Meskipun pintu perbatasan Jepang telah kembali dibuka dan mengakhiri impian singkat tentang Kyoto yang sunyi dari turis, masa-masa pandemi sempat memberikan angin segar bagi warga lokal yang selama ini resah dengan polusi pariwisata. Sebelum pembatasan dicabut, kota mantan ibu kota ini terasa sangat lengang, membuat akomodasi mewah dapat diakses dengan harga yang jauh lebih murah.
Memanfaatkan momen langka tersebut ketika biaya penginapan turun drastis, sebuah perjalanan singkat selama dua hari dilakukan untuk menikmati keindahan Kyoto tanpa terjebak di tengah lautan manusia.
Hari Pertama di Kyoto

Tiba di Stasiun Kyoto menggunakan salah satu kereta cepat Shinkansen pagi dari Tokyo, tujuan pertama langsung mengarah ke Arashiyama. Kawasan yang terkenal dengan hutan bambunya ini biasanya selalu dipadati oleh wisatawan yang berebut spot foto terbaik. Namun, berkat situasi yang tidak biasa, kawasan tersebut tampak kosong tanpa ada siapapun saat pertengahan September.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Tenryu-ji, salah satu dari lima kuil besar Zen Buddhisme di Kyoto. Didirikan pada pertengahan tahun 1300-an, kompleks kuil ini menawarkan suasana damai lengkap dengan kolam dan taman yang menenangkan pikiran. Tidak jauh dari sana, Jembatan Togetsukyo yang ikonik juga dapat dinikmati dengan santai tanpa harus berdesakan.

Beranjak dari Arashiyama, perjalanan berlanjut ke Kiyomizu-dera. Di masa normal, kuil suci ini sering kali menyerupai taman hiburan yang penuh sesak. Meski tidak sepenuhnya kosong, kunjungan kali ini terasa jauh lebih nyaman tanpa kehadiran rombongan turis besar ataupun tongkat selfie yang mengganggu.
Sayangnya, platform utama Kiyomizu-dera setinggi 13 meter sedang dalam tahap renovasi sehingga tertutup perancah logam. Kendati demikian, area lain seperti Air Terjun Otowa dapat dinikmati tanpa harus mengantre selama berjam-jam. Menyusuri jalur Sannen-zaka dan Ninen-zaka menuju Kodai-ji, terbesit pemikiran tentang bagaimana seharusnya industri pariwisata Kyoto dikelola di masa depan agar tetap menjaga nilai sejarah dan kesakralannya.

Di tengah perjalanan,jumpai sebuah pagoda ikonis yang hampir tidak pernah sepi dari bidikan kamera pelancong. Kali ini, kawasan tersebut tampak begitu sunyi. Setelah singgah sejenak di gerai Starbucks unik yang bertempat di rumah tradisional Jepang berusia seabad di Ninen-zaka, perjalanan dilanjutkan ke Kodai-ji. Kuil berusia 400 tahun ini didirikan oleh Nene, istri Toyotomi Hideyoshi, dan menawarkan keindahan taman batu serta aula minum teh yang dirancang oleh master Sen no Rikyu.

Menjelang sore, setelah beristirahat sejenak di hotel, Fushimi Inari Taisha menjadi destinasi berikutnya. Mendaki Gunung Inari saat matahari terbenam menyajikan pengalaman magis tersendiri. Ribuan gerbang torii berwarna merah vermilion yang diterangi lampu malam menciptakan suasana yang tenang dan kontemplatif, jauh dari keramaian siang hari. Menghabiskan waktu tiga jam menjelajahi jalur pendakian membuat total langkah kaki hari itu mencapai lebih dari 25 kilometer.
Hari Kedua di Kyoto

Meskipun tubuh terasa pegal akibat perjalanan hari sebelumnya, semangat untuk mengeksplorasi Kyoto tetap tinggi. Hari kedua dimulai dengan mengunjungi Heian Jingu di pagi hari. Kuil yang dibangun pada tahun 1895 untuk memperingati 1.100 tahun berdirinya Kyoto ini hampir tidak berpenghuni saat dikunjungi, menghadirkan suasana spiritual yang mendalam.

Perjalanan berlanjut ke jajaran kuil Buddha di kaki pegunungan Higashiyama, termasuk Nanzen-ji dan Eikando. Nanzen-ji terkenal dengan taman batunya serta saluran air bata bergaya era Meiji yang masih berfungsi hingga kini. Sementara itu, Eikando dikenal sebagai salah satu titik terbaik untuk menikmati pemandangan daun musim gugur.

Tidak jauh dari sana terdapat Philosopher’s Path, jalur pejalan kaki yang dikelilingi pohon sakura. Menyusuri jalur ini mengarah langsung ke Ginkaku-ji, atau yang lebih dikenal sebagai Silver Pavilion. Meski tidak benar-benar berlapis perak, kompleks vila peristirahatan shogun ini memancarkan keindahan yang tenang melalui taman lumut dan pasirnya, jauh lebih menenangkan dibandingkan Kinkaku-ji (Golden Pavilion) yang kerap disesaki turis.


Meski sempat berniat naik bus kembali ke stasiun, keputusan berubah untuk berjalan kaki menyusuri beberapa situs lain seperti Kamo Shrines—yang terdiri dari Shimogamo Shrine dan Kamigamo Shrine—serta kompleks Bekas Istana Kekaisaran.

Sebelum mengakhiri perjalanan, sempatkan diri singgah sebentar di Nishiki Market yang mulai ramai dikunjungi orang, lalu menutup tur dengan mengunjungi kuil kembar Hongan-ji yang terletak tidak jauh dari Stasiun Kyoto. Total jarak yang ditempuh dengan berjalan kaki selama dua hari ini melampaui 50 kilometer, meninggalkan kelelahan fisik namun juga kepuasan batin yang mendalam.
Hal yang Terlewat di Kyoto

Dengan keterbatasan waktu akhir pekan, mustahil untuk menjelajahi seluruh sudut Kyoto. Beberapa tempat menarik seperti wilayah utara Kibune & Kurama serta Enryaku-ji di Gunung Hiei terpaksa belum sempat dikunjungi, menyisakan daftar destinasi untuk dijelajahi pada kesempatan berikutnya.








