Pendakian menuju puncak Mt. Kumotori terasa begitu panjang hingga membuat pikiran saya kosong. Langkah demi langkah berjalan secara mekanis, sementara suara lonceng beruang yang tergantung di sisi tas terus berdering seirama dengan langkah kaki. Di tengah kelelahan tersebut, saya sempat merenungkan alasan di balik keputusan nekat mendaki gunung tertinggi di wilayah Tokyo ini.
Bagi sebagian besar wisatawan asing, Tokyo jarang diidentikkan dengan lanskap pegunungan yang terjal. Meskipun spot seperti Mt. Takao cukup populer, sedikit yang mengetahui bahwa wilayah barat Tokyo menyimpan kontur alam yang sangat liar dan berbatu. Di sinilah Mt. Kumotori berdiri dengan ketinggian mencapai 2.017 meter di atas permukaan laut. Namanya yang berarti “Gunung Penangkap Awan” sangat sesuai dengan kondisinya yang sering diselimuti oleh kabut tebal.
Alasan utama saya tertarik mendaki gunung ini bermula dari penelusuran konten terkait anime Kimetsu-no-Yaiba. Pada akhir tahun 2020, saya banyak meneliti lokasi nyata yang menjadi inspirasi serial tersebut, mulai dari situs batu di Yagyu hingga sebuah ryokan di Ashinomaki Onsen. Dari situlah saya mengetahui bahwa Mt. Kumotori adalah latar tempat tinggal keluarga Kamado Tanjiro pada awal cerita.

Dalam episode pertama, adegan saat Tanjiro menuruni lereng gunung dengan membawa arang di punggungnya benar-benar berlatar di Mt. Kumotori. Kota tempat ia turun dan berjualan kemungkinan besar merujuk pada kawasan Okutama di masa kini. Mendaki gunung ini memberikan kepuasan tersendiri bagi penggemar yang ingin melihat langsung dunia nyata di balik serial favorit mereka, sekaligus membuat saya kagum pada stamina luar biasa yang dimiliki Tanjiro.
Cara Menuju ke Sana

Terdapat dua jalur utama untuk mencapai puncak Mt. Kumotori. Jalur pertama dimulai dari Okutama di sisi Tokyo, sedangkan jalur kedua dimulai dari dekat Mitsumine Shrine di Chichibu. Jalur kedua jauh lebih disarankan karena bus yang mengantar pengunjung ke area kuil sudah membantu memangkas separuh elevasi pendakian, sehingga Anda tidak perlu langsung menghadapi tanjakan curam tanpa henti dari Okutama.
Jika memilih rute dari Chichibu, perjalanan dimulai dengan mendatangi Stasiun Ikebukuro dan naik kereta ekspres terbatas Laview menuju Stasiun Seibu-Chichibu. Sangat disarankan untuk berangkat pagi-pagi sekali agar tidak kemalaman di tengah gunung. Perhatikan jadwal keberangkatan kereta serta jadwal bus menuju Mitsumine Shrine yang cukup jarang beroperasi.

Setibanya di Mitsumine Shrine, jalur pendakian terletak berlawanan arah dari area utama kuil. Karena minimnya papan petunjuk berbahasa Inggris, ada baiknya Anda menghafal karakter kanji untuk Mt. Kumotori atau Kumotoriyama agar tidak salah arah. Sinyal seluler di area gunung ini juga sangat terbatas, sehingga membawa peta fisik adalah keputusan yang bijak.
Sebagian besar pendaki biasanya membagi perjalanan menjadi dua hari dan menginap di pondok gunung yang tersedia di sepanjang jalur. Berikut adalah beberapa pilihan pondok peristirahatan:
- Kumotori Sanso
Pondok ini merupakan fasilitas pertama yang akan Anda jumpai jika datang dari arah Mitsumine Shrine. Letaknya berada tidak jauh sebelum puncak gunung. - Nanatsu-Ishi Goya
Berlokasi lebih dekat ke sisi Okutama, pondok ini cocok bagi pendaki yang ingin langsung menempuh perjalanan jauh pada hari pertama.
Meskipun pendakian ini idealnya dilakukan selama dua hari dengan menginap di pondok, saya justru mengambil keputusan nekat untuk menyelesaikannya dalam waktu satu hari penuh. Akibat terlalu bersemangat, saya memutuskan untuk terus berjalan tanpa menginap, yang berujung pada perjalanan melelahkan sejauh 60 kilometer selama kurang lebih tujuh hingga delapan jam.
Persiapan dan Risiko di Jalur Pendakian

Sebelum memutuskan mendaki Mt. Kumotori, pastikan Anda mempersiapkan fisik, logistik, dan perlengkapan yang memadai. Jalur pendakian ini memiliki beberapa bagian jalan yang sangat sempit dengan jurang terjal di sisinya, yang memerlukan kewaspadaan ekstra terutama saat perjalanan turun ketika kelelahan mulai terasa.
Selain medan yang curam, pendaki juga perlu mewaspadai keberadaan suzumebachi atau Asian giant hornet. Lebah berukuran besar ini sangat aktif dari akhir musim semi hingga awal musim gugur. Sengatan mereka sangat berbahaya dan bisa berakibat fatal, sehingga Anda harus segera menjauh jika menemukannya.
Kawasan gunung ini juga menjadi habitat bagi beruang hitam Asia. Meskipun umumnya beruang-beruang ini lebih takut pada manusia dan akan kabur mendengar suara, para pendaki di Jepang selalu diwajibkan membawa lonceng beruang sebagai langkah pencegahan standar.
Atraksi di Sekitar

Jika Anda memilih rute pendakian dari Chichibu, sempatkan diri untuk menjelajahi Mitsumine Shrine sebelum memulai pendakian. Kuil kuno yang didedikasikan untuk,salah satu figur pelindung tradisional ini memiliki arsitektur yang sangat memukau dan kaya akan sejarah.
Berdoa sejenak di kuil ini bisa menjadi awal yang baik untuk memohon keselamatan sebelum menaklukkan jalur pendakian Mt. Kumotori yang menantang.








