Home / Travel / Kuil Takaya di Kagawa: Panorama Memukau Laut Pedalaman Seto

Kuil Takaya di Kagawa: Panorama Memukau Laut Pedalaman Seto

Takaya Shrine at Sunset

Jika Anda sering menjelajahi media sosial asal Jepang, Anda mungkin pernah melihat keindahan kuil Shinto di Prefektur Kagawa yang terkenal dengan sebutan “gerbang torii di langit”. Terletak di kota Kan-onji, tempat suci ini berada di puncak Gunung Inazumi pada ketinggian 404 meter di atas permukaan laut, menyajikan pemandangan Laut Pedalaman Seto yang sangat memukau dari ketinggian. Sebagai salah satu destinasi tersembunyi di Kagawa, Takaya Shrine menawarkan spot foto yang sangat estetis dan menjadi favorit warga lokal.

Selain pemandangannya yang luar biasa untuk diunggah ke media sosial, Takaya Shrine juga menyimpan nilai spiritual yang mendalam. Sejarah situs ini telah berjalan lebih dari seribu tahun dan tercatat dalam dokumen Engi-shiki, sebuah kompilasi peraturan istana yang rampung pada tahun 927. Kemungkinan besar, usia kuil ini bahkan lebih tua dari abad ke-10. Kuil ini memuja sejumlah kami termasuk Ukemochi-no-Kami, serta didedikasikan untuk memohon keberuntungan atas hasil panen padi yang melimpah dan kemakmuran bisnis.

Meskipun mungkin bukan destinasi utama yang wajib masuk dalam seluruh susunan perjalanan Anda, singgah sejenak di Kan-onji City ini sangat disayangkan jika dilewatkan saat berkunjung ke wilayah Setouchi. Selain pemandangan ikonik dari puncak gunung, kawasan kuno di sekitar kuil ini menawarkan cukup banyak daya tarik untuk mengisi waktu setengah hari, menjadikannya tambahan yang sempurna untuk rencana perjalanan di Prefektur Kagawa.

Cara Menuju ke Sana

Mencapai puncak gunung tempat gerbang torii Takaya Shrine berada tentu bukan hal yang mudah. Kompleks kuil ini sebenarnya membentang di sepanjang Gunung Inazumi, dengan bangunan kuil bawah yang terletak di kaki lereng. Bagi pengunjung pada umumnya, menggunakan sarana transportasi modern seperti kendaraan sewaan atau bus antar-jemput jauh lebih praktis daripada harus menapaki tangga batu yang curam.

Sebagai langkah awal, Anda perlu pergi ke Kan-onji City terlebih dahulu. Jika tidak membawa kendaraan sendiri, Anda bisa naik Jalur Yosan atau Kereta Ekspres Terbatas Shiokaze menuju Stasiun JR Kan-onji. Dari sana, Anda harus berjalan kaki menuju Kotohiki Park untuk membeli tiket bus antar-jemput yang dioperasikan oleh pihak kota. Bus ini berangkat setiap 30 menit sekali dan akan membawa Anda menaiki jalan yang sempit serta curam menuju bagian tertinggi Takaya Shrine.

Perlu diingat bahwa layanan bus antar-jemput kota ini hanya beroperasi pada hari Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional mulai pukul 10.00 pagi hingga 5.30 sore. Oleh karena itu, siapa pun yang berencana mendaki ke area atas Takaya Shrine pada hari kerja harus siap menaiki 270 anak tangga batu atau mencari alternatif transportasi lain. Terutama saat cuaca cerah dan hangat, disarankan untuk mengatur jadwal kunjungan pada akhir pekan agar Anda bisa menghindari pendakian yang melelahkan.

Selain itu, penting untuk dicatat bahwa pada akhir pekan, pemerintah kota menutup akses jalan menuju gerbang torii bagi kendaraan umum selama jam operasional bus. Jalan tersebut terlalu sempit untuk berpapasan, sehingga akses umum dibatasi dari pagi hingga petang demi keselamatan dan kelancaran bus mikro. Jadi, jika Anda ingin menyaksikan pemandangan spektakuler pada akhir pekan, Anda wajib menggunakan bus resmi kota.

Gerbang Torii di Langit

Takayajinja Shrine is most famous for its so-called “Torii in the Sky” which looks out over the Seto Inland Sea. Especially during winter and spring when the air is clear, the views from the top are breathtaking.

