Film animasi klasik TEKKONKINKREET yang dirilis pada tahun 2006 kembali ke layar lebar dalam versi remaster 4K. Karya adaptasi dari manga pemenang penghargaan Eisner karya Taiyo Matsumoto ini ditayangkan dengan pilihan bahasa Jepang asli dan sulih suara bahasa Inggris. GKIDS juga dijadwalkan merilis versi 4K UHD Blu-ray serta unduhan digital untuk remaster terbaru ini. Film ini menandai debut penyutradaraan bagi Michael Arias dan sukses meraih penghargaan Animation of the Year di Japan Academy Film Prize 2008. Selain itu, film kultus ini juga memenangkan Penghargaan Ofuji Noburo di Mainichi Film Awards 2006, serta kategori Best Original Story dan Best Art Direction di Tokyo Anime Awards 2008.
Cerita film ini berfokus pada Black, seorang anak jalanan yang ingin menguasai kota dengan kekuatannya, dan White, rekannya yang polos. Keduanya adalah anak yatim piatu yang tinggal di kawasan kumuh Treasure Town. Kehidupan mereka terancam ketika para pengembang real estat berencana menyulap Treasure Town menjadi taman hiburan raksasa. Demi melindungi White dan kota tempat tinggal mereka, Black harus berhadapan dengan yakuza dan para pembunuh bayaran, yang perlahan-lahan mengikis sisi polos dalam dirinya saat ia menghadapi kegelapan di dalam batinnya.
Dalam rangka perilisan ulang film ini di Amerika Serikat hasil kerja sama GKIDS dan studio animasi Jepang STUDIO4°C, kami berkesempatan mewawancarai sutradara Michael Arias dan penulis skenario Anthony Weintraub. Kami membahas awal mula keterlibatan mereka dengan materi sumber serta berbagai detail yang menjadikan TEKKONKINKREET sebagai karya anime yang kuat hingga saat ini.
Bagaimana awal mula Anda berdua terlibat atau mengenal proyek TEKKONKINKREET?
Michael Arias: Saya mulai mengenalnya pada tahun 1996, ketika teman sekamar saya di Tokyo memberi saya manga tersebut. Dia adalah penggemar berat manga dengan koleksi komik yang memenuhi dinding. Saya bertanya harus mulai membaca dari mana, lalu dia memberi saya tiga volume komik tersebut dan berkata bahwa cerita itu akan membuat saya menangis. Saya langsung tertarik dan membawa-bawa manga itu ke mana pun selama 10 tahun berikutnya. Awalnya semua itu bermula seperti sebuah lelucon. Karena saya bekerja di bidang animasi, orang-orang sering bertanya apa proyek saya selanjutnya, dan saya selalu menjawab, “Oh, saya akan membuat film TEKKONKINKREET.” Proyek itu akhirnya mulai terbentuk, saya membuat beberapa demo, dan mengajak Anthony bergabung. Dari situlah momentumnya mulai terbangun, meskipun butuh waktu sekitar lima tahun di mana hal itu dianggap seperti lelucon oleh orang-orang.
Anthony Weintraub: Jawaban saya cukup sederhana, yaitu saya sudah lelah mendengarkan Mike terus-menerus membahas proyek ini. Bercanda, tentu saja. Dia mengajak saya masuk ke proyek ini karena kami sudah lama bersahabat dan sering berdiskusi untuk bekerja sama. Mike sebelumnya juga melibatkan saya dalam proyek lain berjudul The Animatrix. Ketika dia menunjukkan materi ini, tentu saja saya sangat kagum. Kami sudah memiliki kecocokan dalam bekerja, dan kami sepakat bahwa yang terpenting adalah mempertahankan inti emosional cerita sambil menavigasi transisi nada yang cukup menantang antara kelembutan dan kebengisan yang ada di dalam manga tersebut.
Michael, penyutradaraan Anda dalam TEKKONKINKREET merupakan salah satu karya sutradara non-Jepang paling awal dalam industri anime. Bagaimana rasanya mengukir nama di Tokyo dan menghadapi kesempatan tersebut?
