Home / Game / 10 Perwira Kekaisaran Terbaik di Star Wars, Peringkat Berdasarkan Kompetensi

10 Perwira Kekaisaran Terbaik di Star Wars, Peringkat Berdasarkan Kompetensi

a split image of grand admiral thrawn meera and grand moff tarkin in star wars media

Meskipun jagat Star Wars dipenuhi oleh berbagai penjahat penuh warna, sosok yang paling berkesan justru jarang sekali mengenakan seragam Kekaisaran. Tokoh favorit penggemar biasanya adalah para Lord Sith yang mengintimidasi seperti Darth Vader dan Darth Maul, alien eksentrik seperti Jabba the Hutt, atau pemburu bayaran pendiam seperti Cad Bane dan Boba Fett. Kendati demikian, bukan berarti Kekaisaran kehabisan karakter menarik. Terdapat beberapa penjahat kompleks dengan nuansa mendalam di dalam barisan mereka, yang kerap mewujudkan konsep “kebanalan kejahatan” (the banality of evil).

Beberapa di antara mereka adalah komandan militer hebat, sebagian mahir meniti hierarki Kekaisaran yang kejam, sementara yang lain sekadar mampu bertahan hidup di lingkungan di mana kegagalan bisa berujung pada kematian. Jika menilik karakter-karakter Imperial terbaik dari film, serial animasi, serta Expanded Universe Star Wars, banyak di antara mereka yang terbukti jauh lebih kompeten dalam menjalankan tugas dibanding yang lain.

Lieutenant Meero

Dedra Meero in Andor Season 2

Dedra Meero bukanlah perwira Kekaisaran konvensional dalam serial Andor. Ia kerap memicu ketegangan dan merupakan pendatang baru yang relatif junior, dikelilingi oleh rekan-rekan yang lebih sibuk mengurus persaingan remeh serta birokrasi ketimbang menghadapi ancaman Pemberontakan yang kian membesar.

Meero menjadi satu-satunya perwira intelijen yang menganggap serius berbagai pencurian yang tampak sepele di seluruh wilayah Kekaisaran. Ia dengan cepat merumuskan teori yang koheren mengenai sosok misterius di jajaran atas jaringan Pemberontakan. Serial Andor begitu menonjolkan efektivitas kinerjanya hingga penonton mungkin menduga ia akan mendapat alur penebusan dosa, meski nyatanya itu bukan kisah yang ingin dituturkan oleh Tony Gilroy.

Kekuatan terbesar Meero sekaligus menjadi faktor yang menjatuhkannya. Ia memiliki tekad, dorongan, dan ambisi yang cukup kuat untuk menantang asumsi atasannya, serta tidak takut menyuarakan teori yang tidak populer. Ia sangat cemerlang dalam melacak petunjuk, namun dedikasi obsesifnya terhadap pekerjaan justru membuatnya buta terhadap realitas politik Kekaisaran. Desakannya untuk menghadapi Luthen sendiri memberi kesempatan bagi pria itu untuk melakukan aksi pemberontakan terakhir, sekaligus menjadikan dirinya sebagai target utama. Ketika situasi berbalik dan ia menyadari betapa kecil nilai kesetiaannya di mata atasan, momen tersebut terasa begitu memuaskan sekaligus menyayat hati.

Director Krennic

Ben Mendelsohn As Orson Krennic in Rogue One

Orson Krennic adalah kebalikan total dari Dedra Meero karena ia merintis jalan ke posisi otoritas melalui kombinasi oportunisme, ambisi, fanatisme, serta rasa gengsi yang tinggi. Alasan utama mengapa film Rogue One begitu berhasil adalah kehadiran sifat-sifat manusiawi yang melekat pada sang penjahat utamanya: rasa tidak aman, arogan, dan kebutuhan mendesak akan pengakuan menjadikannya karakter yang menarik sekaligus menyebalkan.

Di balik segala gaya megahnya, Krennic adalah seorang administrator yang sangat efektif. Kinerjanya dalam proyek Death Star bahkan sempat membuahkan pujian enggan dari Grand Moff Tarkin. Pada akhirnya, masalah Krennic bukanlah kurangnya kemampuan—ia juga jelas bukan pengecut, terbukti dari keberaniannya mengejar Jyn Erso secara langsung—melainkan egonya yang rapuh. Ia sangat mampu mengawasi proyek terpenting Kekaisaran, tetapi jauh lebih tidak mampu menerima kenyataan jika orang lain yang mendapatkan pujian.