Jika Anda naik menggunakan bus taksi, Anda akan diturunkan di area parkir kecil di bagian belakang bangunan utama kuil di puncak Gunung Inazumi. Dari sana, Anda masih harus berjalan menanjak dengan cukup curam untuk mencapai gerbang torii yang terkenal. Meski tidak seberat mendaki 270 anak tangga batu, Anda mungkin akan merasa sedikit kehabisan napas. Pemandangan megah Laut Pedalaman Seto dan gerbang torii yang menyambut di puncak akan langsung membayar kelelahan Anda, di mana Anda bisa beristirahat sejenak sambil menikmati minuman dingin.

Perlu dipahami bahwa semua pengunjung di sini pasti mengincar foto yang sama dengan latar belakang pemandangan laut yang indah. Harap bersikap tertib dan antre dengan baik saat bergiliran berfoto di gerbang tersebut. Waktu yang tersedia sangat cukup bagi semua penumpang bus untuk mengambil foto sebelum jadwal kepulangan bus tiba, yang tentu tidak ingin Anda lewatkan jika tidak ingin berjalan kaki menuruni gunung.

Setelah mendapatkan foto terbaik, berikan kesempatan kepada pengunjung lain dan mulailah menjelajahi area sekitar kuil utama. Di sini terdapat aula utama yang dikenal sebagai Hongu, serta mesin penjual otomatis unik yang menawarkan cinderamata khusus kuil seperti jimat pelindung dan suvenir lokal khas Shikoku. Barang-barang tersebut hanya bisa dibeli langsung dari mesin di area kuil utama ini, menjadikannya bukti otentik ziarah Anda.

Jika Anda berniat menyaksikan matahari terbenam dari area kuil utama, ketahuilah bahwa Anda harus menuruni lereng Gunung Inazumi dalam keadaan gelap dan kondisi jalur yang cukup berbahaya, sehingga hal tersebut sangat tidak disarankan. Jalur tangga tidak rata dan dipenuhi kerikil longgar. Satu kesalahan kecil saja dapat merusak seluruh liburan Anda di Jepang. Terlebih lagi, tidak ada taksi yang akan naik ke atas setelah matahari terbenam, jadi urungkan niat mendaki demi keselamatan.

Satu hal lagi, jangan berasumsi Anda bisa mengikuti petunjuk Google Maps untuk menuruni Gunung Inazumi lewat jalur yang sama dengan bus antar-jemput. Jalur dari tempat parkir kuil utama tersebut hanya diizinkan untuk kendaraan bermotor, sehingga mau tidak mau Anda harus kembali menggunakan bus.

Tangga Batu dari Kuil Bawah

Getting to Takaya Shrine from the JR Kanonji Station on foot requires trekking all across Kanonji City and then ascending the 270 steps to the main shrine area called the Hongu in Japanese.

Jika Anda menginginkan pengalaman yang autentik dan menyeluruh, Anda wajib mendaki ke kuil utama dengan berjalan kaki. Perjalanan ini dimulai dari kuil bawah dan melewati 270 anak tangga batu yang tidak rata serta melelahkan. Jalur ini tentu bukan untuk semua orang, terutama pada bulan-bulan hangat ketika tingkat kelembapan di Kagawa sangat tinggi. Kendati demikian, ada kepuasan tersendiri saat Anda berhasil mencapai puncak melalui pendakian tradisional selama 40 hingga 60 menit ketimbang diantar menggunakan bus.

Secara keseluruhan, Anda perlu menyediakan waktu sekitar satu jam untuk berjalan dari kuil bawah menuju gerbang torii di atas. Perjalanan naik memang melelahkan, tetapi perjalanan turunlah yang membutuhkan kewaspadaan ekstra. Seperti yang telah disebutkan, anak tangga yang tidak rata dan kerikil lepas membuat satu kecerobohan kecil dapat berakibat fatal. Kenakanlah alas kaki yang memadai dan bukan sandal tipis.

Perlu diingat pula bahwa rute tangga ini menjadi satu-satunya pilihan bagi pengunjung yang datang pada akhir pekan atau hari libur nasional jika mereka tidak menggunakan atau kehabisan tiket bus antar-jemput. Selama jam operasional bus, jalan raya tertutup untuk kendaraan pribadi, sehingga tangga batu tersebut adalah satu-satunya akses tersisa bagi pejalan kaki.

Pemandangan Menakjubkan di Pantai Chichibugahama

In addition to Takayajinja Shrine, the nearby beach of Chichibugahama is one of the most photogenic spots in all of Kagawa Prefecture.

Kecuali jika Anda berkunjung pada hari kerja dengan membawa mobil pribadi, disarankan untuk turun dari Gunung Inazumi sebelum matahari terbenam. Pemandangan dari atas memang indah, tetapi menuruni tangga batu dalam kegelapan bukanlah pilihan petualangan yang bijak. Sebagai alternatif yang lebih aman untuk menikmati senja di wilayah ini, Anda bisa berkunjung ke Pantai Chichibugahama.

