Membawa daya tarik dari seri pertarungan mematikan yang dipadukan dengan kecepatan serta aksi manga olahraga, BLUE LOCK sukses menjadi sebuah tontonan yang unik. Penulis cerita Muneyuki Kaneshiro dan ilustrator Yusuke Nomura sengaja mendobrak batasan konvensional dari genre olahraga. Umumnya, manga bertema olahraga selalu mengedepankan nilai kerja sama tim, kepedulian, serta sikap tidak egois yang didukung dengan gaya seni hangat. Namun, BLUE LOCK justru mengambil arah sebaliknya dengan menyoroti ego, kebanggaan, serta individualisme, dilengkapi visual penuh aura monster dan intensitas yang membara.
Dalam acara Kodansha House baru-baru ini, yang juga dimeriahkan oleh berbagai aktivitas bertema BLUE LOCK seperti permainan menembak bola ke target, kami berkesempatan untuk mewawancarai kedua kreatornya. Diskusi tersebut membahas banyak hal mulai dari proses kreatif di balik cerita dan ilustrasi, posisi genre BLUE LOCK, hingga sedikit obrolan mengenai Attack on Titan.
Beberapa bagian dari wawancara ini telah disunting agar lebih mudah dipahami dan dibantu oleh seorang penerjemah.
Bagaimana BLUE LOCK Melebihi Batasan Manga Olahraga
T: BLUE LOCK membedakan dirinya dari manga olahraga lain karena bukan sekadar tentang sepak bola, melainkan juga pertarungan psikologis. Sejak kapan konsep ini terbentuk, dan bagaimana cara kalian mengangkat cerita ini melampaui olahraga biasa?
Kaneshiro-sensei: Sejak awal pengembangan cerita, saya sudah memiliki visi untuk menggabungkan manga sepak bola dengan elemen permainan bertahan hidup, di mana 300 siswa sekolah menengah bersaing memperebutkan tempat di fasilitas Blue Lock. Dari premis tersebut, saya tahu cerita ini akan sangat unik dan berbeda dari manga olahraga pada umumnya. Ini lebih mirip manga pertarungan, di mana setiap karakter menghadapi situasi hidup dan mati. Itu adalah inti dari cerita ini.
Nomura-sensei: Berdasarkan gagasan Kaneshiro-sensei, kami juga memasukkan elemen visual seperti aura, teknik tembakan, dan aksi yang menyerupai manga pertarungan. Itulah gaya ilustrasi yang ingin saya tampilkan agar orang yang tidak akrab dengan sepak bola—misalnya anak-anak muda—bisa menganggapnya sebagai sesuatu yang keren. Kami selalu berambisi untuk melampaui definisi standar manga olahraga dengan memadukannya bersama genre battle.

Asal-Usul Konsep Egois
T: Kaneshiro-sensei, bagaimana Anda mendapatkan konsep utama tentang pemain yang egois ini? Apakah itu terinspirasi dari pengalaman pribadi Anda dengan olahraga?
Kaneshiro-sensei: Konsep ego ini berawal dari pengamatan saya sebagai warga Jepang terhadap tim sepak bola yang kerap mengoper bola tepat sebelum mencetak gol. Sebagai penonton, kita sering kali berkomentar di luar lapangan seperti, “Kenapa tidak langsung menembak saja?” Itulah gambaran umum sepak bola di Jepang saat itu. Dari pengalaman tersebut, saya merasa para pemain Jepang membutuhkan kemauan dan ego yang kuat, alih-alih hanya khawatir terlihat bagus di mata orang lain. Untuk mendapatkan apa yang diinginkan, Anda butuh ego itu. Rasa frustrasi dan pengamatan saya di lapangan melebur menjadi satu. Mengenai latar belakang olahraga saya sendiri, saya dulunya pemain tenis, yang merupakan olahraga satu lawan satu. Hal itu mungkin terbawa ke dalam cerita, di mana sepak bola tidak digambarkan sebagai sebelas melawan satu, melainkan rangkaian duel satu lawan satu.
T: Nomura-sensei, karya seni dalam seri ini sangat luar biasa, terutama detail pada mata dan wujud “monster” di dalam diri para karakternya. Bagaimana proses di balik pembuatan detail tersebut?
Nomura-sensei: Dalam karya saya sebelumnya, saya sebenarnya sudah mulai mengembangkan gaya pemberian detail pada mata karakter serta ekspresi aura berbentuk monster. Jadi, saya berpikir untuk menerapkan gaya visual tersebut ke dalam BLUE LOCK karena itu adalah keahlian saya. Dari segi proses, saya harus memikirkan cara membuat seri ini tampil berbeda dari manga sepak bola lainnya yang sudah luar biasa. Konsep mendasarnya adalah menciptakan ciri khas visual agar dapat menarik minat pembaca yang bahkan tidak akrab dengan sepak bola.
Pesan Sosial dan Pengaruh Piala Dunia
T: Kaneshiro-sensei, tindakan para karakter sering kali menjadi kritik terhadap dunia olahraga dan sosial. Banyak karakter yang menentang nilai altruisme dan keharmonisan ala Jepang. Apakah pesan ini disengaja?