Michael Arias: Saya sudah tinggal di sini begitu lama, sehingga sejak dulu saya tidak pernah merasa terbebani oleh hal itu. Orang-orang sering bertanya apakah sulit menjadi orang asing yang melakukan pekerjaan ini. Namun, sepanjang hidup saya, saya sudah tenggelam dalam industri film dan animasi Jepang. Jika Anda menganggap itu sebagai sebuah hambatan, hal itu justru akan memperlambat langkah Anda. Bahkan sekarang, saya tidak mau menghabiskan waktu dengan berpikir bahwa rekan lokal saya memiliki keunggulan karena mereka bukan pendatang atau lebih fasih berbahasa. Jika Anda menganggap hal-hal tersebut sebagai kekurangan, Anda akan berada dalam masalah besar. Saya merasa menjadi orang asing justru memberikan sudut pandang yang berbeda dan menjadi senjata rahasia bagi gaya penyutradaraan saya. Rasanya aneh jika dianggap sebagai seorang perintis karena hal itu tidak pernah terlintas di pikiran saya. Saat itu, satu-satunya hal yang saya pikirkan adalah bagaimana caranya agar film ini bisa terwujud.
Anthony, terkait penulisan skenario, adakah interaksi yang Anda lakukan dengan Taiyo Matsumoto, dan apa kontribusinya terhadap pendekatan penulisan Anda?
Anthony Weintraub: Tentu saja. Bekerja dengan materi seperti ini membutuhkan gairah yang besar karena proses pembuatan konten berkualitas membutuhkan waktu dan sumber daya yang tidak sedikit. Saya tidak akan terlibat dalam proyek yang tidak membuat saya terobsesi. Ketika mengadaptasi sebuah karya, saya selalu ingin menemui pencipta aslinya. Bertemu dengan Taiyo adalah sebuah kehormatan besar, dan hubungan kami yang kemudian berkembang menjadi pertemanan merupakan hasil yang luar biasa. Saya meluangkan banyak waktu untuk berbicara dengannya, melakukan dua wawancara mendalam mengenai inspirasinya menulis cerita tersebut, memahami hubungan mendalam antara kedua karakter utamanya, latar belakangnya, hingga alasannya menggambarkan latar kota dengan cara tertentu. Interaksi tersebut sangat penting bagi proses penulisan.
Teknik animasi CG memegang peranan besar dalam karier Anda dan visual TEKKONKINKREET. Bagaimana proses pengambilan keputusan dalam memadukan berbagai teknik animasi tersebut? Sejauh mana pilihan desain dari perancang produksi seperti Shinji Kimura memengaruhi keputusan animasi Anda?
Michael Arias: Saya mengawali karier di bidang efek visual dengan cara lama, sebelum beralih ke grafis komputer dan animasi komputer. Ketika menghadapi kendala, saya selalu kembali menggunakan latar belakang sebagai spesialis efek visual. Untuk TEKKONKINKREET, saya ingin tampilannya terasa dinamis. Film Brasil berjudul City of God yang mengisahkan anak-anak jalanan di daerah kumuh menjadi salah satu acuan besar bagi saya. Pergerakan kamera yang mengalir dan dinamis sangat sulit dicapai menggunakan teknik animasi tradisional yang digambar tangan, meskipun bukan hal yang mustahil.
Di studio tempat saya bekerja saat itu, salah satu mentor saya bernama Koji Morimoto merupakan seorang tokoh perintis dalam mengintegrasikan animasi komputer dengan karya seni latar belakang dan animasi karakter, seperti yang terlihat pada film pendek karyanya berjudul Noiseman Sound Insect serta segmennya dalam The Animatrix. Kami ingin menggunakan teknologi agar penonton merasa seolah-olah berdiri di sudut jalan dan menyaksikan anak-anak tersebut berlari. Kami melakukan banyak eksperimen, memadukan karakter gambar tangan di dalam ruang 3D, serta berusaha menghadirkan sudut pengambilan gambar yang berbeda di setiap adegan agar penonton tetap terpukau. Berkat arahan seni yang luar biasa dari Shinji Kimura dan tim CG yang hebat, kami berhasil menciptakan tampilan visual yang tetap mempertahankan sentuhan tangan namun dengan kedalaman teknologi modern.
Untuk versi remaster ini, adakah perubahan lain yang dapat dinantikan selain peningkatan kualitas visual?
Michael Arias: Sejujurnya, dulu film ini tidak pernah tampil sebaik yang kami harapkan di bioskop karena keterbatasan waktu, anggaran, serta teknologi transfer film saat itu. Versi remaster ini mengembalikan kualitas visual seperti yang dahulu kami lihat di monitor studio selama proses produksi. Kualitasnya kini telah disesuaikan dengan standar bioskop modern yang menggunakan proyektor laser dan resolusi tinggi. Tidak ada konten baru yang ditambahkan, tetapi tampilannya kini jauh lebih bersih dan tajam.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Michael Arias dan Anthony Weintraub karena telah meluangkan waktu untuk membahas film TEKKONKINKREET. Anda dapat menantikan perilisan 4K UHD Blu-ray serta unduhan digital untuk versi remaster 4K terbaru ini dari GKIDS.