Hal yang membuat Krennic sangat menarik adalah kontras antara cara ia menampilkan diri kepada atasannya dan kepada bawahannya. Dalam Rogue One, ia tampil arogan namun sering kali berada di posisi terpojok, terus-menerus berusaha menyenangkan atasan dan mengklaim kredit atas pekerjaannya. Sementara dalam Andor, ia terlihat jauh lebih mengintimidasi dan bertindak sebagai seorang tiran; kehadiran fisiknya saja sudah cukup memicu kepanikan bagi Luthen dan Kleya, membuktikan reputasi yang telah ia bangun bahkan di luar lingkungan Kekaisaran.

Agent Kallus

Alexsandr Kallus in Star Wars: Rebels

Kallus mungkin menjadi pilihan yang tidak biasa dalam daftar ini karena ia pada akhirnya meninggalkan posisinya sebagai perwira (mengikuti jejak Pter Thanas dari Expanded Universe). Kendati demikian, keputusan tersebut lahir bukan dari kepengecutan melainkan pengalaman. Alur kisah Kallus sebenarnya merupakan ilustrasi yang cukup kuat mengenai kegagalan utama Kekaisaran: organisasi tersebut tidak menghargai individu. Selama beberapa musim pertama serial Rebels, Kallus menunjukkan kesetiaan, sikap kejam, kompetensi tinggi, dan komitmen penuh untuk memburu kaum Pemberontak. Hanya setelah Kekaisaran membiarkannya mati bersama musuhnya, ia menyadari betapa sedikitnya kepedulian organisasi tersebut terhadap dirinya, yang kemudian membawanya berbalik melawan Kekaisaran.

Serial Rebels mengeksekusi karakter Kallus dengan sangat baik; cerita tidak pernah melunakkan karakternya, mengubahnya menjadi orang baik secara sembunyi-sembunyi, ataupun memberikan penokohan yang terlalu dipaksakan. Jika saja Kekaisaran menunjukkan sedikit saja apresiasi kepadanya, ia kemungkinan besar akan tetap menjadi seorang penjahat. Ia digambarkan sebagai perwira yang efektif dan kejam pada episode-episode awal Rebels, bahkan tega menyingkirkan anak buahnya sendiri dengan menendang mereka dari atas skybase. Ia adalah perwira teladan, sampai akhirnya ia memutuskan untuk berhenti menjadi bagian dari mereka.

General Veers

Julian Glover as General Veers in Empire Strikes BackDisney

Veers tidak mendapatkan banyak waktu kemunculan di layar, namun kehadirannya tetap sangat efektif. Ia juga menjadi salah satu segelintir perwira Imperial bernama yang berhasil keluar dari film The Empire Strikes Back tanpa cacat, bahkan berada dalam daftar kesayangan Darth Vader. Diperankan dengan sangat apik oleh Julian Glover, Veers merupakan sosok yang sangat efisien dalam pekerjaannya. Serangan terhadap basis pemberontak di Hoth merupakan kemenangan Kekaisaran paling telak dalam film-film layar lebar, yang menuntut koordinasi antara armada angkasa dan pasukan darat. Admiral Ozzel sempat mengacaukan serangan luar angkasa, tetapi komando Veers atas kendaraan AT-AT dijalankan dengan efisiensi yang luar biasa.

Veers tidak tertarik untuk menyampaikan pidato berapi-api atau mencoba membuat Vader terkesan; sebaliknya, ia diberikan sebuah tugas dan menyelesaikannya sebaik mungkin. Ia mungkin menjadi argumen paling meyakinkan bagi Kekaisaran tentang keuntungan mempekerjakan seorang profesional sejati. Ia bersikap tabah, tidak ciut nyali di hadapan Vader, percaya diri pada kemampuannya sendiri, sekaligus tetap bungkam atas kegagalan orang lain. Benar-benar sosok berkelas dari awal hingga akhir.

Admiral Yularen

A screenshot of Yularen from Star Wars The Clone Wars
Star Wars The Clone Wars Yularen

Pada awalnya, Yularen sama sekali tidak tampak seperti seorang penjahat. Ia diperkenalkan sebagai salah satu ahli strategi terkemuka Republik dalam serial The Clone Wars—seorang komandan yang baik, meski terkesan kaku. Selepas peristiwa Order 66, ia mendapati dirinya beralih mendukung Kekaisaran, dan membuktikan diri sebagai aset Imperial yang sangat serbaguna serta efisien. Ciri khas utamanya adalah profesionalisme tingkat tinggi.

Dalam The Clone Wars, Yularen merancang rencana serangan yang sangat teliti, namun kerap merasa jengkel oleh Anakin dan Obi-Wan ketika kedua kesatria tersebut mengabaikan rencananya begitu saja. Ia tenang, penuh pengamatan, tidak memiliki ego berlebih, serta memiliki selera humor yang kering. Yang paling menarik bagi seorang perwira Imperial, ia tampaknya tidak tertarik mencari pembuktian demi kenaikan pangkat. Hal ini justru membuat sosoknya sangat cocok berada di dalam organisasi di mana semua orang sibuk berusaha membuat atasan mereka terkesan.

