Menyusul peluncuran koleksi pakaian jalanan ONE PIECE Gear 5 edisi terbatas oleh G2 Esports pada bulan Juni lalu, Anime Corner berkesempatan untuk berbincang dengan Pétronille Grein, selaku Head of Products & Licensing di G2. Dalam wawancara ini, ia membahas arah desain koleksi tersebut, keseimbangan antara identitas merek G2 dan ONE PIECE, cara G2 mengukur kesuksesan sebuah kolaborasi, serta pentingnya menjaga identitas organisasi.
Berikut adalah rangkuman dari keseluruhan wawancara tersebut.
Mengapa memilih pendekatan pakaian jalanan harian alih-alih desain anime yang terlalu mencolok?
Kami ingin keluar dari anggapan bahwa merchandise esports adalah sesuatu yang hanya dipakai saat hari pertandingan atau di dalam arena. Tujuan kami adalah menghadirkan pakaian yang benar-benar ingin dikenakan orang setiap hari, namun tetap merepresentasikan G2. Itulah mengapa fokus koleksi ini terletak pada kolaborasi merek yang lebih subtil, pilihan warna, potongan modern yang santai, serta detail premium seperti bordir. Di sisi lain, kami juga tidak ingin menghilangkan elemen seru dari kolaborasi anime, sehingga kami menyeimbangkannya melalui potongan grafis yang merayakan kerja sama ini.
Gear 5 adalah bentuk yang sangat ikonis namun mudah terasa berlebihan. Apa aturan internal dalam menggunakannya?
Bentuk Gear 5 sangat ikonis sehingga kami ingin mempertahankannya tetap istimewa. Kami hanya menggunakannya pada beberapa produk kunci dan menjadikannya pusat dari cerita grafis, bukan menerapkannya di seluruh koleksi. Kami juga membuatnya lebih mudah dikenakan melalui teknik garis luar serta palet warna yang lebih tenang.
Faktor apa yang paling dipertimbangkan saat mengevaluasi kolaborasi: ukuran IP, irisan audiens dengan G2, atau ruang untuk membangun identitas khas G2?
Hal tersebut berkaitan erat dengan relevansi kultural dan seberapa kuat IP tersebut terhubung dengan para penggemar kami. Kedua faktor ini berjalan berdampingan saat kami memutuskan sebuah kolaborasi. Pada saat yang sama, kami selalu memastikan bahwa apa pun yang kami bangun tetap mencerminkan karakter G2. Tentu saja, tingkat kebebasan kreatif bergantung pada IP itu sendiri serta cara hak ciptanya dikelola, sehingga hal tersebut membentuk batasan seberapa jauh kami bisa mendorong desain tanpa kehilangan identitas.
Apa tantangan terbesar dalam menggabungkan ikonografi G2 dengan One Piece agar terlihat otentik dan bukan sekadar menempelkan dua logo?
Bagi kami, memiliki logo gabungan yang sejati adalah kunci utamanya. Kami tidak ingin koleksi ini terasa seperti dua merek yang sekadar diletakkan berdampingan. Kami berhasil menciptakan sesuatu yang istimewa dengan memadukan topeng samurai G2 dan Topi Jerami milik Luffy, menghasilkan sebuah lambang yang langsung terasa otentik bagi G2 maupun ONE PIECE.
Untuk siapa sebenarnya koleksi ini ditujukan: penggemar G2, penggemar ONE PIECE, atau mereka yang menyukai keduanya?
Koleksi ini ditujukan untuk ketiga kelompok tersebut. Kami ingin menghadirkan rangkaian produk yang berbicara kepada penggemar setia G2, penggemar ONE PIECE, serta kelompok kecil yang menggemari keduanya. Itulah sebabnya Anda dapat menemukan produk yang lebih subtil dengan logo gabungan berukuran kecil, berdampingan dengan grafis yang lebih ekspresif untuk penggemar sejati ONE PIECE. Bagi kami, ini soal keseimbangan: bagaimana membuat koleksi tetap kohesif sekaligus menjangkau audiens yang beragam, termasuk para gamer inti melalui produk fungsional seperti pelindung perangkat gaming.
Apakah ada ide desain yang akhirnya dibatalkan karena terlalu literal atau sulit untuk dipakai sehari-hari?
Tentu saja, dalam proses desain dan pengembangan produk, selalu ada ide yang tidak sesuai harapan atau tidak dapat dieksekusi dengan baik. Cukup disayangkan harus melepas beberapa konsep sebelum sempat diluncurkan, tetapi itu adalah bagian normal dari proses kreatif yang membantu kami menyaring apa yang benar-benar berfungsi.
Bagaimana cara G2 mengukur kesuksesan sebuah kolaborasi, apakah dari penjualan atau persepsi mitra lisensi?
Kami melihat kesuksesan melalui berbagai metrik. Angka penjualan dan pandangan mitra lisensi tentu penting, tetapi bukan satu-satunya indikator. Kami juga memantau jumlah unit yang terjual, jangkauan serta keterlibatan di media sosial, hingga sinyal organik seperti permintaan restok atau antisipasi untuk koleksi berikutnya.
Bagian mana dari identitas G2 yang tidak boleh dikompromikan saat bekerja sama dengan IP besar?
Hal yang tidak pernah kami kompromikan dari G2 adalah nilai dasar yang kami junjung. Sekalipun bekerja sama dengan IP besar, kolaborasi tersebut harus tetap mencerminkan inti dari G2: sikap, kreativitas, dan koneksi kami dengan budaya gaming. IP dapat membentuk arah visual, tetapi pola pikir dan cerita harus berasal dari kami.
Apa harapan Anda terkait anggapan orang terhadap apa yang bisa dilakukan oleh organisasi esports dalam hal pakaian berlisensi?
Saya berharap hal ini membuka pandangan bahwa pakaian esports bukan sekadar busana untuk hari pertandingan. Kami ingin pakaian ini hidup di lemari pakaian sehari-hari dan relevan secara budaya di luar kancah kompetitif.
Pada titik mana kolaborasi justru dapat melemahkan identitas merek, dan bagaimana cara mencegahnya?
Saya rasa kolaborasi tidak secara otomatis melemahkan identitas merek, kecuali jika kemitraan tersebut tidak saling menguntungkan atau terasa terputus dari nilai dasar masing-masing. Selama G2 tetap setia pada identitasnya, selektif dalam memilih mitra, serta memiliki sudut pandang desain yang jelas, kolaborasi justru akan memperkuat merek.
Terima kasih kepada G2 dan Pétronille Grein yang telah meluangkan waktu untuk membagikan proses kreatif serta strategi di balik kolaborasi ini.








