
Mari kita mulai petualangan baru! Kali ini, kita akan membahas salah satu destinasi tersembunyi favorit, yaitu Kashima Jingu. Serupa dengan Atsuta Jingu di Nagoya, kuil kuno ini menyimpan sejarah panjang yang kerap terlupakan. Kuil tersebut bahkan mengeklaim memiliki akar yang berasal dari masa sebelum sejarah tercatat. Berdasarkan catatan paling awal, Kashima Jingu didirikan oleh kaisar legendaris pertama Jepang pada sekitar tahun 660 SM. Sebagai perbandingan, usia kuil ini jauh lebih tua daripada sejarah modern di belahan dunia lain.
Mengingat letaknya yang berada di ujung selatan Prefektur Ibaraki, usia kuil yang sangat tua ini mungkin terasa mengejutkan. Sebagian besar orang kerap salah mengidentifikasi kawasan “Jepang lama” dengan wilayah seperti Kyoto dan Nara. Padahal, wilayah timur Jepang juga menyimpan narasi sejarahnya sendiri yang sebagian besar luput dari buku-buku sejarah. Ketika para bangsawan istana kekaisaran sibuk berselisih di antara mereka sendiri, para perintis di wilayah timur justru berani bertempur melawan populasi pribumi Jepang.

Dewa utama yang disemayamkan di Kashima Jingu adalah Takemikazuchi, dewa petir dan pedang. Ia sangat terkenal karena kisah penaklukannya atas Namazu, monster lebat raksasa yang diyakini sebagai penyebab gempa bumi di Jepang. Legenda mengisahkan bahwa Takemikazuchi menindih makhluk tersebut dengan sebuah batu raksasa bernama Kaname-ishi agar tidak bisa berontak. Konon, setiap kali sang dewa lengah, Namazu akan lepas dan memicu gempa bumi yang dahsyat.
Terlepas dari kisah monster lele tersebut, pemujaan terhadap Takemikazuchi membuat Kashima Jingu memiliki hubungan yang erat dengan dunia militer. Pada masa-masa awal kekaisaran Jepang, kuil ini berfungsi sebagai basis garis depan yang kokoh selama kampanye militer istana kekaisaran melawan populasi Emishi dan Ezo. Sebagaimana kelompok pribumi lainnya, kedua suku asli ini gigih menolak dominasi kekaisaran. Bersama dengan Katori Jingu yang berada tak jauh dari sana, Kashima Jingu memegang peran sentral dalam menundukkan wilayah timur laut.
Selain warisan militernya, Kashima Jingu juga memiliki ikatan yang kuat dengan seni bela diri. Kuil ini telah menyambut banyak pendekar pedang hebat selama bertahun-tahun dan bahkan melahirkan aliran ilmu pedangnya sendiri. Di berbagai dojo kenjutsu dan kendo di seluruh dunia, gulungan gambar berlukiskan Takemikazuchi sering dipajang untuk menghormati kuil ini. Hingga hari ini, Kashima Jingu tetap menjadi tempat penting bagi dunia seni bela diri dan menyelenggarakan berbagai acara sepanjang tahun.
Cara Menuju ke Sana

Harus diakui bahwa perjalanan menuju Kashima Jingu tidaklah mudah. Pengunjung harus menempuh perjalanan sekitar tiga hingga empat jam dari pusat Tokyo menuju kawasan yang cukup terpencil. Jika berangkat pagi-pagi sekali, perjalanan ini bisa diselesaikan dalam waktu sehari penuh yang cukup melelahkan. Mengingat jadwal kereta yang cukup jarang, melewatkan satu jadwal saja bisa membuat perjalanan tertunda lebih dari satu jam.
Secara garis lurus, jarak Kashima Jingu sebenarnya tidak terlalu jauh, tetapi aksesibilitasnya tergolong sulit. Menariknya, justru lebih cepat jika Anda melakukan perjalanan memutar melewati Mito terlebih dahulu menggunakan kereta ekspres. Bagi yang berencana berkunjung, disarankan untuk menjadikannya bagian dari rencana perjalanan dua hari. Pada hari pertama, Anda bisa menjelajahi Mito dan Kairaku-en, kemudian melanjutkan perjalanan ke Stasiun Kashima Jingu menggunakan jalur Kashima Rinkai Railway.
Bagi pelancong yang berangkat dari Bandara Internasional Narita, Kashima Jingu juga bisa menjadi pemberhentian terakhir yang ideal sebelum pulang. Letaknya berjarak sekitar 50 menit di sebelah timur laut bandara, sangat cocok bagi mereka yang memiliki penerbangan malam atau waktu transit yang cukup panjang di Jepang.
Gerbang Torii dan Jalur Masuk Utama Kashima Jingu

