Home / Travel / Jepang & Diet Ketogenik: Cara Menjaga Ketosis di Sini

Jepang & Diet Ketogenik: Cara Menjaga Ketosis di Sini

The Ketogenic Diet in Japan

Banyak wisatawan maupun ekspatriat sering bertanya-tanyakan hal yang sama: bagaimana cara tetap menjalani diet ketogenik di negara yang terkenal selalu menyajikan nasi di setiap hidangannya?

Bagi yang belum tahu, diet ketogenik adalah pola makan di mana tubuh memanfaatkan keton dari lemak sebagai sumber energi utama, menggantikan glukosa. Pola ini menuntut sekitar 80 persen asupan kalori berasal dari lemak sehat, yang tentu menjadi tantangan tersendiri di Jepang yang kaya akan karbohidrat.

Sejak tahun 2016, saya telah banyak bereksperimen dengan ketosis dan puasa. Hasilnya, diet ini sebenarnya cukup realistis diterapkan di Jepang asalkan Anda membuat perencanaan sebelumnya. Anda memang harus mengabaikan berbagai hidangan lezat berbahan karbohidrat, tetapi menjaga pola makan keto ternyata tidak begitu sulit jika Anda tahu apa saja yang harus dicari. Berikut adalah lima tips untuk membantu Anda menikmati liburan di Jepang tanpa harus merusak diet.

Fish, nuts and avocados are a great way to stay on a ketogenic diet in Japan

Tip #1: Minyak MCT

Tantangan terbesar yang akan Anda hadapi adalah memenuhi kebutuhan lemak harian. Hal ini sudah cukup sulit dilakukan di rumah, apalagi saat sedang bepergian. Kendati demikian, persiapan yang matang akan membuat segalanya menjadi lebih mudah.

Sebelum berangkat, sebaiknya siapkan sebotol minyak MCT di dalam koper Anda. Merek andalan saya adalah Brain Octane dari Dave Asprey karena saya penggemar berat bulletproof coffee, namun Anda bebas menggunakan merek apa saja. Meskipun minyak MCT bisa ditemukan di Jepang, harganya biasanya jauh lebih mahal dibandingkan di luar negeri.

Bawa terus botol tersebut kemana pun Anda pergi selama menjelajahi Jepang. Selama Anda memiliki minyak MCT, fokus utama Anda tinggal mencari protein dan sayuran. Gunakan minyak ini sebagai suplemen untuk mencukupi kebutuhan lemak. Sebagian besar restoran menyediakan menu salad, jadi Anda bisa langsung menuangkan minyak tersebut ke atas sayuran hijau Anda.

Tip #2: Kacang Makadamia

Kacang makadamia adalah penyelamat bagi siapa saja yang ingin mempertahankan diet keto saat bepergian. Jenis kacang ini padat kalori dan sebagian besar komponennya terdiri dari lemak. Itulah sebabnya mengonsumsi segelintir saja sudah sangat mengenyangkan. Terakhir kali saya mengeceknya, sekitar 10 hingga 12butir kacang makadamia mengandung lebih dari 200 kalori.

Hal ini berarti Anda bisa membawa bekal yang ringan namun tetap memiliki cukup energi. Mengingat banyak tempat wisata terbaik di Jepang yang mengharuskan Anda menaiki banyak anak tangga, membawa tas yang terlalu berat tentu bukan ide yang bagus.

Sayangnya bagi pelancong dengan anggaran terbatas, kacang makadamia tergolong cukup mahal. Tempat terbaik untuk mendapatkannya dengan harga yang wajar adalah di supermarket mewah Seijo Ishii. Sebungkus kacang ini dibanderol sekitar 1.500 yen setelah pajak dan biasanya cukup untuk 3 hingga 4 kali makan. Beberapa minimarket juga menyediakannya, bersiaplah untuk merogoh kocek lebih dalam.

Tip #3: Manfaatkan Natural Lawson

Di luar negeri, membeli makanan di minimarket mungkin terdengar kurang lazim. Namun, situasinya sangat berbeda di Jepang. Meskipun Anda bisa menemukan makanan sehat di hampir semua minimarket, Natural Lawson adalah juaranya.

Bagi pelaku diet keto, carilah menu bacon, telur rebus, serta sarden atau kerang kalengan. Natural Lawson juga menyediakan dada ayam siap santap yang sangat baik untuk dikonsumsi. Pastikan saja Anda mengimbangi kandungan proteinnya yang tinggi dengan tambahan sumber lemak dari makanan lain.

Tip #4: Makan di Luar di Jepang

Jepang memiliki budaya kuliner yang luar biasa, dan untungnya menjalani diet ketogenik bukan berarti Anda tidak bisa ikut menikmati kulinernya. Anda hanya perlu membuat keputusan yang tepat, misalnya memilih sashimi daripada sushi. Pastikan juga rekan perjalanan Anda memahami pantangan makanan Anda.

Jika Anda harus merekomendasikan tempat alternatif, beberapa favorit saya yang ramah keto adalah yakitori dan yakiniku. Terkait makanan cepat saji, Anda mungkin harus melewatkan tradisi makan ramen larut malam bersama teman-teman. Sebagai gantinya, pilih jaringan restoran gyudon seperti Matsuya atau Yoshinoya, yang hampir selalu menawarkan menu daging sapi tanpa nasi. Dikombinasikan dengan minyak MCT, trik ini dapat menyelamatkan Anda dari godaan menyantap karbohidrat berlebih.

Tip #5: Menikmati Minuman Beralkohol di Keto

Pembahasan tentang kuliner Jepang tidak akan lengkap tanpa menyinggung soal alkohol. Budaya minum sangat melekat di sini, dan para pekerja sering kali bersosialisasi sambil minum bersama rekan kerja setelah jam kantor usai.

Mereka yang menjalani diet keto tentu sudah paham cara mengonsumsi alkohol tanpa keluar dari mode pembakaran lemak. Sebagai pengingat, usahakan untuk memilih minuman keras berkadar alkohol tinggi dan hindari minuman yang mengandung karbohidrat tersembunyi. Tantangan terbesar yang harus diwaspadai adalah menjaga kontrol diri agar tidak kalap makan makanan karbohidrat setelah menenggak beberapa gelas minuman.

Kesimpulan Diet Ketogenik di Jepang

Soba noodles with tempura as an example of what is not a good to eat on a ketogenic diet in Japan

Terlepas dari berbagai tips di atas, ada argumen kuat untuk melepaskan sementara diet ini saat berada di Jepang. Negara ini sangat terkenal dengan kelezatan kulinernya yang notabene kaya akan karbohidrat. Selain itu, meskipun Anda sudah berhati-hati, selalu ada kemungkinan Anda keluar dari status ketosis. Bagi saya, lebih baik menikmati momen liburan tersebut dan kembali fokus pada diet sekembalinya ke rumah.

Jika Anda benar-benar harus mempertahankan diet keto selama di Jepang, ingatlah bahwa berpuasa sementara jauh lebih baik daripada mengonsumsi karbohidrat. Tubuh Anda yang sudah terbiasa membakar keton seharusnya mampu menjaga tingkat energi dengan baik meskipun sedang tidak makan. Manfaatkan metode intermittent fasting agar Anda hanya makan ketika makanan yang tepat tersedia. Secara pribadi, saya merasa cukup berhasil dengan pola makan satu kali sehari, meski hasilnya bisa berbeda pada setiap orang.

Sampai jumpa di artikel berikutnya, para pelancong…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *