga jangan lupa untuk menengadah ke atas agar tidak melewatkan detail ukirannya. Dua patung di bagian depan dikenal sebagai Komoku dan Jikoku, sementara dua patung lainnya yang berdiri gagah dengan nuansa warna merah dan hijau merupakan dewa Angin dan dewa Petir.

The approach to Nikko’s Taiyuin-byo, the mausoleum of Tokugawa Iemitsu

Selepas mengagumi gerbang tersebut, lanjutkan perjalanan menaiki tangga berikutnya. Anda akan menjumpai dua menara kembar yang tampak serupa. Menara ganda ini dulunya menyimpan lonceng dan tabuh gendang yang digunakan dalam berbagai ritual keagamaan. Gendang melambangkan awal kehidupan atau kelahiran, sementara lonceng menyimbolkan kematian. Keduanya merepresentasikan siklus reinkarnasi yang menjadi inti dari ajaran Buddha. Di titik ini, Anda juga bisa menikmati pemandangan indah seperti yang tampak pada gambar di atas.

Another gate at Nikko’s Taiyuin-byo, the mausoleum of Tokugawa Iemitsu

Di ujung tangga terakhir, berdiri gerbang utama Taiyuin-byo yang disebut Yashamon. Serupa dengan gerbang Yomeimon di Kuil Toshogu, gerbang ini dihiasi dengan ukiran yang sangat rumit. Kendati demikian, demi mempertahankan konsep kesederhanaan di kompleks Taiyuin-byo, kemegahannya tetap tidak berlebihan jika dibandingkan dengan makam sang kakek. Sama seperti gerbang sebelumnya, jalan masuk menuju bagian dalam kuil ini juga dijaga oleh empat pengawal surgawi dalam ajaran Buddha.

The main hall of Nikko’s Taiyuin-byo, the mausoleum of Tokugawa Iemitsu

Setelah melewati gerbang Yashamon, Anda akan menjumpai jajaran lentera batu dan logam. Tepat di baliknya terletak jantung dari Taiyuin-byo, yaitu honden atau aula utama kuil. Struktur kayu dan arsitekturnya sungguh luar biasa menawan, mirip dengan monumen milik Ieyasu. Namun, bagi mereka yang mengikuti saran untuk mengunjungi Kuil Toshogu terlebih dahulu, akan terlihat jelas bagaimana Iemitsu menerapkan prinsip pengendalian diri dalam perancangan arsitektur kompleks ini.

The main hall of Nikko’s Taiyuin-byo, the mausoleum of Tokugawa Iemitsu

Para pengunjung biasanya diizinkan untuk masuk ke dalam area honden dengan syarat harus melepas alas kaki terlebih dahulu. Berkunjung ke tempat ini pada bulan-bulan bersuhu dingin memungkinkan Anda merasakan atmosfer syahdu dari sang shogun ketiga yang seolah masih bersemayam di dalam aula utama—atau mungkin sekadar hawa dingin pegunungan Tochigi. Satu hal yang perlu diingat, dilarang keras mengambil foto di area pemujaan. Aturan ini berlaku di hampir semua kuil Buddha, jadi pastikan untuk menyimpan kamera Anda saat berada di dalam.

The final gate before the actual mausoleum of Tokugawa Iemitsu at Nikko’s Taiyuin-byo

Sebagai penutup kunjungan di Taiyuin-byo, Anda dapat berjalan ke arah sisi kanan honden. Di sana terdapat sebuah tangga tertutup yang dijaga oleh struktur bangunan seperti pada foto di atas. Tangga tersebut mengarah langsung ke makam asli Iemitsu dan tertutup untuk umum, kecuali bagi para pejabat tinggi kuil. Meskipun tidak diperkenankan naik ke atas, jalan setapak yang berkelok di antara pepohonan cedar tinggi memancarkan aura magis yang jarang ditemukan di tempat lain.

Destinasi Menarik Lainnya di Sekitar

The Rinno-ji temple complex near Nikko’s Taiyuin-byo, the mausoleum

Sebagai kawasan yang kaya akan sejarah, Nikko memiliki banyak sekali destinasi menarik yang sayang untuk dilewatkan selain kompleks makam tersebut.

  • Rinno-ji
    Meskipun sebagian bangunan kuil utama sedang dalam proses renovasi, Rinno-ji tetap menjadi kuil paling penting di Nikko. Kuil ini didirikan oleh seorang biksu yang memperkenalkan agama Buddha ke Nikko pada abad ke-8. Karena Taiyuin-byo berada di bawah pengelolaan kuil ini, pengunjung dapat membeli tiket terusan untuk mendatangi kedua lokasi sekaligus.
  • Shoyo-en
    Taman bergaya tradisional Jepang yang terletak di sebelah Rinno-ji ini merupakan tempat terbaik untuk menikmati pemandangan musim gugur, terutama pada awal bulan November saat warna daun-daunnya sangat memukau. Terdapat tiket masuk dengan harga terjangkau untuk menikmati keindahan taman ini.
  • Jembatan Shinkyo
    Jembatan bersejarah ini telah selama berabad-abad menjadi gerbang utama menuju berbagai situs spiritual di Nikko dan diakui sebagai salah satu jembatan terindah di Jepang. Keindahannya membuat tempat ini selalu memikat siapa saja yang melihatnya.
  • Jurang Kanmangafuchi
    Aliran jurang ini dipenuhi oleh sekitar 70 patung batu Jizo yang sering dijuluki sebagai “Ghost Jizo” atau Jizo Hantu. Menurut legenda setempat, jumlah patung tersebut selalu berbeda setiap kali dihitung ulang, menghadirkan cerita rakyat yang cukup misterius bagi para pelancong yang penasaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *