Meski sudah hampir satu dekade sejak serial Game of Thrones menayangkan episode terakhirnya, perdebatan di kalangan penggemar tidak pernah benar-benar surut. Para pembaca buku mungkin tidak akan pernah sepakat mengenai letak kesalahan musim terakhir atau kapan sebenarnya alur cerita serial ini mulai kehilangan arah. Namun, ada satu hal yang jarang diperdebatkan: banyak karakter dalam serial televisi yang mengalami perubahan drastis jika dibandingkan dengan karya tulis George R. R. Martin.
Perubahan dalam sebuah adaptasi tentu adalah hal yang wajar. Beberapa penyesuaian bahkan sangat masuk akal demi merampingkan narasi, seperti menggabungkan beberapa tokoh menjadi satu. Kendati demikian, sebagian karakter diubah begitu rupa hingga terasa seperti orang yang sepenuhnya berbeda. Bagi penonton yang hanya mengikuti versi layar kaca, mereka mungkin tidak menyadari bagaimana visi awal Martin terhadap tokoh-tokoh tersebut.
Ellaria Sand
Ellaria Sand bukanlah tokoh utama yang paling disorot, baik dalam serial HBO maupun dalam novel A Song of Ice and Fire. Namun, perbedaannya sangat mencolok. Dalam versi buku maupun televisi, kisahnya berawal sama: ia adalah pendamping Oberyn Martell, memiliki empat anak perempuan yang disebut Sand Snakes, dan merasa terpukul atas kematian tragis Oberyn di tangan the Mountain. Selepas peristiwa itu, versi buku dan serial bergerak ke arah yang bertolak belakang.
Di dalam buku, Ellaria justru menjadi figur yang berpikiran paling jernih di tengah memanasnya situasi politik di Dorne. Ia merasa ngeri melihat ambisi balas dendam anak-anaknya terhadap keluarga Lannister, karena ia sadar pertumpahan darah susulan hanya akan melanggengkan lingkaran kekejaman. Sebaliknya, versi televisi justru memosisikan Ellaria sebagai dalang utama perlawanan terhadap Lannister, yang berujung pada kehancuran House Martell akibat tindakan gegabah yang diperingatkan oleh versi bukunya.
Mance Rayder
Sebagai pemimpin kaum wildling yang berhasil menyatukan berbagai suku di utara Tembok, King-Beyond-the-Wall memiliki reputasi yang hampir legendaris. Ketika Jon Snow pertama kali tertangkap dan dibawa menghadap Mance, ia mengira pemimpin tersebut adalah seorang prajurit paling mengintimidasi di ruangan itu. Nyatanya, Mance justru duduk santai di sudut sambil memetik kecapi dan bernyanyi.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa Mance adalah sosok yang karismatik, cerdik, dan tidak mengandalkan intimidasi fisik semata. Sementara itu, versi serial televisi yang diperankan oleh Ciaran Hinds menampilkan Mance sebagai pemimpin yang serius dan tangguh. Meskipun penampilannya tetap memukau, nuansa misterius dan tak terduga dari versi buku sedikit berkurang di layar kaca.
Edmure Tully
Keluarga Tully adalah salah satu pihak yang karakternya mengalami pergeseran makna yang cukup jauh. Sang paman, Brynden “Blackfish” Tully, diubah menjadi sosok kakek pemarah, sementara keponakannya, Edmure, bernasib lebih buruk lagi. Di dalam buku, Edmure mungkin sedikit sombong, tetapi ia memiliki hati yang tulus dan sangat peduli pada rakyat kecil di wilayah kekuasaannya.
Serial Game of Thrones seolah melunturkan semua sifat baik tersebut dan menjadikan Edmure sebagai bahan lelucon atau sosok yang kerap diremehkan keluarganya sendiri. Salah satu contohnya adalah adegan pemakaman Hoster Tully, di mana Edmure gagal menyalakan api pemakaman, yang dalam buku sebenarnya terjadi karena ia sedang bersedih mendalam atas kepergian ayahnya, bukan karena tidak kompeten.
Jorah Mormont
Berkat akting Iain Glen, Jorah Mormont digambarkan sebagai ksatria setia yang tragis dan sangat dicintai penonton. Hubungannya dengan Daenerys Targaryen terasa seperti pengabdian tanpa pamrih dari seorang ksatria tua kepada ratunya.
Sebaliknya, Jorah dalam versi novel jauh lebih kompleks dan kelam. Ia digambarkan lebih pahit, posesif, dan memiliki ketertarikan yang terasa lebih mengganggu terhadap Daenerys. Selain itu, penyesuaian usia karakter dalam serial membuat hubungan mereka tampak jauh lebih dapat diterima oleh penonton dibandingkan dinamika aslinya di dalam buku.
Jon Snow
Jon Snow versi Kit Harington menjadi salah satu ikon terbesar dari serial ini sebagai pahlawan utama yang memegang prinsip moral tinggi. Meskipun mengalami pasang surut emosional, esensi kepribadiannya sebagai pelindung tetap terjaga.
Dalam karya tulis George R. R. Martin, Jon digambarkan memiliki sisi ambisius dan perhitungan politik yang lebih tajam, tidak sekadar pahlawan berhati lurus tanpa pamrih. Perbedaan-perbedaan kecil inilah yang membuat para pembaca buku sering kali melihat tokoh-tokoh kesayangan mereka dari sudut pandang yang sama sekali berbeda dari apa yang disajikan di televisi.








