
Sejarah asal-usul kanji ternyata cukup panjang dan melibatkan teori-teori yang menarik, jauh sebelum aksara tersebut digunakan secara luas seperti sekarang.
Awal Mula dari Cangkang Kura-Kura

Berdasarkan teori yang cukup populer di Tiongkok kuno sekitar tahun 2000 SM, masyarakat pada masa itu berkomunikasi dengan para dewa menggunakan cangkang kura-kura atau tulang hewan yang dibakar.
Prosesnya melibatkan pembakaran cangkang atau tulang hingga menimbulkan retakan. Para ahli pada masa itu kemudian menganalisis pola retakan tersebut untuk mencari makna, seperti memprediksi cuaca atau bencana alam. Karena pola retakan ini dianggap sebagai pesan dari para dewa, para pencatat mulai meniru simbol-simbol tersebut pada cangkang lainnya. Inilah mengapa banyak ditemukan cangkang kura-kura dengan ukiran karakter Tiongkok kuno dari era tersebut.

Dari Retakan Menjadi Sistem Tulisan
Fondasi sistem penulisan Tiongkok ini mulai berkembang pesat pada masa Dinasti Zhou, setelah runtuhnya Dinasti Shang. Dinasti Zhou memanfaatkan karakter-karakter pada cangkang kura-kura untuk mendokumentasikan berbagai peristiwa penting. Namun, karena para pencatat tidak mempelajari bentuk aslinya secara mendalam, banyak dari mereka yang membuat tafsir sendiri ketika menemui karakter yang tidak dikenal. Akibatnya, muncul ketidakkonsistensi dalam penulisan karena berbagai kerajaan memiliki gaya penulisan yang berbeda-beda.

Situasi ini baru berubah ketika Dinasti Qin menyatukan Tiongkok di bawah satu kekuasaan pada tahun 221 SM. Perdana Menteri Li Su menyusun daftar standar yang berisi 3.300 karakter kanji yang wajib dipelajari oleh para sarjana. Penyeragaman ini membuat sistem penulisan menjadi jauh lebih terstruktur dan fungsional, sebelum akhirnya siap untuk diseburkan ke Jepang. Saat ini, meskipun pembelajar di Tiongkok dan Jepang harus menguasai ribuan karakter, seseorang sebenarnya sudah bisa membaca dengan cukup nyaman menggunakan sekitar 2.000 karakter.
Perjalanan Kanji Menuju Jepang

Kanji masuk ke Jepang dari Tiongkok, kemungkinan besar melalui Semenanjung Korea. Pada masa itu, Jepang belum memiliki sistem tulisan sendiri. Penggunaan aksara Tiongkok ini awalnya diperkenalkan oleh para imigran dan mulai diterima secara lebih luas sekitar tahun 500 Masehi melalui kelompok pembaca teks Tiongkok klasik bernama Fuhito.
Karena struktur bahasa Tiongkok dan Jepang sangat berbeda, penyesuaian besar-besaran harus dilakukan. Hal inilah yang melahirkan sistem pembacaan On’yomi dan Kun’Yomi, serta perkembangan aksara fonetik seperti hiragana.
Menurut legenda Tiongkok kuno, penciptaan karakter Tiongkok dikaitkan dengan sosok bernama Cangjie dari sekitar tahun 2650 SM. Ia digambarkan sebagai sejarawan resmi Kaisar Kuning yang memiliki empat mata dan delapan pupil. Konon, ketika ia menciptakan aksara tersebut, para dewa dan makhluk halus menangis sementara langit menurunkan hujan biji-bijian.







