Jalur bersejarah yang menghubungkan Edo (yang kini dikenal sebagai Tokyo) dengan Kyoto pada masa pemerintahan Keshogunan Tokugawa memegang peranan sangat vital dalam sejarah infrastruktur Jepang. Dikenal sebagai lima jalan utama pada periode Edo (1603–1868), dua rute yang paling menonjol adalah Tokaido dan Nakasendo. Pada masa itu, sebagian besar perjalanan dilakukan dengan berjalan kaki karena kereta beroda belum digunakan dan pengiriman barang berat umumnya mengandalkan jalur air. Perjalanan melintasi rute-rute ini bahkan bisa memakan waktu hingga berminggu-minggu.
Para pelancong yang ingin pergi ke arah timur atau barat harus memilih antara menyusuri Tokaido atau Nakasendo. Tokaido, yang merupakan jalur pesisir, menawarkan rute yang lebih pendek dan langsung. Kendati demikian, jalur ini sering kali menghadapi hambatan cuaca buruk serta penyeberangan sungai besar yang memerlukan perahu feri, seperti di wilayah Kuwana-juku, yang kerap menimbulkan keterlambatan panjang.
Sebaliknya, Nakasendo tidak memiliki kendala penyeberangan sungai dan laut sebanyak Tokaido, sehingga dianggap lebih dapat diandalkan. Namun, keandalan ini harus dibayar dengan tantangan geografis berupa jalur pegunungan di Jepang tengah yang terjal, penuh tanjakan, serta medan yang berat. Meskipun demikian, Nakasendo menjadi alternatif favorit bagi mereka yang ingin menghindari keramaian, ketidakpastian penyeberangan, serta pengawasan ketat dari pihak keshogunan.
Untuk mendukung mobilitas yang tinggi ini, sebuah jaringan kota pos atau yang dikenal sebagai shukuba didirikan di sepanjang rute Tokaido dan Nakasendo. Sisa-sisa kota pos ini masih dapat ditemukan hingga saat ini, mulai dari yang hampir hilang modernisasi seperti Shinagawa-juku hingga yang terawat sangat baik seperti pasangan kota kembar Magome-juku dan Tsumago-juku di Kiso Valley.
Menyusuri Jalur Tokaido

Tokaido, yang secara harfiah berarti “Rute Laut Timur”, merupakan rute terpenting di antara lima jalur utama yang menghubungkan Tokyo modern dengan Kyoto di sepanjang dataran pesisir Honshu. Sebagai jalur utama perdagangan dan perjalanan, jalan ini dipadati oleh samurai, pedagang, peziarah, dan rakyat biasa. Karena minimnya jembatan, pelancong harus bergantung pada feri atau jasa porter untuk menyeberangi sungai.
Kalangan elit seperti samurai dan bangsawan kerap menggunakan tandu tertutup yang diusung oleh para porter, sementara masyarakat dari kalangan biasa harus puas dengan fasilitas yang lebih sederhana. Tokaido memiliki total 53 kota pos yang menyediakan penginapan, makanan, kandang kuda, dan layanan porter untuk mengakomodasi para pelancong yang lelah.
Mengenal Jalur Nakasendo

Nakasendo adalah rute utama kedua yang membentang sepanjang 534 kilometer melewati pedalaman pegunungan Jepang, melintasi prefektur Saitama, Gunma, Nagano, Gifu, dan Shiga. Nama Nakasendo sendiri berarti “Rute Pegunungan Tengah”. Keunggulan utama jalur ini adalah tidak adanya kewajiban menyeberangi sungai besar, meskipun para pelancong harus menaklukkan jalur pegunungan yang curam dan membutuhkan ketahanan fisik tinggi.
Sebelum diseragamkan namanya oleh Keshogunan Tokugawa pada tahun 1716, bagian-bagian dari Nakasendo sebenarnya sudah lebih dulu berfungsi sebagai jalur perdagangan regional. Seniman terkenal Hiroshige bahkan pernah mendokumentasikan 69 kota pos di sepanjang rute ini melalui serangkaian cetakan balok kayu yang mashyur.
Kebijakan Sankin Kotai

Salah satu fungsi paling krusial dari jalur Tokaido dan Nakasendo adalah memfasilitasi prosesi perjalanan para daimyo menuju pusat kekuasaan shogun melalui kebijakan Sankin Kotai atau Kebijakan Tempat Tinggal Bergantian. Dikeluarkan oleh shogun ketiga, Tokugawa Iemitsu, aturan ini mewajibkan para penguasa feudal untuk menempatkan keluarga mereka di Tokyo dan membagi waktu memerintah di domain asal serta tinggal di bawah pengawasan ketat keshogunan.
Kebijakan ini tidak hanya bertujuan memastikan kesetiaan para daimyo, tetapi juga menguras sumber daya keuangan mereka melalui prosesi perjalanan yang mewah dan pengeluaran pemeliharaan kediaman. Untuk mengakomodasi para daimyo beserta rombongannya, setiap kota pos diwajibkan menyediakan penginapan khusus tingkat tinggi yang disebut Honjin, serta Waki-honjin bagi pejabat atau pedagang kaya berstatus sedikit di bawahnya.
Sisi Lain dan Hiburan di Sepanjang Jalan

Ramainya lalu lintas pedagang, samurai, dan para pelancong pria di sepanjang jalan raya ini turut memicu pertumbuhan industri hiburan malam. Kota pos seperti Fukaya-shuku di jalur Nakasendo sangat terkenal karena memiliki banyak rumah teh dan kehadiran mesimori onna, perempuan pelayan yang kerap menawarkan jasa tambahan di penginapan.
Alih-alih memberantas praktik tersebut secara total, Keshogunan Tokugawa memilih untuk meregulasinya demi kontrol yang lebih baik. Pada tahun 1718, keshogunan menerbitkan peraturan yang membatasi jumlah mesimori onna maksimal dua orang per penginapan, sehingga aktivitas tersebut tetap berada dalam pengawasan resmi pemerintah.
Kondisi Jalan Raya Ini di Masa Kini

Kini, fungsi utama Tokaido dan Nakasendo telah digantikan oleh jaringan kereta kecepatan tinggi, jalan tol, dan infrastruktur modern lainnya. Kendati demikian, jejak sejarah dari jalan raya kuno ini masih dapat disaksikan secara langsung di berbagai kota pos yang dilestarikan dengan baik, seperti kawasan Narai-juku, Magome-juku, Tsumago-juku, serta jalur bersejarah di Hakone.
Saat menumpang Tokaido Shinkansen dan melaju kencang antara Tokyo dan Kyoto dalam hitungan jam, para pelancong diingatkan kembali bahwa rute modern tersebut berdiri di atas sejarah panjang perjuangan para leluhur yang dulunya harus berjalan kaki selama berpekan-pekan menembus pegunungan dan sungai demi melintasi Jepang.