Kashima Jingu terletak di atas sebuah bukit, sekitar sepuluh menit berjalan kaki dari stasiun. Kuil ini berada di ujung jalan perbelanjaan yang cukup panjang bernama Omachi-dori. Hingga tahun 1930-an, jalur utama ini dipenuhi oleh bangunan ryokan tradisional. Pada masa abad pertengahan, Kashima Jingu menjadi pusat keramaian di lingkungan sekitar. Meskipun petunjuk arah berbahasa Inggris cukup terbatas, kompleks kuil ini tetap mudah ditemukan.
Anda akan tahu bahwa Anda telah tiba di Kashima Jingu ketika melihat gerbang torii berukuran besar. Lengkungan ikonik ini telah lama menyambut para pengunjung yang datang ke area kuil. Sayangnya, gerbang torii yang asli sempat runtuh akibat bencana gempa dan tsunami tahun 2011. Bangunan tersebut kini telah digantikan dengan gerbang baru yang dibuat dari kayu cedar raksasa milik Kashima Jingu.
Aula Utama Kashima Jingu
Setelah melewati gerbang torii yang megah, pengunjung akan segera menjumpai gerbang Romon dua lantai yang berukuran besar. Catatan sejarah menunjukkan bahwa struktur bangunan yang menjulang ini dibangun pada tahun 1634 oleh pemimpin pertama dari klan cabang Mito Tokugawa. Gerbang ini diakui sebagai salah satu pintu masuk kuil terbesar di Jepang dan telah terdaftar sebagai Properti Budaya Penting.
Begitu melewati gerbang Romon, Anda akan memasuki area pusat Kashima Jingu tempat aula utama berdiri, di mana Takemikazuchi disemayamkan. Meskipun bangunan aslinya sempat dibangun ulang setiap 20 tahun sekali pada masa awal sejarah kuil, struktur bangunan yang berdiri saat ini berasal dari tahun 1615. Pembangunan tersebut ditugaskan oleh shogun kedua setelah dinasti Tokugawa berhasil mengonsolidasikan kekuasaan mereka.
Area terbuka tepat di depan aula utama sering digunakan untuk berbagai kegiatan yang berkaitan dengan seni bela diri. Jika Anda seorang praktisi kendo atau gaya bertarung Jepang lainnya, ada baiknya memeriksa jadwal acara sebelum berkunjung untuk melihat pertunjukan Kashima Shinto-ryu yang legendaris.
Hutan Tenang di Kawasan Kuil

Salah satu hal paling menarik dari Kashima Jingu adalah suasananya yang begitu tenang. Meskipun sangat dihormati oleh para praktisi bela diri, ada atmosfir damai yang kental di dalam area kuil. Suasana ini tercipta berkat lokasi kuil yang dikelilingi oleh ribuan pohon cedar menjulang tinggi di atas bukit hutan.
Tempat terbaik untuk merasakan ketenangan tersebut adalah di sepanjang jalur setapak sepanjang 300 meter menuju bagian dalam hutan. Jalan setapak alami ini diapit oleh pohon-pohon cedar raksasa yang usianya seusia dengan kuil itu sendiri. Jalur yang damai ini dapat diakses melalui bagian belakang area aula utama.

Selain deretan pohon tinggi yang memukau, area ini juga menjadi rumah bagi sebuah kandang rusa yang cukup besar. Meskipun tidak berkeliaran bebas seperti rusa-rusa di Nara, mereka tetap tampak sangat menggemaskan. Dengan membeli sekeranjang wortel seharga 100 yen, pengunjung bisa memberi makan rusa-rusa tersebut secara langsung.
Hubungan Kashima Jingu dengan Nara

Kehadiran rusa-rusa ini tentu menimbulkan pertanyaan mengenai alasan mereka berada di sana. Berdasarkan mitologi setempat, rusa-rusa yang kini berada di Nara sebenarnya berasal dari Kashima Jingu. Legenda menceritakan bahwa ketika kekaisaran Jepang menetapkan Nara sebagai ibu kota baru pada awal tahun 700-an, mereka memohon perlindungan kepada Takemikazuchi.
Sang dewa diyakini pindah ke Kasuga Taisha di Nara dengan menunggangi seekor rusa putih yang besar. Oleh karena itu, rusa dianggap sebagai utusan para dewa yang ikut mendampingi perpindahan tersebut. Hingga hari ini, ribuan rusa suci dapat ditemukan berkeliaran bebas di Taman Nara.
Menjelajah Lebih Jauh ke Dalam Kuil