Kaneshiro-sensei: Itu pertanyaan yang bagus. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, terkadang saya merasakan kejanggalan dalam kehidupan di Jepang yang sulit dijelaskan, seperti keinginan untuk mengatakan sesuatu pada momen tertentu tetapi tidak bisa. Dari sanalah saya mulai memasukkan unsur ego ke dalam cerita. Ketika perasaan itu dituangkan ke dalam karakter seperti Isagi—yang didasarkan pada diri saya sendiri serta pengembangan bersama Nomura-sensei—karakter tersebut ternyata disukai di Jepang maupun secara global. Hal ini membuat saya menyadari bahwa pesan dalam BLUE LOCK bersifat universal sekaligus unik.
T: Serial ini telah berjalan melewati beberapa ajang Piala Dunia. Seberapa besar pengaruh turnamen tersebut terhadap popularitas dan alur cerita manga ini?
Kaneshiro-sensei: Sangat berdampak besar. Kami memulai seri ini dengan target agar adaptasi anime rilis sekitar waktu Piala Dunia empat tahun lalu. Saat itu tim Jepang kalah, dan dari situlah cerita bermula. Kami selalu memantau perkembangan timnas Jepang dan negara lain. Setiap kali Piala Dunia tiba, kami selalu berpikir, “Bagaimana jika Jepang menang?” Di satu sisi kami ingin mereka menang, tetapi di sisi lain hal itu bisa mengubah arah cerita yang sedang kami susun, sehingga ada perasaan senang bercampur khawatir.
Nomura-sensei: Saya berusaha membuat manga ini mudah dinikmati oleh orang yang awam soal sepak bola. Saya sendiri juga belajar banyak tentang sepak bola selama menggarap BLUE LOCK. Harapannya, manga ini bisa menjadi pintu gerbang bagi seseorang untuk menyukai sepak bola.

Karakter Favorit dan Harapan ke Depan
T: Apakah kalian pernah khawatir menghadapi kritik dari para pemain sepak bola profesional?
Kaneshiro-sensei: Sedikit, iya. Tetapi kami sengaja mengambil jalur tersebut demi menyajikan cerita yang paling menarik serta pengembangan karakter yang optimal.
T: Adakah karakter yang ingin kalian beri lebih banyak sorotan atau dibuatkan cerita sampingannya?
Kaneshiro-sensei: Ada banyak sekali. Mungkin Igaguri [Gurimu Igarashi]? Saya merasa dia bisa dikembangkan menjadi karakter yang lebih baik, bahkan berpotensi menjadi pemain hebat di dunia yang berbeda.
Nomura-sensei: Jika harus membuat cerita sampingan atau spin-off, saya ingin menggali lebih dalam latar belakang Shido [Ryusei Shido] atau Rin [Rin Itoshi]. Rin tentu akan mendapat porsi perkembangan di cerita utama, tetapi Shido adalah sebuah misteri besar karena latar belakangnya sama sekali belum terungkap. Menulis kisah tentang Shido sepertinya akan sangat menyenangkan.
T: Sejak awal publikasi, apakah ada perubahan besar dalam pendekatan kalian terhadap cerita atau ilustrasi?
Nomura-sensei: Seiring berjalannya waktu, jumlah penggemar semakin bertambah, terutama setelah diadaptasi menjadi anime, panggung teater, novel, hingga film. Setiap kali media baru rilis, audiensnya semakin luas, dan hal itu membuat saya merasa memiliki tanggung jawab besar untuk memperlakukan para karakter sebagai individu dengan kepribadian yang matang.
Kaneshiro-sensei: Saya jujur merasa terkejut melihat banyaknya orang di seluruh dunia yang kini mengikuti dan menjadi penggemar seri ini. Tugas saya sekarang adalah tetap fokus pada apa yang saya rasakan sejak awal pembuatan cerita, karena dari sanalah semuanya bermula.
Pertanyaan Penutup: Titan di Lapangan Sepak Bola
T: Kalian berdua memiliki hubungan dekat dengan Hajime Isayama-sensei. Menurut kalian, Titan mana yang paling cocok menjadi penyerang di lapangan?
Keduanya: Reiner.
Nomura-sensei: Dia pasti sangat cocok untuk menghentikan bola. Tapi kalau sebagai pemain penyerang, saya kurang yakin.
Kaneshiro-sensei: Bagaimana kalau Annie?
Nomura-sensei: Oh, Female Titan?
Kaneshiro-sensei: Dia kan jago menendang orang. Jadi pertahanannya bisa diisi oleh Reiner, dan penyerangnya adalah Annie. Mereka berdua akan menjadi pemain terbaik dari para Titan dan membentuk tim yang paling tangguh.
Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Muneyuki Kaneshiro-sensei dan Yusuke Nomura-sensei yang telah meluangkan waktu untuk berwawancara, serta pihak Kodansha yang telah mengatur jalannya acara ini. Anda dapat membaca manga BLUE LOCK melalui platform resmi Kodansha.
Blue Lock © Muneyuki Kaneshiro, Yusuke Nomura/KODANSHA LTD.








