Diumumkan pertama kalinya dalam ajang Gamescom Opening Night Live, 1001 Threads of Mizan merupakan gim aksi kooperatif untuk tiga pemain yang mengambil inspirasi langsung dari One Thousand and One Nights, koleksi cerita dan puisi klasik asal Timur Tengah. Trailer perdananya memamerkan pertarungan bos yang epik melawan musuh-musuh berukuran raksasa, sistem navigasi yang unik, serta kualitas visual yang memukau. Setelah mencoba gim ini selama sekitar 20 menit, elemen-elemen tersebut tampaknya benar-benar dihadirkan dengan baik.
Selama ajang Gamescom 2026, saya berkesempatan berbincang dengan Creative Director MBC Game Studio, Lars Bonde, untuk memainkan demo 1001 Threads of Mizan. Sebelum memulai petualangan bertema cerita rakyat ini, Bonde membagikan premis sederhana namun menarik yang melatarbelakangi pembuatan gim tersebut: “Bagaimana rasanya jika Anda bisa bermain Shadow of the Colossus bersama teman-teman, tetapi di atas karpet ajaib?”
Menjelajah Dunia Baru
Sesi uji coba 1001 Threads of Mizan dimulai dengan sebuah cutscene singkat yang memperkenalkan narasi utama serta tiga karakter utamanya: Yusra, Sufyan, dan Malik. Diceritakan bahwa Shahrazad, sang narator legendaris dari One Thousand and One Nights, membangkitkan kembali pasukan penjaga perdamaian yang telah lama terlupakan bernama Mizan. Bersama para rekrutan baru ini, Mizan harus menghentikan pasukan Jinn jahat yang mengancam dunia fana. Sinematik pembuka ini menampilkan elemen mitologi yang memikat dengan grafis berkualitas tinggi, terutama pada tekstur wajah dan animasi karakternya.
Setelah itu, saya diberikan kendali penuh atas karakter Mizan untuk melompat dari sebuah tebing. Saat meluncur ke arah gundukan pasir di bawah, sebuah instruksi muncul di layar untuk menahan tombol R2, yang seketika memunculkan karpet ajaib di bawah karakter saya. Beberapa menit berikutnya diisi dengan aksi terbang bersama para pejuang Mizan lainnya menyusuri sebuah ngarai.
Fokus pada sekuens ini adalah membiasakan diri dengan mekanik terbang yang terasa sangat intuitif dan responsif. Pemain hanya perlu menahan tombol picu kanan dan mengarahkan analog untuk, sementara tombol picu kiri digunakan untuk mengerem serta memutar arah secara cepat. Mekanik karpet terbang yang menawarkan kebebasan bergerak dengan cepat dan mulus ini menjadi sorotan utama selama saya menjajal demo tersebut.
Kami akhirnya tiba di ujung ngarai dan disambut oleh musuh-musuh Jinn yang tampak seperti prajurit undead standar. Saya melancarkan serangan area (AoE) dari udara menggunakan karpet, lalu beralih ke pertarungan darat yang terasa cukup familiar. Terdapat serangan jarak dekat ringan, serangan berat khusus, kemampuan spesial pada tombol R1, serta tombol blok pada L1 yang berfungsi sebagai parry jika waktunya tepat. Saya memainkan karakter Yusra, seorang pahlawan jarak jauh yang menggunakan tombak dan busur. Meskipun pertarungan darat di 1001 Threads of Mizan terasa responsif, sistem tersebut tidak begitu mencuri perhatian saya dibandingkan keasyikan terbang dengan karpet.



Kesan tersebut semakin teruji ketika kami memasuki sebuah gua sempit di mana karpet tidak dapat digunakan. Setelah mengalahkan para Jinn di dalam gua dengan mudah, kami kembali ke area terbuka di mana sesosok mini-boss telah menanti. Dalam pertempuran ini dan pertarungan berikutnya, karpet ajaib kembali menjadi fokus utama permainan. Ketiga anggota tim harus mengepung bos, menghindari terjangan tornado pasir, lalu melancarkan kombo serangan udara. Pertarungan ini berjalan dengan tempo yang baik dan terlihat sangat keren.
Namun, momen tersebut langsung disusul oleh pertarungan bos berikutnya yang jauh lebih berkesan. Memasuki alam Jinn, kami berhadapan langsung dengan Nazjush, sesosok Jinn bertubuh raksasa dengan empat lengan dan wajah yang tampak mengintimidasi. Pertarungan ini menuntut kami untuk menghindari serangan jarak jauh berskala besar yang memenuhi layar serta memantulkan proyektil bola energi, yang membutuhkan ketepatan dalam menggunakan mekanik rem dan putar pada karpet. Meskipun durasi pertarungannya terasa sedikit terlalu panjang, skala epik sang bos dan serangan visualnya yang intens menghadirkan tontonan spektakuler yang jarang ditemui pada gim aksi kooperatif lainnya.
Awal yang Menjanjikan
Usai mengalahkan Nazjush, saya sempat berdiskusi singkat dengan Creative Director Lars Bonde mengenai pengembangan gim ini serta struktur levelnya. Bonde menjelaskan bahwa meskipun demo yang kami mainkan bersifat linier, versi final gim ini nantinya akan menghadirkan beberapa zona terbuka yang berlokasi di dunia manusia maupun alam Jinn. Zona-zona tersebut dapat dieksplorasi sepenuhnya menggunakan karpet ajaib dan akan memuat berbagai pertarungan bos, teka-teki, serta konten sampingan yang menggali latar belakang masing-masing karakter. Melalui fitur kooperatif drop-in/drop-out, teman-teman dapat bergabung kapan saja sesuai keinginan mereka.
Bonde juga menyampaikan antusiasmenya dalam menciptakan adaptasi yang setia dari One Thousand and One Nights. Ia mengungkapkan bahwa MBC Game Studio terdiri dari pengembang global, termasuk tim riset khusus yang mempelajari naskah asli One Thousand and One Nights serta para ahli yang mendalami literatur kuno dan tekstil. Berdasarkan sesi uji coba singkat ini, 1001 Threads of Mizan menampilkan fondasi gameplay yang sangat solid. Keaslian dan komitmen mendalam terhadap cerita rakyat inilah yang berpotensi membuat gim ini tampil beda dibandingkan judul kooperatif sejenis, selama produk akhirnya mampu mempertahankan kualitas tersebut secara menyeluruh.