Di ujung jalur setapak hutan, pengunjung akan menemukan kuil bagian dalam (inner shrine). Bangunan ini awalnya didirikan pada tahun 1605 oleh pendiri Keshogunan Tokugawa, Tokugawa Ieyasu, setelah kemenangannya dalam Pertempuran Sekigahara. Kuil bagian dalam ini kemudian dipindahkan lebih jauh ke dalam kawasan hutan Kashima Jingu.
Suasana di kuil bagian dalam ini terasa jauh lebih kuno dibandingkan aula utamanya, mungkin karena posisinya yang dikelilingi lebatnya pepohonan hutan. Tepat di belakang bangunan ini, terdapat sebuah pohon cedar berukuran sangat besar yang dianggap suci dalam tradisi Shinto. Setelah menikmati area ini, jalur perjalanan akan bercabang menjadi dua arah.
Namazu dan Batu Penjara Legendaris

Jika Anda mengambil jalur sebelah kanan, Anda akan menjumpai ukiran batu yang menggambarkan dewa Takemikazuchi menundukkan lele Namazu. Tepat di balik lokasi patung ini, terdapat batu Kaname-ishi yang legendaris yang dipercaya masih menindih sang monster gempa hingga hari ini.
Hanya bagian ujung dari batu Kaname-ishi yang dapat dilihat di permukaan, sementara sebagian besar badannya terkubur jauh di dalam tanah. Konon, penguasa Tokugawa Mitsukuni pernah mencoba menggali dasar batu tersebut selama tujuh hari namun gagal menemukan ujung bawahnya. Peristiwa-peristiwa ganjil yang dialami para pekerja saat penggalian semakin memperkuat legenda mistis di tempat ini.
Keindahan Kolam Mitarashi

Sebaliknya, jalur sebelah kiri akan membawa pengunjung menuruni lereng curam menuju Kolam Mitarashi. Pada masa lalu, tempat ini digunakan oleh para pengunjung untuk menyucikan diri sebelum memasuki area utama kuil. Hingga kini, ritual tersebut masih dilakukan setidaknya sekali dalam setahun saat upacara Tahun Baru.
Kolam Mitarashi dianggap sangat suci dan memiliki keunikan tersendiri, yaitu airnya tidak pernah surut meskipun terjadi kekeringan ekstrem. Selain itu, meskipun air terus mengalir dari sumbernya setiap hari, volume air di kolam ini tidak pernah meluap, menghadirkan nuansa spiritual yang sangat kuat bagi siapa saja yang melihatnya.

Keindahan kolam ini begitu memukau hingga sering disamakan dengan lanskap dalam dunia permainan video fantasi. Menyediakan waktu untuk duduk dan menikmati ketenangan di sekitar Kolam Mitarashi merupakan salah satu pengalaman terbaik selama mengunjungi Kashima Jingu.
Menikmati Kuliner Khas

Setelah berjalan jauh, pengunjung bisa singgah di sebuah restoran kecil dekat Kolam Mitarashi untuk memulihkan tenaga. Di tempat ini, Anda dapat mencicipi ayu-yaki, yaitu ikan air tawar yang dipanggang secara perlahan di atas arang dengan sedikit taburan garam.

Bagi yang mencari makanan yang mengenyangkan, tersedia pula menu mi soba buatan tangan yang diolah langsung di tempat setiap hari. Hidangan hangat ini sangat cocok untuk mengembalikan energi sebelum memulai perjalanan panjang kembali ke pusat kota.
Destinasi Wisata di Sekitar

Selain Kashima Jingu, wilayah sekitar kuil juga menyimpan beberapa titik menarik, seperti taman yang dibangun di atas bekas reruntuhan benteng dan gerbang torii air terbesar di Jepang. Jika memiliki waktu lebih, Anda juga bisa mengunjungi Katori Jingu di Prefektur Chiba yang letaknya tidak terlalu jauh.
Katori Jingu memiliki karakteristik yang mirip dengan Kashima Jingu karena sama-sama erat kaitannya dengan budaya samurai dan seni bela diri. Dewa utama di kuil ini adalah Futsunushi, dewa pedang dan petir yang sering dianggap sebagai rekan sejati Takemikazuchi.