Serial Andor kemudian menambahkan dimensi yang jauh lebih kelam pada karakternya, memperlihatkan bagaimana ia berkembang pesat di bawah penguasa baru sebagai pejabat senior di biro ISB. Meskipun ia tidak pernah digambarkan sejahat Tarkin atau Krennic secara fisik, posisi seniornya dalam Andor membuat penonton mustahil menganggapnya sekadar orang baik yang terjebak di dalam sistem Kekaisaran, atau sebagai peringatan tentang apa yang terjadi ketika orang baik memilih diam. Ia kini menjadi peserta aktif dalam sebuah rezim mengerikan, di mana pergeseran ideologinya menyiratkan sifat memesona namun mematikan dari Kekaisaran.

Major Partagaz

Anton Lesser as Major Partagaz in AndorDisney

Sebagai kepala lembaga ISB, Partagaz memancarkan sosok yang tak kenal kompromi dan kejam, namun yang membuatnya begitu efektif adalah perilakunya yang tidak mencerminkan perwira Kekaisaran pada umumnya. Ia mendorong bawahannya untuk menantang asumsi, memaparkan teori yang saling bersaing, serta mempertanyakan kesimpulan yang sudah mapan, bahkan kerap “menyambut pertukaran gagasan yang provokatif.” Partagaz memahami satu hal yang gagal disadari oleh banyak rekannya: informasi adalah kekuatan. Alih-alih menuntut kepatuhan buta, ia menciptakan lingkungan di mana para perwira dituntut untuk berpikir, menyelidiki, dan memperdebatkan argumen mereka.

Hal ini menjadikan ISB jauh lebih berbahaya. Ironisnya, Partagaz justru muncul dalam Andor sebagai sosok atasan terbaik di seluruh waralaba Star Wars. Kendati penggemar tidak melihat Partagaz melakukan tindakan yang benar-benar keji secara langsung dalam Andor, ketidakpeduliannya terhadap berbagai kekejaman atas nama Kekaisaran membuktikan bahwa ia adalah pribadi yang dingin, apatis, dan jahat. Tanggapannya terhadap pembantaian Ghorman hanyalah sekadar ucapan, “Nasib buruk, Ghorman.” Cara pengucapan yang santai ini terasa jauh lebih mengerikan daripada pidato apa pun mengenai supremasi Kekaisaran, karena Partagaz bahkan tidak membenci orang-orang yang dihancurkan oleh Kekaisaran. Ia benar-benar tidak peduli.

Admiral Pellaeon

Xander Berkeley as Admiral Pellaeon in The MandalorianDisney

Gilad Pellaeon hanya tampil dalam beberapa kemunculan singkat di layar kaca, terutama sebagai hologram dalam serial The Mandalorian, namun ia memiliki kehadiran yang luar biasa kuat di dalam Expanded Universe. Lebih penting lagi, ia mewakili jenis perwira Imperial yang sangat berbeda dari para perencana strategi agung atau operator politik dalam daftar ini. Pada dasarnya, ia adalah seorang prajurit profesional alih-alih seorang pengikut fanatik. Ia merupakan komandan yang pragmatis dan disiplin tanpa ambisi serakah yang kerap mencirikan penjahat Kekaisaran lainnya.

Hubungan Pellaeon dengan Grand Admiral Thrawn sangatlah mencerahkan; awalnya ia hanyalah seorang bawahan, namun tidak seperti para penjilat dan pencari kedudukan Kekaisaran lainnya, Pellaeon bertransformasi menjadi tangan kanan Thrawn yang sangat dihargai. Yang krusial, ia terbukti benar-benar belajar dari Thrawn. Ia menyerap taktik dan metode komandannya alih-alih sekadar menjalankan perintah, hingga akhirnya ia tumbuh menjadi seorang ahli strategi yang tangguh dengan haknya sendiri.

Menyusul kekalahan Thrawn, Pellaeon menjadi salah satu pemimpin senior di Sisa-Sisa Kekaisaran (Imperial Remnant) dan akhirnya muncul sebagai komandan tertinggi mereka. Kesediaannya untuk bernegosiasi dengan New Republic pada akhirnya berujung pada berakhirnya Perang Saudara Galaksi. Pellaeon telah menjadi karakter favorit penggemar di Expanded Universe. Muncul dalam lebih dari 30 novel, pragmatisme, rasa kewajiban, serta kompetensinya yang bersahaja tetap konsisten menjadi pilar utama karakternya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *