Penggunaan bahasa yang mencerminkan identitas gender dalam bahasa Jepang sering kali disederhanakan secara berlebihan, terutama bagi para pembelajar asing. Berbeda dengan bahasa Inggris di mana kita bergantung pada kata ganti seperti “he” atau “she” yang disematkan orang lain kepada kita, bahasa Jepang memberikan keleluasaan bagi penuturnya untuk mengekspresikan identitas gender mereka sendiri melalui pilihan kata.
Secara tradisional, bahasa Jepang mengenal pembagian gaya bahasa yang disebut sebagai 女言葉 (bahasa perempuan) dan 男言葉 (bahasa laki-laki). Namun, dalam praktiknya di dunia nyata, penutur dari berbagai latar belakang identitas gender sering kali memadukan berbagai unsur dari gaya bahasa tersebut sesuai dengan kebutuhan komunikasi mereka.
Memahami 女言葉 dan 男言葉

Gaya bahasa 女言葉 identik dengan kesan feminin, kehalusan, kesopanan, dan kerendahan hati. Meskipun kerap dianggap sebagai tradisi kuno, fitur-fitur dalam gaya bahasa ini sebenarnya berakar dari kebiasaan kelompok kecil wanita kelas atas di masa lalu yang kemudian dinormalisasi sebagai cara berbicara bagi seluruh perempuan. Contohnya dapat dilihat pada kalimat seperti:
- 私、お腹空いたわ。
- Saya lapar.
Kalimat tersebut menggunakan kata ganti 私, partikel penutup kalimat わ dengan intonasi naik, serta menghindari kosakata kasar. Kendati demikian, sebagian besar perempuan muda saat ini justru lebih memilih opsi yang lebih netral dalam kehidupan sehari-hari. Pakar kebahasaan kerap menilai gaya ini lebih akurat jika disebut sebagai bahasa yang “lembut”.
Sebaliknya, 男言葉 dihubungkan dengan kesan maskulin, ketegasan, dan kekasaran. Gaya ini umumnya berfungsi sebagai sumber linguistik bagi penutur yang ingin menampilkan kesan tangguh. Contohnya tampak pada kalimat berikut:
- 俺、腹減ったぜ。
- Aku lapar.
Penggunaan kata ganti 俺, partikel penutup ぜ, serta pemilihan kosakata yang lebih kasar seperti 腹減った alih-alih お腹空いた menjadi ciri utama gaya ini. Meskipun lekat dengan identitas laki-laki, para ahli bahasa lebih tepat mengategorikannya sebagai bahasa “kasar” yang dapat digunakan oleh siapa saja saat situasi mendukung.
Praktik Penggunaan Bahasa Bergender

Dalam percakapan sehari-hari, ekspresi gender tercermin melalui tiga aspek utama: kata ganti, penutup kalimat, dan pilihan kosakata.
Kata Ganti
Bahasa Jepang memiliki banyak pilihan kata ganti orang pertama dan kedua yang penggunaannya sangat bergantung pada situasi, usia, status sosial, serta konteks pembicaraan. Kata ganti seperti 俺 yang maskulin terkadang digunakan pula oleh perempuan dalam situasi penuh emosi atau kemarahan, seperti yang ditemukan dalam pengamatan di bar lesbian di Tokyo.
Begitu pula dengan kata ganti orang kedua, pilihan kata seperti あんた atau お前 tidak secara mutlak dibatasi oleh gender penuturnya. Kata-kata ini kerap dipakai untuk mengekspresikan keakraban, keintiman, maupun kekesalan tergantung pada situasi yang dihadapi.
Penutup Kalimat
Partikel di akhir kalimat memegang peranan penting dalam memberi nuansa feminin, maskulin, atau netral. Sebagai contoh, perbedaan penggunaan partikel dan intonasi dapat mengubah kesan suatu kalimat secara drastis:
- ♀ ご飯の時間よ!
🏳️ ご飯の時間だよ! - Sudah waktunya makan malam!
Penghilangan atau penambahan kopula だ serta perbedaan intonasi naik dan turun pada partikel seperti わ turut menentukan apakah sebuah kalimat terdengar feminin, bernuansa dialek Kansai, atau netral.
Pilihan Kosakata
Variasi kata untuk menyatakan suatu maksud yang sama turut membedakan tingkat kesopanan dan nuansa penutur. Kata kerja seperti 食べる dan 食う memiliki arti yang serupa, tetapi membawa tingkat keformalan dan kesan yang berbeda. Hal serupa juga terlihat pada gaya bahasa オネエ言葉 yang kerap ditemukan di media maupun komunitas queer, di mana penutur memadukan unsur feminin yang berlebihan dengan kata-kata yang tajam dan langsung.
Mengenal オネエ言葉 dan Queer Japanese

Gaya bahasa オネエ言葉 lahir dari komunitas queer dan sering diidentikkan dengan cara bicara yang ekspresif. Istilah オネエ sendiri berasal dari kata お姉さん (kakak perempuan). Pandangan masyarakat terhadap gaya bahasa ini cukup beragam; sebagian menganggapnya sebagai kekayaan budaya yang mempererat solidaritas, sementara yang lain bersikap kritis karena media massa kerap mengeksploitasinya secara komikal.
Dalam percakapan di kalangan komunitas tertentu di Jepang, dikenal pula istilah seperti ホゲる yang mengacu pada tindakan mengekspresikan identitas queer melalui perilaku atau cara berbicara. Ungkapan-ungkapan semacam ini menjadi bagian dari dinamika sosial yang hidup di tengah masyarakat.
Masa Depan Bahasa Jepang yang Lebih Netral
Secara umum, tren penggunaan bahasa yang kaku berdasarkan gender mulai bergeser ke arah bentuk-bentuk yang lebih netral, terutama di kalangan generasi muda. Kendati demikian, batas-batas tersebut tidak serta-merta hilang, melainkan terus beradaptasi dan berkembang.
Bagi pembelajar bahasa Jepang, pendekatan yang fleksibel dan penuh eksplorasi sangat dianjurkan. Dengan memerhatikan bagaimana penutur asli memanfaatkan berbagai ragam bahasa sesuai konteksnya, pembelajar dapat menemukan gaya komunikasi yang paling sesuai dengan kepribadian dan tujuan mereka sendiri.
-
Dikenal secara kolokial sebagai ‘Nichome,’ Shinjuku Nichome adalah distrik gay terbesar di Jepang yang terletak di Shinjuku Timur, Tokyo. ↩
-
Pemilik bar gay kecil tradisional di Jepang sering disebut sebagai ママさん. Mereka tidak hanya bertindak sebagai bartender, tetapi juga menciptakan suasana ramah yang membuat pengunjung terus kembali. ↩