Terletak di Kota Mitoyo yang bertetangga, Chichibugahama adalah garis pantai sepanjang satu kilometer yang terkenal sebagai spot matahari terbenam terbaik di Kagawa. Ketika air surut bertepatan dengan senja, genangan air dangkal di atas pasir menciptakan pantulan bak cermin, yang sering disetarakan dengan dataran garam Uyuni di Bolivia. Tempat ini sangat populer di kalangan fotografer, dan Anda dapat menikmati pemandangan senja di sini tanpa harus mempertaruhkan keselamatan menuruni jalur gunung yang curam.

Pantai ini paling ideal dikunjungi sebagai destinasi lanjutan setelah dari gunung. Pengendara mobil dapat langsung meluncur ke lokasi, sementara pelancong lain dapat memanfaatkan taksi atau transportasi umum dari Stasiun JR Takuma. Menggabungkan kedua tempat ini akan memberi Anda pengalaman lengkap: menikmati gerbang torii di siang hari dan panorama senja yang terpantau di Chichibugahama pada sore harinya.

Menghabiskan Waktu di Kotohiki Park

In addition to Takaya Shrine, the Zenigata Sand Coin is one of the highlights of Kanonji City so don’t miss it when exploring this part of Japan.

Mengingat kuota bus antar-jemput Takaya Shrine yang terbatas, ada kemungkinan Anda harus menunggu beberapa jam sebelum naik. Beruntungnya, loket tiket dan area pemberangkatan bus terletak persis di sebelah Kotohiki Park, sehingga Anda tidak perlu menghabiskan waktu di area parkir yang membosankan. Kawasan Kan-onji ini memiliki cukup banyak daya tarik untuk mengisi waktu luang Anda.

Destinasi terpenting di sini adalah kompleks kuil Jinne-in dan Kan’non-ji, yang berfungsi ganda sebagai kuil nomor 68 dan 69 dalam Ziarah 88 Kuil Shikoku. Kedua kuil ini berbagi area yang sama dan beroperasi layaknya situs suci kembar. Di dekatnya, Anda juga bisa menemukan Kotohiki Hachimangu yang terletak di atas Gunung Kotohiki. Singkatnya, kawasan ini memadukan sejarah ziarah Buddha, tradisi kuil Shinto, dan keindahan alam dalam satu area yang kompak.

Daya tarik utama lainnya adalah Zenigata Sand Coin. Karya seni pasir raksasa ini berbentuk menyerupai koin Kan’ei Tsuho dari zaman Edo (1603–1868) dengan ukuran sekitar 122 meter secara melintang, tinggi 90 meter, dan keliling 345 meter. Konon, barangsiapa yang melihatnya dipercaya akan berumur panjang dan mendapatkan keberuntungan finansial. Sudut pandang terbaik untuk melihatnya adalah dari titik observasi di atas taman agar bentuk koin tersebut terlihat jelas.

Destinasi Menarik Lainnya di Sekitar

Kotohiragu shrine is absolutely breathtaking and looks like it belongs in a painting. That said, the stone stairs that one has to ascend to go see it are indeed quite the challenge.

Jika Anda merasa masih memiliki tenaga ekstra dan menyukai tantangan anak tangga, Anda dapat memasukkan Kotohira-gu yang tersohor ke dalam daftar kunjungan di Prefektur Kagawa. Kompleks kuil yang luas ini juga terletak di atas gunung di bagian barat Kagawa dan memiliki tidak kurang dari 1.368 anak tangga hingga ke bagian sanubari terdalamnya.

Tidak jauh dari sana, di dataran bekas Provinsi Sanuki, terdapat Kastil Marugame. Menghadap langsung ke Laut Pedalaman Seto, bangunan ini merupakan salah satu dari 12 menara kastil asli yang tersisa di Jepang. Selagi berada di sana, Anda juga berkesempatan menaiki feri menuju Kepulauan Shiwaku, gugusan pulau kecil tempat para nelayan dan pelaut beroperasi selama berabad-abad.

Terakhir, jika Anda melanjutkan perjalanan ke arah barat, Anda akan tiba di kota Imabari. Terkenal sebagai titik akhir dari jalur Shimanami Kaido, Imabari menyimpan pesona sejarah yang menarik, terutama saat Anda menjelajahi pulau-pulau di sekitarnya yang pada masa lampau menjadi basis kekuasaan Murakami Suigun, kelompok bajak laut legendaris yang menguasai Laut Pedalaman Seto pada era perang saudara di Jepang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *